Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

simpang bunga

Sudah lama kami tidak melewati Simpang Bunga. Kini ojek tambah banyak mangkal di situ. Apalagi sejak kereta tidak pernah lagi lewat sejak beberapa tahun belakangan, kendaraan bermotor seakan tidak peduli lagi dengan pintu kereta yang dulu sewaktu-waktu bakal menutup apabila kereta api lewat di Simpangan Bunga. Kini, bahkan ojek-ojek parkir persis di tengah-tengah rel kereta.

Simpang itu kini menjadi macet, karena sudah ada pasar tumpah. Dulu cuma beberapa pedagang bunga di sudut-sudut simpang. Orang-orang yang hendak berziarah ke pemakaman yang jauhnya tak sampai satu kilo dari simpang itu berhenti sejenak membeli bunga sekadarnya. Oleh sebab itu, Simpang Bunga melekat menjadi nama simpang itu. Tunggu dulu, jangan cepat tergiur dengan motor ojek baru, carilah ojek yang butut begitu adik ipar menasihati karena tukang ojek bermotor baru sering suka ngebut dan sering terjadi kecelakaan karena nafsu memotong kendaraan di depannya besar. Jangan-jangan, maksud hendak berziarah, justru langsung diantar ke kuburan “Sudah banyak kejadian lho ,” adik ipar bilang.

Semua jenazah yang hendak dikuburkan di pemakaman itu selalu lewat Simpang Bunga. Pernah juga simpang itu bernama Simpang Maut. Bahkan pernah bernama Simpang Neraka sejak sebuah ambulans yang mengangkut jenazah menuju ke pemakaman ditabrak kereta api hingga menewaskan sopir dan enam orang pengiring jenazah di dalamnya.

Menawar ojek di tengah rel kereta cukup ngeri juga karena ingat cerita-cerita masa lalu itu, ketika kereta pengangkut batu bara masih beroperasi. Kami berdua naik ojek butut, takut dibawa ngebut. Tapi, baru saja ojek yang ditumpangi istri bergerak, istri berteriak. Rupanya selendangnya yang menjulur terlalu panjang diputar roda belakang. Maklumlah, kami di Jakarta tak terbiasa naik ojek. Baru sempat pulang kampung setelah lebih dua tahun kematian ibu mertua.

Ojek itu mendadak berhenti. Kami berhenti karena kejadian itu. Orang-orang cepat berkerubung Penjual bunga cepat menawarkan bunganya karena melihat kami memang tidak membeli bunga.

“Beli bunga dulu Bu, kalau ke makam..”

Istri menggeleng, karena kami memang tidak biasa membawa bunga atau ikut tradisi menabur bunga kalau pergi ziarah ke makam, kecuali dengan sejumlah doa masing-masing.

“Itu sebabnya, Ibu bisa celaka kalau ketinggalan syarat. Hanya makam anjing yang tidak disekar,” celoteh tukang bunga itu lagi.

Sungguh terasa kurang ajar kata-kata penjual bunga itu, tapi kami diam saja dan meneruskan perjalanan naik ojek dengan selendang istri yang cidera. Masa, ia samakan makam ibu mertua kami dengan kuburan anjing hanya karena tidak membeli bunganya. Dan, di gerbang pemakaman justru penjual bunga lebih banyak lagi. Biasanya hanya pada hari-hari tertentu saja banyak penjual bunga, semisal hari raya Idul Fitri atau mau masuk bulan puasa.

Beberapa orang anak penjual bunga mengelilingi kami, tapi kami terus masuk tanpa menghiraukan mereka. Tiga orang di antaranya nekat menggiring kami sampai ke makam ibu mertua. Dua orang mengundurkan diri karena melihat peziarah lain datang. Yang satu ini dengan nyinyir menawarkan juga bunganya meski istri menolaknya dengan suara tinggi campur emosi sedihnya melihat makam ibu mertua. Anak itu berbalik dan lari sambil berteriak: “makam anjing!” Karena kami tidak peduli, tiga orang anak itu memperhatikan kami dari jauh sambil bercakap sesamanya, mempercakapkan kami agaknya.

*

Belum tiga tahun ibu mertua kami berkubur di sini, pemakaman terlihat cepat sekali penuh dan mulai sesak. Dari jauh-dibatasi oleh sungai kecil dengan jembatan melengkung-kami lihat serombongan pengantar jenazah. Terdengar juga jeritan histeris sebagai luapan kesedihan yang mendalam mengiringi jenazah itu. Demikian juga yang terjadi pada istri ketika ibu mertua dimakamkan di sini lebih dua tahun lalu. Kami memperhatikan makam ibu mertua yang ternyata memang apik setelah dipasang keramik kelas satu oleh kakak ipar. Warnanya abu-abu keputihan dengan ukiran nama almarhumah yang dipahat halus diatas batu marmer pilihan. Makam ibu mertua tampak menonjol dari makam-makam di sekelilingnya. Tubuh makam itu kelihatan bersih mengkilap disapu hujan yang turun semalam.

Karena istri mendesaklah kami pulang, khusus ziarah ke makam ibu mertua dan menginap di rumah adik ipar. Kami tidak mampir, apalagi menginap di rumah kakak ipar yang besar karena telah terjadi keretakan hubungan istri dengan kakak perempuannya itu gara-gara sumbangan untuk pembangunan kuburan ibu mertua.

“Cuma dua ratus ribu? Apa sih tanda bakti terakhirmu pada ibu? Kalau kita berlima cuma dua ratus ribu masing-masing, kamu dapat nggak sih , bayangkan. Seperti apa kuburan ibu? Mungkin kamu tahu, kuburan anjing jauh lebih megah dari kuburan ibu kita sekarang,” kata kakak ipar dalam telepon tahun lalu kepada istri.

“Kakak tahu kalau aku tidak ikut cari uang. Itu dari tabunganku. Biaya anak-anak sekolah di Jakarta jauh lebih tinggi daripada di kampung kita. Berapalah gaji suamiku,” jawab istri meyakinkan kakaknya “Atau kalau kakak mau, tetapkan berapa aku harus menyumbang, nanti kucicil membayarnya pada kakak,”

Tidak ada lagi jawaban dari kakak ipar, telepon cepat ditutup dengan marah. Hanya adik iparlah yang selalu memberi kabar kami di Jakarta dan mengerti keadaan kami hidup di Jakarta dengan tiga orang yang masih perlu biayai banyak untuk pendidikan mereka. Kami membujuk istri yang menangis setelah menerima telepon dari kakak ipar.

Kami mengatakan pada istri bahwa berbakti kepada orang tua itu, sebaiknya sewaktu mereka masih hidup. Tapi kalau setelah kedua orang tua telah meninggal, bakti anak-anak hanyalah mendoakannya setiap sesudah shalat. Doa itu baru dapat diterimanya sebagai pahala kalau anak-anak yang mendoakannya betul-betul anak yang sholeh.

“Selebihnya, sia-sia saja. Itu bukan kata suami, melainkan kata kitab suci.”

“Tapi, kita bisa malu juga kalau sekelilingnya adalah makam yang indah sementara makam ibu kita tidak terurus. Seolah-olah anak-anaknya tidak ada yang peduli atau jatuh melarat semua.”

“Kuburan hanyalah tanda, bukan sebuah kehormatan. Malah agama melarang kalau kita mengagung-agungkan kuburan. Apalagi minta berkah. Itu syirik!”

Istri tampaknya mengerti, dan lebih mengerti lagi keadaan keuangan suaminya. Akan tetapi, sejak telepon kakak ipar, hubungan kami dengan kakak ipar jadi tergangu, terutama istri yang merasa direndahkan oleh kakaknya.

Kekhusukkan doa kami masing-masing terganggu oleh deheman seorang laki-laki separuh baya yang tiba-tiba datang menghampir. Laki-laki itu berkopiah, berbaju putih dan bersarung, tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang kuning dan agaknya tidak terawat.

“Saya doakan Pak, Bu?” tawar lelaki itu.

“Sudah, kami sudah berdoa,” jawab istri

“Biasanya saya selalu mendoakan, ehm, maaf ini orang tua Ibu? (sambil menunjuk ke makam ibu mertua). Yang selalu datang tiap bulan ke sini, mirip sekali dengan Ibu, maaf, itu kakak Ibu?”

“Mirip saya?”

“Persis. Tapi belum selalu datang sekeluarga. Ibu itu selalu berkaca mata hitam, berbaju hitam dan kerudung hitam. Selalu begitu. Suaminya juga berkaca mata hitam. Anak-anak dan mantu, serta cucunya semua berbaju hitam. Dan, tak lupa membawa bunga yang banyak. Sayalah yang mendapat kehormatan jadi juru doanya.”

Kami mengangguk-angguk dan berusaha bersikap ramah

“Dengan pakaian seragam hitam-hitam ke makam, begitu?” tanya istri

“Ya, begitulah yang lebih afdol.”

“Tadi, saya lihat Bapak dari arah seberang sana . Apa tidak ikut mendoakan jenazah yang baru dikubur itu?”

Lelaki separuh baya itu tersipu. Di kantong kemeja putihnya yang kumal kami melihat segepok uang ribuan menyembul. Ia mengeleng-geleng kepalanya. Manatap kami sejenak, lalu membuang pandangan ke arah seberang sungai kecil yang ada jembatan melengkungnya. Kami ikut memandang ke kerumunan orang yang agaknya sedang khusuk dalam ritual penguburan.

“Bapak tahu siapa yang mati itu?”

Kami menggeleng

“Mereka mengubur anjing!”

Kami berpandangan. Ketika menoleh ke arah lelaki tadi, ia telah menghilang. Sepertinya hendak turun hujan.*

Oleh: Harris Effendi Thahar

23 Mei 2011 - Posted by | Cerita, Kehidupan, Keluarga, Pribadi, Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: