Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

menari di bulan

“ Ayah, berapa jarak bumi ke bulan?”, tanyanya di lain waktu. Ku ingat-ingat pelajaran SMP-ku dulu. Akhirnya dengan ragu-ragu ku jawab 380.000 Km. ia hanya mengiyakan. Matanya menyimpan sesuatu. “ Yah, kira-kira berapa kali jarak Sophie ke sekolah ya?” lanjutnya serius. Ku kira-kira lagi, sekitar 76.000 kali jarak sekolah kataku. Matanya melotot. Banyak sekali gumamnya. Tangannya di keluarkan dari saku, jarinya menggenggam 4 helai uang kertas 5.000 rupiah. “ Berarti uang Sophie kurang dong Yah?”, katanya sedih. Ia berlalu. Matanya senduh. Malam itu ia memandang bulan begitu lama

“ Pokoknya Sophie ingin ke bulan !!” pekiknya ketika itu. Aku tak tahu bagaimana membujuknya. Sulit menjelaskan bagaimana jauhnya bulan pada anak 10 tahun. Semakin hari keinginannya semakin kuat. Bujukan dengan boneka baru, es creams, hanya bertahan 1 hari, selanjutnya ia akan kembali minta diantar ke bulan.

Jika malam tiba tak henti-hentinya ia memandang bulan. Matanya tak berkedip, senyumnya sesekali mengembang. Ia punya khayalan sendiri tentang bulan. Ia harus kubujuk sesekali agar mau tidur, karena esok ia harus pergi kesekolah. Itupun dengan syarat jendela kamarnya dibuka agar ia dapat memandang bulan ketika bangun di malam hari. Aku hanya menyiapkan selimjut ekstra agar ia tidak terserang flu jika dihembus angin malam.

“ Ayah, ada ngga orang yang pernah ke bulan?” katanya suatu ketika. Ku jelaskan tentang Neil Amstrong. Matanya tak berkedip, mata yang menyimpan gelora tentang bulan. Malam itu ia tidur dengan nyenyaknya, senyumnya mengembang. Malam berikutnya ku ceritakan dongeng tentang nenek penjahit bulan. Matanya tak berkedip. Akhirnya setiap malam kusiapkan dongeng-dongeng tentang bulan. Hingga akhirnya aku kehabisan cerita tentang bulan. Teman-temanku sudah ku pinta mencari dongeng tentang bulan, namun rata-rata ceritanya sama. Semuanya menyerah. Aku tidak. Dengan imajinasiku aku mengarang sendiri cerita tentang bulan. Matanya tak berkedip. Selesailah tugasku setiap malam. Namun tidak semudah itu. Dongeng ciptaanku mulai tertukar-tukar dengan yang pernah kuceritakan pada sophie, ia mulai kesal. Lama-lama ia sadar ceritaku banyak mengulang yang sudah-sudah. Ia mulai kesal. Sophie tidak mau lagi mendengar lagi dongeng-dongengku.

“ Ayah, berapa jarak bumi ke bulan?”, tanyanya di lain waktu. Ku ingat-ingat pelajaran SMP-ku dulu. Akhirnya dengan ragu-ragu ku jawab 380.000 Km. ia hanya mengiyakan. Matanya menyimpan sesuatu.
“ Yah, kira-kira berapa kali jarak Sophie ke sekolah ya?” lanjutnya serius. Ku kira-kira lagi, sekitar 76.000 kali jarak sekolah kataku. Matanya melotot. Banyak sekali gumamnya. Tangannya di keluarkan dari saku, jarinya menggenggam 4 helai uang kertas 5.000 rupiah.
“ Berarti uang Sophie kurang dong Yah?”, katanya sedih. Ia berlalu. Matanya senduh. Malam itu ia memandang bulan begitu lama. Ia sulit kubujuk untuk tidur. Ajakanku untuk pergi ke pantai di hari minggu tidak dihiraukannya. Yang ku tau ia begitu senang dengan pantai. Aku ingat akan sesuatu. Ku katakan padanya bahwa aku akan belanja kebutuhan dapur, ia boleh ikut membawa belanjaan, sebagai gantinya aku akan membayar sejumlah uang. Ia tertarik, matanya berbinar. Ia sempat berkata akan membantu semua pekerjaanku dengan syarat ia menerima pembayaran. Aku setuju. Ia tertidur dengan senyum.

Sophie jadi begitu rajin dan bersemangat, uang yang ia dapat dikumpulkan di dalam kaleng biscuit. Setiap malam ia menghitung jumlah tabungannya. Ia mencorat-coret kertas. Menghitung berapa uang yang harus ia kumpulkan lagi. Setelah itu ia akan tersenyum memandang bulan. Tidurnya jadi nyenyak. Aku tidak direpotkan lagi dengan pandangannya ke bulan. Sesekali ku tambahkan uangku ke dalam kaleng tersebut tanpa sepengetahuannya. Esok malamnya ia akan berteriak gembira dan berlari ke arahku. “ Ayah, ayah yang nambah uang tabungan Sophie kan?, makasih ya Yah, Sophie sayang ayah”, katanya sambil memelukku. Aku begitu bahagia.

Namun lama-kelamaan aku jadi khawatir, aku takut dengan kesungguhannya. Setiap ku lihat ia menghitung uang di kaleng, aku ngeri dengan senyumnya yang menyimpan sesuatu. Aku sudah menebak ia sedang mengumpulkan ongkos ke bulan. Tapi aku tak pernah berpikir ia akan mewujudkannya. Ku pikir itu hanya mimpi anak kecil yang hanya sesaat. Namun Sophie tidak begitu. Ia begitu semangat mewujudkan mimpi. Aku sangat takut jika ia tidak dapat mewujudkan mimpi itu. Aku takut akumulasi semangatnya berubah menjadi kekecewaan yang dalam. Sebelum terlambat aku harus bicara padanya.

“ Sophie.., untuk ke bulan kita perlu pesawat ruang angkasa”, kataku membuka pembicaraan. Matanya tak berkedip. Ini cerita tentang bulan pikirnya. Ku jelaskan tentang astronot, oksigen, baju luar angkasa, pesawat ulangalik, tempat peluncuran, dan Indonesia sendiri. Ku katakan padanya saat ini Negara kita belum bisa menerbangkan orang ke bulan. Matanya tajam menatapku, mulutnya cemberut, ia tidak berkata-kata, air matanya menetes, senggukannya mengiris sembiluku, ia berlari ke kamar, menutup pintunya, dan lamat ku dengar tanggisan tertahannya. Kami terbiasa tidak saling menunjukan air mata. Mataku juga mulai panas.. Aku tak ingin membuatnya bersedih. Tidak lagi.

Malam ku masuki kamarnya. Badannya tengkurap menghadap dinding, sophie memeluk kaleng tabungannya. Bantalnya masih basah dengan air mata. Mukanya menyimpan kecewa yang sangat. Ku naikan selimut. Ku kecup keningnya.

Pukul 06.30, kenapa sophie belum bangun. Tumben. Mungkin ia lelah setelah menangis semalam. Namun ketika ku bangunkan aku baru sadar , badannya panas. Ku raba dahinya. Sophie.. sophie panggilku, ia menggumam memanggil namaku, “Yah, dingin”. Badannya menggigil. Sophie demam. Aku panic, ku telpon Lisna , dokter muda tetanggaku. Untung ia belum berangkat. Ia menyanggupi untuk datang. Aku sedikit lega.

“ Ia hanya demam biasa, dengan istirahat sebentar, paling 2 hari sudah sembuh”. Ucap Lisna menenangkan aku. Bapaknya juga perlu istirahat sarannya, ketika kami bertatapan, mataku tampak lelah katanya. Sebelum pergi Lisna memberiku obat untuk sophie minum. Cuma vitamin katanya. Tak lama ia pamit. Tinggal aku dan sophie. Ku putuskan aku tidak masuk kantor hari ini. Siapa yang menjaga sophie kalau ku tinggal.

Sambil menunggu Sophie tidur. Ku bereskan kertas-kertas di kamar sophie. Penuh coretan angka-angka, aku yakin perhitungan ongkos ke bulannya. Ku susun dan kuletakan di meja belajarnya. Tampak beberapa majalah terbuka, gambar-gambar penari tampak menghiasi lembaran yang terbuka. Oh mungkin Sophie ingin meniru gaya busana tari untuk ia pakai di sanggar tempat ia latihan pikirku. Sophie memang sering menari di bawah sinar bulan. Itu dulu, kini ia lebih suka memandang bulan. Entah mengapa kini ia telah jarang menari di sanggar. Majalah ini mungkin mengobati kerinduannya akan tari. Ehm.. penari ,aku terkenang sesaat, ia memang mewarisi gen ibunya.

Malam itu ku suapi Sophie makan, untunglah ia tidak rewel. Jendela kamarnya sengaja ku buka, malam itu bulan hampir purnama. Ia makan lahap, mungkin karena dari pagi tadi ia hanya makan sedikit. Ku raba dahinya, panasnya sudah turun. Aku senang.
“Sophie, kalau ayah boleh tau, kenapa sophie ingin ke bulan” tanyaku membuka pembicaraan sambil menyuapinya makan.
“ Sophie ingin nari Yah..” jawabnya
“ Nari ? masa nari di bulan?” tanyaku heran
“ Iya, soalnyakan bulan keliatan dimana-mana”, jawabnya lagi
“ Terus kalau keliatan dimana-mana emang kenapa”, ku masukan makanan ke mulutnya.
Ia memerlukan waktu sebentar untuk menelan.
“ Jadi kalau Sophie nari di bulan, Ibu pasti lihat, Yah” jawabnya semangat.
Dug.. jantungku hampir meledak
“ Memang kenapa kalau Ibu lihat”, ucapku hati-hati
“ Dulu ibu sering marah kalau Sophie gak mau nari, jadi ibu pergi, kalau ibu liat sophie udah bisa menari pasti ibu pulang” , katanya memberi alasan. Hatiku tambah tak karuan, bagaimana aku menjelaskan ini batinku. Mata Sophie berbinar dengan segala rencananya. Sakitnya mendadak sembuh. Ganti aku yang meradang.
Jihan bagaimana aku menjelaskan pada Sophie ?

Bengkulu
cerpen ini pernah dimuat di harian jogja

23 Mei 2011 - Posted by | Cerita, Keluarga, Pribadi, Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: