Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

golok naga terbang (jilid 1)

Golok Naga Terbang
Karya : Aryani W.

Jilid I
“JANGAN lupa, tempatnya di tumpukan ke tiga! Di belakang kotak-kotak buku yang di tengah!” Kata seorang tua yang berumur lima puluh tahun dan berwajah tampan, berkulit putih kemerahan tanda sehat. Bangsawan Li Ceng Ong pegawai perpustakan di Perkumpulan Naga Terbang ini adalah seorang keturunan pangeran. Wajahnya yang tampan dihiasi jenggot putih seperti perak sampai di dada, dengan sepasang mata tajam bening bersinar-sinar mengawasi orang yang diajak bicara di depannya.
“Apakah ada jalan rahasia yang dekat tempat tersebut?” tanya laki-laki berbadan kekar dan berwajah gagah yang usianya sekitar lima puluh lima tahun, menegaskan.
“Memang ada. Akan tetapi, jalan itu sekarang masih ada atau tidak aku kurang tahu.”
“Akan kucari nanti di sana!”
“Harap Taihiap berhati-hati. Perkumpulan Naga Terbang tidak bisa dibuat mainan!” Li Ceng Ong memperingatkan. “Baiklah, Taijin. Saya mohon diri!”
“Semoga berhasil usahamu, Taihiap! Aku hanya mendoakan supaya Taihiap tidak menemui rintangan suatu apa pun.”
Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie berdiri dari tempat duduknya. Tubuhnya yang tinggi tegap berisi nampak anggun ketika berdiri. Apalagi wajahnya masih tampan dan dihiasi kumis tebal berwarna hitam. Sepasang matanya mencorong seperti mata harimau tajamnya. Setelah saling memberi hormat, segera Pendekar Golok Terbang menuju keluar ruangan rahasia di rumah Bangsawan Li Ceng Ong. Begitu tiba di luar, Pendekar Golok Terbang segera melesat melompati tembok rumah dan berlompatan dari atas genteng ke atas genteng lainnya dengan cepat sekali. Ketika sampai di suatu tempat, ia merogoh sesuatu dari saku bajunya dan mengenakannya di wajahnya. Ternyata sebuah topeng berwarna hitam telah menutupi seluruh wajahnya sehingga yang nampak hanyalah sepasang mata tajam seperti mata harimau.
Dalam sekejap saja, Pendekar Golok Terbang telah berada di suatu tempat di mana nampak sebuah rumah besar dan luas, di belakang rumah nampak menjulang tinggi sebuah pagoda bertingkat dua, berdiri di tengah sebuah taman nan penuh dengan aneka bunga. Sebuah em-pang lebar mengelilingi pagoda itu, di kanan kiri nampak gunung-gunungan batu menghiasi taman menambah indahnya tempat itu.
“Huppppp!” kakinya menginjak tanah di luar tembok bangunan benteng Perkumpulan Naga Terbang. Berhenti sejenak, telinganya yang berpendengaran tajam mendeteksi keadaan di sekitarnya. Mendengarkan kalau-kalau ada sesuatu yang dapat menjadi penghalang usahanya, ternyata telinganya yang tajam itu tidak mendengar suara pernapasan orang di sekitar tempat itu sama sekali! Sekali kakinya menjejak tanah tubuhnya telah lenyap di balik tembok. Gerakannya bagaikan segumpai asap terbawa angin saja. “Teng-teng-teng!”
Gembreng (canang) dipukul di gardu penjagaan. Agaknya anak buah Perkumpulan Naga Terbang keluar dari gardu dan meronda. Empat orang penjaga berbaris tegap melakukan perondaan lewat di dekat gunung-gunungan batu di jalan menuju ke tengah pagoda di mana nampak jembatan bulan yang berkelok-kelok di empang. Mereka berjalan biasa saja karena yakin bahwa tidak ada seorang pun yang berani menyatroni perkumpulan mereka.
Bayangan hitam itu segera menyelinap di bawah kerimbunan pepohonan di taman. Setelah peronda itu lewat, dengan berindap tanpa meninggalkan kewaspadaan ia bergerak maju. Bagaikan bayangan iblis saja tubuhnya berkelebat ke sana-sini menuju gedung perpustakaan di tengah empang. Para penjaga tak mengira sama sekali bahwa bayangan hitam yang bergerak cepat itu bukanlah bayangan burung terbang, akan tetapi bayangan orang yang ingin mencari sesuatu di dalam Perkumpulan Naga Terbang di mana terdapat sesuatu yang menjadi incarannya! “Takkk!” Begitu tangan kanan Si Bayangan Hitam menyentuh daun jendela, terdengar suara keras patahnya palang kayu di belakang daun jendela. Dia cepat menyelinap masuk dan sepasang matanya segera mengawasi tumpukan kotak-kotak tempat buku-buku rahasia perkumpulan itu! Setelah merasa pasti di mana benda itu berada, ia segera menarik kotak buku ketiga, dan tangannya merogoh ke dalam dan menarik sebuah buntalan panjang. Sepasang matanya lalu jelalatan memandang ke kanan kiri, lalu bayangan hitam itu pun maju kembali ke depan dan menarik sebuah laci di atas sendiri. Ketika ia membuka kotak itu, di dalamnya nampak sebuah kitab kuning sampulnya, kitab itu kelihatan telah tua sekali umurnya. Kain kuning sebagai sampul itu kelihatan robek di sana sini saking tuanya! Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memasukkan kitab tua itu ke saku di balik pakaian hitamnya.
Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie segera mengembalikan kotak-kotak kosong tadi ke tempatnya semula. Begitu merasa pasti bahwa semua telah dikembalikan dengan baik ia segera menuju ke jendela, berhenti sejenak untuk melihat keadaan. Sekali berkelebat tubuhnya telah melayang ke atas genteng pagoda. “Berhenti! Siapa di situ?”
Bentakan menggeledek ini mengejutkan bayangan hitam yang baru saja menginjakkan kakinya di atas wuwungan pagoda. Begitu dia menengok, dirinya telah dikurung empat orang yang bukan lain adalah empat murid kepala Perkumpulan Naga Terbang!
“Siapa kau? Kenapa malam-malam gentayangan di perkumpulan kami! Cepat jawab!” Salah seorang dari mereka membentak keras.
“Hemmm ….. siapa aku tidaklah penting! Aku tiada waktu melayani kalian!” Begitu selesai berkata, orang bertopeng hitam itu telah melayang naik ke atas pagoda yang lebih tinggi! Akan tetapi baru saja tubuhnya sampai di tengah jalan, keempat murid kepala itu meng-gerakkan tangan kanan mereka sambil membentak.
“Mampus kau, pencuri keparat!”
Empat bayangan pedang menyambar dengan kecepatan kilat didahului angin dingin. Siap memotong tubuh Si Bayangan Hitam di tengah udara. Merasakan angin dingin menyambar dari empat jurusan, Si Bayangan Hitam segera menggerakkan tangannya mencabut pedang dan menangkis. “Wirrrrr ….. tranggggg …..!”
Orang pertama yang datang dekat terpental ke belakang akibat tangkisan pedangnya. Tiga temannya lalu memainkan pedang mereka menahan serangan balik orang berbaju hitam itu. Mereka tidak menduga sama sekali akan mendapat lawan tangguh seperti itu. Si Bayangan Hitam segera turun kembali sambil berusaha menjatuhkan keempat lawannya dengan cepat. Dia tahu bahwa apabila tidak segera dapat menjatuhkan penghalang ini dirinya dapat celaka. Maka pedangnya digerakkan dengan jurus-jurus mematikan dengan dilandasi tenaga dalam yang hebat. “Trangg ….. tranggg ….. blesssss!”
Ternyata salah seorang pengeroyoknya telah termakan ujung pedang orang berpakaian serba hitam. Sedangkan dua temannya yang lain terlempar ke bawah, jatuh di tengah empang.
“Byuuurrrrr …..! Byurrrrr ……!”
“Pritttttt-prittttt-prittttt ……!!” Orang keempat ini meloncat ke belakang sambil membunyikan peluitnya, peluit tanda bahaya. Sebentar saja terdengar suara peluit sambung-menyambung memenuhi rumah Perkumpulan Naga Terbang. Terdengar suara kaki mendatangi dari seluruh penjuru! “Hyaaattttt …..! Crakkkkk …..!”
Setelah dapat membereskan orang terakhir segera Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie meloncat ke tengah taman di mana banyak ditumbuhi pepohonan yang rindang. Tubuhnya berputaran di udara beberapa kali melewati empang, dan jatuh di gerumbulan sernak di taman! “Tangkap penjahat! Tangkap …..!!”
“Dia lari ke arah taman! Kepunggggg …..!’”
“Jangan biarkan penjahat lolos! Kepunggggg …..!”
“Bawa obor ke sini! Cepat! Siapkan pasukan panah …..!”
Teriakan saling sahut ini menggegerkan rumah Perkumpulan Naga Terbang, apalagi suara kaki orang berlarian ke sana ke mari menambah gaduh dan membangunkan seluruh isi perkampungan perkumpulan itu. Dari jauh nampak seorang tosu berjubah abu-abu nampak berlarian cepat sekali menuju ke tempat keramaian tersebut. Rambutnya putih bagaikan perak dibiarkan terurai di belakang kepala. Wajahnya yang belum berkeriput itu kemerahan dan sepasang matanya tajam mencorong, menakutkan! Di tangan kanannya nampak sebuah tongkat hitam berkelak-kelok seperti ular!
“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut membuat kekacauan di tengah malam! Apa yang terjadi, he!” bentaknya keras. Suaranya penuh dengan tenaga dalam sehingga menggetarkan jantung orang di dekatnya. “Anu ….. anu ….. itu ….. tuuu …..!
Ada ….. ada pen ….. pencuri ….. riii ber ….. berkedok hitam!” jawab seorang penjaga anak buah Naga Terbang.”Hemmmmm …..!”
“Gudang perpustakaan terbuka jendelanya …..! Tolonggggg …..!”
Berkelebat bayangan abu-abu ke arah suara di tengah pagoda. Ternyata bayangan abu-abu tadi adalah Sim Tok Tojin seorang tosu dari barat yang menjadi Paman Guru dari ketua Perkumpulan Naga Terbang. Dia adalah seorang pertapa dan Himalaya yang datang berkunjung untuk menghadiri perayaan berdirinya seratus tahun Perkumpulan Naga Terbang! Begitu tiba di tempat itu, segera saja tosu itu menyuruh buka pintu perpustakaan. Lalu cepat dia memeriksa seluruh tempat itu, sepasang matanya yang sipit mencorong bagaikan mengeluarkan api dari bola matanya. Tiba-tiba sekali tubuhnya berkelebat ke depan dan tangannya menarik kotak di atas yang tersembul keluar. Begitu dia membuka kotak tersebut, matanya terbelalak. Ter¬nyata kotak itu telah kosong melompong!
“Bangsat! Keparat laknat! Berani betul mendahuluiku!” umpatnya di dalam hati. Penuh kemarahan dan kekecewaan! Ketika itu masuklah seorang gendut pendek seperti gentong berjalan menggelinding. Usianya sekitar lima puluhan tahun, wajahnya bulat bagaikan rembulan purnama, hidungnya besar dan mulutnya lebar seakan membelah wajahnya menjadi dua, dan sepasang matanya lebar penuh nafsu jalang. Pakaiannya tidak karuan bentuknya, agaknya saking terburu-buru ia tidak sempat lagi berdandan. Mungkin tadi sedang bertarung dengan lawan jenisnya ketika mendengar ada pencuri sedang menyatroni perkumpulan mereka!
“Apakah yang dicuri maling itu, Suhu?” tanyanya pelan. Suaranya seperti suara anak perempuan saja. Keringatnya masih mengucur membasahi wajahnya yang bundar gemuk.
Sim Tok Tojin mengawasi muridnya sejenak. Desisnya kemudian. “Keparat aku telah kedahuluan!”
“Haaaaa …..! Jadi ….. jadi …..!” Sepasang mata bundar itu terbelalak keheranan, seakan tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya dari mulut gurunya tadi.
“Ya …..! Lebih baik aku malam ini juga melakukan pengejaran!” Sim Tok Tojin segera menuju keluar. Wakil. ketua Perkumpulan Naga Terbang ini mengikuti gurunya keluar dari ruang perpustakaan. Baru saja mereka sampai di depan pintu luar masukiah ketua Perkumpulan Naga Terbang. “Supek, apakah ada benda berharga yang dicuri penjahat?” Setelah memberi hormat kepada Paman Gurunya ketua Naga Terbang Wu It bertanya serius. Tubuhnya yang tinggi besar dan wajahnya yang tampan penuh brewok itu menyembunyikan usianya yang telah lebih dari setengah abad, sepasang mata ketua Naga Terbang ini mencorong tajam ketika melihat wakilnya yaitu Si Gendut Coa Sim Ok.
“Hemm, tidak ada barang yang dicuri! Coba kau periksa lagi lebih teliti, aku akan mencari orang yang berani menggangu kumis harimau itu.” Jawab Sim Tok Tojin cepat. Sekali tubuhnya ber-kelebat pendeta itu telah berada di taman.”Sute, bagaimana pendapatmu?”
“Kelihatannya tidak ada yang hilang, Suheng. Begitu aku tiba di sini, Suhu telah memeriksa isi ruangan perpustakaan. Maaf, Suheng, aku ingin membantu Suhu mengejar penjahat.” Tanpa menanti jawaban lagi Coa Sim Ok berkelebat cepat menuju taman.
Para anak buah Naga Terbang mengubek taman sambil membawa obor di tangan. Keadaan malam itu terang seperti siang hari karena banyaknya obor yang menerangi taman itu.
Akan tetapi yang dicari ternyata tiada lagi. Orang berbaju hitam dan mengenakan topeng hitam itu lenyap begitu saja dari tempat tersebut bagaikan ditelan bumi layaknya. Benarkah demikian? Sebetulnya tidaklah demikian, pada waktu Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie ini tiba ditengah taman dan menyelinap di balik pepohonan, ia segera mencari tempat rahasia yang telah diberitahukan kepadanya. Sepasang matanya yang tajam segera meneliti keadaan taman itu. Bagaikan asap hitam terbawa angin tubuhnya melayang cepat menuju ke sudut taman yang penuh semak perdu saking tak terawat. Dengan meraba-raba tangannya mencari batu bundar di sudut taman, begitu tangannya dapat memegang batu tersebut segera saja tangannya memutar batu itu beberapa putaran ke kiri.
“Kerittttt …..!” Terdengar suara berderit pelan dan tiba-tiba tembok dinding di depannya terbuka sedikit. Dengan miringkan tubuhnya Liok Ing Gie menyelinap memasuki tembok, tak berapa lama kemudian tembok pun menutup seperti semula seakan-akan tak pemah ada ke-jadian tembok itu membuka tutup!
“Bagaimana sekarang, Suhu?” tanya Coa Sim Ok lirih,”Diam kau! Jangan banyak omong tahu! Pinto akan mengejar keparat itu sampai dapat. Biar dia lari sampai ke ujung langit sekalipun.” Bentak Sim Tok Tojin gemas. “Benar-benar iblis laknat sialan …..!”
Sejenak Coa Sim Ok terdiam, akan tetapi tak. berapa lama kemudian orang bertubuh gendut ini berkata lagi. “Apakah Suhu tidak bercuriga ada orang dalam yang membocorkannya?”
“Hemmmmm …..!” Sim Tok Tojin berhenti mendadak mendengar ucapan murid kesayangannya ini. Hampir sepuluh tahun pendeta ini meninggalkan muridnya bertapa di Pegunungan Himalaya. Begitu tiba di Perkampungan Naga Terbang, dia disambut muridnya ini dengan sebuah berita yang mengejutkan! Pendeta tua ini sambil mengelus-elus jenggotnya mendesis. “Mungkin benar juga dugaanmu, akan kuselidiki siapa orangnya itu?”
Setelah mencari-cari ke sana ke mari dan ternyata tidak melihat bayangan pencuri tersebut. Sim Tok Tojin diikuti Si Gendut Coa Sim Ok segera menuju pusat perumahan Naga Terbang. Begitu pendeta ini lewat di pintu gerbang, para penjaga segera memberi hormat. Tanpa mempedulikan penghormatan mereka lagi kedua orang ini segera berkelebat cepat. Bagaikan dua bayangan setan berkeliaran kedua orang itu sebentar hilang dari pandangan anak buah Naga Terbang. Begitu jauh dari tempat itu Sim Tok Tojin segera membisiki muridnya, memberitahukan siasatnya. Coa Sim Ok mengangguk-anggukkan kepala yang bundar seperti buah semangka dan mulutnya tersenyum lebar.
“Pinto pergi!” Tahu-tahu tosu itu telah lenyap dari samping orang bertubuh gemuk bagaikan gentong tersebut. Bayangan abu-abu meluncur maju laksana meteor cepatnya sehingga dalam waktu tak berapa lama kemudian lenyap di tikungan jalan.
Setelah gurunya pergi, Coa Sim Ok wakil ketua Naga Terbang ini kembali ke markas. Walaupun tubuhnya buntek pendek namun ternyata dia memiliki gerakan yang gesit juga sehingga sebentar saja Coa Sim Ok memasuki pusat Perkumpulan Naga Terbang. Segera dia mencari Hui-liong Pangcu untuk membantu kalau ada apa-apa yang perlu dibantu.
“Bagaimana, Suheng? Apakah ada yung hilang?” Begitu tiba di ruangan dalam dia bertanya.
“Hemm, kukira tidak ada sesuatu yang hilang! Hanya dua orang murid kepala yang kedapatan telah tewas dan dua orang lagi menderita luka dalam cukup parah.”
“Ehhh, kenapa aku tidak melihatnya ya. Di mana dua orang yang luka itu, Suheng?”
“Dia dirawat kepala tabib di kamar samping.”
“Aku ingin menjenguknya, Suheng. Maaf aku permisi dulu, Suheng.”
“Kalau Sute telah selesai perintahkan perkuat penjagaan. Aku ingin mengaso dahulu!”
“Baik, Suheng!” Hampir berbareng kedua ketua ini pergi meninggalkan ruangan. Coa Sim Ok menggelundung ke samping kiri menuju ruangan kerja Si Tabib yang sedang mengobati dua orang murid kepala Naga Terbang. Begitu memasuki ruangan segera saja orang bertubuh gendut itu menanyai dua orang anak murid kepala Naga Terbang tersebut.
“A Mau, siapakah yang melukai kalian? Bagaimanakah bentuk tubuh orang itu? Bersenjata apakah dia?”
“Adduuhhhhh …..! Di ….. dia …..berkedok ….. hi ….. tam ….. tu tu tu….. buh ….. ting ….. gi …..! Aaaaaddu du duuuuuhhhhh ….. ped ….. ped …..angg …..!” Dengan tersendat-sendat A Mau menjawab, diseling dengan rintihan.
Mendengar jawaban murid kepala ini, Coa Sim Ok belum bisa menerima gambaran secara jelas maka ia lalu kembali mendesak. “Tahukah kau dari aliran mana permainan pedangnya? Mungkin saja aku dapat menebak siapa dia kalau kau tahu aliran jurus-jurus silatnya.”
A Mau menarik napas panjang beberapa kali, setelah merasa dadanya agak mendingan dia lalu menuturkan kejadian di malam itu ketika bersama dengan ketiga rekannya mencegat orang berpakaian serba hitam dan wajah yang tertutup kedok hitam pula itu. “Teecu tidak bisa menduga dari aliran manakah ilmu pedangnya, Ji-pangcu. Gerakannya terlalu cepat bagi teecu berempat serta pencuri itu memiliki lweekang luar biasa kuatnya. Hanya dalam beberapa gebrakan saja teecu telah dirobohkan, malahan dua orang adik seperguruan teecu, A Sin dan A Sam keburu tewas dengan dada berlubang terkena senjata pedangnya yang luar biasa gerakannya.”
“Jadi kalian tidak tahu sama sekali dari aliran mana dia? Goblok, bodoh! Murid tiada guna!” Sambil mengumpat Coa Sim Ok membalik dan meninggalkan ruangan itu. Hatinya penuh kedongkolan karena belum juga dapat menduga siapa adanya orang berkedok serta berpakaian
serba hitam tersebut. “Betul, betul sialan …..! Goblok semua! Menahan seorang maling saja tidak becus. Goblokkkkk…..”
Di tengah kesibukan para anak murid Perkurnpulan Naga Terbang yang berjaga di segala sudut dan Si Gendut yang mondar-mandir di ruangan tengah. Jauh di bawah ruangan itu, di mana ada sebuah lorong rahasia membentang panjang dan penuh liku-liku nampak sesosok bayangan hitam melangkah dengan hati-hati. Sepasang matanya mengawasi jalan di depan penuh perhatian dan pendengarannya yang tajam mendengarkan kalau-kalau mendengar suara yang mencurigakan, akan tetapi ternyata bahwa perjalanannya tidaklah mengalami hambatan sama sekali. Entah sudah berapa kali dia membelok dan menikung, naik turun di bebatuan goa bawah tanah yang menjadi jalan rahasia di Perkampungan Naga Terbang itu. Sebentar-sebentar orang berpakaian dan berkedok hitam yang bukan lain adalah Pendekar Golok terbang Liok Ing Gie ini berhenti dan mendeteksi keadaan, biarpun suara napas tikus tanah dan goa telah membuat langkahnya merandek. Dalam kegelapan di jalan bawah tanah ini, Liok Ing Gie telah membuang kedok penutup wajahnya sehingga pendekar ini leluasa dalam mendengarkan dan melihat keadaan sekelilingnya. Walaupun keadaan jalan di goa itu gelap sekali sehingga tangan sendiri tiada tampak, akan tetapi dari hembusan angin yang memasuki goa, Pendekar Golok Terbang ini dapat mengetahui jalan keluar. Apalagi ketika sepasang matanya yang terlatih telah terbiasa di dalam gelap, walaupun samar-samar Liok Ing Gie dapat mengamati keadaan di sekeliling goa.
“Semoga saja terowongan ini tidaklah terlalu jauh, sungguh tidak enak berjalan tiada tahu tempat di mana akan muncul nanti. Jangan-jangan …..!” Liok Ing Gie memutus angan-angannya ketika sepasang matanya melihat cahaya bintang di langit kelam. “Ah, akhirnya sampai juga di tempat terbuka!”
Sekali berkelebat saja Pendekar Golok Terbang ini telah tiba di depan goa dan setelah meneliti keadaan sekeliling goa ia pun lalu kembali memasuki goa dan mencari tempat di batu datar. Tak berapa lama kemudian Pendekar Golok Terbang telah tenggelam dalam samadhi. Memulihkan tenaga dalamnya.Suara kokok ayam hutan menggugah Liok Ing Gie dari dalam samadhinya. Ternyata hutan depan goa telah penuh dengan kabut pagi hari, uap keputihan membubung ke atas menggelapkan jarak pandangan mata. Yang nampak hanya benda putih bergerak-gerak pergi datang. Hawa pun menjadi dingin menyusup tulang sumsum, akan tetapi Pendekar Golok Terbang ini tidak merasakan dingin sama sekali karena jalan darahnya sehabis melakukan samadhi tadi masih berjalan cepat sehingga membuat tubuhnya tidak merasa dingin dalam kabut pagi di hutan di lereng gunung tersebut.
Setelah menggerak-gerakkan tubuhnya sebentar, Liok Ing Gie lalu membuang senjata pedangnya. Dan melepas pula pakaian serba hitam tadi lalu ia berganti pakaian dari buntalan panjang dan sekarang nampaklah tubuhnya nan tinggi tegap bagaikan tubuh seorang atlit ang-kat besi. Pakaian ringkas berwarna ungu tua ini semakin menambah pendekar ini tampak lebih muda beberapa tahun. Dari buntalan panjang itu dikeluarkanlah sebatang golok tipis dan digagang goiok nampak untaian benang-benang halus berwarna kemerahan. Sedangkan bungkusan yang diambilnya dari tempat perpustakaan itu dimasukkan dalam buntalan panjang. Setelah itu, dengan langkah ringan bagaikan langkah seekor harimau, Liok Ing . Gie Pendekar Golok Terbang keluar goa dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah Bangsawan Li Ceng Ong. Bola bundar kemerahan telah naik di timur, kabut pun pelan-pelan membubung naik. Semakin menguning cahaya kemerahan matahari maka kabut pun semakin tipis dan sebagian mengumpul di daun-daun pepohonan, menjadi embun-embun laksana mutiara di atas daun tertimpa sinar matahari. Butir-butiran embun melorot turun tatkala daun semakin membuka menyambut sinar sang surya yang memberi kekuatan dan penghidupan di pagi hari. Butiran embun menetes jatuh ke bumi, lenyap terhisap tanah menambah basah tanah yang penuh daun-daun kering dan ada pula yang telah membusuk sehingga menyiarkan bau khas tanah pegunungan. Bagi yang sudah pernah melanglang di hutan dan gunung dapat menikmati aroma daun-daun membusuk dan wewangian bunga hutan yang akan jarang dilupakan. Sedap dan nikmatnya hawa udara pagi nan bersih dari polusi!
Ketika Liok Ing Gie memasuki hutan di jereng gunung tiba-tiba saja berkelebatan beberapa sosok bayangan hitam menghadang dengan senjata terhunus. Wajah-wajah kasar dan mata-mata liar memandang ke arah buntalan panjang di tangan kirinya.
“Berhenti! Kalau mau selamat serahkan barang-barangmu!” Bentak seorang lelaki tinggi besar seperti raksasa dan tangan kanannya memegang sebuah golok besar dan tebal. Agaknya golok tersebut baru kuat kalau dimainkan oleh dua orang lelaki yang kuat. Begitu melihat golok besar itu Liok Ing Gie dapat menduga bahwa berat golok itu ada kalau seratus kati. Sungguh menggiriskan.”Sobat, pagi-pagi sekali kalian bangun. Apakah kalian ini penunggu hutan dan gunung? Matahari belumlah terang, akan tetapi kalian sudah mencegat orang,
hemmm ….. siapakah kalian ini?” Dengan kalem Liok Ing Gie menjawab, malahan Pendekar Golok Terbang ini meledek para perampok ini. Sama sekali pendekar ini tidak keder melihat senjata golok besar lawan.
“Keparat! Belum kenal siapa kami? Hah, bedebah! Belum kenal ini golok maut yang belum pernah ketemu tanding! Hayo cepat serahkan bungkusanmu, sebelum aku hilang sabar!” bentak kepala rampok jengkel. Sepasang matanya melotot menakutkan. Akan tetapi yang di-pandang ayem-ayem saja seakan-akan sedang menghadapi anak-anak kecil yang bandel saja.
“Heh-heh, agaknya kalian belum mendapat makanan, ya? Pagi-pagi sudah membentak-bentak kayak orang gila saja. Kalau menginginkan bungkusanku ini sebutkan diri kalian dahulu. Ha-ha-ha …..!”
“Bedebah …..!!” Bentak seorang perampok marah sekali melihat iagak orang di depannya ini, tanpa banyak cakap lagi dia membabatkan senjatanya dari belakang membacok kepala.
“Singgggg …..! Dukkkkk …..!”
Perampok itu pun terlempar ke belakang beberapa tombak dan muntahkan darah segar, tak dapat bangun kembali karena telah koit (mampus)! Teman-temannya melihat teman mereka begitu mudah dihajar menjadi marah sekali sehingga dia lalu mencabut senjata dan maju mengeroyok sambil berteriak-teriak menakutkan. Hujan senjata melanda tubuh Liok Ing Gie. Akan tetapi pendekar ini hanya mengeluarkan dengusan mengejek dan begitu kaki tangannya bergerak menyambut, maka terpentalah para perampok yang menyerangnya. Mereka tidak tahu bagaimana hal itu dapat terjadi, tahu-tahu tubuh mereka terlempar bagaikan dilanda topan dahsyat. Hal ini sebetulnya tidaklah aneh. Para perampok itu hanya mengandalkan tenaga kasar saja, sedangkan Pendekar Golok Terbang adalah seorang pendekar yang telah membuat nama harum di kang-ouw (sungai telaga). Maka begitu kaki dan tangannya menyambut disertai dengan tenaga lweekang tingkat tinggi tentu saja tiada seorang pun anak buah perampok itu yang kuat menerima tenaga lweekang pendekar tingkat tinggi ini. Mereka mawut begitu senjata atau tubuh mereka terlanda hawa pukulan yang keluar dari tangan kanan pendekar tersebut. Kepala perampok bergolok besar matanya melotot terbelalak melihat kejadian yang tak pernah diduganya ini. Sambil mengeluarkan suara gerengan menakutkan kepala perampok ini memutar-mutar golok besarnya sekuat tenaga, suara mendengung-dengung dan kilatan golok terkena sinar matahari nampak sangat menggiriskan hati. Dengan mengeluarkan teriakan keras tubuhnya yang tinggi besar meluncur maju didahului sinar golok membelah udara. Sekali golok besar ini mengenai tubuh dapat dipastikan tubuh itu akan terbelah menjadi dua potong, apalagi tubuh manusia yang terdiri dari darah dan daging. Biar-pun pohon sebesar paha saja, apabila kena dibabat golok Si Tinggi Besar tentu akan terpotong!
“Wiieeerrrrr ….. siuuttttt …..singgggg…..” Ternyata golok besar yang menyambar berkeredepan itu hanya menyambar udara kosong belaka. Orang tinggi yang tadinya berdiri tak bergerak ketika berkelebat golok besar yang didahului angin keras menyambar tahu-tahu telah hilang dari hadapan Si Tinggi Besar. Pendekar Golok Terbang telah hilang dari pandangan mata kepala perampok itu. Pendekar ini memang memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya, nama besar Pendekar Golok Terbang telah menjagoi di kalangan persilatan dan jarang menemukan tandingan. Maka tidaklah mengherankan kalau hanya menghadapi perampok yang hanya memiliki tenaga luar dan besar saja ia tidak mendapat banyak kesulitan.
“Bedebah! Keparat laknat! Hayo unjukkan dirimu kalau-kalau kau benar-benar jagoan!” Sambil mengumpat dan memaki-maki dengan kata-kata kotor yang tidak baik terdengar di telinga,perampok tinggi besar ini mencari-cari dengan sepasang matanya. Akan tetapi, tetap saja bayangan orang yang membawa bungkusan panjang itu tiada nampak batang hidungnya lagi. Seakan-akan telah lenyap ditelan bumi! “Heh-heh-heh …..! Golok jagal anjingmu ternyata tiada gunanya sama sekali. Lebih baik kau buang golokmu dan bertobat sebelum kau mandi darah oleh golok jagal anjingmu itu. He-he-he …..!”
“Kunyuk pengecut! Hayo tunjukkan dirimu kalau kau benar-benar jantan. Jangan hanya membual dan hanya berani melawan anak buahku yang tak berkepandaian!” Kepala rampok menantang sambil memutar-mutar senjata melindungi tubuh.
“Heh-heh-heh, dasar pengung, tidak tahu diri! Kalau kau ingin merasakan hajaranku terimalah!” Belum habis ucapan itu dari atas pohon menyambar berpuluh-puluh benda kehijauan dengan kecepatan kilat. Suara mendesing nyaring terdengar dari beberapa penjuru. Dapat dibayangkan betapa kagetnya kepala rampok ini ke-tika mendapat serangan ini, ia semakin mengerahkan tenaganya dalam memutar senjata golok besarnya. Melindungi tubuh dari luncuran senjata rahasia ini! “Tak-tak-tak-tak! Duk-tranggg-buk-buk-buk!”
“Aduhhhhhh …..!!” Ternyata hidungnya yang besar me-ngucurkan darah segar sehabis mencium buah hijau. Buah mentah yang dilempar dari segala penjuru oleh Pendekar Golok Terbang yang berloncatan secepat kilat mengelilingi dari pohon ke pohon dan menghujankan senjata rahasia berupa buah mentah!
“Tooobaattttt …..!!” Kepala rampok tinggi besar menjerit-jerit sambil meloncat ke sana-sini menghindar dari peluru-peluru kehijauan yang kalau mengenai tubuh terasa sakit bukan main tersebut. Akan tetapi tetap saja ada beberapa buah mentah yang mengenai tubuhnya.
“Takkkkk!” Dan kepala perampok itu pun menggeletak tak bergerak di tanah berumput, pingsan! Sebuah benda besar mengenai kepala bagian belakang sehingga membuatnya kelengar saking kuatnya lemparan tersebut!
“Ha-ha-ha …..!!” Terdengar suara tawa melengking panjang semakin lama semakin menjauh. Pendekar Golok Terbang melayang-layang di antara pucuk-pucuk pepohonan bagaikan seekor burung garuda meluncur cepat sekali. Sebentar saja tubuhnya tak kelihatan lagi saking cepat-nya dia berkelebat. Sungguh ilmu meringankan tubuh yang hebat sekali!
****

“Duk! Dukk! Duukk!!”
Gedoran di daun pintu terdengar keras sekali dari dalam rumah Bangsawan Li Ceng Ong. Para pelayan telah berkumpul di ruang tengah, saling pandang penuh pertanyaan. Menanti tuannya ba-ngun dan memberi perintah kepada mereka. Tak berapa lama kemudian keluarlah tuan rumah dari kamarnya dengan pakaian kusut, kentara bahwa bangsawan ini baru habis bangun tidur.”Gila! Siapa malam-malam berani mengedor-gedor pintu, membangunkan orang tidur. Sungguh tidak tahu aturan sama sekali.” Gerutunya jengkel.
Kembali terdengar suara gedoran dari pintu depan sekarang lebih keras dari sebelumnya tadi. Seakan-akan pintu depan tersebut akan jebol dari engselnya akibat gedoran tersebut. Disusul teriakan keras penuh tenaga dalam. “Ceng Ong buka pintu! Kalau tidak segera dibuka, kujebol pintumu ini!”
“Gila! Cepat buka pintunya dan kalian bersiaplan menjaga segala kemungkinan!” Bangsawan Li Ceng Ong memerintah kepada pelayannya. Mendengar ini segera saja salah seorang menuju ke pintu depan dengan berlari, sedangkan para pelayan yang lain segera mengambil senjata dan bersembunyi. Siap untuk menyambut segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Akan tetapi sebelum pelayan itu sempat membuka daun pintu depan, tiba-tiba terdengar suara keras dan daun pintu pun jebol bagaikan ditabrak seekor gajah. Daun pintu yang jebol tersebut masih melayang ke dalam karena terlepas dari engselnya.
“Dukkkkk …..! Aduhhhhh …..!” Teriakan ini keluar dari mulut pelayan yang dahinya terkena pinggiran daun pintu tersebut. Benjolan sebesar telur angsa segera tumbuh di pelipis pelayan tersebut dan sialnya lagi dia terjatuh ter-timpa daun pintu depan yang tebal itu. Sebelum pelayan tersebut dapat bangun, dari luar berlarian beberapa orang dengan senjata terhunus memasuki halaman depan sambil menginjak daun pintu!
“Uhh …..! Uhhh ….. Uhh …..!” Orang terakhir yang memasuki daun pintu yang terbuka lebar ternyata seorang laki-laki gemuk bundar seperti gentong. Begitu masuk lelaki tua ini langsung saja berdiri di atas daun pintu jebol itu sehingga membuat pelayan yang akan membuka pintu depan akan tetapi malahan tertimpa daun pintu, menjadi tergencet dan ber-ah-ah-uh-uh tidak karuan! “Ceng Ong menyerahlah …..! Lebih baik mengaku daripada kau kusiksa terlebih dahulu sebelum kau mau mengakui apa kedosaanmu. Ha-ha-ha!” kata wakil ketua Naga Terbang yang bertubuh gemuk pendek yang bukan lain adalah Coa Sim Ok. Akan tetapi, ketika merasakan daun pintu yang diinjaknya terasa bergerak-gerak ia segera melihat ke bawah. “Uwahhh, ternyata ada binatang di bawah kayu ini.” Sambil menggerutu ia lalu meloncat ke depan, ke tengah halaman. Ternyata pelayan bernasib sial tadi telah tak bergerak lagi. Entah hidup atau mati, tiada seorang pun yang tahu karena tidak ada yang mempedulikannya!
Li Ceng Ong berdiri di atas undakan tangga batu di tengah ruangan dalam. Sepasang matanya memandang tajam kepada ketua dua dari Perguruan Naga Terbang di tengah halaman. Tangan kirinya mengelus jenggot putih seperti perak sampai ke dada dan tangan kanannya memegang sebatang golok telanjang di balik tangan.
“Ahh, kiranya Ji-pangcu yang datang! Ada keperluan apakah sehingga Ji-pangcu sampai menjebol daun pintu dan membawa begini banyak anak buah Naga Terbang dengan senjata di tangan menemui aku. Kesalahan apakah yang kuperbuat sehingga aku disuruh mengaku? Apakah Ji-pangcu sedang mendem (mabok) air keras?!’
“Tak usah banyak bacot! Pasti kau yang telah membocorkan rahasia perkumpulan. Hayo, mengaku saja!” bentak Coa Sim Ok lantang tanpa mau menjawab atau memberi tahu apa yang? menjadi sebabnya. Lalu dia memerintahkan anak buah Naga Terbang untuk mengepung ketua perpustakaan yang bekas bangsawan tinggi itu. Melihat ini, Li Ceng Ong tersenyum sinis. Dia dapat menduga bahwa tentu barang itu telah berada di tangan guru anaknya Si Pendekar Golok Terbang. Senyuman senang tersungging di wajahnya.
“Ahh, pasti ia telah berhasil mencuri benda itu dan puaslah hatiku membalas dendam ini.” katanya dalam hati. Li Ceng Ong dengan langkah tenang menuju ke tengah halaman mendekati ketua dua Perkumpulan Naga Terbang.Dengan wajah penuh senyuman lelaki tua ini menjawab. “Ji-pangcu, sebetulnya ada kejadian apakah? Kenapa tidak menanti hari menjadi terang baru menemui aku untuk membicarakan sesuatunya dan tidak membuat kekacauan di malam buta se-perti ini. Seperti sekumpulan para perampok saja. Apakah demikian ini ajaran pendiri Naga Terbang? Ataukah aku yang telah salah menilai tentang ajaran kita?”
“Diam! Siapa orang yang telah kau suruh mencuri …..? Karena aku yakin betul bahwa kaulah biang keladi kejadian ini. Hayo mengaku saja sebelum kau kusuruh menyusulnya ke akherat!”
“Apa? Dia ….. dia ….. telah …..?”
“Ha-ha-ha ….., akhirnya ketahuan juga belangmu. Anak-anak ringkus tua bangka pengkhianat ini!” Li Ceng Ong kaget. Dirinya merasa terjebak oleh kata-kata wakil ketua Perkumpulan Naga Terbang ini. Sungguh tak ia sangka sama sekali bahwa orang gemuk ini memiliki otak yang secemerlang itu. Karena sudah terlanjur, tanpa banyak cakap kata lagi Li Ceng Ong segera menggerakkan senjata goloknya. Mendahului menyerang ke arah Coa Sim Ok dengan jurus Naga Hitam Pulang Sarang. Tubuhnya meluncur ke depan dengan kecepatan kilat didahului goloknya yang dimainkan dengan lambaran tenaga dalam yang kuat. Angin dingin menyambar tubuh gendut seperti gentong. Akan tetapi sebagai wakil ketua Perkumpulan Naga Terbang, tentu saja Coa Sim Ok bukanlah orang sembarangan saja, biarpun tubuhnya gemuk pendek tetap saja dia memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.
Bagaikan sebuah bola menggelinding tertiup angin tubuhnya telah mengelak ke kanan dan sebelum golok Li Ceng Ong diubah gerakannya karena mengenai angin kosong, tangan kiri Coa Sim Ok meluncur dengan kecepatan yang tak dapat diukur dengan pandang mata. Telapak tangan dengan jari-jari besar pendek itu seperti sebuah kipas raksasa menerjang lambung. Angin yang keluar dari telapak tangan Coa Sim Ok jangan dipandang ringan. Angin tersebut mengandung bau amis dari telapak tangan beracun yang menggiriskan. Akan tetapi Li Ceng Ong ternyata jago tua yang juga tak begitu mudah untuk dijatuhkan dalam sekali serang. Dia pun tahu akan bahaya yang mengancam dirinya, maka sambil berteriak keras lalu mengenjot tubuhnya ke udara dan dari udara balas menyerang dengan senjata goloknya. Dielakkan dan dibalas serangan tangan kosong kembali. Pertempuran pun terjadi dengan sengit di tengah halaman yang lumayan juga luasnya, di malam itu. Ketika para anak buah Naga Terbang ingin membantu menangkap kepala pengurus perpustakaan itu, maka para pelayan Li Ceng Ong yang sejak tadi bersembunyi segera keluar menyambut serbuan ini. Ternyata para pelayan itu pun bukan pelayan biasa akan tetapi anak buah Li Ceng Ong yang juga memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi sehingga terjadilah pertempuran di beberapa tempat. Suara denting senjata tajam beradu dan teriakan galak, memecah keheningan malam di rumah Bangsawan Li Ceng Ong tersebut. Akan tetapi tak seorang pun tetangga yang berani keluar untuk membantu, mereka merasa takut kalau-kalau yang datang di malam itu adalah para perampok-perampok ganas. Bukan membantu, akan tetapi malahan akan mnengantar nyawa. Maka para tetangga itu pun merasa lebih baik diarn di rumah saja, seolah-olah tidak mendengar adanya denting beradunya senjata dan teriakan orang memainkan senjata!
Entah berapa jurus telah berlalu, akan tetapi Coa Sim Ok wakil ketua Naga Terbang semakin mendesak Li Ceng Ong dengan pukulan-pukulan jarak jauhnya. Bangsawan yang sudah lanjut umur ini agaknya sudah terlalu lelah untuk dapat mempertahankan dirinya dengan baik. Memang benar bahwa dia sekarang jarang sekali berlatih silat, hanya tekun membaca saja. Apalagi dia mendapat tugas di kamar perpustakaan, sebagai seorang kutu buku tentu saja dia segera tenggelam di lautan buku. Hanya secara kebetulan saja dia dapat menemukan senjata pusaka di gudang buku tersebut. Telah banyak para pelayan berjatuhan dibabat senjata anak buah Naga Terbang, walaupun sebagian dari mereka ada juga yang dapat membunuh para penyerang tersebut.
“Mampuslah, tua bangka keparat!” Sebelum hilang ucapan terakhirnya telapak tangan Coa Sim Ok telah mendarat di dada bangsawan tua pengurus gedung perpustakaan.”Deesssss …..!”
“Hueekkkkk …..!!” Darah segar menyembur keluar dari mulut Li Ceng Ong membasahi jenggot putih seperti perak. Tubuh bangsawan ini mencelat be berapa tombak ke belakang dan jatuh menimpa undakan batu. Li Ceng Ong masih berusaha untuk bangun, akan tetapi tiba-tiba sebelum bangsawan tua ini dapat berdiri tegak kembali, tubuhnya telah melengkurtg untuk kemudian terjerembab. Ternyata nyawanya telah meninggalkan tubuhnya.
“Ha-ha-ha …..!” Sambil tertawa wakil ketua Naga Terbang ini berkelebatan ke kanan kiri. Segera terdengar suara jeritan saling susul dari nyawa yang meninggalkan tubuh, akibat tubuhnya telah terkena tamparan atau tendangan luar biasa hebat dan kerasnya dari Coa Sim Ok wakil ketua Naga Terbang.Sebentar saja keadaan di rumah Bangsawan Li Ceng Ong menjadi sunyi sepi. Tubuh-tubuh bergelimpangan berserakan di sana-sini. Bau amis pun tercium, bau amis dari darah yang berceceran! Segera saja para anak buah Naga Terbang mengurusi teman-teman mereka yang terluka. Sedangkan Coa Sim Ok sendiri segera mengobrak-abrik seluruh isi kamar Bangsawan Li Ceng Ong dan kamar-kamar lainnya. Kentara dari wajahnya yang merah dan penuh penasaran, apa yang dicari tak diketemukan di dalam rumah ini. Akan tetapi dasar Coa Sim Ok orang yang telah menjadi hamba nafsu jalang. Begitu memasuki ruangan belakang di mana berkumpul pelayan-pelayan wanita yang banyak memiliki paras lumayan, lelaki ini tidak membuang ikan secara sia-sia. Dua orang pelayan wanita yang tercantik segera diboyong ke dalam kamar besar sang majikan. Sedangkan yang lain ditotoknya binasa!
“Ampunnn, kasihanilah saya Tuan! Jangan ….. jangan ….. itu ….. diiakukan terhadap saya …..!”
“Ha-ha-ha, jangan takut manis, aku akan membawamu pesiar ke sorga yang penuh kenikmatan. Ha-ha-ha!”
“Tolonggggg …..! Tolonggggg …..!”
“Tukk! Tukk!” Begitu jari tangan Coa Sim Ok menotok dua kali, maka kedua pelayan itu pun sekarang tidak dapat bersuara lagi. Ternyata urat gagunya telah kena totokan. Bagaikan seekor binatang buas, Coa Sim Ok mengumbar nafsu binatangnya. Entah berapa kali dia mempermainkan kedua orang perawan itu. Ketika pria ini keluar dari dalam kamar, wajahnya agak pucat. Akan tetapi matanya menyinarkan kepuasan. Pintu kamar dibiarkan terbuka saja.
“Hayo cepat pergi! Ternyata barang itu tidak ada di sini. Entah dibawa ke mana oleh Si Pencuri laknat itu?” Perintahnya kepada para anak buah Naga Terbang. Mendengar ini, segera saja
mereka bersicepat keluar dari rumah gedung itu. Bagaikan bayangan-bayangan hantu mereka berkelebatan dari atas genteng menuju ke luar kota!
Para perajurit penjaga keamanan yang berdatangan ke tempat itu hanya melihat mayat-mayat bergelimpangan di sana-sini dan si empunya rumah sendiri tampak menggeletak di undakan batu. Ketika salah seorang perajurit membalikkan tubuh Li Ceng Ong, ternyata baju di dada bangsawan tua ini telah hancur dan kulit dada yang putih itu tampak gambaran telapak tangan berwarna biru kehitaman dan berbau amis menyengat hidung.
“Hemmm, sungguh sadis luar biasa! Semua orang dibunuhnya dengan sadis sehingga tak meninggalkan jejak sama sekali siapa pelakunya.” gerutu seorang perajurit setengah tua.
“Tolonggggg …..!!” terdengar suara jeritan melengking dari sebuah kamar dalam rumah.
“Ada apa? Ada apa …..? Siapa yang menjerit tadi?” tanya komandan kepala perajurit.
Dari dalam kamar nampak berlarian seorang perajurit muda dengan wajah pucat. Begitu tiba, dia menuding-nuding ke arah kamar belakang dan kamar besar, mulutnya membuka tutup tak keluar sepatah kata pun! Melihat keadaan anak buahnya ini, segera saja kepala komandan ini berlari sambil mencabut pedang panjangnya. Akan tetapi begitu tiba di kamar tengah, sepasang matanya segera melotot dan kumisnya bergerak-gerak. Sepasang matanya merah penuh nafsu kemarahan dan jijik. Apalagi ketika beberapa orang perajurit menyusul masuk dan melihat pe-mandangan di dalam kamar. Ada beberapa perajurit yang muntah-muntah karena tidak tahan. Sebetulnya apakah yang dilihat mereka? Ternyata nampak di atas pembaringan itu, dua sosok tubuh telanjang dari dua orang wanita yang memiliki paras cukup cantik. Akan tetapi yang membuat mereka muntah-muntah ialah melihat isi perut yang berceceran dari perut dan membasahi seluruh pembaringan dan lantai di sekitarnya! Nampak pula jantung di lantai, dua buah , jantung yang tinggal separohnya.
“Biadab! Sungguh tak mengenai prikemanusiaan sama sekali! Entah iblis mana yang berani mengacau kota ini? Cepat urus semua jenazah itu. Tutup rumah ini dan jaga. Jangan biarkan seorang pun memasuki rumah ini sebelum ada perintah dariku!” Perintahnya.
Beberapa orang perajurit segera berlari keluar untuk mencari peti mati dan sebagian lalu mengumpulkan semua mayat itu dan menaruhnya di pendapa. Sedangkan mayat dua wanita yang hancur tubuh depannya itu dibawa dengan ditutupi seprei besar!
Akan tetapi sampai hari menjelang siang ternyata tak ada kejadian apa-apa lagi. Setelah ada pemeriksaan dari pejabat yang berwenang, maka diambi! keputusan bahwa besok di kala hari telah terang akan segera dikuburkan semua jenazah itu. Ini semua diambil untuk mencegah ban busuk akibat dari mayat yang mati tidak wajar dan penuh luka yang menyiarkan bau amis dan daging busuk itu. Ketika matahari telah sepenggalah tingginya, maka berengkatlah iring-iring-an ini menuju ke pekuburan di luar kota. Ketika tiba di luar benteng kota, rombongan ini berpapasan dengan seorang laki-laki gagah tinggi besar yang membawa bungkusan panjang di belakang punggung.
Sepasang mata lelaki ini mencorong mengawasi iring-iringan. Ketika ada seorang tua yang ikut berjalan mengiringi jenazah-jenazah itu, hati orang tinggi besar ini tercekat.
“Ahhh, jangan ….. jangan …..!” Dia tak berani melanjutkan angan-angannya, akan tetapi segera berjalan cepat menuju ke rumah sahabatnya yang bukan lain rumah kediaman Bangsawan Li Ceng Ong! Betapa terkejut hatinya ketika di depan rumah itu nampak banyak perajurit berjaga dengan senjata terhunus!
“Tak salah lagi, pasti telah terjadi sesuatu di rumah ini.” Demikian kata hatinya. Ketika kebetulan banyak orang menonton di situ segera saja dia bertanya kepada salah seorang yang agaknya melihat kejadian itu sejak tadi. “Paman, ada kejadian apakah di rumah itu? Kenapa banyak sekali perajurit berjaga dengan senjata terhunus?”
“Ehh, apakah kau belum mendengar kabar itu? Semalam rumah Bangsawan Li kedatangan perampok. Menurut cerita tetangga-tetangga di kanan kiri rumah itu, kemarin malam terjadi perampokan dan pembunuhan. Semua penghuni rumah Bangsawan Li tak seorang pun dibiarkan hidup. Semua dibunuh secara kejam!”
“Siapakah para perampok itu, Paman? Apakah ada orang yang tahu?”
“Entah ya, aku sendiri ya hanya mendengar cerita ini dari mulut ke mulut. Siapa pelakunya belum ada yang tahu, sebab tetangga-tetangganya tiada yang berani mengintip keluar! Ahh, sungguh kasihan sekali Bangsawan Li yang dermawan itu,” katanya sebagai penutup ke-terangannya.Pendekar Golok Terbang menjadi mencorong sepasang matanya mendengar bahwa Li Ceng Ong dibunuh bersama seisi rumah. Ketika paman tua itu menatap wajah penanyanya tanpa terasa tubuhnya gemetar. Dari sepasang mata itu seakan-akan keluar bara api dan nafsu membunuh yang menggiriskan. Maka tanpa banyak omong atau menoleh lagi segera paman tua itu ngeloyor pergi meninggalkan Pendekar Golok Terbang.
Ketika ada orang yang meraba bungkusan panjang di punggung, barulah Pendekar Golok Terbang ini tersadar dari keadaannya. Cepat tangannya meraih ke belakang dan tangannya telah menceng-keram jari tangan seorang pelayan muda.
Ketika Pendekar Golok Terbang akan menegur, tiba-tiba ia merandek ketika melihat pelayan muda itu berkedip dengan sebelah mata. Maka tanpa banyak bicara lagi ia segera pergi sambil masih memegang tangan pelayan muda. Mau tidak mau pelayan itu harus mengikuti orang tinggi besar yang menarik tangannya.
“Kenapa kau mau mencuri barangku.Siapakah kamu ini sebenarnya dan mau apa kau berkedip-kedip tadi? Hayo cepat ceritakan yang jelas kalau kau tidak ingin kehilangan tangan kananmu!” Pendekar Golok Terbang Liok Ing Gie menghardik pelayan muda itu.
Sambil meringis menahan sakit pelayan muda itu berkata. “Ampunnnnn …..saya tidak bermaksud jahat. Toaya, ampunnnnn. Saya pernah melihat Toaya menjadi tamu majikan hamba.” Liok Ing Gie melepaskan cekalannya dan bertanya kembali. “Siapa majikanmu. Awas kalau bohong, kupuntir lehermu nanti!”
“Majikan hamba ada ….. adalah …..Li ….. Li Wan-gwe …..!”
“Haaaaaa ……!”
“Benar, Toaya. Saya tahu siapa yang membunuh mereka!” pelayan itu menoleh ke kanan kiri, seakan-akan takut kalau sampai ketahuan ucapannya tadi. Setelah tiada orang yang memperhatikan mereka, agaknya perasaan pelayan muda itu menjadi lega. Nampak benjolan sebesar telur ayam berwarna kebiruan di dahinya.
“Ayo, ikut aku.” Pendekar Golok Terbang mengajak pergi kepada pelayan itu. Si Pelayan pun mengangguk menyetujui. Dengan berendeng keduanya berjalan menuju keluar kota, menuju ke arah kuburan!
“Pembunuhnya adalah seorang gendut bundar seperti gentong. Toaya. Ketika tersadar dari pingsan, lapat-lapat hamba mendengar Li Wan-gwe menyebut-nyebut nama ketua dua Naga Terbang. Hamba lupa siapa namanya akan tetapi, hamba merasa pasti bahwa yang menyerang kami semalam adalah orang-orang perkumpulan Naga Terbang dipimpin oleh wakil ketuanya sendiri. Mungkin Toaya telah mengenai mereka. Saya keburu pingsan lagi sehingga tidak mendengar kelanjutannya. Begitu tersadar hamba berusaha bangun dan ….. dan …..hu-hu-
hu-hu!” Pelayan muda itu pun menangis sedih tak dapat melanjutkan keterangannya. Pendekar Golok Terbang dapat menduga siapa mereka. Akan tetapi tetap saja mimik wajahnya tak berubah, hanya sepasang matanya saja yang mencorong menakutkan!
“Kalau kau ingin hidup terus, rahasiakan saja ceritamu ini. Lebih baik kau pindah dari kota ini! Ini sekedar bekalmu di perjalanan.” Setelah memberi saran kepada pelayan muda dan menyerahkan sekeping uang emas, Liok Ing Gie berjalan menuju ke kuburan.
Ketika tiba di kuburan, di sana telah sepi, tak seorang pun nampak di tanah pekuburan. Apalagi hari telah menjelang sore, sehingga kebanyakan penduduk merasa takut kalau berada di tanah pekuburan. Setelah betul-betul merasa aman, Liok Ing Gie segera berkelebat cepat menuju ke kuburan baru di mana nampak beberapa gundukan tanah baru.
Begitu Liok Ing Gie berdiri di depan kuburan Li Ceng Ong, wajahnya berubah-ubah cepat sekali, sebentar kemerahan dan sebentar kemudian menjadi pucat dan berubah kembali kemerahah lagi. Sepasang matanya pun mengikuti per-ubahan mukanya, sebentar penuh kedukaan dan penyesalan tak lama kemudian berubah mencereng penuh kemarahan, lalu berubah pula redup seakan kedua mata itu tak kuat melihat gundukan tanah di depannya.
“Taijin, aku pasti akan membalaskan sakit hati ini. Biarlah dendam sedalam lautan ini puteramu sendiri yang akan mencari pembunuhmu dan menagih hutang ini.”
Setelah bersembahyang, Pendekar Golok Terbang segera saja meninggalkan tanah pekuburan tersebut. Begitu kakinya menggenjot tanah, tubuhnya telah melesat cepat sekali menembus kegelapan malam yang telah merambah datang! Pendekar Golok Terbang ingin cepat-cepat tiba di pondoknya sendiri untuk memberitahukan tentang peristiwa ini. Peristiwa yang akan mengguncang dunia persilatan, di mana pendurian kitab tak bersampul yang berwarna kuning tersebut secara tidak sengaja dilakukannya!
*****

“Anjing kurap kurang ajar! Setan neraka jahanam! Berani benar menyatroni Naga Terbang!” Wajah pendeta Agama To ini kemerahan setelah mengeluarkan umpatan-umpatan yang tidak patut keluar dari mulut seorang pertapa. “Kitab pusaka tersebut harus jatuh ke tanganku sendiri. Heh, Sim Ok, siapa itu Bangsawan Li?”
“Dia adalah kepala bagian perpustakaan, Suhu.”
“Benarkah dia yang menyuruh orang menyatroni? Pinto kok masih sangsi, coba ceritakan semua dengan jelas!”
“Apakah Suhu tidak tahu siapa itu Bangsawan Li Ceng Ong?” balik tanya Coa Sim Ok murid gemuk bundar bagaikan gentong ini. Rasa-rasanya tidak mungkin kalau pendeta gurunya ini tidak mengenal siapa adanya Bangsawan Li.
“Tidak? Sepengetahuanku kepala perpustakaan adalah Hung Siucai itu siucai tua bertubuh bongkok.” jawab Sim Tok Tojin. Apa yang dikatakan pendeta ini memang benar. Sebenarnya pengawas kepala gudang buku tersebut adalah Hung Siucai, ini semenjak gurunya pergi ber-tapa. “Ahhhhh …..!”
“Kenapa …..?”
“Setelah Suhu pergi bertapa ke Himalaya, beberapa bulan kemudian datanglah Bangsawan ini membawa lengpai dari ketua. Para penjaga segera membawanya menghadap ketua baru, yaitu Suheng Wu It.”
“Terus …..”
“Begitu dapat bertemu Suheng, Li Ceng Ong seger,a menyerahkan sepucuk surat kulit kambing. Dan begitu Suheng membacanya, segera saja surat tersebut dihancurkan, entah apa isi surat tersebut murid tidak tahu. Yang terang sejak saat itu, Bangsawan Li menjadi kepala pengawas di gedung perpustakaan tersebut. Kerjanya hanya membaca saja di tempat tersebut dari pagi sampai petang.”
“Hemmm …..!” Sim Tok Tojin mendengus pendek. Hatinya terasa panas sekali. Agaknya dia dapat menduga bahwa semua ini pasti ulah gurunya. Tak mungkin kalau tidak, tak mungkin terjadi begitu kebetulan, sehingga sepeninggalnya terus saja Hung Siucai diganti. Aneh bin mustahil! “Pasti dialah biang keladi semua ini. Hemmm ….. keparat!”
“Bagaimana sekarang, Suhu?”
“Siapa saja keluarga bangsawan tengik tersebut? Apakah semua telah kalian basmi habis?” tanyanya menegaskan. “Semua kukirim ke kampung asalnya di neraka, Suhu. Seorang pun tak ada yang lolos. Akan tetapi ….. akan tetapi….. rasa-rasanya sepertinya ada yang
kurang. Apa ya …..?” Setelah berkata demikian Coa Sim Ok menepuk-nepuk dahinya. Orang gendut ini agaknya seperti berpikir keras sekali.
Pendeta berambut putih yang dibiarkan riap-riapan tersebut memandang ulah muridnya yang gemuk bulat seperti gentong air. Sepasang matanya, bersinar mencereng. Sim Tok Tojin semakin jengkel setelah lama menanti-nanti belum juga muridnya Coa Sim Ok teringat akan sesuatu itu, dengan marah pendeta tua ini segera membentak.
“Sim Ok, murid pengung, sedari tadi pegang-pegang dahi kayak monyet silau sinar matahari. Hayo cepat jelaskan apa maksudmu tadi!”
Mendengar teguran gurunya ini bukannya takut akan tetapi Coa Sim Ok malahan berteriak senang. “Nah, ketemu sekarang! He-he-he ….. Suhu, dapat oleh-
ku sekarang. Teecu (murid) teringat. Si kutu buku Li Ceng Ong tersebut mempunyai seorang putera sebelum ini anak itu pergi berguru kepada seorang pendekar pengelana. Pada waktu Teecu menjarah di rumah kediamannya, anak tersebut tidak kelihatan. Pasti ….. pasti Si Keparat tersebut berhubungan dengan guru anak itu! Teecu merasa yakin, Suhu.”
Wajah Coa Sim Ok berseri-seri dan hidungnya megar-mingkup (berkembang-kempis) kayak hidung babi mencium terasi! Pendeta Agama To yang bernama Sim Tok Tojin mengelus-ngelus jenggot-nya sambil mendengarkan uraian muridnya, sesekali kepalanya mengangguk-angguk dan sepasang matanya bersinar-sinar terang.. Bibirnya mengulum senyum penuh arti. “Hemm, tak salah lagi. Pasti guru anaknya yang mencuri kitab tersebut. Keparat …..!” umpatnya dalam hati “Bagaimana Suhu. Apakah benar dugaan Teecu?”
“Kemungkinan besar hal itu terjadi. Hemmm, sekarang lebih baik kau bawa beberapa orang murid untuk menyelidiki. Awas! Jangan sampai rahasia ini bocor keluar!”
“Baik, Suhu!”
Keduanya lalu keluar dari kamar rahasia di rumah Coa Sim Ok wakil ketua Naga Terbang. Tanpa banyak bicara segera Coa Sim Ok mencari beberapa orang murid yang dipercayanya untuk melaksa-nakan tugas tersebut dan dia pun masih ikut mencari bersama dengan beberapa anak buah Naga Terbang. Tanpa menimbulkan kecurigaan dari ketua Naga Terbang sendiri. Agaknya ketua ini tidak begitu tahu akan kehilangan kitab pusaka andalan perkumpulannya! Entah ada maksud apa wakil ketua ini terhadap perkumpulannya?
Ternyata walaupun Coa Sim Ok bertubuh gemuk dan pendek, akan tetapi otaknya cukup cemerlang juga. Dia bertanya ke sana ke mari dan mendekati para sahabat Li Ceng Ong sehingga sebentar saja akhirnya dia diberi tahu bahwa guru anak Li Ceng Ong bukan lain adalah Si Pendekar Golok Terbang. Seorang pengelana yang mempunyai nama harum di dunia kang-ouw, seorang ahli bermain senjata golok. Maka dia pun lalu berpamit kepada ketua Naga Terbang untuk per gi keluar. Bukan mencari pendekar tersebut, akan tetapi mencari sesuatu alasan yang dapat dimengerti oleh sang ketuanya.Setelah melakukan perjalanan berbulan bulan dan bertanya-tanya kepada kenalan di mana kota atau perkumpulan yang dikenalnya, maka Coa Sim Ok sampailah di lereng Bukit Awan. Di sebuah kota kecil di lereng timur. Bersama enam murid yang dibawanya Coa Sim Ok memasuki rumah makan di pinggir jalan.Setelah makanan terhidang di atas meja ketujuh orang tersebut segera menyikat habis makanan di meja. Dasar Coa Sim Ok doyan makan, dia segera memesan tambahan makanan kepada seorang pelayan. Sang pelayan segera mengambilkan pesanan tersebut.
Pada saat itu dari luar masuklah seorang laki-laki sambil menggandeng anak perempuan. Anak perempuan tersebut berwajah cantik menarik walaupun masih dalam usia belasan tahun. Bentuk tubuhnya menonjol di sana-sini, langkahnya ringan dan gesit dengan goyangan pinggul menarik. Wajahnya yang cantik menarik masih menghiasi sepasang mata tajam bersinar-sinar lincah, kocak, dan jenaka.Kedua orang ini segera mencari tempat duduk di sudut yang agak jauh dari pintu masuk. Setelah memesan makanan pada pelayan, keduanya asyik berbisik-bisik lirih. Coa Sim Ok yang sedang menanti datangnya tambahan pesanannya, ketika melihat masuknya dua orang itu sepasang matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum-senyum. Memang sudah menjadi dasar watak wakil ketua Naga Terbang ini, tak bisa menahan nafsu jalangnya apabila melihat wanita cantik. Seperti juga tidak dapat menahan lapar perutnya yang tidak mengenal puas tersebut.
Bersambung jilid 2

9 Juli 2011 - Posted by | Aryani W, Cerpen | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: