Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

warung nasi bapakku

Mataku melotot memandangi kesigapan para pembeli di warung nasi bapakku. Mereka yang rata-rata anak kost ini begitu licin mengakali bagaimana makan yang puas dan murah. Tindakan pertama tentu saja nasi di piringnya, dengan menekan-nekan merupakan cara kuno yang sudah lamaku amati. Untuk hal ini aku cuma berkata ”udah berapa hari gak makan mas?”sindirku tajam. Biasanya mereka cuma mesem-mesem mendengar ucapanku. Target mereka selanjutnya sayur. Untuk kategori yang murah ini mereka tidak sungkan-sungkan mengambil sebanyak yang mereka ingin. Untuk hal ini mereka tidak takut padaku, mungkin mereka ingin berkata “ tenang aja ku bayar semuanya” . Tapi aku yang kepalang preventif terhadap mereka tetap berkata “ingat-ingat yang lain mas, masih banyak yang belum kebagian”.

Yang terakhir tentu saja lauk. Ini yang paling riskan, kepintaran mereka menyembunyikan lauk di bawah tumpukan nasi dan sayur adalah masalah tersendiri di warung bapakku ini. Plototan mataku biasanya mujarab untuk mencegah kriminalitas mereka. Tidak satu dua kali prilaku ini mendapat teguran dari bapak ibu.Tapi aku tetap cuek saja, toh aku berbuat untuk kebaikan warung nasi bapakku kok.
“Orang mau makan kok di plototin gitu, nanti orang gak nyaman loh Mam”, kata bapakku suatu ketika.
“Jangan serem gitu toh Mam, biasa aja kenapa toh” ibuku ikut menasehati.
“Kita itu saling membutuhkan, makanya saling menolong. Kita membutuhkan mereka sebagai penyanggah usaha kita. Mereka juga membutuhkan kita untuk mendukung keuangan yang terbatas, gitu loh nak?” bapakku berkata di lain waktu.

Dalam pikiranku bapak ibu sangat lemah, tidak tegas menghadapi prilaku anak kost. Hal itu bisa jadi makanan empuk bagi anak-anak kost yang jahil. Untung ada aku yang dapat mencegah perbuatan anak-anak kost tersebut. Hal itu terus berada dalam pikiranku hingga suatu saat…

karena keteledoran dalam mematikan api kompor, akibatnya fatal. Kompor yang meledak menghanguskan warung nasi bapakku. Hingga warung yang menjadi tumpuan hidup kami ini luluh lantak tak tersisa. Dengan tabungan yang tersisa kami hanya bisa membangun warung nasi kembali yang jauh lebih kecil dengan tempat yang kurang strategis, masuk ke gang sempit.Tapi untunglah anak kost langganan warung nasi bapakku tetap setia makan di tempat kami, walaupun harus berjalan kaki lebih jauh. Berkat pelanggan setia inilah warung nasi kami tetap bertahan, dan bapakku bisa membesarkan lagi warung nasiku seperti yang dulu. Kini sikapku menjadi beda dalam melihat tingkah laku anak kost yang makan di tempat kami.

“Ayo mas…..makan yang banyak, biar kuliahnya kuat.”ujarku tersenyum. Mereka cuma mesem-mesem. Benar kata bapak, hubungan warung nasi dan pelanggan kami yang rata-rata anak kost adalah saling membutuhkan.

Yogyakarta, 15 Desember 2009
pernah diterbitkan di Harian Jogja dengan nama pena Jwenti Fiveriani

23 Mei 2011 - Posted by | Cerita, Keluarga, Pribadi, Renungan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: