Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

cerita pilu dibawah langit biru

Tiap hari saya selalu melewati jalan itu. Jalan dimana ketika saya mau berangkat kerja sambil menaiki angkot yang saya tumpangi itu, selalu saja ada hal-hal yang membuat hati saya terenyuh melihat suasana jalan itu. Bukan! Bukan soal jalanan yang tak rata atau bukan suasana perjalanannya yang tak nyaman. Macet. Ini bukan! Malahan ini lebih sekedar dari itu. Tepatnya jalan itu kalau secara khusus bisa saya katakan adalah persis dibawah antara jalan fly over dan lampu merah. Di tempat itulah saya harus benar-benar siap membuka mata hati saya jika melewati tempat itu.

Tak ada satu pun yang terlewatkan jika saya melewati jalan itu dengan menumpangi angkot sebagai jasa tranportasi saya untuk menuju ke tempat saya
bekerja. Pasti ada saja hal yang mebuat hati saya terketuk untuk berempati dan
simpati kepada sesamanya. Sesama saudara yang tak beruntung di tempat itu.
Diantara jalan fly over dan di bawah lampu merah. Banyak saya lihat saudara-saudara saya yang tak seberuntung nasibnya dibandingkan saya. Mau menutup mata? Saya rasa tak bisa! Toh, tiap hari jika saya berangkat kerja mereka itu selalu bermain di pelupuk mata saya. Mana mungkin saya bisa begitu saja menutup mata saya atau mengabaikannya. Padahal mereka itu adalah saudara-saudara saya yang patut saya lihat.

Terlalu egois dan tak berhati jika saya memiliki niatan seperti itu. Menutup
mata kemudian mengabaikannya begitu saja. Kalau begitu buat apa Yang Maha
Pencipta memberikan saya mata dan hati jika saya tidak memfungsikannya sebagai panca indera yang dapat untuk melihat dan merasakan penderitaan saudaranya sendiri. Entahlah, saya harap Allah Yang Maha Kuasa selalu memberikan kemurahan rezeki dan kemudahan untuk saya baik dalam bekerja maupun dalam hal rezeki dan akhirnya saya dapat bisa membantu saudara-saudara yang lainnya yang tak seberuntung saya sesuai dengan kemampuan saya. Walaupun saat ini saya hanya bisa membantu alakadarnya terhadap saudara-saudara yang ada di pelupuk mata saya yang sedang mengais seperak demi seperak uang untuk membeli sesuap nasi. Saya harap saya bisa melakukan hal yang terbaik untuk saudara-saudara saya kemudian hari.

Sebagai makhluk yang sempurna diciptakan olehNya yang diberi kecukupan
sepantasnyalah kita harus membantu dan menolong sesama jangan menunggu nanti gajian atau menunggu kaya. Itu sama saja menunda-bunda pertolongan dan kebaikan jika berpendaoat seperti itu. Kok mau berbuat baik nunggu gajian atau kaya? Dan lagi pula toh mereka juga tak mau dilahirkan seperti itu. Sengsara atau tak beruntung serta mengais-ngais demi seperak demi seperak di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Karena apa? Itu semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Hidup, jodoh, rezeki maupun maut itu adalah takdirNya. Jadi sudah sepantasnya sebagai makhluk yang beriman dan sempurna haruslah banyak bersyukur kepadaNya. Sebab tanpa DIA kita adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Maka sepantasnya jika ada hamba-hambanya merasa yang sudah cukup dan hartawan tentulah jelas harus menghadapi hal itu. Berempati dan bersimpati. Menolong mereka di bawah fly over dan dibawah lampu merah.

Hingga akhirnya saya punya impian ketika saya sering kali melewati tempat
itu. Apalagi di bawah fly over dan di bawah lampu merah itu. Tiap hari selalu ada saja tangan-tangan mungil menengedahkan tangannya meminta belas kasihan. Meminta uang setiap kali ada mobil mewah lewat. Serta mengamen tanpa melihat bahwa bahaya sedang mengintai mereka. Selalu tak berhati-hati dalam melakukan aksi panggung kecilnya di angkot-angkot. Mengamen. Dan juga ada hal yang lebih prihatinkan lagi. Ketika ekor mata saya melihat seorang ibu-ibu muda sedang membawa seorang anak kecil meminta belas kasihan padahal anak kecil yang dibawanya itu sedang menangis sekeras-kerasnya karena tak tahan dengan teriknya mentari di bawah fly over dan lampu merah. Saya yang melihat itu tak dapat berbuat banyak hanya berdoa dan simpati. Ya, Allah berikan saya kemudahan untuk membantu mereka, gumam saya saat itu juga dan angkot yang saya tumpangi akhirnya meninggalkan mereka di bawah fly over dan dibawah lampu merah.

Sebenarnya saya tak tega untuk meninggalkan mereka di sana. Tapi apa daya
saya juga punya kewajiban sebagai seorang hamba yang menjadi seorang pekerja yang harus mengemban suatu amanah juga. Kalau saya meninggalkan itu semua berarti saya tidak menjaga amanah yang diamanahkan oleh orang yang mempercayai saya. Halnya seperti saya jika tak peduli dan menutup mata kepada
saudara-saudara saya ada di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Tidak
amanah saya jadinya!

Ya, itulah sekelumit cerita pilu saya di bawah langit biru yang membuat hati
saya terenyuh dan tergugah akan sebagai makhlukNya yang masih memiliki hati dan perasaan. Saling bersimpati dan berempati. Walau pun keadaan saya saat ini
belum memiliki hal yang berarti untuk lebih banyak melakukan dan menolong
saudara-saudara saya di bawah fly over dan di bawah lampu merah. Hanya
alakadarnya yang dapat saya lakukan dan berikan. Yakni, berdoa dan memberikan apa yang saya miliki walau pun dibawah langit biru.

Antara Ulujami dan Ciputat
Ketika hati ini terketuk.

Penulis: Fiyan Arjun

13 April 2011 - Posted by | Buku Populer, Chicken Soup

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: