Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

kisah cinta yang tak berjudul

Aku duduk termenung menatap hamparan semburat  jingga, langit masih menyisakan sisa-sisa hujan sore tadi. Udara dingin mengusap lembut punggung kala aku sedang duduk di sebuah taman, pada sudut kota Bandung. Sudah berbatang-batang rokok aku habiskan, tapi rasanya mulut ini masih sepat, belum puas juga. Sama seperti hati ini yang belum lelah mengenangmu.  Kutulis namamu di dahan pohon yang ada di sampingku. Nama yang sanggup membuat hati ini luruh, nama yang sanggup membuat bibir ini tersenyum.
Ester apakah kamu masih seperti dulu?!
Angin berhembus kencang, membawaku pada kenangan beberapa tahun silam di sebuah taman saat matahari bersinar dengan teriknya. Kita duduk di bawah pohon, berbagi tawa dan cerita.
“Panas banget ya, Cui? Kok tidak ada angin ya?” tanyamu.
“Coba deh kamu bersiul.” Aku melihat wajahmu mengernyit lucu, mencoba menerka kalimat tak logisku. Apa hubungannya antara bersiul dengan angin?
“Memangnya apa hubungannya?” tanyamu, menderai tawa di akhir kalimat.
“Bersiul itu bisa manggil angin,” jawabku. “Waktu aku kecil, kalau main layangan dan tidak ada angin, aku pasti bersiul. Dan tidak lama kemudian, pasti anginnya datang.”
Ester menatapku dengan senyum. “Coba dong kamu siul, aku kan tidak bisa,” pintamu.
Ketika itu, aku pun langsung bersiul. Dan, entah kebetulan atau tidak, tak lama berselang angin pun berhembus kencang. Lantas kamu memekik gembira, dan memandangku takjub seolah aku memiliki kekuatan magis atau gaib. Aku senang melihat wajahmu saat itu.
Polos seperti bayi.
Bersih seperti baru terlahir….
Sejak saat itu kamu selalu minta aku bersiul. Saat kita duduk di taman, dan sejak saat itu pula, angin selalu mengingatkanku padamu. Menyeret memori biru pada gadisku….
Kita semakin dekat sejak kita mengambil mata kuliah yang sama. Mencari buku-buku bekas di Kramat Kwitang. Main game atau sekedar duduk-duduk di taman menunggu jam kuliah.
Sungguh. Duniaku seolah berputar mengingat setiap kenangan tentangmu – rindu rasanya aku
ingin kembali ke masa-masa kita kuliah dulu.

Kamu selalu memanggilku, ‘Cui’. Sebuah nama yang lahir hasil olah plesetan kamu dari kata ‘coy’ – bahasa gaul yang pernah kamu karibi. Aku senang. Sebuah nama kesayangan darimu untukku, dan hanya kamulah yang satu-satunya memanggilku seperti itu!

Sedari dulu aku memang ingin punya nama kesayangan, sebuah panggilan yang lebih karib ketimbang mendengar
nama asliku yang telah mendenyar di gendang telingaku semenjak aku lahir. Aku bosan dipanggil dengan nama
asli, dan hanya kamulah yang mengerti dengan keinginan hatiku.
Kamu tahu, betapa berartinya nama itu bagiku. Sebuah nama yang terangkai dari tiga huruf saja namun ia
merupakan lak yang paling sempurna di dunia, yang dapat merekatkan dua hati. Hatiku dan hatimu, Ester!  Nama itu sangat berarti untukku, karena nama itulah pula aku dapat mencerapi arti senang dan susah. Sedih dan gembira. Tawa dan tangis.
Aku tahu, aku mempunyai arti khusus di sudut hatimu. Seperti kala itu, saat kamu senantiasa menyertakan nama
kesayanganku pada setiap momen kehidupanmu. Saat kamu curhat, sms, dan….

I love you, Cui!
Tapi, setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Bukankah begitu, Ester? Sama seperti ketika kamu mengabariku kabar yang paling buruk sedunia!

21 Januari 2008
22.45
Aku mau tunangan sama Fadli, tanggal 14 Februari. Tepat valentine. Kamu datang ya, Cui!

Ester, mestinya aku mafhum mengartikan kebersamaan kita selama ini saat menyadari ada satu
nama yang telah karib dalam hari-harimu: Fadli! Mestinya aku tahu dan sadar akan hal itu: hari-hari langut nan indah ini akan tercabut dari hadapan kita!
Pesan pendek sms-mu membuat duniaku berputar. Lama aku terpaku menatap tulisan di layar handphone, bingung kata-kata apa yang harus aku tulis untuk membalas.
Sungguh, kupatahkan semangat dimana seharusnya kamu merajut awal indah bersama Fadli saat kuputuskan untuk tidak hadir pada hari pertunanganmu! Bukan karena aku tidak ingin melihat kamu bahagia, tapi karena aku tahu: aku tidak akan sanggup berdiri tegar di hadapanmu saat itu.
Ragu, aku mulai mengetik huruf demi huruf.

26 Januari 2008
23.30
Insya Allah, ya? Kalau bisa datang, aku pasti datang.

“Tunangannya diundur tanggal 16 Maret nanti, Cui,” katamu saat itu, ketika aku menemanimu mengambil kebaya untuk acara pertunanganmu di salah satu butik terkenal di Jakarta.
“Lho, kenapa memangnya?” tanyaku, mengerutkan kening kepura-puraan. Sungguh, sandiwara ini sangat menyakitkan! Entah mengapa Lucifer di hatiku mengajuk racau: sebenarnya aku lebih lebih suka seandainya pertunanganmu dibatalkan untuk selama-lamanya!
“Pendetanya berhalangan, tidak bisa datang pada hari ‘H’, jadinya diundur deh.”  “Memangnya, yang namanya tunangan itu harus ada pendetanya? Kok kayak nikah saja?”
“Yah, sebenarnya tidak juga sih. Tapi, biar lebih serius dan sakral saja. Hei, rasanya malu ya kalau seandainya pertunanganku gagal dan aku tidak jadi nikah.”
“Kenapa harus malu? Kalau ternyata banyak tidak cocoknya, apa masih mau diterusin? Nikah itu kan urusan pilihan hati. Dan, cinta pada dasarnya bukan rasa malu.”
Sesaat aku melihat ada gurat keraguan di matamu. Lalu kamu tersenyum tak lama berselang.
“Aku yakin dengan pilihanku, Cui!”
Hatiku terkapar berdarah. Anggukan yakinmu membuat mataku membasah, berusaha kusembunyikan lewat seulas senyumku yang palsu. Entah, aku tiba-tiba menjadi orang yang paling malang di dunia!
Fadli memang bisa membawamu ke arah masa depan yang kamu impikan, Ester. Aku tahu, setiap mimpi dan harapanmu, apa yang ingin kamu capai dalam hidup, tentulah aku bukan aku orang yang mampu mewujudkan itu semua! Tapi tahukah kamu, Ester, hanya aku yang mencintaimu sedalam ini. Yang datang atas nama ketulusan! Dan, aku yakin cinta tidak pernah salah. Cinta hanya hadir pada saat yang tidak tepat!
“Kamu jahat kalau sampai tidak datang, Cui!” Ester mengultimatum. “Aku mau orang-orang terdekat aku datang. Ini kan salah satu hari paling istimewa dalam hidup aku,” demikian katamu lagi, saat kita bertemu sehari sebelum hari pertunangan.
“Maaf banget ya, Ter, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa datang. Acaramu berbenturan sama acara keluarga aku,” tolakku, menyembunyikan wajahku yang tiba-tiba seperti bertopeng. “Ma-maaf….”
“Ya, sudah,” napasmu menghembus berat. Aku tahu ada ruap kecewa yang tak dapat kamu himpun dalam sebaris kalimat.
“Semoga kamu bahagia,” kataku dalam nada terbata.
Kamu tersenyum. “Terima kasih ya, Cui.”
Hatiku semakin berdarah.

Malamnya aku menangis. Seikhlas apapun, aku tetap merasa ada bagian dari hatiku yang terluka. Sejak saat itu aku memang sedikit demi sedikit menghindarimu, menghilang darimu. Dan kita tidak pernah bertemu lagi karena kamu pun memutuskan untuk melanjutkan studi S2-mu di Bandung, dan aku memutuskan untuk menerima tawaran kerja dari teman ayahku di Amerika.
Waktu merayap dengan sangat cepat. Ia menelan sejumlah kenangan kita, Ester. Namun aku masih terkapar dalam memori biru yang pernah kita rajut.
Sudah satu tahun kita tidak bertemu, aku baru seminggu pulang dari Amerika. Entah apa yang membawaku ke kota ini. Mungkin getar rindu masih belum sepenuhnya pudar. Hingga pada suatu Lia – sahabatmu, mengabariku di Jakarta: kamu tengah berada di Bandung. Ia memberiku secarik kertas bertulis alamatmu di sana.
“Kamu harus ketemu, Ester!”
“Untuk apa?”
“Jangan lagi tanya untuk apa. Kepergianmu yang tanpa kabar setahun lalu sudah cukup membuatnya terkapar berdarah!”
“Aku sudah melupakan masa laluku dengannya, Lia!”
“Tidak bagi Ester. Selamanya tidak.”
Dadaku serasa tersekat sesuatu yang menggumpal setelah sesaat tadi menggemuruh. Masihkah ada pijar yang melelatu serupa unggun yang akan menyala abadi di hatinya?
“Please, temui Ester. Enyahkan kekerdilan yang senantiasa membuatmu jadi pecundang.”  Tapi sesuatu melerai niatku untuk bersua denganmu. Dan sesuatu itu adalah benang merah masa lalu kita, yang kuputuskan sepihak kala aku benar-benar terluka: Tak kukabari keberangkatanku ke Amerika padamu!
Aku tahu, kamu pasti marah!
Langit semakin kelam ketika lelampu taman sudah mulai dinyalakan. Aku masih sendiri, merajut lembar demi lembar kenangan yang sudah usang. Beberapa kenangan itu merepih dan boyak oleh ulah kita yang tak pernah jujur mengungkap isi hati.
Aku tahu, kamu menangis dalam senyum. Kita sama-sama bersandirwara. Fadli adalah jaring yang diciptakan sebelum kamu menemukan dunia penuh bunga denganku. Ia sudah terlanjur memenjarakan kamu dalam pranata cinta tak berujung. Sehingga kamu mampu menepis sebaris kalimat seputih mutiara di dalam hatimu: Sesungguhnya, aku sebenarnya cinta padamu, Cui!
Di sini, aku masih sendiri. Menghukum diriku dalam sejumlah rasa bersalah. Dusta di antara kita telah menciptakan dusta-dusta lain. Apakah kamu berbahagia bersamanya?!

Malam menghadirkan jelaga bagai jubah hitam dalam rimba di atas Kota Bandung. Tak ada noktah gemintang seperti mata peri langit. Sementara kepungan awan tiap sebentar meniriskan gerimis, dan mengusir berpasang-pasang kaki kecil berceloteh riang pada sudut taman. Aku masih teronggok pada salah satu kenangan silam kita. Betapa banyak remah kepengecutan kita yang menabur di atas luka yang kian hari melebar di hati kita.
Jika ada penyesalan yang terdalam, maka akan kusesali ini: kenapa aku merasa berat meninggalkan taman ini, sementara kenangan kita telah semakin berdebu, dan tiap menyingkapnya maka hanya akan menyobek lembar demi lembar seperti almanak yang tanggal.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling taman, tak ada sesiapa kecuali sejumlah sepi yang mendendang dalam kesunyian. Ini lagu kekalahan kita, Ester. Demikian banyaknya perbedaan yang telah memasung kita dan membentuk partisi indah pada relung hati kita.
“Cui, cepatlah menyusul aku. Kubantu mencarikan penghulu….”
Kita memang berbeda, Ester. Jauh sangat berbeda. Keyakinan, suku, dan latar belakang yang kita cerapi semenjak bayi bagai dua kutub yang berbeda. Kita mungkin dapat bersatu. Namun semuanya hanya akan menambah sejumlah rasa sakit.
Lalu, kita mulai menjadi aktor kawakan dalam teater yang kita mainkan. Sandiwara begitu sempurna. Ya, begitu sempurna sehingga babak demi babak penonton terkesima ketika kita akhiri semuanya dengan ending yang menyedihkan. Sangat menyedihkan!
“Ester sudah bercerai!” Lia mengungkap. “Hanya setahun Ester dapat bertahan dengan Fadli.
Aku kira tak ada prahara yang merundungi keluarga mereka yang belum dikaruniai anak. Pada dasarnya, mereka memang tidak saling mencinta.”
Jantungku berdegup. Lia mengabariku satu hal yang paling buruk sedunia, sekaligus kabar yang paling membahagiakan!
Astaga!
Aku menggigil dirayap keegosentrisan. Demikian tegakah aku bersukacita dan bersorak di atas kepedihan perceraian Ester?! Aku memang lelaki keparat yang pernah dilahirkan di dunia ini.
“Kalian tidak pernah jujur.”
“Banyak perbedaan di antara kami, Lia!”
“Justru perbedaan itu adalah sesuatu hal yang perlu disatukan. Bukannya….”
“Dia milik Fadli.”
“Dia milik kamu! Fadli hanya orang yang beruntung karena dia hadir di dalam kesetaraan lingkungan Ester. Berkeyakinan sama. Bersuku sama. Namun apa yang kamu lihat sekarang? Mereka lantak!”
Aku menghela napas dengan mata memerih. Kenapa cinta harus hadir pada saat yang salah?!
Aku menatap jam tanganku, sudah pukul delapan ketika gerimis sudah menirai deras. Empat jam di sini, aku hanya menjaring kenangan lapuk yang tercabik oleh dusta.
“Cui!”
Lapat suara yang telah kuakrabi mengalun di gendang telingaku. Aku menoleh dan tersentak dengan denyut jantung memburu.
“Es-Ester….”
Ia berjalan menghampiriku. Busananya basah oleh rinai hujan. Airmatanya basir dan baur oleh air hujan.
“Ka-kamu baik-baik saja kan, Cui?”
Kerongkonganku tersekat oleh haru. Kenangan lama itu kembali menjerat dan membuatku tak mampu membendung tangis.
“Ak-aku baik-baik saja, Ester….”
“Kamu tambah dewasa….”
Lidahku kelu tak mampu menggetarkan suara. Kukembangkan senyumku yang bercampur mimik tangis.
“Lia mengabariku, katanya kamu datang ke Bandung.”
Aku mengangguk. Ia menatapku rindu.
“Kapan balik ke Amerika?”
Aku menggeleng. “Aku memutuskan untuk kembali saja ke Indonesia.”
“Kenapa? Apa tidak ada stok gadis bule yang….”
Aku menangis. Entah, kali ini aku tidak merasa malu mengucurkan airmata di hadapannya.
Sertamerta berdiri dan memeluk tubuh mungil yang kuyup oleh hujan itu.
“Aku tidak dapat melupakan kamu, Ester! Aku cinta kamu!”
Ia turut menangis. Mempererat pelukannya di bahuku.
Kukecup bibirnya, singkat. Tangisnya memecah menjadi isak. Sandiwara telah kami akhiri. Dan berharap, biarlah waktu yang akan menyatukan cinta kami.

Penulis: Fini Priwindani

Share/Bookmark

26 Agustus 2010 - Posted by | Cerita, Percintaan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: