Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

malam untuk rere

Aku sudah tau jika malam sudah menjelang dan semua lampu kembali hidup, tentulah rumah ini akan menyingkap keheningan dengan suara-suara serak bernada tinggi. Hal ini mulai kupahami selama beberapa minggu belakangan. Terutama sejak Rere sering pulang malam.

Aku juga tahu tidaklah haram dikeluarga ini untuk melihat kejadian ditempat berlangsungnya perkara.

Pak Hamid dengan suara berat terus berbicara dengan nada tinggi
“ Perempuan !!, kamu itu perempuan !!”…
“ Coba perhatikan waktuuu.., lihat jam.. kalau sudah jam 10 lewat.. lekas pulang !”…
“ Besok boleh lanjutkan lagi… tak ada larangan bagi ayah untuk melarang-larang… tapi ingat waktu.. kalau sudah malam pulang !”
“ Kamu itu perempuan… apa kata orang kalau pulang malam… bagaimana kalau ada apa-apa ?!”
Rere berdiri mematung, tampak lelah di wajahnya yang menunduk. Ia tak berani memandang mata ayahnya, walaupun sebenarnya pak Hamidpun tak memandang terus kearahnya, hanya sesekali saja. Kakinya tampak letih berdiri, tapi ia tak berani untuk duduk atau berlalu, bukan karena takut tapi lebih pada rasa segan. Dirumah ini Aku sangat memahami bagaimana semua orang dididik dengan tanggungjawab. Tak ada takut karena sesuatu, namun lebih pada tanggungjawab karena sesuatu.
“ Kamu dengar kata ayah..?!”
“ Iya Ayah..” jawab Rere sambil menunduk
“ Ah… dari kemarin iya…iya., tapi masih saja !”, nada suara pak Hamid kembali meninggi.

Cukup lama, mungkin 1 jam kejadian itu berlangsung, sebelum akhirnya pak Hamid menyudahi dengan sendirinya.
“ Sudah makan kamu ?” tanya pak Hamid pada Rere
“ Belum Ayah” jawab Rere lirih, ia merasa bersalah teringat malam ini tidak memasak untuk keluarga.
“ Nah.. itu lagi.. sudah makanlah sana.., Renii.. siapkan makan untuk mbakmu itu”
Reni yang sedang duduk termanggu bersama Rian, segera berdiri.
“ Iya Yah..” jawabnya lekas, ia senang ayahnya telah selesai marah-marah. Sebenarnya ia sudah mengantuk, tapi tak enak rasanya meninggalkan tempat kejadian perkara.
“ Rian.. kenapa belum tidur?” tanya Pak Hamid begitu melihat Rian
“ Tadi sudah tidur Yah.. tapi bangun dengar ayah marah-marah ke mbak Rere” jawabnya mengantuk.
Tak ada rasa takut dirumah ini
Raut muka pak Hamid yang keras terbias oleh senyum tertahan walaupun tak tampak dibibirnya. Rere beringsut ke dapur.
“ Kamu.. juga bangun Al?” tanyanya juga padaku yang berdiri dipojokan ruangan keluarga.
“ Saya memang belum tidur om “ jawabku.
Tak lama kemudian Rere kembali lagi keruang keluarga membawa segelas air putih. Diletakkannya saja gelas berisi air putih itu dihadapan ayahnya. “ minum dulu.. Yah” katanya sambil berlalu. Ia tau Ayahnya akan haus jika terlalu banyak bicara, ini dipahaminya jauh-jauh hari, apalagi ayah adalah perokok berat.
“hmm” Pak Hamid hanya berdehem menjawab tawaran Rere. Ia lalu menghidupkan televisi dan menyalakan sebatang rokok. Rian ikut duduk disamping ayahnya, ia menonton sambil merebahkan badan dengan ganjal bantal kursi. Tak lama Reni muncul dari dapur dan ikut bergabung. Namun Reni memilih tidur di karpet, pak Hamid melemparkan bantal kursi pada Reni sebagai ganjal kepala. Mereka menonton dalam diam. Biasanya Rian dan Reni akan tertidur tak lama kemudian. Dan biasanya pula Pak Hamid akan memindahkan mereka ke kamar atau sekedar membawakan selimut, dan malam itu mereka tertidur di depan televisi.

Aku selalu setia menjadi pengamat di rumah ini, tidak terlalu ikut campur namun tidak pula dilepaskan dari masalah yang terjadi di rumah. Sebagai keponakan Pak Hamid aku tahu sejauh mana dapat berpartisipasi dalam permasalahan dirumah ini. Tidak terlalu dalam, namun juga tidak terlalu tak acuh. Seperti minggu ini, hampir setiap hari Pak Hamid marah-marah dengan Rere yang hampir selalu pula pulang malam. Rere memang sedang terlibat panitia penggumpulan dana amal untuk korban bencana banjir di Rawa Makmur. Sebagai bendahara panitia maka ia memang selalu pulang agak akhir karena harus menghitung dahulu segala pemasukan setiap harinya. Itu alasan yang selalu diberikan Rere, walaupun selalu tak diterima juga oleh ayahnya. Biasanya jika sudah terlalu malam, maka akulah yang kebagian untuk menjemput Rere, dan harus berhasil membawa pulang Rere baru bisa aku pulang agak tenang. Jadi secara tidak langsung aku menjadi bagian dari kasus Rere.

“ Om, mau kopi “ tawarku memecah kesunyian, namun sebenarnya akulah yang membutuhkan kopi saat ini.
“ Oh ya, buatkan om juga “ jawabnya menoleh sesaat.
Aku lalu berlalu ke dapur. Ku lihat Rere makan malas-malasan. “ Kenapa Re, gak nafsu makan ?”, tanyaku sambil berusaha menghidupkan kompor gas, memanaskan air di cerek. Pak Hamid suka air mendidih untuk menjerang kopi.
“ Capek bang, mana abis kena marah, mana bisa enak makannya”
“ Heh heh.. maklumlah, bapakmu itu khawatir dengan anaknya” kataku mencoba empati
“ Iya sih bang, Rere ngerti” jawab Rere sambil menyendokan makanan ke mulutnya. Aku mengambil dua gelas lalu memasukan kopi dan gula dengan takaran satu banding satu. Kami penikmat kopi pahit.
“ Mau teh?” tawarku pada Rere, ia menggeleng.
“ Enak bener jadi lelaki ya Bang “ tanyanya tiba-tiba, “ bisa pulang malem, dianggap bisa jaga diri, bisa jadi pemimpin”, ia menahan nafas sebentar “ Ngga kaya Rere, serba ga boleh dan ga dipercaya” lanjutnya.
“ Cuma gara-gara gak boleh pulang malem kamu lalu pengen jadi lelaki ?” tanyaku tersenyum
“ Bukan pengen jadi lelaki bang, tapi enak perlakuan yang diterapkan ke lelaki”. Katanya menjelaskan
“ Loh perempuan juga enak kok, diperhatikan, dikhawatirkan, disayang, ga kaya lelaki, banyakkan tanggungjawab” kataku membandingkan
“ Kadang malah Rere juga ingin dipercaya bisa bertanggungjawab bang, tapi gara-gara yang disebutkan abang tadi, Rere jadi terkekang, apa-apa gak boleh, emangnya Rere anak kecil apa” rajuknya kesal.

Tak urung rasa ibaku berpihak juga padanya. Ku lihat ada perbedaan nilai antar dua individu yang berlainan generasi. Tentu Pak Hamid dan Rere punya sejarah sendiri dengan nilai-nilai yang mereka anut.
“ Re.. menjadi perempuan itu bagian dari pendefinisian sosial” ucapku mengulang kata-kata dosen. “ Ketika seorang bayi dilahirkan ke dunia maka ia langsung didefinisikan”, Rere menyuapkan makanan ke mulutnya namun aku yakin kupingnya menyimak pernyataannku.
“ Jika ia perempuan maka ia menerima materi anting-anting sebagai identitasnya, besar sedikit ia menerima warna-warna pink penguat keperempuanannya, besar lagi ia menerima rok, sampai akhirnya ketemu lipstik dan bedak.”. Rere menatap mataku.
“ Itu baru materi berbentuk hard culture, belum lagi ketemu yang soft, gak boleh manjat pohon, gak boleh main bola kaki, gak boleh pulang malem, terus gak boleh nembak cowok duluan”. Kataku tersenyum, Rere ikut tersenyum, ia membenarkan semua ucapanku.
“ Itu kenapa ya bang ?, kok ga adil banget “ tanyanya
“ Loh yang tadi, semua tentu punya sejarahnya sendiri sehingga terus dipertahankan” jawabku
“ Contohnya gimana?” kejarnya
“ Ya mungkin saja dulu sering terjadi peperangan antar kelompok masyarakat, laki-laki yang terlibat langsung dalam peperangan dianggap bertanggungjawab terhadap keselamatan kelompok, termasuk perempuan didalamnya”, ku coba menerangkan
“Tapi zaman udah beda bang, gak semua bisa diterapkan lagi sekarang “ protesnya
“ Ya aku juga pikir begitu, tapikan tidak semua orang menyadarinya, karena selama ini dianggap sebagai nilai yang diyakini kebenarannya, merubahnya bukan masalah mudah”
“ Terus Rere harus diam aja gitu” protesnya lagi, “ Rere tuh tau bagaimana cara menjaga diri, Rere pulang malam karena yakin dengan teman-teman Rere, Rere bisa bertanggungjawan dengan diri Rere sendiri”, katanya membela diri
“ Re.. dalam masyarakat general, nilai yang berbeda akan mengalami tekanan sosial, yang pertama tentu dari keluarga, terus kelompok, lalu masyarakat”, Aku jadi sok menjadi dosen malam ini, “ nantinya kalau Rere tetap ngotot dengan nilai yang berbeda, bukan cuma Rere yang dapat tekanan , tapi ayah juga akan dianggap orangtua yang tak becus mengurus anak” lanjutku lagi.
Mendengar contoh mengenai ayahnya, Rere jadi terdiam sesaat. Ia sangat sayang dengan ayahnya tersebut. Tak rela jika orang menganggap Pak Hamid tak becus mengurus anak. Rere tahu ayahnya adalah lelaki yang sangat bertanggungjawab. Orang tua yang memerankan ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Walaupun dalam menjalankan tanggungjawabnya ia menerapkan aturan yang keras.
“ Ya udahlah bang Rere ikut aja aturan yang ada di masyarakat, udah nasibnya perempuan”, ucapnya pasrah.

aku senyum terpendam hanya mataku yang berbinar. “ TuuuT”, suara air mendidih mengejutkan kami. Segera kutuang air panas ke cangkir. Tak lama kemudian harum kopi sudah berterbangan ke dapur. Membangkitkan selera, mengejutkan kantuk, tapi yang tak kuduga sedikit demi sedikit membangkitkan kesadaran Rere. “ Re.. nih kasih ke ayah” suruhku padanya sambil menyerahkan gelas padanya.

Ku nikmati sekali harum kopi asli ini, memang berbeda dengan kopi instant yang biasa dibeli di warung. Ku tunggu beberapa saat sebelum ku hirup seteguk, scrupp… hm.., panas, lekat dengan pahit ditenggorokan. Syaraf-syarafku seperti tersetrum listrik dengan mataku sebagai bola lampunya, nikmat.

“ ayah udah tidur bang “, tiba-tiba Rere merusak sensasiku, “gimana ya “, gumamnya, “ ya udah untuk Rere aja ah, sesekali gak apa kan?” tanyanya entah ke siapa. Diciumnya harum kopi asli beberapa kali, ditiupnya, dan dihirupnya seteguk, dan.. hmm…… matanya terpejam, aku yakin Rere juga mengalami sensasi seperti aku tadi. Dan ketika matanya terbuka…

“ENAK aja !!, abang Al ngomong kaya tadikan karena abang laki-laki, pantes aja nyuruh Rere nerima aja perlakuaan kaya gini.., ENGGAK !! pokoknya Rere ga mau nerima begitu aja perlakuan terhadap perempuan”.

Bengkulu, 3 Februari 2009

23 Mei 2011 - Posted by | Cerita, Keluarga, Pribadi, Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: