Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

menapaki detik

Jakarta, 2 Oktober 2003 09.46 WIB
Entah sudah keberapa ratus kalinya aku mengirimi dia email, sejak ia pergi 3 minggu lalu?? Kupandangi layar komputerku?.
Mataku nanar menatap ikon hijau berbentuk orang di MSN Messenger, mengkhayalkan Nick-nya pindah ke list online.
Aku Cuma pengen tanya gimana kabarnya, gimana kuliahnya, apa dia suka farewell gift-ku? Terdengar suara Bryan McKnight dari media player.
” Cause I never felt this way?.’bout love?”.
Kalo gak inget lagi di kantor, pasti sudah kuputar volume speaker sampai maksimal. Kututup MSN Messengerku dan mulai hanyut dalam pekerjaan rutin.

Portland, 2 Oktober 2003 07.00 PM
” You have new mail from Tatia ”
Hari ini sudah kedua kalinya kulihat ikon itu. Ku-click ikon inbox dan kulihat namanya di deret paling atas.
Subject : Kemana aja Dik?
Kubaca emailnya, dia menanyakan kenapa aku tidak lagi membalas email-emailnya belakangan ini. Selain itu dia juga menceritakan joke-joke terbaru. Aku tersenyum membayangkan betapa bersemangatnya dia bila bercerita.

Tatia?.. aku memejamkan mata, mereka-reka apa yang akan kutuangkan dalam reply. Hal yang sudah beribu kali kupikirkan tapi tidak pernah kulakukan sejak aku tiba di asramaku dari Summer vacation. Setelah sign out dari Hotmail aku bangkit dari kursi dan berjalan ke lemari, meraih jaket hijau berlambang University-ku. Ketika akan melangkah menuju pintu, Josh roommate-ku tiba-tiba melongokkan kepalanya dari celah pintu kamar mandi “Nerd, where are you goin’ ?” kelihatannya dia baru selesai bercukur. Aroma Aftershavenya menusuk sekali dasar dandy.

“Naahh, hanya mau jalan ? jalan sebentar?. Besok ada test Multinational Corporations aku mau ke Library sebentar” jawabku
” Dik ada party di Dorm sebelah, aku mau kesana. Mending kamu ikut aku. It’s gonna be exciting lot’s of chick.” Dia mengerling
“that’s don’t impressed me much, aku lebih tertarik dengan bagaimana cara upgrade nilaiku di kelas si Mr. Boldy Bald thanks anyway”.
Sambil membuka pintu kudengar dia bicara dengan nada kesal ” You are such a weird nerd” Pintu kamar kututup. Entah kenapa aku dan Josh bisa betah berbagi kamar dia dan aku begitu berbeda.

Aku keluar dari pintu asramaku yang nyaris tidak terlihat lagi kacanya karena dipenuhi sticker bebek berjaket hijau. Aku melangkah melintasi taman menuju perpustakaan dimana aku bekerja paruh waktu disela jam-jam kuliah. Kurapatkan jaket, sudah masuk musim gugur sekarang.

Mrs. Whitaker kepala administrasi perpustakaan memandangku dengan takjub
“kamu benar-benar mencintai perpustakaan ini ya? Kamu baru pulang dua jam yang lalu, Demi Tuhan.” Aku tersenyum seraya memasukkan backpackku ke dalam locker khusus untuk pegawai perpustakaan. “besok ada test dan aku lupa meringkas bahannya.” Aku berjalan diantara rak-rak buku yang tinggi. Saat melewati bagian novel aku berhenti sejenak dan menghela nafas dan menarik sebuah buku berjudul “Slaughterhouse-five” karya Kurt Vonnegut. Aku duduk di tangga lipat kecil yang biasa digunakan untuk mengambil buku yang berada di deret atas. Sekelebat bayangan terlintas di benakku.

Tatia sedang duduk menyalin sesuatu dari komputernya ke sebuah buku hitam kecil.
“Tia .” panggilku. Dia menoleh matanya membulat.
“Dika kok kamu kesini gak bilang – bilang aku dulu?
” Dia kelihatan senang sekali melihat aku dan Demi Tuhan aku juga. Kubetulkan letak kacamataku “Ini buat kamu” kusorongkan buku bercover kuning itu padanya.
” Kamu kasih aku ini sebagai balasan farewell gift kemarin ya? Aku jadi gak enak deh?” dia memanyunkan bibirnya.
Aku tertawa kecil ” Aku kan sopan, non. By the way, aku pengen kamu baca ini? it’s extremely interesting reading” jawabku.
“Makasih ya, kamu jadi berangkat lusa?” tanyanya.
“Ya, makanya sekarang aku lagi sibuk packing”.
Hari ini dia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna musk dan rok dengan frill berwarna putih. Dia kelihatan begitu muda dan rapuh.
“Hey?. Kirimi aku email ya” dia berkata lirih.
“Sure.” Jawabku singkat.
Tiba-tiba aku merasa ingin memeluknya. Kucengkeram partisi mejanya dan kujabat tangannya “Bye Tatia, take care”
dia memandangku sambil tersenyum “Kamu juga” aku berbalik keluar dari ruangannya dan turun dengan lift. Didalam lift kuletakkan tangan yang tadi kupakai untuk berjabat tangan dengannya di dada kiriku, aku tidak pernah merasa seberat itu meninggalkan tanah air.

Tersadar dari lamunanku aku bangkit dan meletakkan buku itu kembali ditempatnya kemudian berjalan ke arah rak Politic Science Literatures.

Jakarta, 2 Oktober 2003 19.30 WIB
Pfuiih?.Finally the long day is over?.
Kubereskan buku-bukuku dan mengganti sepatu kerjaku dengan sandal berhak tinggi. Aku ada janji dengan Bagas, kakakku. Kami akan makan malam bersama. Kututup semua file di komputerku, didorong rasa penasaran kuclick ikon shortcut ke internet explorer dan aku sign in ke emailku.
“You have no new mail” Damn!
“Well, nona kamu terlalu banyak berkhayal” kumarahi diriku sendiri.

Kutemui Bagas di Jimbani, orang-orang pasti akan mengira kami pacaran. Usia kami hanya terpaut dua tahun dan kami akrab sekali, pergi kemana-mana berdua. Sampai-sampai Bunda pernah memperingati kami
“Kalau kalian terlalu saling bergantung begitu, kapan mau punya pacar?”

Kuhenyakkan tubuhku di kursi, “Hai kak”.
“Kenapa Ti? Cape? ” Bagas bertanya heran. “Kok gak biasa-biasanya mukamu kucel begitu?”
“Iya, cape hati?. lagi-lagi Dika tidak mengacuhkan emailku, kenapa sih sahabatmu itu? apa segitu susahnya ngetik ‘hai juga, kabarku baik’?” jawabku ketus.

Bagas menepuk bahuku, “mungkin dia sibuk ti?”. Bagas dan Dika bersahabat karena mereka sama-sama tergila-gila pada fotografi. Bila Dika yang sejak SMA tinggal di sendiri di luar negeri, kembali ke Tanah air, mereka selalu pergi bersama untuk mencari objek, bahkan sampai keluar Jakarta.
“Dia gak suka aku kali ya Kak?” tanyaku polos.
“Bukan gak suka ti, aku yakin dia hanya gak tahu gimana mengungkapkannya.
You know, bahkan kepada orangtuanya pun dia bersikap sangat formil. Maklumlah, walau satu keluarga mereka jarang sekali berkumpul jadinya ya kurang akrab”. Jelas Bagas.

Aku hanya mengangkat bahu dengan acuh tak acuh “pesen makanan yuk!” aku meraih menu.
“Kakak yang traktir kan? ” aku mengerling jahil kepada Bagas yang kontan langsung melotot
“Kok jadi aku sih?”. Aku menjawab kalem, “Lha, kan kakak yang ngajak?”

