Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

pria harmonika

Dari dulu aku selalu merasakan sesuatu yang unik jika mendengar suara harmonika. Berbeda dari alat musik lain, aku merasa harmonika adalah alat untuk menyampaikan pesan melalui nada. Karena ia keluar dari dalam tubuh sang pemain, maka suara hatilah yang disampaikan oleh harmonika. Itulah mengapa aku suka harmonica, ia membuat orang terlihat jujur. Karena alasan tersebut aku sering memperhatikan permainan harmonika yang sering dibawakan oleh pengamen ditempat biasa aku makan.

Pengamen itu mudah dikenali dari lagu-lagu yang dibawakan dan penampilan yang ia kenakan. Aku pikir ia fans fanatik The Beatles, band rock and roll dari Liverpool Inggris. Poni dan kacamata bulatnya mengingatkan kita pada Jhon Lennon vokalis the Beatles. Namun berbeda dengan Lennon, pengamen ini tidak bernyanyi, ia hanya memetik gitar dan meniup harmonika. Lagu-lagu yang dibawakanpun hanya milik The Beatles. Biasanya aku akan terhanyut menikmati lagu Jude, Let It Be, Oh My Darling, dan I Wan’t Hold Your Hand. Uniknya setelah membawakan lagu ia selalu memberi tahu judul lagu yang baru saja ia bawakan. “Let it be mas, dari The Beatles”,begitu ucapnya sambil menyodorkan bungkus permen.

Hal itu kualami berulang-ulang, nyaris setiap hari. Seperti malam ini, ketika gerimis membasahi Jogja, dan membuat orang malas beranjak dari tempat kost. Sebenarnya aku juga malas keluar, tapi cuaca dingin membuat perut menjadi lapar, dan seperti kebanyakan anak kost, kehidupanku juga tergantung dengan warung-warung nasi yang berada disepanjang jalan Kaliurang. Akhirnya kupaksakan langkahku menuju rumah makan Bungo Palo langgananku yang hanya berjarak 100 meter dari kostku. Ku nikmati makan malam yang terlihat jadi lebih lezat karena perutku yang keroncongan. Untunglah malam ini tak terlalu ramai, mungkin hujan sehingga aku tak perlu mengantri. Tiba-tiba, “ Selamat Malam “ ucap seseorang lalu menyusul instrumen lagu oh my darling-nya the Beatles. Aku telah menebak siapa yang membawakan, lengkap sudah pikirku, makan sambil diiringi alunan musik harmonika. Ku lihat bajunya basah, pasti kena hujan, begitu juga rambutnya. Tapi ia membawakan lagu dengan semangat, kaki kanannya kadang dihentak-hentakan ke lantai. Setelah beberapa saat “Oh My Darling dari The Beatles mas “ ucapnya sambil menyodorkan bungkus permen, kumasukan logam 500-an rupiah yang telah kusiapkan. “Terimakasih mas” ucapnya sambil berlalu. Alangkah senang kalau bisa menikmati hidup seperti pengamen tadi pikirku.

Gerimis mulai bertambah deras, tapi kupaksakan kakiku berlari menyebrang jalan, biarlah basah sedikit pikirku, daripada terkurung hujan. Namun baru akan masuk gang ternyata hujan deraspun turun, kuurungkan niatku pulang dan berteduh di bengkel samping gang. Ternyata selain aku, ada orang lain juga yang berteduh. Pria harmonika yang mengamen tadi, tangannya sibuk menghitung penghasilannya malam ini , ia tersenyum melihatku berteduh. “ banyak dapat pak ?” tanyaku basa-basi. “ya lumayan… agak sepi memang, mungkin hujan” jawabnya sambil tersenyum sambil terus menghitung recehan yang ia dapat. “ bisa tuk makan enak tuh pak, apalagi hujan-hujan begini”, kataku bercanda. “ ya kalau tuk makan sih cukup, tapi ini untuk beli obat, anak saya sakit, mungkin karena sering kehujanan” jawabnya. Aku yang jadi tidak enak karena tak menyangka jawaban tersebut hanya berucap, “oh.. semoga banyak dapat rezeki malam ini pak” kataku sekenanya.

“ iya..” katanya sambil tersenyum menatap warung-warung nasi yang baru dimasuki oleh pengunjung. “ ayo mas saya tinggal dulu”, katanya melihat warung nasi yang mulai ramai oleh pengunjung. “oh iya pak, silakan”, jawabku melihat badan kurusnya menembus hujan. Ternyata pengamen itu sedang risau dengan keadaan anaknya, pantas hujan-hujan ia tetap berkerja. Tapi yang aku herankan, mengapa aku tak menangkap nada sedih dalam lagu yang ia bawakan tadi. Bukankah harmonika membawakan kejujuran hati. Kupikir harmonika menceritakan kondisi hatinya, ternyata tidak, ia tidak menceritakan kerisauan hatinya, ia tetap memberikan kegembiraan untuk orang-orang yang mendengarkan lagu-lagu yang ia bawakan. Ia tetap menjadi sang penghibur yang tidak pernah menampakan kegalauan hatinya.

23 Mei 2011 - Posted by | Pribadi, Renungan

1 Komentar »

  1. Inspiratif banget mas ceritanya😀 , saya suka sama cerita pendek tp bermakna, lebih untung lagi dah ketemu web ini🙂

    Komentar oleh Myth404 | 1 Juli 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: