Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

Kumpulan Ebook Mario Teguh Terlengkap


Biography Mario Teguh

Mario Teguh (lahir di Makassar, 5 Maret 1956; umur 55 tahun) adalah seorang motivator dan konsultan asal Indonesia. Nama aslinya adalah Sis Maryono Teguh, namun saat tampil di depan publik, ia menggunakan nama Mario Teguh. Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang. Mario Teguh sempat bekerja di Citibank, kemudian mendirikan Bussiness Effectiveness Consultant, Exnal Corp. menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) dan Senior Consultan. Beliau juga membentuk komunitas Mario Teguh Super Club (MTSC). Baca lebih lanjut

3 Desember 2011 Posted by | Coretan, Download, Ebook, Kata bijak, Renungan, Tokoh | | 2 Komentar

mata yang berlabuh

Matahari kelabu. Udara bisu.Tak ada suara lengkingan renyai yang menyeruak seperti biasanya setiap kali ia jejakkan kaki di daratan yang berpasir. Tidak pula suara perempuan yang lantang, yang dengan lari-lari kecilnya, menghalau anak yang berlarian di depannya itu dari air laut yang merambati kaki mereka. semuanya telah menghilang.

Tapi masih ada yang belum ditemukan. Karena itu, Abdullah, laki-laki yang berjalan terseok itu, terus mencari-cari. Tangannya telah lelah, hampir tak sisakan tenaga. Tapi gelombang di dadanya lebih besar daripada kehendak tubuhnya. Ia paksakan kakinya melangkah meski nyeri mulai menusuk pada memar kakinya.
Abdullah hentikan langkah. Layangkan matanya pada langit. Ia tidak tahu lagi apakah ini siang atau malam. Waktu telah berhenti sejak peristiwa itu. Tapi ia butuh waktu untuk mengais sisa tenaganya. Lalu apa yang masih menggerakkannya? Tubuh? Tidak. Tubuh itu sudah tidak berfungsi lagi. Namun, kalau pun kaki itu harus dicabut dari tungkainya, Abdullah akan terus berjalan. Semuanya memang telah sirna. Tapi masih ada yang tertinggal. Karena itu, ia masih mencari. Sepanjang beberapa depa, Abdullah kembali menghentikan langkah. Kakinya dilanda nyeri. Seribu semut merah seperti menggigiti urat kakinya. Abdullah Memijit-mijitnya dengan perlahan. Hanya istirahat sejenak. Sebab sesudahnya, dengan rasa sakit yang masih menyisa, Abdullah berjalan kembali. Baca lebih lanjut

1 Oktober 2011 Posted by | Cerita, Kehidupan | Tinggalkan komentar

lia natalia (bab 7)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 6

Bab 07

SUASANA Natal seharusnya sudah turun menjelang. Namun rumah besar itu semakin sepi saja. Semuanya sudah muram sejak Bu Cicih sakit dan bertambah lagi setelah ia pergi. Perempuan tua itu lelah terbaring tenang dalam gundukan tanah merah di pemakaman. Maka hari-hari berikutnya adalah hari-hari kelabu. Semua orang tidak bergairah. Bahkan Bruno dan Pigo sudah beberapa hari ini tidak mau makan. Kedua binatang itu tampak lesu. Jika malam tiba terdengarlah jeritan pedih mereka lewat lolongan panjang yang membuat bulu roma merinding. Baca lebih lanjut

22 Juli 2011 Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan | | Tinggalkan komentar

lia natalia (bab 6)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 5

Bab 06

HUJAN yang turun sejak pertengahan November seolah tidak akan henti-hentinya. Jakarta di beberapa tempat mulai banjir. Udara dingin dan lembab berhari-hari sementara kondisi Bu Cicih semakin memburuk. Tubuhnya kian kurus, pucat dan lemah.Dalam tidurnya pun ia sering mengigau tidak jelas.

Atas permintaan Willy setiap malam Lia tidur di kamar Bu Cicih – di rumah induk. Sepanjang siang Lia juga menemaninya. Ia menggelar tikar di atas Iantai dan di sanalah ia membaringkan tubuhnya sejenak bila Bu Cicih sudah terlelap dalam dalam tidurnya. Baca lebih lanjut

22 Juli 2011 Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan | | Tinggalkan komentar

lia natalia (bab 5)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 4

Bab 05

LIA meneliti kembali satu persatu surat-surat jawaban atas surat-surat lamaran yang sampai ketangannya selama tiga bulan ini. Banyak jawaban penolakan. Lebih banyak yang tidak menjawab sama sekali. Berbelas kali ia pula mendapat panggilan untuk test dan wawancara, semuanya belum berhasil.

Memang tidak mudah bagi wanita pada usia di tigapuluh tahun itu untuk mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor. Apalagi tanpa keahlian khusus dan pengalaman kerja. Namun demikian, keahlian yang ditawarkannya ke pabrik roti dan kueh juga mengalami nasib yang sama. Tidak ada lowongan. Baca lebih lanjut

22 Juli 2011 Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan | | Tinggalkan komentar

lia natalia (bab 4)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 3

Bab 04
LIA mendapat tempat duduk di pinggir sebelah kiri perut pesawat terbangitu.Dekat jendela,sehingga leluasa memandang keluar. Matanya nanar menyusuri gumpalan awan putih yang bergulung-gulung. Wajahnya masih sembab setelah berhari-hari menangis dan kurang tidur.
Sesekali Lia menarik wajahnya menjauhi jendela, karena terbayang sosok Burhan berlari menembus gumpalan awan di sisi pesawat. Bayangan lelaki itu seakan tampak melesat mengikuti dari samping jendela pesawat sambil mengacungkan pistolnya kearah Lia.Bakan gumpalan awan pekat itu pun seakan bergerak dan berubah menjadi Burhan raksasa yang mengerikan. Ia pejamkan mata. Tetapi baying-bayang  Burhan tetap saja dapat menembus pelupuk matanya. Baca lebih lanjut

22 Juli 2011 Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan | | Tinggalkan komentar

lia natalia (bab 3)

Novel By Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 2

Bab 03

LAYAKNYA sekejap saja tahun demi tahun sudah berlalu. Waktu tak kenal pamit. Ia berlari dan terus berlari meninggalkan usia. Karier Burhan juga berlari dan kini telah menjadi Wakil Kepala Cabang Perusahaan Asuransi di Medan. Sementara kepanikan juga makin menyesak. Sebab rumah mereka masih sepi juga. Bayi yang didamba-dambakan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan datang walaupun popok dan perlengkapan lainnya sudah lama tersedia.
Hans – Dokter Manahan, tetap memberi keyakinanbahwa mereka bisa punya anak. Sejumlah Ahli- entah ahli apa lagi namanya, Lia tidak bisa mengingatnya telah mereka datangi. Berbagai pemeriksaan yang berbelit-belit, bertele-tele hasilnya pun tetap bermuara pada jawaban yang sudah diperolehnya sejak awal: Kemungkinan tetap ada ! Kemungkinan tetap ada! Huh! Lalu, kapan, Dokter? Kapan? Baca lebih lanjut

9 Juli 2011 Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan | | Tinggalkan komentar

lia natalia (bab 2)

Novel By Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 1

Bab 2
BELUM pukul enam hari Minggu pagi, Lia sibuk didapur untuk menyiapkan sarapan. Tahu-tahu Burhan muncul ke dapur sudah lengkap dengan pakaian olah raga.
” Ayuh, cepat. Nanti saja itu,” kata Burhan. “Aku sudah siap, ‘nih.”
“Sebentar, Bang, tanggung. Aku juga tinggal ganti baju ‘kok. Aku sudah mandi.”
“Tinggalkan saja itu. Nanti kita jogging sambil cari bubur ayam si Lie Tek di dekat pajak situ,” desak Burhan lagi. Orang di Medan menyebut pasar dengan kata pajak. “Aku nggak mau jogging terlalu siang panas.”
“Ya, ya. Aku ganti baju sebentar,” sahut Lia akhirnya tidak jadi membuat sarapan pagi.
Lia bergegas ke kamar untuk ganti baju olah raga.Dari balik tirai jendela ia melihat si Jonggi Baca lebih lanjut

9 Juli 2011 Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan | | Tinggalkan komentar

lia natalia (bab 1)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Lia Natalia Bab 1

SORE ini terasa lebih cepat gelap disbanding biasanya.Agaknya akan segera hujan.Lia Nathalia merengkuh erat lengan suaminya seperti tidak akan dilepaskanya lagi. Wajahnya tertunduk, melangkah keluar dari ruang praktek dokter Hans sahabat mereka yang menjadi ahli kandungan dikota Medan ini. Lia tidaak tahu mau bicara apa lagi sekarang Burhan lelaki di sisinya itu pun sesekali terdengar mendesahkan nafasnya panjang-panjang. Seakan berusaha menghempaskan beban yang menghentak di dalam dadanya. Dokter Hans – begitu mereka menyebut sahabatnya yang sebenarnya bernama Manahan itu baru saja memberikan harapan. Lagi-lagi harapan.Sejak dulu Hans begitu, selalu memberi harapan yang tak kunjung berwujud. Lia mulai curiga Hands tidak jujur. Hans tidak berterus terang menjelaskan kemungkinan pahit yang kini terbentang di hadapan mereka.

Baca lebih lanjut

9 Juli 2011 Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan | | Tinggalkan komentar