Portland, 3 Oktober 2003 04.30 AM
Sial kenapa aku gak bisa tidur juga?
Aku menoleh ke ranjang sebelah, masih kosong. Meriah juga rupanya pesta itu. Berani bertaruh, pasti Josh sekarang sedang terkapar di pojok ruangan karena kebanyakan minum.

Kupandangi langit-langit, sticker Glow In The Dark berbentuk bintang-bintang yang ditempelkan oleh Josh berpendar-pendar di kegelapan.Aku teringat suatu malam di rumah Bagas, kami bertiga (Aku, Bagas dan Tatia) berbaring di balkon kamar Bagas memandangi langit. Bintang bertaburan malam itu. Tiba-tiba Bagas berkata “Tia dulu pernah minta diambilkan bintang, pake nangis lagi” Tatia tertawa. Aku suka dengan cara dia tertawa begitu lepas dan polos. Entah kenapa aku tidak bisa tertawa seperti itu.

Dia bangkit dan bersandar di pagar pembatas memandangi kami.
” Naif sekali ya?. Aku ingin jadikan bintang itu sebagai lampu tidurku?. dasar anak kecil” tukasnya.
Tiba-tiba dia menoleh padaku “Dik, kamu pernah ingin memeluk bintang?” tanyanya. Aku tertawa pelan “Ya” sahutku pendek, dalam hati aku menambahkan kamulah bintang terang itu, Tatia?.

BLAAAR! Suara bantingan pintu hampir membuat jantungku loncat, sial!
Josh terhuyung memasuki kamar. “Hey man, you’re still awake?”
“Begitulah, mungkin karena kelelahan aku jadi susah tidur”.
“Hmm?” dia menggumam tidak jelas dan membanting tubuhnya ke tempat tidur, tak lama kemudian dengkurannya terdengar.

Aku berbalik dan menghadap tembok, memejamkan mataku mencoba berkompromi dengan pikiranku. Aku harus bangun pagi besok.

Jakarta, 3 Oktober 2003 00.21 WIB
Kuletakkan buku pemberian Dika, kartu ucapannya dan fotonya yang kuminta secara paksa dari Bagas di meja samping
tempat tidurku. Aku sengaja mengumpulkan momentos-momentos itu agar setidaknya aku bisa merasakan kehadirannya disini. Kumatikan lampu tidurku. Good night Dika??

Portland, 6 Oktober 2003 01.00 PM
Aku duduk di depan komputer, membenahi database persediaan buku. Hari ini di perpustakaan tidak begitu ramai, mataku lelah karena terlalu banyak memelototi komputer. Kulepaskan kacamata dan mengucek mata lalu memundurkan kursi dan meregangkan otot-otot. Kupasang Headphone dan kunyalakan Media Player. Ku-click “Falling” dari Jamiroquai, aku tidak begitu berminat pada kelompok Acid Jazz ini tapi Tatia suka sekali lagu ini. Kusandarkan punggung dan memejamkan mata.

“Sometimes in the morning, when I wake up I shed a tears. I’m hoping from the night time, you’ll open the door and reappear?..
I miss you ?.I wanna kiss you the sweet scent of rosses is in your hair.you set my heart racing when you get next to me still I don’t think you care.”

Sedang apa dia sekarang? Kulirik jam tanganku, hmmm?.pasti masih tidur.Apa dia marah padaku karena aku tidak konsisten dengan ucapanku. Tidak pernah lagi kubalas emailnya dan ku-block dia dari list Chatfriend-ku di messenger,
sehingga dia tidak bisa melihat bila aku sedang Online. Aku bingung Tatia – bingung pada perasaanku sendiri dan keadaanku. Seandainya saja semua lebih mudah.

Portland, 6 Oktober 2003 10.00 PM
“Hallo” kuangkat handphoneku
“Dika, where have you been ?” suara Bagas menyambutku
“Biasalah – apa kabar kamu?’ Tanyaku
“Baik” jawabnya singkat
“Tatia baik-baik saja?” tanyaku hati-hati
Bagas menghela nafas “Dia sedih, tapi dasar Tatia dia pandai sekali mengkamuflase perasaannya. Tapi aku tahu Dik, dia tidak pernah seperti ini”.Aku diam seperti ada yang menonjok perutku, sesak sekali.
“Gas, kita sudah sepakat khan? Ini yang terbaik buat dia. Aku tidak mau membuat keadaan lebih buruk”. Jawabku
“Yeaah? ini yang terbaik, dan dia tidak perlu tahu mengenai kesepakatan kita. Tapi pada akhirnya dia juga akan tahu dengan sendirinya – suatu saat nanti” kata-kata Bagas terputus.
‘Someday but not now?.” Jawabku kami berdua terdiam sesaat, selalu sulit keadaannya bila pembicaraan kami menyangkut keadaanku.

“Well, aku Cuma mau mengabari kamu, proses editing hampir selesai. Tolong kirimkan finishing-nya A.S.A.P ya..” Kata Bagas kemudian.
“Fine, I’ll send it to you shortly. Bagas, jangan bilang Tatia kamu telfon aku, okay?”
“Sure?” jawabnya pelan
“And Bagas?.” Aku menarik nafas sebelum melanjutkan “I love Tatiana with every single beat of my heart”. Tenggorokanku serasa tercekik ketika mengatakannya. Hening sesaat
“Okay then?. I got to go, ada janji dengan orang percetakan”
“Fine see you later”. Jawabku. Bagas memutuskan sambungan telepon. Aku masih terdiam beberapa saat kemudian.

Jakarta, 10 Oktober 2003 19.00 WIB
DIKA
Kutulis namanya, dan kupandangi lama sekali. Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai suka padanya. Kami berteman sejak kecil. Aku selalu diajak bila Bagas pergi dengannya. Belum pernah aku punya teman yang lebih baik daripada dia.
Sikapnya sopan sekali, semua anggota keluargaku suka padanya bahkan dia sudah dianggap sebagai salah satu anak Ayah dan Bunda. Sejak puber sampai sekarang usiaku 22 tahun, aku belum pernah pacaran. Aku juga tidak pernah memikirkan anak laki-laki lain selain Dika. Dia berbeda dengan mereka semua. Dia tidak pernah petantang petenteng dengan menggunakan fasilitas dari ayahnya yang notabene adalah konglomerat. Penampilannya sederhana, cara bicaranya halus dan tidak pilih-pilih teman bergaul. Aku selalu menanti-nantikan saat dia pulang ke tanah air untuk beribur.
Aku tidak pernah mau ketinggalan bila dia dan Bagas pergi berburu objek foto, bahkan aku sering juga dijadikan objek foto mereka.

Tapi 3 tahun terakhir ini, dia baru pulang sekali, musim panas kemarin. Dia tampak kurusan, ketika kutanya dia bilang sibuk sekali dngan kuliahnya. Sebelumnya aku tidak pernah begitu mengharapkan kabar darinya. Dia sering tiba-tiba menelpon kerumah dan mengobrol dengan ku, dalam seminggu tiga kali kami chatting di MSN MESSENGER. Rasanya keadaan begitu normal saat itu.

Tapi tidak demikian pada saat dia pulang kemarin. Dia menjadi pendiam dan seperti menghindari aku. Dia dan Bagas tidak lagi berburu objek foto. Bila dia datang kerumah mereka langsung masuk ke kamar Bagas. Sekali waktu aku memergokinya keluar dengan mata merah. Sebelum aku sempat bertanya dia mengacak rambutku dan melesat pergi. Bagas tidak banyak bicara hari itu. Ketika kutanya dengan paksa dia menjawab “Dika sedang ada masalah dengan temannya”.

Aku bertanya-tanya, masalah apa? Jangan-jangan sedang putus cinta? Aku teringat pada foto yang pernah dia kirimkan kepada Bagas waktu aku masih kelas 1 SMA. Dika berfoto dengan seorang gadis bule di Hall of Fame, Hollywood.
Bagas menggodaku dengan mengatakan bahwa aku cemburu. Aku hanya memanyunkan bibir dan kembali memandangi foto itu. Ingin benar aku menjambak rambut pirang gadis itu. Kenapa kamu Dika? Ada apa sebenarnya?

Portland, 13 Oktober 2003 11.00 AM
Kupandangi sekali lagi layout finishingku. Selangkah lagi bukuku akan selesai. Bagas akan mengurus masalah editing dan cetak-mencetaknya di Indonesia. Aku memang ingin buku ini diedarkan disana. Aku dan Bagas telah mengumpulkan materinya sejak dua tahun yang lalu. Dia membantuku memilihkan foto-fotoku yang terbaik. Kukumpulkan coretan-coretanku semenjak aku kecil. Aku suka menulis dan tergila-gila pada sastra. Kubayangkan saat buku ini sudah beredar, Tatia pasti akan bangga padaku. Semua ini kulakukan karena ingin meninggalkan sesuatu untuknya.
Tiba-tiba dadaku terasa panas sekali.
“Hggghh?” kurebahkan tubuhku di tempat tidur.
Josh masuk kamar dan memandangku dengan kuatir “Hey Nerd, are you okay?”

“Yes, hanya sakit biasa?.aku kurang tidur karena menyelesaikan finishing untuk buku itu.
Josh could you please do me a favour?”,
” Course, tell me”. Dia menatapku prihatin.
“Tolong kirimkan paket itu ke Indonesia dengan jasa > kurir, Bagas harus segera meprosesnya”. Kataku kutahan nyeri di dadaku.
“Sure, I’ll go right now, before they’re close for lunch”. Jawabnya.
Dia beranjak meraih kotak itu dan melangkah keluar kamar.
“Josh?.” Aku memanggilnya “Thank’s for everything?..”.
dia tersenyum kecil “Anytime Bro”. Jawabnya seraya menutup pintu. Aku meringkuk di tempat tidur menahan nyeri di dadaku sepanjang sore.

Jakarta, 14 Oktober 2003 12.00 WIB
Aku malas keluar makan siang hari ini. Kunaikkan volume speakerku, terdengar suara Brandy dengan “Have you ever”
semua orang diruanganku sudah keluar untuk makan siang jadi aku tak perlu khawatir ada yang mengeluh dengan suara playerku

“Have you ever love someone so much that makes you cry?..”
Kuhela nafas, Bagas sibuk sekali akhir-akhir ini. Terutama seminggu belakangan. Kami tidak pernah lagi membicarakan Dika. Aku menyimpan perasaanku dalam-dalam. Cukup untukku sendiri. Ku-click icon “Compose”

“Dear Dika,
Apa kabar ? gimana kuliahmu?”

Tanganku membeku diatas Keyboard. Bukan.. bukan ini yang ingin kukatakan, aku mau bilang aku kangen dia.
Aku mau marah karena dia tidak pernah membalas emailku. Aku kesal sekali padanya. Aku mau tanya bagaimana perasaannya padaku. Kututup emailku, tidak jadi kukirimkan pesan itu padanya.

Portland, 15 Oktober 2003 10.00 PM
Aku duduk di bangku batu taman depan asramaku. Angin musim gugur berhembus menusuk dadaku yang terasa panas.
Aku bersandar …

Aku pernah bilang pada Bagas bahwa cepat atau lambat aku akan mengakhiri semuanya dengan caraku sendiri. Aku tidak mau dilumpuhkan oleh penyakit ini, aku tidak mau menyusahkan orang lain dengan penderitaan yang kusebabkan sendiri.
Bagas hanya tertunduk mendengarku bicara seperti itu. Kemudian dia berkata lirih “Kamu akan membuat orang-orang yang mencintaimu sedih”.
“Cepat atau lambat mereka akan sedih? jadi apa bedanya?
Mereka akan jauh lebih sedih bila melihatku dengan kondisi yang mengenaskan”. Tadi kutelepon rumah? aku bicara dengan Papa dan Mama. Mereka berusaha bersikap senormal mungkin, tapi atmosfer kesedihan begitu terasa dalam percakapan.Kukatakan pada mereka bahwa aku mencintai mereka dan berterima kasih untuk segalanya yang telah mereka lakukan untukku.
“Aku akan pulang sebentar lagi” kataku. Mereka diam terdengar isakan Mama.
“Kami tunggu, nak” Suara berat ayahku terdengar jauh sekali.

Kusandarkan kepala dan menyilangkan tangan di depan dada, Tatia?. Bila nanti kita bertemu lagi di kehidupan berikutnya, aku tidak akan melepaskanmu sekejap pun. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi.

Suddenly the world stops, Sounds echo through my ears and fade away,
I’m fixed in my place and I don’t move,
I stare at something but I do not see what’s in front of me,
I don’t have any idea what’s going on around me because I’m not here.
It’s Gone now. It was just a flashback, one of the greatest feelings in the world.

Jakarta, 17 Oktober 2003 01.00 WIB
“Bagas !! ya tuhan Bagas!!”
Aku tersentak mendengar suara Bunda yang penuh kepanikan menggedor kamar Bagas yang terletak berseberangan dengan kamarku. Terkantuk-kantuk aku membuka pintu kamar dengan mengenakan Bathrobe sekenanya. Kulihat Bunda memandang khawatir, Ayah berdiri di belakangnya menggenggam wireless.Tiba-tiba aku seperti mendapat firasat buruk, “Ada apa yah ? ” tanyaku dengan was-was. Bersamaan dengan itu Bagas membuka pintu, mereka berdua menatap Bagas.
“Gas, telfon mama Dika”. Ayah menyerahkan wireless kepada Bagas.
Raut wajah Bagas berubah seolah dia sudah tahu apa yang akan dia dengar. Aku melangkah mendekati mereka bertiga dan mendengarkan Bagas bicara di telepon.

“Malam, tante?”
“Iya?. Saya turut menyesal” suara Bagas seperti tersangkut di tenggorokan.
“Kapan Dia tiba?”
“Baik, besok pagi kami ikut ke Airport”.

Aku jadi bingung, seperti berada di Twilight Zone. Ada apa ini? Siapa yang akan kami jemput di Airport?
Sedetik aku terlonjak, apakah Dika akan pulang? Detik berikutnya aku berfikir, tapi kenapa semua orang terlihat sedih?
Bagas menatapku, menyerahkan wireless pada Ayah. Dia merangkul pundakku dan menghelaku memasuki kamar.
Kami duduk berhadapan diatas tempat tidurku. Bagas menggenggam tanganku, dia menatap kedua mataku dan berkata hati-hati…

“Tatia, kamu dengar aku baik-baik ya, tapi kamu harus kuat dan sabar”.
Aku mengangguk dengan ekspresi kebingungan.
“Tadi mamanya Dika yang telfon, dia mengabarkan berita duka cita ..”.
Bagas berhenti sejenak dan mempererat genggamannya.
“Dika meninggal dunia, sekarang jenazahnya dalam perjalanan ke Indonesia”.

Aku berusaha mencerna kata- kata Bagas, kemudian tertawa.
“Kelewatan kamu kak, temen sendiri disumpahin, becanda ya?” Bagas menatapku sedih,bulir-bulir airmata meleleh di pipinya, dan dia tidak pernah menangis. Aku ternganga seluruh sendi-sendiku seperti membeku dan aku sadar sepenuhnya dia tidak bercanda. Bagas memelukku erat-erat seperti takut aku akan mengamuk aku mencengkeram punggung Bagas. Aku menangis kebingungan “Tapi kenapa kak? Kenapa dia?”

“Dia meninggal karena radang paru-paru, penjaga taman menemukannya terbujur kaku di bangku taman”. Kata Bagas
“Dia sakit Tia, 2 tahun lalu dia terdeteksi terinfeksi HIV dari jarum suntik di klinik Airport Kansai.
Waktu itu dia terkena flu, karena banyak objek foto yang harus dia ambil di Osaka, dan waktu liburnya sangat singkat maka dia minta disuntik antibiotik di klinik itu, kamu tahu khan bagaimana antinya Dika kepada obat-obatan yang dijual bebas. Tapi ternyata jarumnya tidak steril. Imunitasnya menurun drastis, dia sudah terkena radang paru-paru sekali tahun lalu?. Tapi dia tidak memperdulikan keadaannya, dia bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa dan kemarin dia telah memilih sendiri jalannya.” Bagas menjelaskan sambil terisak

“Tapi kenapa aku tidak diberitahu sama sekali tentang keadaannya?” tanyaku
“Dika memintaku merahasiakan darimu, dia mencintaimu Tatia?..”
Bagas mempererat pelukannya. Aku seperti bermimpi, aku ingin berteriak agar ada orang yang membangunkanku .

Hari-hari berikutnya kulalui dengan setengah sadar, menjemput jenazah Dika di Airport, Upacara pemakaman yang terasa seperti menghadiri pemakaman orang lain. Aku duduk di depan meja rias menatap bayanganku. Wajahku pucat sekali, kontras dengan pakaian hitam-hitam yang kukenakan. Kutatap wajah Dika yang tersenyum di foto berlatar belakang pemandangan Bromo yang kupajang di meja riasku. Kutelusuri wajahnya dengan jariku, mata tajamnya yang berkacamata, wajahnya yang tirus dan bibir tipisnya yang merah.Kubalas senyumnya …Dika … aku ingin memelukmu sekali saja.

…If you live to be a hundred, I want to live to be a hundred minus one day, so I never have to live without you?..

Jakarta, 28 April 2004
Hari ini launching buku “Menapaki Detik” karya Dika.
Buku itu berisi foto-fotonya yang terbaik dan tulisan-tulisannya, pemikirannya serta pandangan hidupnya. Sejak sebulan terakhir ini buku itu sudah ramai dibicarakan di Jakarta. Hari ini aku genap berusia 23 tahun. Bagas bilang Dika minta launchingnya dilakukan bersamaan dengan ultahku. Aku tersenyum pada semua orang yang hadir pada acara launching itu. Tapi tidak seperti launching buku pada umumnya, tidak ada sang pengarang yang akan menandatangani bukunya.

Pada halaman depan Dika menulis “Untuk Tatiana, usahakan untuk selalu tersenyum bila mengingatku”.
Kutinggalkan Ballroom dan melangkah ke balkon.Kutengadahkan kepalaku menatap langit yang cerah. Kupeluk erat buku itu.Ada Foto yang diambil waktu kami bertiga berburu objek foto ke Lombok.Saat itu sedang sunset, aku duduk membelakangi pantai. Dika mengambil fotoku, kemudian memandangku dengan senyumnya yang khas.
“Tatia, hari ini aku memotret dua matahari”.

Aku memejamkan mata dan tersenyum mengenang hari itu.
“Don’t cry because it’s over, but smile because it’s happened”
“Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud.
It is not rude, it is not selfseeking, it keeps no record of wrongs.
Love does not delight in evil but rejoices with the truth.
It always protects, always trusts, always hopes, always preserves.”
Untuk “Kurt Vonnegut”

Kita semua adalah malaikat bersayap satu, dan hanya bisa terbang jika berpelukan.
Why don’t you lend me yours, then?

Author : Rizky Amalia Mizanie

Share/Bookmark

28 Juli 2010 - Posted by | Curhat | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: