Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

atas nama Tuhan

Menurut cerita turun temurun, kota kami dilewati jalan Dandels yang dibangun dengan kerja rodi. Pusat kota yang terdapat alun-alun, tersebar bangunan beribadat dari berbagai macam agama. Terdapat bangunan masjid yang berhadap-hadapan dengan penjara. Di sampingnya masjid dengan dipisahkan jalan, berdiri pusat pemerintahan, di sampingnya dengan dipisahkan, jalan berdiri sebuah bangunan gereja. Sedangkan di samping gereja dengan dipisahka jalan, berdiri bangunan vihara. Kemudian di samping vihara dengan dipisahkan jalan, berdiri bangunan penjara dan di samping penjara yang dipisahkan jalan, berdiri bangunan kantor kejaksaan.

Susunan pusat kota kami menurut cerita turun temurun di samping menunjukkan toleransi beragama juga menunjukkan sebuah hubungan antara sebuah kehidupan yang religius dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pusat pemerintahan yang terletak di antara penjara dan bangunan-bangunan beribadah di harapkan akan membuat para pemegang kendali pemerintahan untuk bekerja secara benar, sebab jika mereka bertindak tidak benar dalam menjalankan pemerintahan maka mereka akan menerima siksa akherat tercermin dari bangunan beribadah dan akan mendapatkan siksa dunia yang tercermin dalam bangunan penjara dan kantor kejaksaan.

Di waktu aku kecil, tidak terdapat sebuah tembok tinggi yang memisahkan kami dengan teman-teman yang berbeda agama. Di waktu perayaan Idul Fitri, kota kami sangat meriah di malam hari. Kami merayakannya dengan suka cita, keliling kota dengan kendaraan truk dan bak terbuka sambil membawa obor. Teman-teman kami yang berbeda agama turut larut dalam kegembiraan. Walaupun tidak mengucapkan takbir, mereka ikut berteriak-teriak sambil memutar-mutar obor. Tidak ketinggalam teman-teman kami yang berbeda agama ikut unjung-unjung dan menikmati makanan khas lebaran, Lontong Opor.

Dan di waktu perayaan Natal, kami yang jumlahnya mayoritas mengunjunginya beramai-ramai. Kami selalu memegang dan memandangi pohon Natal yang berhiaskan bermacam lampu. Kami juga makan bersama tanpa sedikitpun rasa takut, disediakan makanan yang menurut kami haram. Mereka telah mengetahui secara baik, ada beberapa makanan yang tidak boleh kami makan. Guru mengaji kami telah berkali-kali menerangkan batas-batas di antara kami dengan jelas. Sehingga kami semuanya telah mengetahui kapan kami boleh ikut dalam perayaan Natal dan kapan kami harus keluar untuk menghormatinya beribadat. Satu lagi yang penting, orang tua kami tidak pernah ketakutan kami akan berpindah agama gara-gara ikut makan bersama merayakan Natal. Ternyata memang terbukti, sampai saat ini diantara teman-temanku yang selalu ikut makan di waktu perayaan Natal tidak ada yang berpindah agama.
Tetapi setelah kota kami berubah menjadi kota industri, segalanya berubah. Toleransi beragama menjadi sesuatu yang langka terjadi. Penyebabnya adalah banyaknya orang yang bekerja di kota kami yang berasal dari luar kota membawa sebuah pengaruh baru dalam pemahaman tentang toleransi. Di tambah orang-orang dari kota kami yang belajar di bangku kuliah di luar kota, juga membawa pemahaman baru tentang toleransi. Teman-temanku yang di waktu dulu walaupun berbeda agama selalu bermain bersama-sama, sekarang menaburkan benih-benih permusuhan. Kota kami sekarang tersekat-sekat oleh agama yang dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang berbeda agama selalu diusir jika mendekati tempat ibadah. Mereka menghindari fitnah mengajak anak-anak pindah agama, yang dapat menimbulkan kerusuhan yang berbau SARA. Kota kami kini telah bermunculan sekolah-sekolah berdasarkan agama, mulai dari TK sampai SMA.
Seperti teman sebayaku, aku juga menimba ilmu di bangku kuliah di luar kota. Tetapi semangat toleransi yang terbina sejak kecil tidak dapat mempengaruhi aku untuk melihat orang di luar agamaku adalah musuh. Namun, tidak semuanya temanku semasa kecil dapat bertahan pada toleransi yang telah mereka rasakan di masa lampau. Kedua temanku Nurdin yang sekarang berjenggot dan bercelana congklang dan si Alex yang selalu berkalung salib besar yang sewaktu kecil akrab sekarang mulai membuka Front. Mereka pernah berdebat kusir mengenai agamanya msing-masing. Dapat ditebak akhir dari perdebatan ini, yaitu saling menghujat dan melahirkan permusuhan.

Setelah selesai kuliah, kini aku bekerja pada sebuah pabrik di kota kelahiranku. Pabrik tempatku bekerja pemiliknya adalah orang yang beragama kristen. Dan rata-rata pekerjanya juga beragama kristen. Walaupun banyak di antara temanku mengingatkan akan bahayanya bekerja di perusahaan tersebut, tetapi aku tidak peduli, sebab sampai sekarang tidak ada kalimat yang tersurat maupun tersirat aku harus pindah agama jika ingin mendapatkan karier yang bagus. Buktinya, setelah beberapa tahun bekerja, karierku di perusahaan tersebut lumayan bagus. Kadang-kadang aku mendengarkan keluhan dari temanku yang berbeda agama, mengenai sikap dari orang-orang yang seagama denganku yang kurang ramah.

“Kalau masalah tersebut, jangan dibawa ke masalah agama. Sebab bukan hanya pemeluk agama saya yang berbuat demikian, mungkin ada juga pemeluk agamamu yang berbuat demikian. Tetapi yang jelas setiap agama menganjurkan perbuatan yang baik.” kataku
“Kalau boleh tahu, seperti apakah ciri-cirinya dari pemeluk agamamu yang kurang toleransinya dalam kehidupan beragama?” tanya temanku.
Aku terdiam, memikirkan sebuah jawaban yang tidak membuat masalah menjadi lebih runcing.
“Menurut saya, orang yang ingin memformalkan kehidupan beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah orang yang mempunyai toleransi beragama yang rendah. Sebenarnya semua pertanyaanmu adalah bernada kecurigaan. Dan kadang andalah sebagai fihak yang minoritas yang memancing kecurigaan. Seperti di perusahaan ini juga memancing kercurigaan. Kenapa dari pemilik yang beragama kristen, mayoritas pegawainya juga kristen?” jawabku. Temanku terdiam dan mengangguk sebagai tanda mengerti.

Semakin lama, aku semakin menyadari posisiku dalam kehidupan sosial sangat tidak menguntungkanku bukan hanya berada dalam posisi netral dalam perebutan pengaruh agama di kotaku, namun ada sebuah isyu yang beredar bahwa aku telah “MALIH KIBLAT”. Sungguh, aku sangat menyesalkan isyu tersebut. Bahkan yang lebih mengecewakan aku, isyu tersebut di hembuskan oleh temanku sendiri Nurdin dalam setiap ceramah-ceramahnya di setiap pengajian yang dia kunjungi. Sebenarnya, keinginanku sederhana, aku tidak ingin menjadi wasit ataupun juru damai kehidupan beragama di kotaku yang sedang mengalami permasalahan toleransi. Aku hanya ingin semuanya normal, seperti masa kecilku dulu, diantara kami yang berbeda agama tidak ada rasa saling mencuragai.

Pada suatu hari menjelang Maghrib, setelah aku pulang kerja kulihat Nurdin menghampiriku yang sedang berada di teras rumah sambil minum kopi. Setelah mengucapkan salam dan berbasa-basi sebentar Nurdin mulai mengutarakan maksudnya.
“Rif, kenapa kamu tidak keluar dari perusahaan itu? Bukankah kamu sudah tahu siapa pemiliknya?Dia adalah donatur terbesar dari gereja terbesar di kota ini. Aku yakin jika kamu keluar dari perusahaan itu, Allah pasti akan memberikan rejeki kepada kamu yang jauh lebih besar.”
“Din, kenapa sekarang kamu berpandangan sempit. Apakah kamu masih ingat ketika kita kecil dulu. Bukankah kita saling menghormati agama orang lain dan tidak memagari diri kita dengan tembok yang tinggi terhadap orang yang berbeda agama. Dan sekarang kamu lihat, aku masih bersholat dan berTuhan yang sama seperti kamu.”

“Saya hanya mengingatkan kamu sebagai sesama muslim, apakah salah?”
“Tidak salah, yang salah adalah bahwa kamu telah berlaku seolah-olah menjadi Tuhan. Sehingga kamu berhak menuduh setiap orang kafir”.

“Rif, buka wawasanmu. Pandanglah lebih luas. Di berbagai belahan dunia umat muslim ditindas. Kita harus bersatu, jika kelak gerakan itu sampai kesini.”
“Setiap daerah memiliki setiap permasalahan yang berbeda, tidak dapat kamu samakan. Dan saya masih melihat toleransi masih relevan di kota ini.”
“Kamu seorang yang pesimis, karena berada di tengah-tengah. Sama saja dengan orang yang tidak punya pilihan, tidak punya pegangan,” kata Nurdin.

Sebelum aku sempat menjawab Nurdin telah mengucapkan salam. Aku memandangnya sampai bayangannya hilang ditelan malam. Pertemuan ini adalah pertemuan terakhir kami, sebab setelah ini dia telah memutuskan aku bukan bagian barisannya.

Permasalahan toleransi beragama dikota kami semakin meruncing dan mendekati puncaknya tatkala sebuah truk tempatku bekerja yang membawa minyak solar untuk kebutuhan pabrik meledak di depan masjid. Walaupun, tidak terdapat korban jiwa dalam insiden tersebut, tetapi kaca pada dinding masjid pecah akibat getaran dari ledakkan tersebut. Peristiwa kecelakaan itu, ternyata dapat menjadi sebuah isyu yang tidak jelas dari mana asalnya menjadi sebuah peledakan masjid yang didalangi oleh pihak gereja.

Entah dari mana asalnya setelah peristiwa itu, ratusan orang berpakaian putih dan bersurban putih menutup gereja di kota kami dan menutup pabrik tempat kami bekerja.
Beberapa hari kemudian, pihak gereja yang merupakan kelompok minoritas di kota kami, melakukan manuver hukum dengan melaporkan bentuk ketidakadilan ini kepada aparat yang berwenang. Aparat keamanan yang kurang mengerti duduk persoalannya langsung berkesimpulan dan menganggap peristiwa ini sebagai SARA dengan cepat-cepat mengambil tindakan, agar tidak sampai meluas.

Aparat keamanan melakukan tindakkan tegas dengan melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai provokator. Tindakkan aparat keamanan ternyata tidak dapat memadamkan kerusuhan, tindakan penangkapan ternyata memancing reaksi lebih keras dan menimbulkan solidaritas sesama pemeluk agama. Masyarakat di kota kami pada akhirnya terpancing, karena beberapa saudaranya yang tidak tahu menahu peristiwa ini ikut di tangkap aparat keamanan. Gereja dan pabrik tempat aku bekerja di bakar dan kini tinggal debu.

Aku yang sekarang menjadi pengangguran tanpa sebab yang jelas harus bolak-balik ke kantor polisi. Dan pada akhirnya membawaku sebagai tersangka penyebab kerusuhan.
Dalam sidang pengadilan yang dihadiri ribuan orang, namaku dihujat dan dikafirkan. Dalam sidang yang berliku-liku aku dituduh telah sengaja meledakkan masjid dengan menggunakan mobil tangki minyak perusahaan tempatku bekerja. Walaupun, aku telah beruaha menjelaskan bahwa peristiwa mobil tangki minyak yang meledak di depan masjid adalah sebuah kecelakaan. Tetapi kelihatanya pengadilan tidak percaya. Kemudian, aku baru menyadari, bahwa sebuah toleransi beragama membutuhkan tumbal atau kambing hitam. Dan aku sekarang telah menjadi tumbal. Dalam pledoi di depan pengadilan aku berusaha melakukan pembelaan.

“Kerusuhan bernuansa agama yang terjadi bukanlah disebabkan oleh meledaknya mobil tangki minyak di depan masjid, sebab mobil tangki minyak tersebut meledak karena kecelakaan. Penyebab yang utama adalah terkikisnya toleransi kehidupan beragama, sehingga umat beragama menjadi saling curiga. Saya yakin, setelah ini pasti sebuah peristiwa yang tidak disengaja akan meyebabkan kerusuhan muncul kembali. Umat beragama telah menjadi Tuhan dan meletakkan Tuhan di ujung pedang. Padahal Tuhan ada di hati kita, bukan diujung pedang yang siap di tebaskan. Jika atas nama Tuhan kita di benarkan curiga, membakar dan membunuh sesama manusia, ada baiknya kita bakar masjid dan gereja bersama-sama, kita bakar Tuhan kita bersama-sama agar hilang rasa dendam, curiga, dan saling membunuh di antara kita.”
Pengunjung pengadilan terdiam beberapa saat. Sebelum sempat aku melanjutkan pembelaanku, sebuah suara pistol meletus. Terdengar sayup-sayup orang berteriak-teriak dan terdengar pula sayup-sayup suara ketukan palu hakim. Aku limbung, darah menetes dari dadaku dan kemudian aku tidak mendengar apa-apa lagi.

Demak, 2008

Unjung-unjung = saling mengunjungi untuk saling memaafkan
Celana Congklang = Celana yang ujungnya diatas mata kaki
Malih Kiblat = Pindah Agama

Share/Bookmark

31 Agustus 2010 - Posted by | Cerita, Kehidupan, Pribadi, Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: