Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

di tepian sungai lain

Sore yang kering di tepian Mekong. Angin menyisir ilalang. Thailand tampak dalam jangkauan pandang. Di seberang sungai lebar yang panjangnya melintasi lima negara ini, aku duduk termenung. Aku tak bisa tersenyum dengan sesungguhnya. Hatiku mati rasa. Cinta lelaki itu telah membunuhnya. Menjadikanku zombie yang tak berperasaan.

Kau buang kemana hatiku, hai laki-laki pencuri? Setelah malam itu kau buka bungkus dadaku. Kau ambil isinya hingga habis tak tersisa. Lalu kau menghilang. Meninggalkanku dalam kenangan di tepian sungai Huangpu, Shanghai. Aku tak bisa hidup tanpa hati. Lidah ini jadi ikut mati rasa. Aku tak bisa merasakan rasa yang lain selain dirimu.

Mekong terbelah di tengah. Dasarnya yang kering tersembul. Hanya tepian yang dialiri air. Itupun hanya setinggi lutut. Ikan apa yang kau jaring Phoor? Dari tempatku duduk, tak kulihat apapun tersangkut dalam jaringmu. Padahal kau telah berjalan begitu jauh menyusuri sungai, menyeret jaring itu. Tidakkah hidup terasa sulit untukmu? Terpikirkankah olehmu untuk melarikan diri dari penderitaan. Seperti yang kulakukan saat ini?

“Sabai dee!” Seorang wanita muda mengucap salam khas Laos. Aku tersenyum saja. Di negeri ini kita harus hati-hati. Perdagangan narkoba dan seks begitu bebas. Aku tak mau perjalananku ini berakhir di penjara.

“Are you Philipines?”

“No!”

“Where’re you come from?”

“Guess it.”

“Thailand?”

“Totally mistake!”

“Sialan!”

“Ha ha ha!”

“Why are you laughing?”

“Sialan juga deh!”

“Apa? Indonesia!”

“Kita sekampung teman!”

“Ha ha ha!”

Namanya Lisa, dari Jakarta. Banyak kesamaan di antara kami. Sama- sama suka warna merah, putih, hitam dan coklat. Dia menyayangi kucing dengan cara yang sama sepertiku. Mengelus bulunya dari arah ekor ke kepala. Dan yang lebih seru lagi kami sama -sama habis dibodohi cinta palsu.

Sekian banyak kecocokan mengakrabkan hati. Lisa seperti bukan orang asing buatku. Mendengar kisah cintanya yang pedih, membuatku seperti menemukan cermin hidup. Tapi Lisa tak berada disini untuk melarikan diri sepertiku, tapi untuk urusan pekerjaan.

“Di mana hotelmu?” tanya Lisa padaku.

“Art Hotel Beau Rivage Mekong,” jawabku lengkap.

“Ooh, That pinky hotel! So sweet!”

“Jangan ngejek ya, memang itu hotel murahan, tapi aku menemukan kedamaian di situ!”

“Tak ingin mencoba hotel lain? Hotelku mungkin? Bintang empat, standar internasional!”

“Hotel dengan jaringan internasional seperti itu di Indonesia juga ada. Aku mencari sesuatu yang beda. Lagipula aku sedang berjuang melawan kenangan. Ada banyak kenangan dengan hotel-hotel macam itu. Sekarang sedang terasa menyakitkan.” Kutarik nafasku dalam-dalam. Kuhembuskan dalam asap rokok Laos rasa menthol.

“Selalu di hotel sekelas itu? Hebat! Cinta yang hebat!” Canda Lisa.

“Cinta macam apa ? Cinta dalam hitungan jam, harus segera berakhir sebelum jam dua belas siang. Cinta Cinderela! Setelah jam duabelas siang semua kembali pada kenyataan,” kataku dengan wajah sendu. Lisa merangkul bahuku. Kusandarkan kepalaku di bahunya, Ah.

Bukannya aku tak tahu tentang dosa. Dosa sebesar gunung pun sudah tertanggung. Betapa tulus aku mencinta. Betapa sabarnya aku menanti secuil cinta yang tersisa. Dijadikan istri kedua aku pun rela. Andai lelaki itu lebah jantan yang sesungguhnya. Ia pasti akan membawa serbuk sari murni pada kepala putikku. Maka bunga cintaku akan menjadi buah. Tapi aku justru tersudut dan layu. Lelaki yang membuang hatiku di Huangpu. Cuma lelaki laba-laba yang menyamar jadi kumbang flamboyan, bergaya sok jantan. Memasang jaring jebakan di setiap sudut jalan. Menjeratku.

Habis manis sepah dibuang. Aku manis, Lisa manis. Tapi kami tetap dibuang. Bukan karena sepah. Tapi karena gelisah. Tak habis kami menuntut janji dari lelaki-lelaki itu. Lelaki yang kemudian jadi resah. Kami ingin dinikahi, walau cuma siri. Bukankah kami sudah dengan tulus hati menyerahkan harga diri? Lelaki-lelaki itu langsung melarikan diri.

Keramaian tepian Mekong di malam hari. Dengan lalu lalang bule-bule, dengan deretan kafe-kafe kecilnya. Dengan aroma ikan bakar, alkohol, dan parfum wanita-wanita penjaja cinta. Mengingatkanku pada Kuta yang masih perawan. Tapi Kuta begitu renta, sangat sesak nafas dan komersil. Seperti pelacur tua yang terus mempertebal gincu. Di Kuta telingaku tak bisa sedingin ini. Aku terpesona pada kesenyapan Mekong.

Ketegangan hatiku meluntur. Layar kelam terangkat perlahan. Pandangan sedikit mulai terang. Hatiku berkecambah tanpa kutahu. Hanya disini bagian kota Vientiane yang masih berdenyut. Sisi lain sudah senyap. Toko, pasar, kantor hanya sampai jam empat sore. Santai sekali. Aku benar-benar merasakan kendurnya saraf-sarafku.

Lisa tersenyum dalam taburan bunga tarian gadis Campa. Entah mengapa dalam pandanganku dia tampak berkilauan. Pesta kecil di tepian Mekong ini terasa meringankan beban hatiku. Alunan musik berubah. Penari campa yang tadi menarikan tarian bunga turun dari panggung. Dia meraih lengan setiap orang dan mengajak menari Lumvong Lao. Tari pergaulan rakyat Laos. Kami menari. Lisa tertawa. Aku tertawa!

Aku tertawa? Apakah aku sudah menemukan hatiku kembali? Hatiku yang hilang di tepian sungai lain di belahan dunia yang lain. Oh akankah cinta yang hilang itu tergantikan? Di sini? Di tepian sungai yang lain di belahan dunia yang lain. Lisakah?

“Aku benci laki-laki!” teriakku pada Mekong. Orang -orang memandangku sebentar lalu mengacungkan kaleng Lao beer mereka. Mungkin aku dikira sama mabuknya dengan mereka.

Aku menangis, Lisa menangis. Dua orang wanita yang melarikan diri dari cinta yang sangat menyakitkan. Kami sama-sama mencintai pria yang beristri. Bersetubuh dengan mereka, dan sama-sama di campakkan setelahnya.

“Lisa, khoi hak chao!” kataku.

“Khob chai, phii huk.” Kami berpelukan.

Hatiku memang benar-benar sudah hilang hanyut terbawa arus Huangpu di Shanghai. Tapi aku menemukan Hati yang baru dalam aliran Mekong di Vientiane ini. Hati yang benar-benar baru. Hati itu, Lisa!

Mekong Riverside, 00.00, 060208

Phoor : Bapak Sabai dee : Halo

Koi hak Chao : aku cinta padamu Phii huk : sayang

Khob chai : terima kasih

Cerpen oleh RADIANI

Share/Bookmark

31 Agustus 2010 - Posted by | Cerita, Percintaan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: