Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

sahabat kost

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Berbagai kejadian yang terjadi pada diri kita selalu bisa di evaluasi dan dicari jalan keluarnya agar tidak terulang kembali. Itu teorinya, seakan mudah dilakukan, tinggal evaluasi lalu buat rancangan solusi, mudah……..tapi kenyataannya anak kost selalu mengenal bulan tua, hari dimana keuangan menipis dan jarak pengiriman uang berikutnya masih beberapa hari. Mengenai tepatnya kapan itu bulan tua sebenarnya belum ada keputusan resmi. Semuanya tergantung pada pengalaman dan pengamalan. Bagi anak kost amatir alias mahasiswa yang baru mencicipi perantauan, bulan tua adalah minggu ketiga. Hal ini dimaklumi karena pola manajemen keuangan yang belum terlatih.

Lalu anak kost senior alias yang sudah 2-3 tahun merantau, bulan tua adalah minggu keempat. Sedangkan anak kost profesional adalah mahasiswa yang sudah mampu mengatasi bulan tua sehingga tidak lagi mengenal bulan tua. Dan seperti dikatakan di awal, walaupun setiap bulan terjadi, rata-rata anak kost masih belum bisa mengatasi masalah bulan tua kecuali tentu saja anak kost profesional.

Aku termasuk anak kost senior yang sudah memasuki tiga tahun di perantauan. sama seperti mahasiswa yang lain aku masih saja tidak mampu menyelesaikan masalah bulan tua. Seperti sekarang, baru tanggal 25 tapi keuanganku sudah kembang kempis. Masih 5 hari lagi, dan uang ku tinggal Rp 75.000. Berdasarkan pengalaman, aku harus membagi uang ku ini untuk makan pagi, siang dan malam plus rokok dan ongkos. Ongkos PP Rp 5000, rokok Rp 1000, makan siang Rp 5000, sarapan mie rebus Rp 1500, makan malam Rp 2500 di angkringan, itu sudah mepet, sehingga aku sudah tidak bisa berencana yang lain-lain lagi. Namun seperti dalam film-film, selalu saja ada hambatan dalam menghadapi sisa-sisa perjuanganku dalam menghadapi bulan tua. Sama seperti yang ku alami saat ini ketika sedang menghitung-hitung perencanaan keuangan.

“Assalamualaikum….bay”
“Waalaikumsalam….eh kau No..masuk”

Rino dan Yaser berkunjung ke kost ku. Nah mereka berdua ini termasuk anak kost profesional. Datang pukul 11.30, artinya menjelang makan siang, dan kali ini akulah korbannya. Rutinitas lagaknya aku sudah hafal, mulai dari ngobrol ngolor ngidul hingga waktu terus bergilir hingga tuan rumah yang memang belum makan di uji ketabahannya. Di sini terjadi pertarungan kekuatan, namun sang professional tentulah telah mempersiapkan diri dalam pertarungan ini. Aku yakin mereka telah mengganjal perut dulu dengan mie instan, beda dengan aku yang yang tidak siap dengan pertarungan ini. Perutku sudah keroncongan tapi aku bertahan dan tetap berharap memenangkan pertarungan hingga akhirnya mereka pamit. Ku kuat-kuatkan perutku, efeknya keringat mulai membasahi tubuhku. Mereka berdua seperti tidak peduli, dasar lintah. Jam 14.00 pertahananku jebol, aku kalah.

“Wah…udah jam 2 nih,pantas perutku bunyi-bunyi”, kalian sudah makan? Tanyaku pura-pura tidak tahu, padahal……..
“Waduh……….iya, keasikan ngobrol”, respon Rino pura-pura terkejut, Basi..
“Memang jam makan siang nih”,tambah Yaser. Iya,iya…aku tau..
Terpaksa ku relakan jatah sarapanku selama 6 hari. Biarlah hiburku, toh aku biasa bangun siang. Jadi ku gabung saja sarapanku dengan makan siang. Akhirnya 3 bungkus nasi telur dan es teh menjadi hadiah bagi kemenangan Rino dan Yaser.
Tapi penderitaanku belum selesai.
“Tak enak rasanya habis makan tak merokok”, kata Rino
“Ayam berkokok di atas genteng, tidak merokok tidak ganteng” , balas Yaser.
Sialan, batinku mengumpat, tapi yang keluar………..
“Oh……. iya,lupa tadi buru-buru,tunggu sebentar ya?”
Ampun…..terpaksa jatah rokok ku 5 hari hilang.

Betul-betul KO di buat kedua orang ini. Jam 16.00 setelah menghabiskan sebungkus nasi, es teh rokok, plus tambah 3 es teh lagi mengingat teriknya yogya barulah mereka pamit dengan senyum kemenangan,dan menyisakan kekalahan perang pada raut mukaku. Sekarang tinggal aku memikirkan bagaimana bertahan dengan bulan tua ini.

Tiga hari kemudian, aku sudah mulai kritis, ku putuskan untuk tidak masuk kuliah demi menghemat keuangan.Yang penting makan, daripada untuk ongkos batinku. Memasuli hari keempat, aku hanya bertahan untuk makan siang, makan malamku tunda dulu, mengingat 1 hari lagi. Tapi makin kutahan, makin terasa perutku. Kuputuskan keluar untuk mengalihkan pikiranku dari makanan. Aku duduk dipinggir jalan memandangi mobil-mobil yang melintas . Perutku tak bisa kompromi. Dan dengan dana yang tersisa ku beli teh hangat, biarlah penganjal sementara. Sabar ya perutku…..ujarku mencoba menenangkan. Ku hisap pelan-pelan air teh tersebut, terasa hangat perutku.. Cukuplah tuk sementara.., tapi beberapa menit kemudian bunyi perutku jadi semakin hebat. Kukuatkan hatiku……………..tahan-tahan…uang yang tersisa untuk besok. Makin bertahan,makin pusing kepalaku. Keringat mulai bercucuran. Aku bergegas pulang, baiknya aku tidur. Kukuatkan diri melangkah menuju kost….walaupun pusing mulai menyerangku……….tinggal sedikit lagi.

Dari kejauhan kulihat dua bayangan berada di depan kost ku….mulutku mulai terasa asin..Siapakah yang ada di depan kamarku tersebut………lalu…..
“Lo………Bay, darimana saja, tak tungguin dari tadi……”suara itu kukenal dalam pusingku, itu Rino. “Eh…….kenapa Bay?”…..itu Yaser
“Eh cepat Ser……bawa dia masuk kekamar”

“Nih….Bay minum dulu susunya biar kuat”
“iya…..ntar baru makan nasi……ini nasi padang loh”
“Kamu tuh ya ngomong toh kalau lagi butuh bantuan, jangan diam aja”
“Iya tuh…..mana gak masuk kuliah lagi”

Kuhirup susu coklat panas yang di sediakan Rino……….perlahan rasa hangat memenuhi perutku, kekuatanku kembali……………
“Enak kan…….tuh sekarang makan”
Aku menurut saja apalagi nasi dendeng membuat nafsu makanku bertambah.
“Ya udah tidur aja dulu…….istirahat,besok jangan bolos lagi ya..?”
“Makasih mas”….hanya itu yang bisa ku ucapkan.

Setelah menutup pintu, kurebahkan badanku di kasur, nyaman sekali setelah makan sebungkus nasi. Besok aku yakin bisa menghadapi hari terakhir bulan tua dengan sisa uangku. Kubuka bingkisan yang di bawa Rino dan Yaser tadi, besar juga pikirku.Ketika kubuka………..
lima bungkus mie instant, tiga butir telur, satu kaleng susu serta uang Rp 10.000,-. Benar-benar sesuatu yang tidak ku duga, tapi memang pas untuk kebutuhanku sekarang. Terbayang wajah mereka yang membawa bingkisan ini, silih berganti ketika kemarin mendatangiku dengan tersenyum aku berkata “ makasih mas Rino…makasih mas Yaser”

Yogyakarta 15 Des 2009
pernah dimuat di Harian Jogja dengan nama pena Jwenti Fiveriani

23 Mei 2011 - Posted by | Pribadi, Renungan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: