Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

golok naga terbang (jilid 2)

Golok Naga Terbang
Karya : Aryani W.

Sambungan dari jilid 1
Jilid II
TIDAK dapat disalahkan apabila orang menjadi tertarik melihat benda atau barang yang cantik menarik. Sudan normal agaknya, lepas dari nafsu yang menguasai hati masing-masing orang. Kita akui bahwa kita pasti merasa suka dan tertarik apabila melihat barang bagus atau melihat bunga yang cantik dan harum baunya. Akan tetapi apabila kita memandang benda tersebut dengan wajar, tidak dimasuki pikiran yang akan membuat kita terbelenggu oleh dosa yaitu pikiran yang digerakkan oleh Sang Iblis yang menyodorkan kenikmatan dan kesenangan , duniawi. Di mana Sang Iblis ini mendorong-dorong kita untuk melakukan atau membayangkan betapa nikmatnya apabila kita dapat memiliki atau menikmati barang atau benda tersebut! Tidak peduli lagi bahwa dia bukanlah kepunyaan kita pribadi, rasa ingin memiliki dan menikmati dengan segala cara dan upaya yang melanggar aturan pun dibenarkan oleti pikiran kita yang sudah dikuasai oleh kuasa kegelapan ini sehingga terjadilah hal-hal yang melanggar tata susila dan ajaran-ajaran agama!
Coa Sim Ok ini pun tidak dapat menguasai nafsu jalangnya. Dia telah diperbudak oleh nafsu-nafsunya sendiri sehingga menjadi rakus seperti babi atau lebih lagi seperti Siluman Babi Tie Pat Kai dalam cerita See Yu (Sun Go Kong) itu kera sakti yang mengawal Pendeta Tong menuju ke Barat untuk mencari kitab. Sepasang matanya mengawasi segala gerak-gerik kedua orang tersebut, dan dalam benaknya mereka-reka, mencari jalan agar bisa mendapatkan Si Cantik mungil belasan tahun tersebut.Enam orang muridnya yang juga tahu akan kesukaan guru gendut ini segera saling berkedip dan memberi isyarat. Mereka tersenyum kecil tanpa setahu wakil ketua Naga Terbang Coa Sim Ok yang sedang tenggelam dengan angan-angan kenikmatan bersama anak perempuan belasan tahun tersebut.Kedua orang tersebut sedang makan hidangan yang dipesan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Sama sekali mereka tidak tahu bahwa ada bahaya mengacam mereka. Hampir saja Si Kakek tersedak ketika tiba-tiba terdengar bentakan kasar di belakangnya. “Heii, duaan saja nih! Boleh aku ikut duduk di sini?” Tanpa aturan sama sekali murid Naga Terbang ini menyapa orang yang sama sekali tak dikenalnya. Memang agaknya murid ini tidak pernah diajar tata kesopanan, kentara dari lagaknya. Mungkin dia adalah murid yang biasa memaksakan kehendaknya kepada siapa saja dengan mengandalkan pengaruh nama Perkumpulan Naga Terbang. Sedangkan wakil ketua Coa Sim Ok tersebut hanya mendiamkan saja ulah anak buahnya, malahan tersenyum senang. Sungguh guru yang tidak patut ditiru dan digugu.”Ohh, maaf, maaf ….. kami tidak mengenal Tuan.” jawab Si Kakek gagap.
Sedangkan Si Anak hanya melirik seklias, tak acuh sama sekali.”Ha-ha-ha, Si Tinju Besi namaku. Semua orang di kota raja mengenal siapa diriku ini. Ha-ha-ha …..!” Sambil tertawa
terbahak-bahak Si Tinju Besi menarik kursi dan tanpa banyak cakap lagi mendudukinya. Tanpa menanti dipersilakan lagi!
Akan tetapi terjadilah sesuatn yang lucu. Ketika Si Tinju Besi menduduki kursinya, tiba-tiba saja kursi tersebut bergeser ke belakang cepat sekali. Seakan-akan kursi tersebut ditarik tangan yang tidak nampak, sehingga tanpa dapat dicegah lagi Si Tinju Besi menduduki tempat kosong. Tanpa ampun tubuhnya terjengkang ke belakang sambil mengeluarkan suara keras.
“Brukkkkk …..! Aduhhhhh …..!” Si Tinju Besi menjerit kesakitan. Ketika tangan kanannya meraba-raba pinggulnya, tangannya memegang duri ikan yang cukup besar. Entah bagaimana sampai ada tulang ikan dapat mengenai pinggulnya tersebut. Kawan-kawannya malah menertawakan kejadian tersebut. Merasa lucu dan geli. Coa Sim Ok sendiri pun tertawa, dia tidak menduga jelek kejadian tadi.”Eh, hati-hati ….. Tuan.”
“Hi-hi-hik …..! Tangannya besi, pinggulnya tahu. Hi-hi-hik …..!” Terdengar suara merdu nyafing dari arah kanannya. Ternyata anak perempuan itulah yang tertawa.
Dengan wajah kemerahan karena malu Si Tinju Besi bangun berdiri. Sepasang matanya mencereng menakutkan meman-dang ke kanan kiri, orang-orang di ruangan makan menjadi ketakutan ketika bertemu pandang. Mereka yang ketakutan ini tentulah orang-orang yang tidak biasa bertualang di dunia kang-ouw, mereka ini pastilah para penduduk atau pedagang biasa di kota tersebut. Si Tinju Besi bertambah marah mendengar ejekan anak perempuan cantik menarik belasan tahun itu.”Diammm …..!” Bentaknya sambil melotot ke arah dara itu. Akan tetapi yang dipelototi malahan menahan tawa nya sambil menutupi mulut dengan sebelah tangan.”Keparat Si Tinju Besi mengumpat sambil mengayun tangan besinya ke arah meja. Agaknya Si Tinju Besi ini hendak menunjukkan kebolehannya, dia ingin menghantam hancur meja di depan anak perempuan dan Si Kakek.
“Wuttttt …..! Pranggggg …..crottttt!!”
Bukan meja yang hancur kena han-taman tangan besinya, namun mangkok berisi masakan capjai kuah kecap/tomat. Tanpa ampun lagi kuah kemerahan memercik ke atas dan sebagian mengenai wajahnya sendiri. Sedangkan yang pecah hanyalah mangkoknya saja dan bangku itu pun masih utuh. “Hi-hi-hik ….. hi-hi-hik …..!”
“Jangan kurang ajar, Nio-ji!” bentak Kakek itu lirih. Tan Gin Nio nama anak belasan tahun itu tetap saja tak dapat menahan tawanya, malahan tangan kanannya menuding-nuding ke arah muka Si Tinju Besi. Para tamu juga tertawa, walaupun tawa mereka ditahan-tahan atau sambil menutupi mulutnya dengan tangan agar tak kentara. Akan tetapi teman Si Tinju Besi masih saja tidak tahu bahwa hal ini sebetulnya bukan kesemberonoan rekannya, maka melihat kejadian tersebut mereka malah tertawa terbahak-bahak. Malah ada teman mereka sampai tersedak saking tak kuat melihat kejadian lucu tersebut.
Coa Sim Ok kaget. “Tak mungkin ada kejadian demikian kebetulan sampai dua kali,” demikian pikirnya. Maka Coa Sim Ok lalu bangkit berdiri mendekati kedua kakek dan anak perempuan cantik menarik yang sedang tersenyum-senyum. Bagaikan bola menggelundung saja tiba-tiba telah berada di dekat Si. Tinju Besi.
“Pergilah …..!” Sekali raih dan menarik tubuh Si Tinju Besi meluncur ke arah kursinya dan jatuh terduduk dengan pelan. Seakan-akan tubuhnya ditempatkan di kursi duduk oleh tangan halus tidak terlihat mata. Bagaikan sihir saja layaknya, bagi orang yang tidak tahu akan ilmu silat! Coa Sim Ok mengangkat kedua tangan depan dada sembari memberi hormat. Wajahnya penuh senyum dan kata-katanya halus ketika dia menyapa Si Kakek yang telah berdiri di dekat anak perempuan belasan tahun tersebut.
“Maafkan muridku yang tidak melihat Gunung Thai-san menjulang tinggi di depan mata, Lo-enghiong. Bolehkah aku yang rendah mengenal julukan Lo-enghiong yang terhormat.”
“Ahhh, Tuan salah sangka. Aku hanyalah seorang nelayan kecil dari timur, bukan Lo-enghiong, Lo-enghiong segala. Aku hanya orang biasa saja bukan seorang pendekar.”
Akan tetapi Coa Sim Ok tahu bahwa kakek ini bukanlah orang biasa seperti yang diakuinya tadi. Dia menduga bahwa kakek ini pastilah seorang tokoh kang-ouw angkatan tua karena dia tidak mengenal ciri-ciri Si Kakek semen jak dia mengelana di kang-ouw. Apalagi setelah menjabat menjadi wakil ketua Perkumpulan Naga Terbang sebetulnya dia mengenal banyak tokoh angkatan tua, mengenal mereka dari ciri-ciri dan senjata andalan mereka.
“Kenalkan Lo-enghiong, aku Coa Sim Ok wakil ketua Perkumpulan Naga Terbang.” Coa Sim Ok mencoba memancing dengan mengenalkan diri sebagai wakil ketua Naga Terbang. Sepasang matanya mengawasi tajam wajah kakek yang mengaku sebagai nelayan dari timur tersebut. Akan tetapi dia kecele. Ternyata kakek tersebut kaget pun tidak mendengar bahwa dia adalah wakil ketua Naga Terbang. Nama Naga Terbang sebagai perkumpulan besar di kota raja telah ter-kenal di delapan penjuru dunia persilatan, aneh kaiau kakek ini tidak pernah mendengarnya.
“Maaf, maaf, aku orang tua bukanlah orang persilatan sehingga tidak mengenal nama Tuan yang terhormat. Maafkan Lo-hu yang bodoh.” jawab Si Kakek pelan.
“Hi-hi-hi ….. Hui-liong (Naga Terbang)! Kek, benarkah ada naga yang dapat terbang? Menurut dongeng-dongeng yang kudengar naga itu pandai terbang di iangit, kalau orang gagah ini menjadi wakil naga terbang pastilah ‘dia dapat terbang, ya Kek!” ucapan dara ini renyah.
“Husshhhhh …..! Kau anak kecil tahu apa! Lihat, Tuan pendekar ini menjadi marah. Kalau dia benar-benar terbang bagaimana?” bentak Si Kakek sambil tersenyum.
Wajah Coa Sim Ok sebentar pucat sebentar merah,tubuhnya menggigil seakan-akan demamnya kumat. Sepasang matanya melotot memandang wajah anak perempuan itu, akan tetapi dia lalu tersenyum hangat begitu pandang matanya melihat betapa menariknya anak dara tersebut. Ingin ia memperlihatkan ilmu ginkangnya di depan anak perempuan ini, akan tetapi hatinya merasa ragu. Maka Coa Sim Ok ingin mencoba dahulu Si Kakek yang mengaku sebagai nelayan dari timur tersebut terlebih dahulu.Maka segera dia kembali mengangkat kedua tangan menjura ke arah Si Kakek.”Maafkan kalau kami telah mengganggu makan Lo-enghiong berdua.”
Angin dingin menyambar ke arah Si Kakek yang masih tersenyum manis tanpa bergerak dari tempatnya. Sepasang mata kakek ini memandang geli seakan melihat kenakalan seorang anak kecil. Coa Sim Ok kaget tak terkira mendapat kenyataan ini. Pukulan dengan kedua tangan menjura tadi bukanlah pukulan sembarangan saja. Dia telah mengerahkan ” seluruh tenaga lweekangnya untuk menjajal, kalau kakek ini memang tak dapat bersilat sama sekali tentu dapat terpukul mati oleh hawa pukuian jarak jauhnya ini.”Wirrrrr …..!!”
“Ahh, tidak usah sungkan Tuan Coa. Aku orang tua maklum akan hal itu, hanya saja tolong awasi dia dan jaga jangan membuat malu perkumpulanmu.”
“Maaf, maaf.” Dengan hati keder Coa Sim Ok mundur kembali ke mejanya. Dalam hati mengumpat anak muridnya. Akan tetapi dia masih merasa untung tidak dipermalukan di rumah makan ini depan anak buahnya oleh kakek yang mengaku nelayan dari timur tersebut.
Pada saat itu, dari luar , masuklah seorang lelaki setengah baya bertubuh tinggi besar sambil membawa bungkusan panjang. Kumisnya hitam tebal menambah wajahnya bertambah tampan dan simpatik. Sepasang matanya mencorong seperti mata seekor harimau, berwibawa dan berpengaruh, langkahnya mantap.Begitu memasuki rumah dan menyapukan pandang keseluruh ruangan, lelaki ini tersenyum lebar ketika melihat kakek dan anak perempuan di sudut dalam.
“Ahh, angin apa yang membuat Nelayan Pantai Timur sampai terbang ke tempat ini?” Begitu dekat dia menyapa Si Kakek. “He-he-he-he, angin baik, angin baik …..! Mari silakan duduk.”
“Terima kasih.” Setelah menjawab, orang tinggi besar dengan kumis hitam tersebut yang bukan lain adalah Pendekar Golok Terbang Liok ing Gie duduk. Sepasang matanya bersinar ketika meng-awasi dara belasan tahun di samping kanannya.
“Ha-ha-ha, dia adalah muridku yang nakal. Tan Gin Nio namanya, ha-ha-ha.” Setelah itu dia lalu memberi tahu kepada anak perempuan itu siapa sebenarnya lelaki gagah tersebut. “Nio, di depanmu ini bukan orang sembarangan. Dia sahabat Kakekmu, namanya telah menggetar-kan delapan penjuru dunia persilatan sebagai seorang pendekar. Namanya Liok- Ing Gie dan mendapat poyokan di kang-ouw sebagai Pendekar Golok Terbang.”
Tan Gin Nio berdiri sambil memberi hormat. Lalu dara ini pun duduk kembali dan memandang Pendekar Golok Terbang penuh perhatian.
Di lain pihak, Coa Sim Ok dan anak buahnya begitu mendengar ucapan Si Kakek yang cukup keras tadi segera saling pandang. Coa Sim Ok menoleh, memandang Liok Ing Gie penuh perhatian. Lalu katanya. “Cepat tinggalkan tempat ini.”
Tanpa banyak omong lagi segera ketujuh orang itu meninggalkan rumah makan tersebut setelah membayar harga makanan. Sesekali wakil ketua Naga Terbang ini menoleh ke arah Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie. Tanpa dirasakannya bahwa sorot matanya mengandung seribu bahasa. “Sebetulnya aku sampai di Sini ini karena mendengar berita yang tersiar di kang-ouw. Apakah benar bahwa ada orang berani menyatroni perkumpulan Naga Terbang? Apakah yang dicari orang itu?” Nelayan Pantai Timur bertanya. Sepasang matanya mengawasi tajam.
“Ahh, sebenarnya memang terjadi hal tersebut. Kebetulan sekali aku sedang berada di kota raja saat kejadian tersebut sehingga sedikit banyak aku juga mengetahui.” jawab Liok Ing Gie kalem. Wajahnya tak berubah sedikit pun. Walaupun dalam hati pendekar ini merasa terkejut juga akan berita ini, sungguh cepat sekali berita ini tersiar di rimba persilatan (bu-lim).
“He-he-he, apakah Gie-te merahasiakan sesuatu kepadaku? Ah, kalau tidak salah dugaanku, pasti ada sesuatu sehingga wakil ketua Naga Terbang bersama dengan anak buahnya keluar sendiri di kang-ouw. Apakah Gie-te tidak mengenal laki-laki gendut pendek wakil ketua Naga Terbang yang baru saja keluar tadi?”
“Wakil ketua Naga Terbang? Wakil yang mana?” Tanpa terasa pendekar ini menengok ke belakang mencari-cari.
“He-he-he, benar dugaanku. Agaknya kalau tidak salah …..!” Ucapannya terpotong ketika melihak Liok Ing Gie bangkit, dari tempat duduknya. Setelah bangkit, Liok Ing Gie segera berkata.”Maafkan aku, Toako. Aku mempunyai urusan penting yang harus segera kubereskan.” Setelah berkata demikian segera pendekar ini pergi setelah menjura kepada Nelayan Pantai Timur, dia pergi tanpa menanti jawaban lagi.
Begitu tiba di pintu rumah makan, sepasang matanya mengawasi segala arah dan menyelidik. Akan tetapi tak nampak sesuatu yang mencurigakan sama sekali sehingga dengan cepat Liok Ing Gie segera menuju ke timur. Langkahnya cepat seakan-akan takut kalau-kalau apa yang diduganya menjadi kenyataan. Tak berapa jauh di dalam rumah makan di seberang jalan, Coa Sim Ok bersama-sama dengan keenam anak buahnya mengawasi tingkah polah Pendekar Golok Terbang penuh perhatian. Begitu melihat pendekar itu keluar kota melalui jalan timur, segera ketujuh orang itu keluar dari rumah makan. Tanpa banyak cakap lagi lalu menaiki kudanya dan membalap mendahului pendekar yang dicurigai sebagai pencuri di Perkumpulan Naga Terbang dan mencuri buku pusaka.
“Kita cegat di luar hutan sana!” perintah Coa Sim Ok pada anak buahnya.”Hiyaaaaa …..!”
“Her-yaaaakkkkk !”
“Tar-tar-tar …..!! Minggir-minggir!!”
Teriakan dan ledakan cambuk mengagetkan para pejalan kaki. Membuat mereka cepat-cepat menghindar ke pinggir ketika melihat tujuh ekor kuda saling balap bagai dikejar setan. Mereka menepi sambil menyumpah serapah ketujuh orang tersebut. Ketika tiba di kelokan jalan, tiba-tiba dari depan sebuah toko makanan ternak keiuar seorang laki-laki tua sambil memanggul sekarung dedak makanan ternak. Orang tersebut telah tiba tepat di tengah jalan tatkala tujuh ekor kuda itu datang dengan kecepatan kilat.
Sebuah tabrakan maut pasti terjadi! “Gilaaa …..!” Belum hilang gemanya tiba-tiba terlihatlah sesosok bayangan meluncur melebihi kecepatan larinya kuda.
Orang-orang di pinggir jalan sama menjerit melihat kejadian tadi. Akan tetapi ketika ketujuh ekor kuda itu lewat, ternyata tidak terdengar jerit kematian orang tua yang memanggul karung tadi. Mereka terbelalak memandang. Akan tetapi, setelah debu tebal akibat lari kuda tadi menipis ternyata bahwa tak ada seorang pun tertabrak kuda!
“Eh, kemana Kakek A-sam tadi?” tanya penjual kue kepada penjual bakpao di sampingnya.
“Seeeee ….. tannnnn …..!” jawab penjual bak-pao gagap. Mengira bahwa yang berjalan tadi tentu bukan A-sam, akan tetapi bayangan setan yang menyamar sebagai A-sam.
“Setan, gundulmu! tadi Si Arsam yang berjalan, bukan setan. Aku tadi ketemu dari dalam toko itu.” umpat penjual kue kesal. “Tapi ….. tapi ….. kaiau bukan seeee ….. tannn ….. mana dia sekarang? Aku merasa pasti bahwa tadi setan menyamar.” Penjual bakpao ini tetap ngotot pada pendiriannya. “Goblok! Mana ada setan keluyuran di siang bolong! Dangan ngawur kau.”
Keduanya malah saling bersitegang sendiri. Orang-orang malahan menonton kedua penjual kue dan penjual bakpao ini. Di tengah-tengah ribut-ribut ini, A-sam berjalan mendekati tempat tersebut dan berusaha melihat dekat. Akan tetapi segera saja ia menegur keduanya.
“A-piao. A-kui, apa yang kalian ributkan ini. Sesama tetangga saling bertengkar tidak baik.” katanya keras sambil maju melerai. Melihat siapa yang melerai, keduanya saling pandang.
“A-sam …..? Benarkah ini A-sammm?” teriak penjual bakpao keras.
“Ah, kau selamat A-sam. Bagaimana ini? Apakah kau tidak apa-apa?” penjual kue yang bernama A-kui pun tak mau ketinggalan menegur.
“Sebenarnya apakah yang kalian ribut-kan ini? Siang-siang bertengkar di pinggir jalan.” tanya A-sam.A-kui dan A-piao saling pandang dan tanpa terasa lagi keduanya lalu saling tertawa terbahak-bahak sehingga membuat orang-orang yang menonton bertambah keheranan melihat ulah mereka. “Kami ribut karena dirimu, A-sam.” Hampir berbareng keduanya menyahut. “Karena diriku?” A-sam sekarang menjadi kaget mendengar ucapan ini.
“Ya!” jawab keduanya berbareng. “Kenapa?”
“Benarkah tadi kau yang berjalan di tengah jalan tadi? Bukan setan yang menyamar dirimu?” A-piao bertanya ragu-ragu.
“Kalian anggap siapa lagi? Apa ada setan berjalan siang hari, gila …..!” jawab A-sam cepat. “Apakah kau ngelindur, Piao?”
“Tidak!”
“Nan, benar kataku tadi bukan.Yang berjalan di jalan sambil memanggul karung tadi adalah A-sam.” tukas A-kui.
“Iya ….. iya, aku percaya sekarang. Akan tetapi bagaimana A-sam sampai tidak ketabrak kuda-kuda itu, ya?” A-piao bertanya sambil sepasang matanya memandang ke arah jalan dan ke arah A-sam berganti-ganti. Agaknya penjual bakpao ini masih merasa sangsi bahwa A-sam didepannya ini sebetulnya bukan A-sam yang tadi berjalan di tengah jalan yang hampir ketabrak kuda. “Ooo ….. itu. Entah bagaimana aku sendiri tidak tahu. Ketika tiba di tengah jalan tadi, aku begitu terkejut ketika melihat ketujuh ekor kuda dibalapkan seperti dikejar setan yang hampir menubrukku. Aku tak dapat bergerak saking takut dan kagetku. Akan tetapi entah dari mana tiba-tiba tubuhku dibawa terbang menuju ke pinggir jalan. Hanya terasa angin menyambar dan tahu-tahu aku telah berada aman di pinggir jalan. Dan seorang laki-laki gagah tinggi besar berkumis tebal yang tangan kirinya membawa bungkusan panjang berada di sampingku.” katanya lirih. Melihat kedua orang temannya terbelalak seakan-akan tidak percaya, A-sam segera menyambung. “Laki-laki tersebut tidak meninggalkan nama hanya menyuruh aku segera pergi ke sini sebab mendengar kalian bertengkar!”
“Uwaahh ….. aneh!” gerutu A-piao.”Apakah ….. apakah yang menolongmu tadi betul-betul manusia?”
“Tentu saja manusia!” A-sam menjawab cepat. “Kau kira siapa?”
“Seee ….. tannnnn …..!!” jawab A-piao sambil memandang ke kanan kiri. Akan tetapi, jalan itu telah menjadi sepi. Tak ada lagi yang menonton mereka sehingga hanya mereka bertiga yang berada di tempat itu.”Dasar tahayul! Penakut …..!” ejek A-kui penjual kue di dekatnya.
Ketika A-sam menoleh, ternyata penolongnya telah tiada nampak lagi. Maka mendengar omongan A-piao ini dia pun menjadi ragu-ragu dan bingung. Kalau manusia bagaimana cepat fnenghilang dari hadapannya? Akan tetapi kalau bukan manusia, tadi ketika dia dipondong dia merasa bahwa penolongnya itu manusia dari darah dan daging. Maka ketiga . orang ini lalu saling pandang tak dapat menjawab teka-teki tersebut. Tiba-tiba A-piao menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah ke tengah jalan, mulutnya tak hentinya mengoceh menyebut segala dewa! Kedua orang temannya segera terbawa oleh ulah penjual bak pao ini, mereka juga menjatuhkan diri di pinggir jalan sambil menyebut nama Buddha yang mulia.
Benarkah yang berkelebat tadi bukan manusia seperti anggapan ketiga orang tadi? Sebenarnya tidaklah demikian. Bayangan tadi adalah bayangan seorang pendekar yang namanya sudah menggetarkan di seluruh delapan penjuru rimba persilatan. Orang itu bukan lain adalah Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie. Hanya secara kebetulan saja pendekar ini tiba di tempat tersebut dan melihat kejadian itu sehingga dapat menolong tepat pada waktunya.
“Gila …..! Benar-benar tak tahu aturan! Siapakah ketujuh orang itu?” umpatnya dalam hati. “Awas kalian kalau bertemu denganku!” ancamnya.
Setelah dapat menyelamatkan penyeberang tadi, segera pendekar ini berkelebat lenyap dari tempat kejadian. Tak mau dirinya disanjung dan dipuji oleh orang-orang yang tak tahu apa-apa tersebut. Begitu tiba di luar kota segera Liok Ing Gie mengembangkan ilmu meringankan tubuhnya sehingga sebentar saja tubuhnya mencapai beberapa tombak. Akan tetapi setelah beberapa lamanya dia berlarian seperti terbang, ketika hampir mencapai kaki Bukit Awan di mana terdapat hutan lebat, tiba-tiba Liok Ing Gie menghentikan larinya.
Tujuh orang bersenjata telanjang telah mencegat jalan larinya. Salah seorang bertubuh gemuk pendek dan bersenjatakan golok besar, sedangkan keenam lainnya bersenjata golok tipis dan tiga orang bersenjata pedang. Wajah mereka nampak angker dan penuh permusuhan, serta pandang mata mereka seakan-akan ingin menelan hidup-hidup.
“Siapakah kalian ini? Mengapa menghalangi jalan? Apa maksud kalian sebenarnya?” tanya Pendekar Golok Terbang kalem.
“Ha-ha-ha ….., walaupun kau lari ke ujung bumi sekalipun, aku tetap, akan mencarimu. Ha-ha-ha……!” Coa Sim Ok wakil ketua Naga Terbang men-jawab. “Hayo cepat serahkan kitab yang kaucuri!”
“Kitab? Kitab apakah? Kalau kau menghendaki kitab ini ada Su-si Ngo Keng.” Sambil berkata demikian tangan Liong Ing Gie bergerak merogoh saku dalam bajunya.
“Tahannnnn!” bentak Coa Sim Ok menggeledek.Liong Ing Gie menahan jari tangannya. Lalu sepasang matanya mengawasi Si Gemuk penuh perhatian. “Ah, tak salah lagi.” bisik hatinya.
“Jangan pura-pura geblek, Pendekar Golok Terbang! Apakah kau ingin segera menyusul rekanmu Si Kutu Buku Li Ceng Ong? Ha-ha-ha ….., cepat keluarkan kitab yang kaucuri itu! Jangan sampai menanti aku hilang sabar!”
“Apa maksudmu?” Liok Ing Gie masih pura-pura tidak mengerti apa kehendak dari pencegatnya ini. Walaupun dalam hatinya kemarahan telah menyesak dada. Hemm, jadi inilah pembunuh-pembunuh itu, kebetulan sekali kalau begitu, pikirnya.
“Bangsat pengecut! Temanmu Si Tua Bangka itu telah mengaku kepadaku.” pancing Coa Sim Ok wakil ketua Naga Terbang ini. “Maka tidak perlu kau main sandiwara di depanku. Cepat serahkan kitab yang kauambil!”
“Ha-ha-ha …..! Jadi.. kalianlah pembunuh sadis di rumah Li Ceng Ong? Jangan keburu girang dahulu, kawan. Lebih baik kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum kalian menggelinding dan kepala kubuat sembahyangan. Ha-ha-ha …..!” ejek Liok Ing Gie.
Melihat lagak Pendekar Golok Terbang ini salah seorang anak buah Naga Terbang tidak dapat menahan’ marahnya lagi. Sambil berteriak nyaring dia menerjang ke depan dengan babatan goloknya. “Mampuslah kau keparat …..!”
“Wuttttt ….. crakkkkk …..!” Sebuah kepala menggelinding pergi. Ternyata kepala anak buah Naga Terbang yang semberono tadi. Pendekar Golok Terbang hanya menggeser kakinya meng-elak dari babatan golok dan membarengi tangan kirinya diulur mencengkeram tangan kanan anak buah Naga Terbang dan membalikkan senjatanya ke arah kepala pemegangnya sendiri.
“Keparat …..!” Terdengar teriakan beruntun. Dan lima buah senjata menghujani Pendekar Golok Terbang. Dengan gesit dan lincah, Liok Ing Gie berkelebatan di bawah hujan senjata tersebut. Tubuhnya seakan berubah menjadi bayangan dan menyelinap di bawah sinar berkeredepan senjata yang mencari nyawa. Akan tetapi begitu tangan kanan kirinya bergerak membalas, dalam beberapa jurus saja berjatuhanlah tubuh tanpa kepala di jalan tepi hutan tersebut. Coa Sim Ok yang melihat kejadian ini, sepasang matanya terbelalak seakan tak percaya pada pandang matanya sendiri. Akan tetapi setelah anak buahnya tumbang semua, barulah dia tersadar.”Tahan …..!!” bentaknya lantang.
“Ha-ha-ha…… bagaimana sekarang?” Liok Ing Gie mengejek.
“Keparat laknat! Aku Coa Sim Ok takkan melupakan kejadian hari ini. Tunggulah saja pembalasanku Liok Ing Gie!” Begitu habis kata-katanya tubuhnya yang gemuk telah melesat ke dalam hutan.Liok Ing Gie yang tidak menyangka sama sekali bahwa wakil ketua Naga Terbang akan memiliki nyali sepengecut itu menjadi terlambat. Ketika tubuhnya menyusul bola yang menggelundung tadi, ternyata Coa Sim Ok telah hilang di kerimbunan hutan dan keadaan hutan yang mulai dirambah gelap menambah kesukaran dalam mencari jejak pengecut tadi!
“Sialan! Sungguh pengecut tak berani bertanggung jawab!” umpatnya.
Setelah beberapa lama mencari tidak ketemu, akhirnya Liok Ing Gie meneruskan perjalanannya mendaki Bukit Awan. Walaupun malam telah melingkupi bumi pendekar ini tanpa kesukaran sama sekali dapat mendaki bukit tersebut.
Ketika tiba di depan pondok di puncak Bukit Awan, seorang pemuda tampan menyongsongnya. “Suhu sudah pulang. Bagaimana Suhu? Apakah keadaan Ayah baik-baik saja?”
Liok Ing Gie tersenyum masam. Sepasang matanya memandang sayu ke arah pemuda tegap dan berwajah tampan di depannya. Untung bahwa malam tiada rembulan sehingga tidak begitu kentara mimik wajahnya.
“Marilah masuk ke pondok dahulu, Cu Liong. Apakah pantas kau berkata seperti ini.” ajak Liok Ing Gie lirih,”Ohh, maafkan Cu Liong, Suhu.”
“Tak apa, tidak apa. Aku maklum akan rasa rindumu terhadap Ayahmu itu. Nanti kuterangkan segala sesuatu yang ingin kauketahui.”
“Terima kasih, Suhu.” Li Cu Liong mengikuti gurunya menuju ke pondok. Keduanya berjalan tanpa banyak bicara. Begitu telah memasuki pondok, Cu Liong segera berkata.
“Suhu, air hangat masih tersedia.Silakan, kaiau Suhu ingin mandi dahulu. Murid akan memanaskan masakan.”
“Hemmm,” Pendekar Golok Terbang hanya mengeluarkan dengusan pendek.
Begitu Liok Ing Gie selesai mandi dan berganti pakaian, langsung dia memasuki ruangan tengah pondok, tercium bau sedap masakan. Ternyata di atas meja telah terhidang berbagai masakan buatan muridnya! “Silakan Suhu.”
“Ayoh Cu Liong, temani Suhumu makan.”
“Terima kasih, Suhu.” Setelah keduanya selesai makan, Liok Ing Gie menuju keluar pondok. Sedangkan Li Cu Liong membereskan piring mangkok dan kemudian setelah selesai dia menyusul gurunya. Di tepi jurang di belakang pondok, Liok Ing Gie berdiri dengan kepala menengadah memandang angkasa nan penuh bintang. Tidak merasakan hawa dingin di malam tersebut.”Suhu …..!”
Liok Ing Gie seakan ditarik dari dunia luar ketika mendengar sapaan muridnya ini. Pelan-pelan dia menoleh mengawasi wajah muridnya yang sangat disayangnya ini. Setelah menghela napas panjang berkali-kali barulah dia berkata.
“Liong, kuharap kau tabah menerima berita ini.” Liok Ing Gie tak melanjutkan ucapannya.
“Apakah ini menyangkut ayah Suhu?”
Setelah dapat menenangkan hatinya Liok Ing Gie lalu menceritakan semua peristiwa semenjak dia da tang di rumah Li Ceng Ong ayah muridnya ini. Sedangkan Li Cu Liong mendengarkan dengan penuh perhatian. Akan tetapi ketika mendengar bahwa seluruh isi rumah, baik Ayahnya dan para pelayan telah ditumpas habis tanpa terasa lagi Cu Liong terduduk lesu. Seakan-akan tulang-tulang dilolosi dari tubuhnya.
“Semua ini karena permintaan Ayahmu. Dia meminta agar aku menyelamatkan Golok Pusaka tersebut. Tidak peduli bagaimana pun caranya dan dengan jalan bagaimana. Ini semua karena perintah dari guru ayahmu sebelum dia meninggalkan Ayahmu.”
Liok Ing Gie berhenti sejenak untuk menarik napas ketika teringat kepada keluarga muridnya yang terbasmi. “Entah bagaimana, ternyata wakil ketua Naga Terbang bisa tahu bahwa ini semua adalah perintah Ayahmu.”
“Keparat! Tunggu saja pembalasanku…..!” Teriak Cu Liong keras. Suaranya memecah keheningan malam setelah gurunya berdiam diri.
“Sebetulnya aku telah berjumpa dengan keparat itu di bawah gunung ini. Sayang Si Pengecut itu dapat meloloskan diri ….. sayang …..!”
“Suhu ….. biarlah murid sendiri yang akan membereskan durjana itu untuk membalaskan dendam Ayah!” Ucapan ini terdengar tegas. Cu Liong meremas-remas jari tangannya. Sepasang matanya mencorong penuh dendam.
“Baik! Akan kuturunkan ilmu andalanku kepadamu sekarang. Dan, pula aku dapat mengambil kitab kuning tak bernama dari dalam kamar perpustakaan tersebut. Entah buku apa itu, aku belum sempat untuk menelitinya.” Setelah berkata demikian Liok Ing Gie mengajak muridnya memasuki pondok.Di bawah sinar penerangan api di sudut ruangan, Pendekar Golok Terbang melolos sebuah benda panjang dari dalam buntalannya. Ternyata benda tersebut adalah sebuah senjata yang panjangnya sekitar sedepa. Begitu gagang ditarik, sinar kehijauan berkeredep menyilaukan mata menyorot keluar dari sarung golok.
“Uhhh, senjata pusaka yang ampuh. Inilah pusaka Golok Terbang! Senjata pusaka yang menjadi tanda kekuasaan Perkumpulan Naga Terbang!” kata Liok Ing Gie kagum ketika meneliti golok tersebut. Setelah keduanya meneliti, lalu golok pusaka itu pun dimasukkan ke dalam sarungnya kembali dan sinar kehijauan pun lenyap dari kamar. Liok Ing Gie lalu mengeluarkan kitab kuning tak bersampul. Ketika pendekar ini membuka-buka lembaran kitab, wajahnya berubah dan sepasang matanya terbelalak,seakan-akan tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
“Kitab apakah itu, Suhu?” tanya Cu Li-ong ketika melihat gurunya merandek ketika membuka lembaran-lembaran kitab tadi.
“Haaa ….. ahh, inilah kitab pusaka yang langka! Kitab yang menjadi rebutan semenjak ribuan tahun lalu. Sayang sekali sampulnya telah hilang, kalau tidak salah, menurut dongeng turun temurun kitab ini bernama Kitab Menjala Langit. Siapa pembuat kitab ini aku sendiri pun tidak tahu.” Liok Ing Gie wajahnya bercahaya dan sepasang matanya berbinar-binar. “Kalau kau dapat mempelajari isinya, Liong, kau akan menjadi seorang pendekar pilih tanding di jaman sekarang ini.”
“Mohon petunjuk, Suhu.”
“Tentu ….. tentu saja. Baiklah mulai besok kita berdua mencoba miempelajarinya.” Setelah berkata demikian Liok Ing Gie menyerahkan kitab tersebut pada muridnya. “Simpanlah, Liong!”
Li Cu Liong menerima kitab dan golok pusaka tersebut dengan kedua tangan gemetar, hati pemuda ini penuh keharuan akan kecintaan gurunya terhadap dirinya.
Keduanya lalu menuju ke peraduan masing-masing.
*****

Halimun tebal yang memenuhi puncak Bukit Awan berwarna kemerahan dan nampak pelangi di atas bukit. Pemandangan ini sangatlah indah dipandang dari atas puncak. Awan-awan berarak di bawah puncak sehingga apabila kita berada di atas puncak maka kita seakan-akan berada di dunia lain. Lebih tepat lagi berada di istana atas angin. Awan yang menyelimuti puncak Bukit Awan sangatlah tebal, memantulkan cahaya merah kekuningan dari matahari yang siap masuk ke peraduannya. Bias pelangi nampak di sana-sini, dengan warna-warni demikian indahnya.
Di dekat jurang di belakang pondok Pendekar Golok Terbang, dua bayangan berkelebatan saling serang demikian ce-patnya. Seakan-akan hampir jarang sekali kedua kaki keduanya menginjak tanah berbatu, diseling teriakan-teriakan nyaring. Saling kejar dan saling libat, sesekali terdengar dencing suara senjata beradu disusul muncratnya bunga api. Siapakah kedua bayangan tersebut? Mereka bukan lain adalah penghuni puncak Bukit Awan. Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie bersama muridnya Li Cu Liong.
Telah lebih dari sebulan Cu Liong diiatih gurunya di puncak tersebut. Seluruh ilmu kepandaian seakan-akan ingin dipindahkan guru itu kepada murid tunggalnya ini. Liok Ing Gie mendesak muridnya untuk belajar siang malam. Sehingga dalam tempo sebulan itu kepandaian Cu Liong menjadi berlipat ganda lihainya. Isi kitab belum sempat dipelajari keduanya. Mereka lebih mementingkan ilmu Golok Terbang andalan Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie dikuasai secara matang terlebih dahulu sehingga nanti kalau mempelajari isi kitab, Cu Liong sudah memiliki dasar cukup lumayan.”Awas …..! Gunakan kegesitanmu, Cu Liong.” seru Liok Ing Gie sambil meluncurkan goloknya, dan golok itu pun terbang dengan kecepatan kilat sambil berputar. Serangan dari jarak dekat ini jarang sekali dapat dihindarkan oleh lawan yang bagaimana lihai pun. Karena sungguh di luar dugaan.
“Sihggggg …..! Tranggggg …..! Singggg…..!
Cu Liong meloncat tinggi beberapa tombak di udara dan membuat putaran beberapa kali. Begitu golok terbang berputar balik, Cu Liong menggerakkan senjata di tangan kanannya menepis. Sehingga golok tersebut menyeleweng. Akan tetapi pemuda ini agaknya masih memandang ringan kelihaian golok terbang gurunya, setelah mengeluarkan suara keras goloknya patah ketika tepat menangkis golok berputar tadi.
Liok Ing Gie menarik tali hitam di tangan dan mencela muridnya.
“Jangan kau pandang ringan golok yang sedang terbang, Liong. Seluruh tenaga putaran itu menjadi berlipat ketika membalik, sehingga hanya dengan tali ini aku dapat menguasai terbangnya.”
“Maafkan murid, Suhu.”
“Kau mendapat kemajuan lumayan dalam tempo sebulan ini, Liong. Hanya tenaga dalammu masih jauh dari sempurna. Apabila kau dapat memiliki lweekang dua tingkat dari sekarang kukira ilmumu yang telah berada di atasku.” puji Liok ing Gie. Pendekar ini merasa senang dan bangga akan kemajuan muridnya dalam tempo sebulan ini.
Keduanya lalu kembali memasuki pondok. Matahari telah lenyap di balik bukit sehingga pelan-pelan kegelapan merambah menggantikannya. Satu dua bintang telah muncul menggantikan sang surya. Hawa di puncak semakin dingin sampai terasa menyusup ke dalam tulang.
Sebuah bayangan abu-abu berkelebatan dari bawah puncak. Bagaikan bayangan setan pencabut nyawa meluncur cepat sekali dan demikian mudahnya bayangan itu melompati jurang-jurang membentang di bawah bukit. Tanpa menimbulkan suara sama sekali kedua kaki bayangan abu-abu akhirnya berhenti di dekat pondok. Dua orang di dalam pondok sama
sekali tidak mendengar gerakan orang yang baru datang ini. Menandakan bahwa orang berpakaian abu-abu ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali. Mungkin jauh di atas Pendekar Golok Terbang dan muridnya.
“Ha-ha-ha …..! Liok Ing Gie, pencuri busuk, hayo serahkan nyawamu!”
Dapat dibayangkan betapa kagetnya guru dan murid yang sedang berbincang di dalam pondok tersebut. Akan tetapi, sebagai seorang pendekar yang sudah kawakan Liok Ing Gie dapat menguasai dirinya. Dia tahu bahwa lawan di luar tak boleh dibuat gegabah, dia saling pandang dengan muridnya Gu Liong.”Liong, kuharap kau jangan keluar. Biar aku saja yang menanyakan apa maksud kedatangannya ini.” pesannya lirih. “Tapi, Suhu.”
“Tidak ada tapi. Selamatkan saja kedua pusaka itu, jangan sampai jatuh di tangan orang jahat!” Liok Ing Gie memerintah. “Jangan membantah Liong!” katanya kemudian karena melihat keraguan muridnya. “Murid mentaati perintah.”
“Bagus. Apa pun yang terjadi jangan kau keluar.Kau harus melarikan diri dan menyempurnakan ilmu-ilmu di dalam kitab itu sebelum membalas …..”
“Bangsat Liok Ing Gie, kalau kau tidak keluar akan kuhancurkan pondok bututmu!” Bentakan ini memotong ucapan Liok Ing Gie pada Cu Liong.
“Cepat, kalau terlambat bahaya.” Liok Ing Gie mendesak muridnya. Pendekar ini lalu memadamkan lampu satu-satunya dalam kamar. Setelah mencabut golok andalannya lalu keluar melalui pintu depan. Sepasang mata pendekar ini mencorong tajam ketika mengawasi orang berpakaian abu-abu dan berambut putih riap-riapan yang berdiri di pelataran pondok. Tangan kanan pendeta ini memegang sebuah tongkat kehitaman berkelak-kelok seperti tubuh ular. Sepasang mata pendeta tua tersebut mencorong tajam seakan-akan mengeluarkan sinar api ketika menatapnya. “Siapakah Totiang ini dan mau apakah malam-malam teriak-teriak tidak karuan di rumah orang. Kalau mau meminta sedekah besok kan masih ada waktu.” ejeknya. Liok Ing Gie berbuat demikian ini untuk membesarkan hati sendiri.
Wajah Sim Tok Tojin berubah kemerahan karena marah mendengar ejekan tersebut. “Bangsat! Keparat lancang! Aku datang bukan mengemis, akan tetapi akan mencabut nyawamu yang tidak berharga, tahu! Mungkin pinto dapat mengampuni nyawa anjingmu itu kalau kau menyerahkan kitab yang kaucuri! Ha-ha-ha-heh-heh-heh …..!!”
“Tosu bau! Sebutkan namamu sebelum kepalamu menggelinding terkena golok terbangku!” bentak Liok Ing Gie tak kalah galaknya.
“Heh-heh-heh, baik. Kau dapat melaporkan kepada penjaga neraka siapa yang telah mengirimmu ke sana. Dengarlah baik-baik, jangan salah melapor nantinya. Aku pelindung Naga Terbang dan orang-orang memanggilku Sim Tok Tojin!”
Liok Ing Gie tercekat juga hatinya mendengar nama ini. “Wah, ternyata pendeta gadungan ini murid termuda dari ketua lama Naga Terbang yang juga menjadi guru dari Li Ceng Ong.
Gawat …..!” katanya dalam hati. Liok Ing Gie memasang kuda-kuda pembukaan ilmu Golok Terbangnya. Kedua ujung kakinya berdiri di atas tanah, tumitnya diangkat ke atas sedikit. Kuda-kuda ini membuat gerakan pendekar ini.menjadi gesit luar biasa dan dia pun menyalurkan seluruh tenaga lweekang ke tangan. Melihat pembukaan ini, Sim Tok Tojin hanya ganda tawa saja tanpa mempedulikan keadaan lawannya, pendeta ini melangkah maju ke depan sambil mengayun tangan kanannya.”Wuuttttt …..! Wuttttt-wuuttttt …..!!”
Tiga kali serangan tongkat hitamnya dapat dielakkan dengan manis oleh Liok Ing Gie. Akan tetapi tangan kiri tosu ini tak tinggal diam begitu saja, membantu dengan serangan pukulan jarak jauh yang membawa angin panas bagaikan ada api besar datang melanda. Liok Ing Gie menjadi kerepotan juga mendapat serangan bertubi ini, cepat ia menggerakkan senjatanya untuk membendung serangan lawan.
“Tranggggg …..! Ahhhhh …..!!” Liok Ing Gie menjerit kaget ketika goloknya menangkis toya dan terpental kembali ke belakang. Tubuhnya terhuyung-huyung saking kuatnya ayunan toya hitam ditangan lawan. “Gila ….., tenaga dalam pendeta tua itu sungguh luar biasa!” umpatnya dalam hati.Akan tetapi tanpa keder sedikit pun Liok Ing Gie mengambil inisiatip menyerang terlebih dahulu. Goloknya diputar-putar di udara menderu-deru suaranya bagai sebuah baling-baling kapal udara siap untuk meninggalkan landasan. Semakin lama semakin cepat sehingga hanya nampak selarik sinar berputar cepat.
“Hiaaattttt …..! Mampuslah!” Golok pun menyambar tosu berjubah abu-abu dengan kecepatan kilat. “Heh-heh-heh, keluarkan seluruh kebisaanmu, bangsat kecil!” ejek Sim Tok Tojin sambil melejit ke samping. Begitu sinar golok lewat, Sim Tok Tojin meluncur maju dengan tongkat menotok dada lawan. “Mampuslah kau pencuri kecil!”
“Haittt …..! Tranggggg …..!!” Golok Terbang pendekar ini kembali terpental ketika ditangkis toya hitam. Walaupun serangan ini diluar dugaan sama sekali. Karena golok yang tadi luput itu ternyata dapat berputar dari belakang menyerang belakang tubuh Sim Tok Tojin. Tosu tersebut segera menahan serangannya dan menangkis ke belakang.
Liok Ing Gie melesat jauh ke belakang. Pendekar ini segera mengatur jalan pernapasannya yang memburu ketika beberapa kali goloknya kena ditangkis lawan. Sedangkan Sim Tok Tojin menjadi bertambah marah ketika menyerang lebih dari sepuluh jurus belum juga dapat me-ngalahkan lawannya. Pendeta ini lalu mengeluarkan teriakan lengking tinggi, semakin lama lengkingan lawan tersebut semakin meninggi. Liok Ing Gie menjadi pucat wajahnya ketika kedua daun telinganya tidak kuat menahan serangan lengking lawan. Jantung dalam dada Liok Ing Gie bagai meloncat-loncat ingin ke luar dari mulut pendekat ini. Belum juga Pendekar Golok Terbang dapat menguasai dirinya tiba-tiba ia melihat sesosok bayangan abu-abu meluncur ke depan.”Celaka …..!!” Teriaknya sambil membuang tubuh ke belakang dan bergulingan diatas tanah beberapa kali.
“Mampuslah …..!” seru Sim Tok Tojin sambil menyusuli totokan-totokan ke arah kepala Liong Ing Gie. “Tuk! Tukk!! Takk! Tranggg …..!!”
Tiga kali tongkat berwarna hitam tersebut menghantam tanah keras dan batu-batu pun hancur, memercik ke sana-sini. Akan tetapi totokan yang keempat kalinya hampir saja mengenai kepala Liok Ing Gie. Untung bahwa Pendekar Golok Terbang ini masih sempat menggerakkan goloknya menahan tongkat yang dapat mencabut nyawa itu. Sayang sekali, keadaan Pendekar Golok Terbang ini tak menguntungkan dirinya. Setelah mengeluarkan suara keras goloknya terlempar ke udara.”Ha-ha-ha ….. mau lari ke mana kau sekarang?” Seruannya dibarengi dengan
babatan tongkat ke arah tubuh Liok Ing Gie. Sedangkan tangan kirinya siap untuk memberi serangan susulan dengan pukulan jarak jauh yang ampuh.
“Pehdeta keparat! Aku akan mengadu nyawa denganmu!” Liok Ing Gie yang telah tertutup segala jalan larinya menjadi beringas dan menjadi nekat. Dengan lweekang dikerahkan di kedua tangan Liok Ing Gie menyambut datangnya tongkat lawan.
“Wuttttt …..! Blarrr !”
“Desssss …..!” Bagaikan layangan putus talinya tubuh Pendekar Golok Terbang melayang ke belakang beberapa tombak. Ternyata dadanya telah terkena pukulan tangan kiri Sim Tok Tojin. Pukulan yang mengandung racun! Pendekar ini masih berusaha untuk bangkit, akan tetapi kembali tubuhnya tak kuat dan dia lalu terjerambab ke depan! “Suhu …..!”
Sesosok bayangan kemerahan meluncur. Sebelum tubuh Pendekar Golok Terbang jatuh di atas tanah telah disambar dan dibawa meloncat ke dalam pondok. Ternyata Li Cu Liong belum pergi meninggalkan pondok. Pemuda ini mengintai dari dalam melihat betapa gurunya dibuat permainan Si Tosu yang bernama Sim Tok Tojin. Maka setelah melihat suhunya terluka, tanpa mempedulikan bahaya lagi ia lalu keluar untuk menyelamatkan gurunya.
“Liong ….. ji ….. ce-ce ….. la-la-la ….. ri!” dan kepala Liok Ing Gie terkulai setelah menyuruh pemuda itu cepat-cepat melarikan diri. Mendengar ini, Li Cu Liong hanya merandek sebentar. Akan tetapi begitu melihat gurunya tewas, kemarahan telah membakar dada pemuda ini sehingga tanpa mempedulikan apa pun dia lalu menuju ke belakang pondok sambil memondong tubuh gurunya.
“Ha-ha-ha, keparat cilik, hayo serahkan kitab yang dicuri gurumu kepadaku. Mungkin pinto akan memberi jalan hidup kepadamu, ha-ha-ha!” Suara Ini mendatangi semakln dekat. Akan tetapi Cu Liong acuh saja. “Brakkkkk …..!!” Pintu depan pun hancur terkena pukulan jarak janh Sim Tok Tojin. Akan tetapi keadaan dalam ruangan itu gelap dan bayangan manusia tak nampak sama sekali. Melihat ini, Sim Tok Tojin lalu melesat ke dalam sambil tangan kirinya bergerak memukul. “Wuttttt …..! Brakkkkk …..!!” kembali dinding belakang jebol dan sekarang nam-pakiah sesosok tubuh sedang membopong orang sedang berjalan menuju ke tepi jurang.
“Tahan …..! Jangan kaulanjutkan langkahmu, anak muda!” Teriaknya lantang disertai tenaga sihir. Cu Liong merasa kakinya tidak mau mengikuti perintahnya lagi. Ia berhenti mendadak. Pelan-pelan ia menoleh, begitu melihat pendeta tua ini melangkah satu demi satu mendekati dirinya ia segera meletakkan jenazah gurunya di atas tanah. Sepasang matanya merah dan beringas. Penuh rasa penasaran dan kemarahan, memandang pendeta tua berambut putih yang dia tahu namanya adalah Sim Tok Tojin. Entah apa kedudukannya diPerkumpulan Naga Terbang.”He, anak muda, cepat keluarkan kitab yang dicuri gurumu. Kalau tidak “Keparat …..! Terimalah pembalasanku …..!!”
Ucapan Sim Tok Tojin diputus oleh bentakan Cu Liong yang segera meluncur sambil menggerakkan senjata pusaka Naga Terbang yang dicuri gurunya dari kamar perpustakaan. Seleret sinar hijau mengarah kepala Sim Tok Tojin yang masih berjalan mendekati anak muda tersebut.Pendeta ini memandang rendah kepandaian anak muda itu, maka ketika sinar kehijauan tersebut menyambarnya dia lalu menggerakkan tangan kanan menyambut.
“Singgggg …,.! Takkkkk …..!!” Dapat dibayangkan betapa kaget hati Sim Tok Tojin ketika tahu bahwa tongkat pusakanya dapat terputus oleh benda bersinar kehijauan tersebut. Walaupun pemuda itu juga terlempar ke belakang, akibat kuatnya tenaga yang berada dalam tongkat hitam. Sepasang mata Sim Tok Tojin mengawasi senjata bersinar kehijauan penuh perhatian.
“Bocah! Apakah senjatamu itu adalah Pusaka Golok Naga Terbang? Itu lambang kekuasaan perguruanku yang hilang ratusan tahun lalu?” tanya Sim Tok Tojin ragu. Sepasang mata pendeta To ini bercahaya penuh harapan.
“Kalau benar mau apakah kau, Pendeta Bau!” jawab Cu Liong berani.
“Bocah kurang ajar! Serahkan golokmu itu!”
Sim Tok Tojin meloncat maju dengan kedua tangan membentuk cengkeraman. Dari kedua tangannya keiuar hawa berbau amis. Cu Liong tidak berani memandang ringan serangan tosu tersebut. Golok di tangan kanan diputar depan dada melindungi tubuh depannya dengan ke¬cepatan kilat. Bagaikan sebuah payung berwarna kehijauan membentengi tubuh dari serangan kedua tangan yang tak boleh dipandang ringan tersebut.
“Darrrrr …..!!” Terdengar suara keras
ketika Tenaga Pukuian Beracun dari tangan Sim Tok Tojin bertemu dengan putaran senjata golok yang digerakkan dengan tenaga Iweekang tingkat tinggi tersebut. Akan tetapi tetap saja Cu Liong terdorong beberapa langkah ke belakang.
“Berhenti anak muda! Awassssss, di belakangmu jurang!” Tanpa terasa Sim Tok Tojin berteriak memperingatkan. Tosu ini merasa sayang kalau barang pusaka di tangan pemuda tersebut nanti jatuh ke dalam jurang, jadi bukan menyayangkan diri Si Anak Muda.
“Ciattttt …..!!” Cu Liong melengking keras dan tubuhnya meluncur ke depan bagaikan panah terlepas dari busurnya. Golok hijau di tangan diputar bagaikan baling-baling cepatnya mengarah tubuh pendeta Agama To itu dari berbagai jurusan.
“Cring-cring-cring …..! Desssss …..!!” Tubuh Cu Liong bagaikan layangan putus mencelat ke belakang. Lebih celaka lagi tubuhnya melayang, melewati pinggir jurang dan tak ampun lagi pemuda ini terjatuh ke dalam jurang yang tak terukur dalamnya. Awan putih menutupi atas jurang membubung naik menyambut tubuhnya. “Aaaaaaa….!!!!”
“Celaka …..” Sim Tok Tojin berseru kecewa. Tanpa membuang waktu lagi tosu ini segera meloloskan angkin dari tubuhnya dan ….. “bet-bet-bet!!” Bagaikan ular hidup angkin itu meluncur mengejar tubuh pemuda tersebut.
“Plakkk …..” Cu Liong menggunakan tangan kiri menangkis. Akibatnya Cu Liong terlempar semakin ke tengah. Bagaikan batu disedot pusaran angin tubuhnya berputaran jatuh ke dalam jurang! “Sialan! Gara-gara keparat tak tahu diri ini semua menjadi berantakan!” umpatannya jengkel. Tosu berpakaian serba abu-abu ini menggerakkan kaki kanannya mencokel tubuh Pendekar Golok Terbang.
“Desssss …..!” Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie yang telah menjadi mayat itu tubuhnya melayang meluncur turun menyusul muridnya.
“Ha-ha-ha-ha …..!!” Biar kalian berdua bersama-sama menghadap Giam-Io-ong!” Setelah puas tertawa tosu ini lalu berkelebat lenyap menuruni Bukit A wan. Bagaikan setan gentayangan tubuhnya berkelebat cepat menuruni puncak bukit.
*****

Kota Merak Emas, di sebelah utara Bukit Awan, siang itu ramai sekali. Para penduduk desa di sekitar kota telah berdatangan semenjak kemarin dulu. Mereka mengenakan pakaian serba indah dan baru. Apalagi penduduk Kota Merak Emas sendiri, mereka tidak mau kalah dalam hal pamer kekayaan dan kebagusan pakaian mereka dengan para pendatang dari luar kota. Wajah-wajah penuh ke-ceriaan memenuhi kota tersebut.
Hal ini tidaklah aneh. Sebab di kelenteng Dewa Langit akan diadakan arak-arakan Dewa Langit mengelilingi kota. Hal ini sudah menjadi tradisi selama puluhan tahun semenjak kuil itu dikepalai oleh pendeta baru. Memang, semenjak pendeta yang berjuluk Pek Bin Tojin menguasai kuil, banyak sekali perubahan di Kuil Dewa Langit. Menurut kata para penduduk yang datang mengunjungi kuil, kuil itu sangat manjur dan dapat member! berkah kepada mereka. Maka tidaklah mengherankan apabila sekarang keadaan di dalam kuil menjadi demikian mewah dan indahnya. Banyak sekali penyumbang bagi kehidupan kuil ini.
Dewa Langit yang menjadi pujaan tunggal di tempat itu terbuat dari batu yang diselaputi emas, tinggi patung ada sekitar dua meteran. Ditaruh di tengah ruangan dalam. Bagaikan hidup di asap yang selalu mengepul keluar dari berbagai ukuran dupa biting. Apalagi di kanan kiri meja depan nampak banyak sekali sesaji dan lilin-lilin besar kecil menyala. Sehingga menimbulkan bayang-bayang aneh.Sejak beberapa hari lalu nampak banyak sekali orang masuk kuil sambil membawa bungkusan besar kecil. Agaknya mereka ini datang untuk menyumbang atau membayar kaul. Maka tak mengherankan kalau di depan kuil itu banyak sekali penjual makanan dan kebutuhan sembahyang memenuhi jalan menuju ke kuil. Para pengemis pun tidak ketinggalan memasang aksi, duduk di pinggir jalan dan merengek-rengek memohon sedekah dengan ciri khas mereka masing-masing.
Akan tetapi, bukan keanehan ini yang menjadi berita utama di kota itu, melainkan berita yang tersiar dari mulut ke mulut tentang keluarnya atau munculnya senjata Golok Pusaka Naga Terbang! Senjata pusaka yang menjadi incaran semua orang rirnba persilatan.
Tak mengherankan apabila di kota Merak Emas menjadi rarnai dengan kedatangan para pesilat dari deiapan penjuru dunia. Mereka ini selalu memburu benda-benda yang akan membuat nama mereka terangkat tinggi-tinggi apabila dapat menguasai benda tersebut.
Rumah makan dan rumah penginapan telah penuh semenjak kemarin. Jangankan rumah penginapan, emper-emper toko pun, jadilah untuk tempat tidur, daripada tidak dapat tidur sama sekali. Apalagi ruangan-ruangan kuil, semua penuh dengan manusia. Seakan-akan manusia di seluruh bumi ditumplek di kota Merak Emas!
Dengan adanya banyak pesilat di kota ini maka kerusuhan pun tak dapat dihindarkan lagi. Apalagi kedatangan mereka ini semua demi sebuah pusaka kuno. Maka sudah jamaklah apabila setiap hari terjadi pembunuhan dan perkelahian di sembarang tempat. Baru berjalan dan saling pandang, sudah cukup untuk mencabut senjata saling serang adu nyawa. Semua ini membuat para petugas keamanan bertugas ekstra ketat dan kuat!
Ketika itu, masuklah rombongan piauwkiok dari luar daerah. Bendera di tiang yang tertancap di atas gerobak nampak berkibar dengan gagahnya. Dasar bendera yang berwarna merah tampak menyala di siang yang panas itu, apalagi gambar Garuda Putih di tengah bendera. Seperti garuda putih hidup dan terbang di atas puncak gerobak tersebut Pek-eng-piauwkiok (Perusahaan Pengawal Barang Garuda Putih) nama perusahaan pengiriman barang itu!
“Tar-tar-tar …..!! Minggir! Minggir …..! Tar-tar-tar …..!!”
Orang-orang yang memenuhi jalan menepi ketika mendengar suara cambuk dan teriakan keras penunggang kuda di depan rombongan piauwsu, mereka minggir sambil menyumpah-nyumpah gemas. Akan tetapi ketika datang serombongan prajurit menyongsong, tiba-tiba saja piauwsu berkuda yang jalan di depan tersebut menahan lari kudanya dengan mendadak sehingga. kudanya meringkik dan berdiri mengangkat kedua kaki depan.
“Hiyeeeee …..!!” Orang-orang di pinggir jalan menengok dan memandang kagum piauwsu tua tersebut. Walaupun kuda itu berdiri dengan kaki belakang saja, akan tetapi piauwsu tersebut masih dapat duduk di pelana dengan amat baiknya. Tidak terpelanting akibat kagetnya kuda tersebut. Kepala prajurit memberi hormat dan berkata sopan setelah melihat piauwsu itu dapat menguasai kudanya. “Maafkan kami kalau kami membuat kaget Tuan.
Kami diperintahkan oleh Kepala Daerah untuk menyambut kedatangan rombongan Tuan.”
“Ahh, untung aku tidak terlempar dari kuda.” tegur piauwsu tua berwibawa. “Tolong antarkan kami menuju rumah Kepala Daerah segera.”
“Silakan, Tuan.” Kepala prajurit segera memerintahkan anak buahnya untuk membuka jalan bagi rombongan piauwsu ini. Maka rombongan Piauwkiok yang berbendera Garuda Putih itu pun segera melanjutkan perjalanan. Akan tetapi sekarang yang membuka jalan adalah prajurit penjaga kota. Sehingga sebentar saja sampailah rombongan tersebut di rumah Kepala Daerah. Ketua rombongan Pek-eng-piauwkiok yang bernama Hung Ci Pao turun dari kudanya. Ketua ini berusia antara lima puluh tahun sampai lima puluh lima tahunan dan perawakannya tidaklah begitu tegap, akan tetapi sepasang mata yang agak sipit itu berkilat-kilat ketika memandang.Wajahnya yang kurus dihiasi jenggot panjang berwarna dua, putih dan hitam. “Ha-ha-ha, akhirnya sampai juga.” Kepala Daerah tertawa senang menyongsong ketua Garuda Putih ini. Wajahnya bersinar senang.
“Berkat doa restu Taijin semua berjalan tiada halangan suatu apa pun.” Hung Ci Pao menjura sambil menjawab. Keduanya lalu berjalan menuju ke arah kereta di tengah yang tertutup. Ketua Garuda Putih Hung Ci Pao membuka pintu kereta dan tak lama kemudian turunlah dari dalam kereta seorang wanita setengah umur yang mengenakan pakaian indah. Wajahnya berbentuk kwaci dengan sepasang bibir merah basah menyungging senyuman dan sepasang matanya memandang dengan kerlingan yang akan meruntuhkan iman lelaki. Kulitnya putih mulus, seakan-akan apabila lalat hinggap akan terpeleset saking halusnya. Bentuk tubuhnya sangatlah menggairahkan, penuh tonjolan merangsang.
“Selamat datang, Dewi.” Sambil membungkuk hormat Kepala Daerah menyambut perempuan cantik tersebut penuh kehormatan.
“Hemmmmm …..!!” Wanita cantik yang bernama Dewi tadi hanya mendengus pendek menerima sambutan ini. Dengan langkah anggun Dewi ini melangkah menuju rumah Kepala Daerah, langkah yang indah, membuat pinggulnya menari-nari menambah daya tarik wanita cantik ini. Banyak pasang mata memandang melongo melihat keindahan wanita yang berjalan memasuki rumah kepala daerah itu. Malahan ada diantara mereka sampai melongo dan kedua mata tak berkedip melotot melihat goyangan pinggul Sang Dewi.
“Ck-ck-ck ….. betapa eloknya!”
“Amboiiiii ….. yahud mek!”
“Suittt-suittttt …..!!” Pujian ini hampir terdengar di semua tempat ketika mereka menerima lirikan sepasang mata menantang dari wanita cantik ini. Akan tetapi, wanita cantik itu pun terus berjalan masuk diiringkan dengan hormat oleh Kepala Daerah. Beberapa orang prajurit segera menurunkan beberapa peti besar dari beberapa kereta.
Sehabis wanita cantik bersama barang-barang dibawa masuk. Sebentar saja mereka melanjutkan perjalanan tak henti-hentinya membicarakan wanita cantik yang menjadi tamu Kepala Daerah. Siapakah gerangan wanita tersebut? Akan tetapi tak seorang pun dapat menjawabnya, karena mereka kebanyakan hanya penduduk kota dan dusun biasa saja. Akan tetapi apabila ada tokoh-tokoh kang-ouw kalangan tua melihatnya, mereka akan menjadi kaget. Perempuan cantik jelita yang menggugah berahi lelaki tersebut bukan lain adalah Dewi Seruni Ungu atau lebih terkenal nama poyokannya yaitu Iblis Penghisap Sukma.

9 Juli 2011 - Posted by | Aryani W, Cerpen | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: