Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

hilang akar

Aku tertegun
Ku lihat pintu kamarku terbuka, tentu ada tamu pikirku. Kunci kamarku memang selalu ku tinggal di atas pintu dan hanya orang-orang tertentu yang mengetahui kebiasaanku tersebut.

Hening
Tak terdengar aktifitas yang dikerjakan. Aku menebak-nebak siapa gerangan yang sudah mengkudeta kamarku. Sayup-sayup terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Aku duduk menanti tamuku. Lucu, biasanya orang menunggu tamu yang datang dari luar dan bukan dari kamar mandi. Tempat tidurku kusut, tentu tamuku sudah sempat tertidur pula pikirku.

Jam di dinding sudah menunjukan pukul 19.15 WIB. Sudah malam rupanya, kelelahan mulai menyergapku. Mengerjakan aktifitas dengan memburu dosen bukanlah pekerjaan berat, tapi menunggu cukup melelahkan psikologis. Walaupun aktifitas sebenarnya hanya duduk tapi keletihan selalu menerpa setelah lama menunggu dosen untuk bimbingan. Dan itu semua menjadi rutinitasku sekarang, karena skripsi yang sudah lama kutelantarkan ini telah menjadi tuntutan dari kampus maupun kampung. Pertanyaan kapan menamatkan studi akhir-akhir ini makin rutin ditanyakan orangtuaku dan itu mulai mengusik responsibility-ku pada orangtua yang telah membiayai selama ini. Bayangan wajah bapak dan ibu sekilas terbayang dimataku.
“Kreea..K”, suara pintu kamar mandi bergeser.
“Oh maaf, sudah pulang rupanya, maaf aku menumpang mandi”, suara terkejut itu memandangku sambil tersenyum. Senyum manis Fatimah Kusler. “aku sudah menunggu dari jam dua, maaf aku langsung masuk dan tadi sempat tertidur pula” katanya sambil melirik kasurku yang kusut. Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, Fatimah.. Fatimah ujar batinku. Memang aku pernah mengatakan padanya dimana tempat aku menyimpan kunci, biasanya ia hanya mengunakan untuk istirahat sambil menunggu perkuliahan berikutnya.
“Sudah makan?”, tanyaku. “belum.., justru aku sengaja kesini untuk mentraktirmu makan”, jawabnya. “oh ya, dalam rangka apa?”, aku jadi ingin tahu. “tulisanku dimuat, tadi siang sudah kuambil honornya”, ada nada bangga dikata-katanya.
Ima, begitu aku mengenalnya, kependekan dari nama Fatimah Kusler, Sebuah perpaduan nama timur dan barat. Sesuai namanya, Ima memang mempunyai karakter yang merupakan sifat-sifat wanita timur dan juga barat. Kelembutan, sensitifitas dan keibuan ia dapatkan dari ibunya yang berasal dari Jawa., sedangkan kemandirian, rasionalitas dan liberal diturunkan oleh ayahnya yang berdarah Jerman. Perpaduan yang unik, dan sebagai penganut faham feminis, tentu saja ia tidak mau dianggap warga kelas dua. Untungnya ia lahir dijaman yang sudah mulai menerima kesetaraan gender. Tak terbayang ketika ia harus berkembang dijaman kolonial.
“Maaf, bisa saya mengambil data dulu?”, itu awal pertemuan kami. Aku terkejut ketika seorang perempuan tegak disisiku , dan yang lebih mengejutkan lagi sebenarnya adalah kata-katanya yang persis disebelah telinga kiriku. Aku menoleh dan tertegun, sesaat. Pada masa itu, dilingkungan kampus belum banyak mahasiswa yang memilki computer pribadi. Sehingga keperluan pengetikan sangat mengandalkan tempat rental computer. Tempat rental menjadi solusi tersendiri bagi mahasiswa pas-pas-an seperti aku. Namun cacatnya computer bersamaa adalah sering menyimpan data-data yang belum terhapus dan rentan dibaca oleh oranglain. Dan sebenarnya itulah yang kulakukan saat itu, lebih sialnya lagi data yang ku baca ini adalah data gadis yang berada disampingku.
“Ini milik saya, bisa saya pindahkan dahulu”, katanya sambil tersenyum memegang disket. Aku hanya mengangguk malu. “silakan”, kataku. “Suka cerpen juga?” tanyanya mencairkan perasaan bersalahku. “Oh ya kebetulan aku nulis cerpen juga kalau lagi iseng” jawabku sekenanya. “iseng?”, katanya tak percaya. “Ya pengisi waktu”, jawabku meyakinkan. “Sesekali sepertinya perlu juga mel;ihat melihat karya isengmu itu” gumamnya serius. “boleh”, jawabku. Jadilah peristiwa tersebut sebagai awal aku mengenal Fatimah , sejak itu kami selalu saling bertukar cerpennya.
“Bachtiar..!” suara Fatimah membuyarkan lamunanku, aku mendongakan wajahku. “Apa? “ tanyaku. “Bisa tolong kau balikkan badanmu dan tutup pintu itu “, pintanya. “Ya, jawabku”, sambil menutup pintu. “Apakah kau tidak bisa menunggu besok untuk memberitahuku?” tanyaku sambil tetap membalikan badan. “Tadi kupikir tak akan lama aku menunggu, namun mungkin karena lelah aku tertidur, lagipula makan malam lebih berkesan kata orang, kecuali kau tak mau”, jawabnya sambil menanyakan kesediaanku. “khe he he”, aku tertawa sambil terus menunggu. “Sudah”, katanya member tahu. Ku balikkan badanku, tampak ia memakai kemeja kotak-kotak dipadu dengan jeans hitam. “Maaf, aku memakai bajumu”, katanya sambil tersenyum, “Sengaja langsung kupakai, agar kau tidak bisa menolak” katanya sambil tertawa. “Kau harus belajar meminta Fatimah”. “Tidak kalau denganmu”, jawabnya lagi masih tertawa. “ Mandilah dahulu nanti kita pergi makan”. “kau sudah mengambil alih teritorialku” gumamku sambil mengambil handuk ditangannya.
“Masih belum pulang kerumah?” tanyaku saat kami sedang menunggu makanan dirumah makan. Ia menggeleng, “belum saatnya” jawab Fatimah. “Kau masih menumpang dengan Wati?”. Ia mengangguk ,” tapi aku sudah terpikir untuk menyewa kamar sendiri”, jawabnya. Fatimah sebenarnya punya rumah sendiri di Bengkulu, ia anak orang kaya. Ayahnya yang warga Negara Jerman meninggalkan banyak kekayaaan sebelum kembali ke negaranya. Sedang ibunya menjadi pengusaha lokal yang dengan kekayaan suaminya membuka bisnis perikanan air laut yang memang banyak di provinsi Bengkulu. Sesekali ayah Fatimah pulang ke Bengkulu untuk menengok istri dan anaknya tersebut. Fatimah sendiri anak kedua yang sedang mengambil kuliah sastra Indonesia, berbeda dengan kakaknya yang lulusan ekonomi dan kini berkutat dengan bisnis keluarga, Fatimah lebih suka berkutat dengan sastra. Entah mungkin bawaan keilmuannya, Fatimah jadi lebih suka keheningan dan lalu merasa tidak cocok dengan suasana keluarganya yang terlalu ribut dengan urusan bisnis. Jadilah ia tunawisma yang menumpang di kost-kost-an teman-teman perempuannya dikelas. Keluarga yang pada awalnya khawatir, lama-kelamaan menjadi terbiasa karena tidak terjadi hal apapun pada diri Fatimah. Fatimah Kusler.
“Cari kost-an sendiri agar mudah cari inspirasi?” tebakku. “Ga juga, biar tidak merepotkan orang saja” katanya tertawa. “ Lagipula tak enak lama-lama dengan Wati, pacarnya sering datang dan aku hanya menjadi penggangu saja”, Katanya menahan geli. “ Kenapa kau tersenyum”, tanyaku ingin tahu. “ Wati dan pacarnya sering mengurung diri di kamar kost, aku yang sering tidak sadar kadang-kadang masuk tanpa aba-aba, jadilah mereka kalang-kabut merapihkan diri”, ujarnya setengah tertawa. “ Khe he dasar anak muda.., selalu ingin mencoba apa yang bisa dinikmati”, balasku teringat kelakuan teman-temanku.

“ Ya, anak-anak yang kehilangan akar”, ujar Fatimah, “Kebanyakan dari mereka pada awalnya adalah remaja yang ingin berontak dengan aturan-aturan yang dianggap membatasi ruang gerak mereka. Karena tidak ingin dianggap kuno dan ketinggalan jaman mereka berotak dengan norma-norma yang membelenggu dan tidak bisa dipungkiri media menjadi acuan bagi mereka untuk mengidentifikasikan nilai yang dianggap modern. Sayangnya mereka menganggap bahwa tantangan yang menghalangi mereka untuk menjadi gaul dan modern adalah keluarga dan lingkungan. Maka dalam pikiran mereka jalan satu-satunya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan meninggalkan habitat lama menuju habitat baru yang bisa menampung harapan-harapan mereka tersebut. Dan kesempatan itu datang ketika mereka ingin melanjutkan studi, inilah peluang untuk meraih modernitas itu. Jadilah mereka pergi melanjutkan studi ketempat-tempat dimana mereka bisa lepas dari kekangan orangtua dan lingkungan. Pada saat nge-kost mereka betul-betul mereguk kebebasan yang mereka inginkan. Kupikir mungkin balas dendam akan aturan-aturan yang selama ini memenjara mereka. Dan tidak hanya sampai disana, mereka juga pada akhirnya menjadi agen-agen modernitas hingga meracuni remaja-remaja lugu yang tidak tahu apa-apa dengan keadaan tersebut. Bahkan ketika kembali ke daerahnya mereka tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan lingkungan yang pernah mendidik masa kecil mereka. Mereka betul-betul kehilangan akar, merekapun meracuni keluarga dan lingkungannya. Lihatlah Wati, dulu ia adalah perempuan lugu yang rajin beribadah, kini ia menjelma menjadi remaja yang tiap malam kerjanya dugem ke diskotek atau café. Tak pernah kulihat lagi ia menjalankan ibadah. Ia sudah mulai kehilangan akarnya sebagai perempuan perempuan muslim yang taat. Ada saja alasannya untuk meminta tambahan dana dari orangtuanya yang cuma pegawai biasa. Tak sadarkah ia begitu besar harapan orangtuanya terhadap anak-anak mereka”. Aku tertegun mendengar paparan yang baru saja diucapkan Fatimah. Sejenak kami terhanyut dengan pikiran masing-masing.
“Aku malas disini, kita pergi saja bagaimana ?”, ajaknya tiba-tiba. “Loh makanan kita saja belum tiba”, ujarku heran. “Aku malas.., bising”, katanya sambil melihat kumpulan orang-orang yang mulai ramai bercengkrama diwarung makan padang tersebut. “ Terus kita kemana ?” tanyaku bingung. “ ke kost-mu saja, makanannya kita bungkus, tempatmu lebih tenang”, ujarnya tanpa meminta persetujuanku.
Kunyalakan sebatang rokok, kami baru saja menyelesaikan makan malam. Kuhisap dalam-dalam asapnya, ku keluarkan berlahan melalui mulut dan hidung, begitu berulang-ulang, dan dengan begitu aku merasakan kenikmatannya. “Enakkah ?”, Tanya Fatimah sambil memperhatikan tingkahku. “Jangan dicoba kalau belum pernah sama sekali”, jawabku tanpa menoleh. Namun.. “Aku lihat kau begitu menikmatinya”, katanya sambil mengambil rokok dibibirku, dihisapnya dalam-dalam, lalu.. “Uhuk..uhuk..”, asap rokok mulai mencekik tenggorokan Fatimah. Kuambilkan segelas air untuknya. “Terimakasih” ujarnya. “Setidaknya jangan kali ini”, kataku sambil mengambil rokok di tangannya. “Uhuk..uhuk”, ia masih terbatuk.
“Ini yang keberapa cerpenmu dimuat”, tanyaku. “Tujuh”, jawabnya. “Sudah banyak, kau sudah layak disebut penulis muda, masihkah kau ingin menjadi penulis”, tanyaku ingin tahu. “Masih belum berubah” jawabnya cepat. “ Aku suka mimpi-mimpi dalam cerpenmu Fatimah”, lanjutku lagi. “ Itu bukan mimpi Bachtiar”, ucapnya tajam, “kau harus bisa membedakannya, ketika lisan tak terucap tulisan menjadi senjata yang ampuh”. Aku tersenyum melihat gurat kesal diwajahnya, “ Sudahlah jangan tersinggung, aku tadi hanya asal omong saja , habis bahan obrolan, jangan kau ambil hati, mungkin karena sudah malam, pulanglah Fatimah..” , kataku mengingatkan. “Aku pikir aku akan menginap”, jawabnya. Tempat tinggalku memang termasuk daerah yang tidak ada induk semangnya sehingga jika ada teman yang menginap tidak perlu meminta izin. Hal ini juga yang sering digunakan oleh penghuni kost untuk mengajak pasangannya menginap. Sekian lama mampir ke kostku, Fatimah tahu persis hal itu.

“ Jangan berpikir buruk dulu, aku hanya menumpang tidur”, ujarnya takut aku salah paham, “ Pasti kau pikir aku adalah orang-orang yang kehilangan akar “, katanya menebak pikiranku. “Aku tidak berfikir begitu Fatimah, hanya saja tidak saat ini”, tolakku. “ Ini sudah malam Bachtiar, aku malas membangunkan Wati, belum lagi kalau pacarnya menginap karena dia sangka aku tak pulang”, ujarnya memberikan alasan, “ aku akan tidur disini saja, biarlah aku menumpang tidur di karpet”. Aku menggeleng, ia terus mendesakku, namun aku tetap kukuh pada pendirianku. Setengah memaksa kuantar ia ke pintu, ku rapatkan jaketku ditubuhnya, ia diam saja. Malam ini cuaca cukup dingin terasa, badanku sendiri kubiarkan tersapu dinginnya angina malam. Kugamit dia sambil berjalan menuju kost-kost-an Wati, tidak terlalu jauh, sekitar 150 meter. Didepan pintu kost Wati. “Selamat malam Fatimah, jangan tersinggung”, senyumku sambil berpamitan. “ Selamat malam Bachtiar”, balasnya sambil tersenyum kecut.

Yogyakarta, 19 Mei 2010

Sumber: http://www.cerita-pendek.com

23 Mei 2011 - Posted by | Cerita, Percintaan, Persahabatan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: