Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

lia natalia (bab 4)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 3

Bab 04
LIA mendapat tempat duduk di pinggir sebelah kiri perut pesawat terbangitu.Dekat jendela,sehingga leluasa memandang keluar. Matanya nanar menyusuri gumpalan awan putih yang bergulung-gulung. Wajahnya masih sembab setelah berhari-hari menangis dan kurang tidur.
Sesekali Lia menarik wajahnya menjauhi jendela, karena terbayang sosok Burhan berlari menembus gumpalan awan di sisi pesawat. Bayangan lelaki itu seakan tampak melesat mengikuti dari samping jendela pesawat sambil mengacungkan pistolnya kearah Lia.Bakan gumpalan awan pekat itu pun seakan bergerak dan berubah menjadi Burhan raksasa yang mengerikan. Ia pejamkan mata. Tetapi baying-bayang  Burhan tetap saja dapat menembus pelupuk matanya.

Lain kali awan raksasa itu berubah menjadi tubuh  kurus ibunya yang sampai gemetar karena marah.Berteriak-teriak sebisanya untuk mengusir Lia. Disusul dengan Rudy – abang Lia yang juga mengamuk. Lia bahkan rasa sakit akibat dua kali tamparan tangan abangnya itu serasa masih bersisa diwajahnya.
Ternyata Burhan sudah menghubungi mertuanya lewat telepon tetangga di Siantar.Burhan minta maaf karena tidak dapat datang sendiri untuk pamit. Ia sudah ceritakan perbuatan Lia dan memberi tahu akan menceraikan Lia. Maka ketika Lia pulang ke Siantar, ibu dan abangnya itu benar-benar marah. Malu ! Mereka kontan mengusir Lia.
“Kau bukan anakku !” kata Ibu Lia. “Kau bukan adikku !” tambah Rudy.
Semuanya masih terngiang jelas di telinga Lia. Baru kali ia melihat ibu dan abangnya bisa marah seperti itu. Tidak ada pilihan lain. Ia putuskan untuk pergi meninggalkan semuanya: Aku harus memikul sendiri hasil perbuatanku. Aku tidak mau mempermalukan keluargaku untuk ke sekian kalinya. Jadi apa pun aku nanti di Jakarta, keluargaku tidak perlu tahu.
Jam tiga sore lewat beberapa menit. Setengah jam lebih sudah pesawat itu meninggalkan lapangan udara Polonia. Lia masih termangu dengan lamunannya khayalannya sendiri. Minuman yang sedari tadi disuguhkan pramugari dibiarkannya sajii tergeletak di hadapannya.
Pada akhirnya ia mencoba menjejalkan kesadaran pada diri sendiri bahwasanya kebenaran mutlak itu hanya milik Tuhan. Manusia hanya bisa mereka-reka dengan ukuran yang tak pernah sempurna. Ia memang salah. Tetapi kesalahannya tidak semata-mata berdiri sendiri. Kesalahannya mendatangi tempat praktek Hans adalah akibat dari tekanan yang berlahun-tahun membebaninya. Sedang Hans boleh jadi sebelum itu tidak pernah berniat sebejat itu. Tidak pernah ada tanda-tanda bahwa ia bisa berbuat seperti itu pada Lia.
“Ah,Aku bingung, Tuhan. Sejak dulu bermacam rasa pahit telah Engkau kenalkan padaku. Kalau sekarang aku tingggalkan Medan, bukan karena aku kuat.Bukan  karena aku sanggup berpisah dengan bang Burhan,” kata Lia merintih dalam hati. “Tuhan,ini bukan pilihanku. Sebab aku tidak punya pilihan lain. Aku malu.Aku tidak mungkin bertemu Bang Burhan lagi….!
Berselahan dengannya. Duduk seorang perempuan tua. Melihat tampilannya,mungkin lebih dari enam puluh tahun umurnya. Perempuan tua itu tampaknya ingin mengobrol. Sejak tadi ia sudah gelisah berusaha menarik perhatian Lia. Tidak berhasil  Lia tetap membisu dan tatap matanya tidak bergeser  dari kaca jendela. Lia merasa semua orang dipesawat  ini pun tahu sekotor apa dirinya.Sejak tadi ia merasa seolah-olah semua orang memperhatikannya.
Sampai lebih seminggu sejak Burhan berangkat kePalembang, Lia masih bertahan tinggal di rumah itu. Ia tidak berani keluar rumah. Ia bahkan merasa seolah-olah setiap orang yang lewat didepan rumah menoleh dan mencibir ke arahnya. Seolah seluruh dimuka bumi ini telah tahu apa yang dilakukanya dengan Hans.
Kemarin malam Burhanmenelpon.Ia hanya mau bicara dengan Bibi Inah, tidak mau bicara dengan Lia. Kata Bi Inah, Lia diminta segera pergi dan ruffl itu. Burhan sudah mau pulang membawa isteri barunya.
Lia memperkirakan bahwa hari ini atau paling lambat besok, rombongan pengantin baru itu sudah tiba. Lia harus tahu diri. Kesalahannya begitu besar hingga tidak mungkin terampuni. Lia harus pergi sebelum rombongan pengantin baru itu datang. tapi kemana aku bisa menyembunyikan mukaku ini,keSiantar? Masih punya nyalis untuk pulang kehadapan Ibu dan Rudy yang sudah mengamuk mengusirnya itu?
Jakarta itu tidak beda dengan hutan belantara.Orang bisa menghilang dengan mudah. Di kota inilah Lia akan bersembunyi, sekaligus akan mengawali hidup yang entah seperti apa nanti. Lia belum tahu apa yang harus dilakukannya di kota ini. Semua masih gelap dan penuh tanda tanya. Lia bahkan belum tahu alamat mana nanti yang akan ditujunya. Ia pernah kuliah di Jakarta dan ia tahu hidup di Jakarta adalah pertaruhan. Peluang untuk kalah dan menang hanya setipis kulit bawang.
Ada memang beberapa famili jauh di Jakarta. Ada teman-teman lama. Tetapi Lia tidak punya muka lagi untuk ke sana. Malu. Kebusukan itu menyebar secepat angin. Bahkan lebih cepat lagi. Mereka semua pasti sudah tahu.
“Tuhan Yesus, dari keterpurukan ini – izinkan aku menyebut nama-Mu,” Lia berdoa dan merintih dari hati paling dalam. “Tolong aku, Tuhan, jangan tinggalkan aku.”
Kecuali berapa potong pakaian dan sedikit uang,Lia tidak membawa apa-apa lagi. Sengaja begitu.Perhiasan bahkan cincin kawin pun ia tinggalkan.Ia ingin pergi meninggalkan rumah itu sebagaimana polosnya ketika dulu ia datang. Ia memang tak punya apa-apa ketika menikah dengan Burhan.
Biar saja.Toh bagi suaminya itu ia sudah mati.Sudah bunuh diri. Jika Burhan bilang akan memulai hidup dan  rumah tangga barunya dari nol, maka Lia lebih parah lagi. Ia akan memulai hidup diJakarta mulai  dari dasar jurang. Baginya yang paling penting saat ini adalah meninggalkan Medan secepatnaya.Meninggalkan cintanya. Meninggalkan masa lalunya.
Dalam seminggu terakhir Hans datang setiap haru untuk meminta maaf. Belum lagimenelepon lebih dari lima kali sehari. Bi Inah yang selalu disuruh Lia mengangkatnya ikut mengomel : Obat batuk saja Cuma tiga kali sehari, ini lebih !
Jelas benar bahwa Hans menyesal. Suaranya memelas amat sangat. Menghiba. Memohon seperti akan sujud bersimpuh di ujung jemari kaki Lia jika itu bisa membuat Lia memaafkannya. Namun hal ,apa yang disesalinya, justru menambah dalam luka dihati Lia. Ia minta maaf bukan sebagai wujud sikapnya yang jentel untuk bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Bukan. Ia rela merengek-rengek seperti itu justru untuk mengelak dari tanggung jawab. Ironis memang. Tetapi itulah kenyataan yang dihadapkan pada Lia.
Tadi malam Hans masih datang lagi, juga dengan permohonan yang sama. “Maafkan aku, Dik Lia. Maafkan aku,”  kata Hans menghiba sambil menciumi punggung tangan  Lia. “Please, aku memang salah. Kalau masih bisa aku siap melakukan apa saja untuk memperbaikinya.Tapi  jangan beri aku malu. Semua orang di kota ini mengenal aku. Orang tuaku juga aktivis gereja. Aku mohon, Dik Lia. Jangan hancurkan masa depan serta nama baik keluargaku. Aku mohon ampun!”
Lia tidak bereaksi. Ditariknya tangannya dan genggaman Hans.
“Kau tahu aku sejak dulu  aku bukannya tidak, mencintaimu,” tambah Hans.”dan aku bukan aku tidak ingin bertanggung jawab dan menikahimu Tapi harus bagaimana ? Aku punya anak isteri. Tidak mungkin aku meninggalkan mereka …!”
Lia muak. Ingin rasanya ia meludahi lelaki itu Ia yang merenggutkan semua kebahagiaan Lia dengan Burhan. Ia pula yang tersungkur minta maaf demi kehormatan keluarganya! Bukan untuk menebus kesalahannya padaku. Itu ia lakukan supaya aku berdiam diri, supaya tidak menuntut apa-apa. Juga demi nama baik keluarganya yang tinggi selangit! Oh, keluarga dokter Hans  keluarga dokter yang terhormat dan religius!
Sesungguhnya Lia tidak ingin menuntut apa-apa dari dokter Hans. Ia cukup tahu diri dan tidak bisa menyalahkan lelaki itu sepenuhnya. Justru ia sendiri yang memulai kesalahan itu. Ia sendiri yang konyol mendatangi macan lapar di sarangnya. Lebih dari itu It takes two to dance. Pada akhimya memang Hans tidak menari sendirian. Lia ikut menari. Lia menghela nafas panjang-panjang dan perempuan tua di sebelahnya itu kembali menoleh. Dari wajah dan caranya mengenakan kainnya, orang tuacini pasti orang Jawa. Sudah sejak tadi ia ingin mengobrol dengan I ia.
“Mari sus. Minumannya dicicipi dulu,” sapa orang tua itu kemudian. Lia masih tidak mendengarkanya.
“Mari, diminum dulu, Sus!” ulang perempuan tua itu lagi sambil menggamit lengan Lia. Ia memanggil Lia dengan ‘Sus’, aksennya ‘wong Londo”
“Oh,ya! Silahkan, Bu!” balas Lia terkejut. “Ada apa koksejak tadi gelisah ? Ada masalah?” tanya orang tua itu lagi. Rupanya sudah sejak tadi ia memperhatikan Lia. “Ah, tidak, bu”.
“Tidak badan? Ayuh, minum dulu. Hidup di dunia ini tak pernah berhenti dari masalah. Lakoni saja dengan sabar.”
Lia menoleh. Ditatapnya wajah tua keriput itu. Lancar benar ia mengatakan itu seolah-olah ia sudah lama kenal Lia. Atau, seolah yakin benar Lia punya masalah.Tetapi Lia tidak merasa ibu ini lancang. Bahkan dalam suaranya yang serak itu ada rasa teduh.Belum pernah ia menemukan orang tua setegar ini .Kerut-kerut  yang dalam diwajahnya membuatnya justru tampak bijaksana. Akhimya Lia menurut juga. Terasa minuman dingin itu mengalir menyejukkan kerongkongannya.
“Perpisahan itu indah, ” katanya lagi. Mungkin ia mengira Lia sedih karena harus meninggalkan seseorang di lapangan terbang tadi. “Ada kalanya perpisahan itu perlu. Sebab sering kita baru menyadari rasa sayang pada seseorang ketika kita sudah jauh. Mulailah rindu. Saling rindu itu menyenangkan. Kerinduan adalah rasa sepi yang nikmat, ‘kan?”
Lia menganggukanggukkan kepala sekenanya. Hmm, orang tua apa ini ? Pikir Lia tersenyum sendiri.Belum kenal sudah mengoceh dengan falsafah yang dibuat-buatnya sendiri. Tapi – ah, boleh juga Rupanya ia punya banyak simpanan kata-kata dalam kepalanya. Pantas saja ia gelisah kepingin ngobrol dari tadi.
“Maaf, Sus, ya. Ibu ini memang tukang ngobrol kalau naik kapal terbang. Habis, daripada tegang Takut.”
“Oh, begitu,” sahut Lia akhirnya terpancing. “Ibu sering naik kapal terbang.”
“Nggak juga. Saya sebenarnya takut naik kapal terbang, karena itu saya mendingan ngobrol saja, he he he !”
Kendati ibu ini sudah tua, suaranya masih jelas dan berisi. Sepertinya ia tahu benar memilih kata-kata macam apa yang dibutuhkan lawan bicaranyn sehingga Lia pun mulai tertarik untuk mengobrol.
“Ibu mau ke Jakarta juga?” tanya Lia kemudian.”Saya memang tinggal di Jakarta,” sahut perempuan tua itu. Lalu menunjuk ke arah seorang lelaki yang duduk di depan, ada enam baris bangku dari sini “Sana orang itu.”
“Yang mana ?”
“ Itu.Yang bule.”
“Ooo,” Lia tidak menduga sama sekali. Bule itu mengobrol dengan lelaki sesama bule disebelahnya.
“Saya tinggal bersama tuan itu. Tuan Willy namanya”
“Oh-ya ?” lagi-lagi Lia terperangah. Barangkali orang tua ini cuma pembantu rumah tangga, piker Lia menebak-nebak. “Tuan Willy itu keturunan Indo. Ayahnya asli Belanda dan ibunya dari Menado. Sekarang sudah meninggal semua. Tetapi-Tuan Willy itu, sejak kecil saya yang mengasuhnya. Ia sudah saya anggap anak sendiri.”
“Wah.”
Sampai saat ini, terutama setelah ibunya meninggal, ia juga menganggap saya seperti ibunya,” tuturnya kemudian bangga. “Kalau kapalnya mampir di pelabuhanIndonesia, ia pasti sempatkan pulang.Lalu mengajak saya pesiar-pesiar seperti ini”
“Tuan Willy itu kerjanya apa?”
“Pelaut. Ia seorang markonis di kapal pelayaran Internasinal. Tahu markonis?”
“Nggak. Tapi pasti hebat sekali. Pasti orang penting di kapalnya,” tukas Lia memuji padahal dalam hati ia merasa geli juga mendengar penuturan ibu itu. Ia menganggap lelaki bule itu anaknya tetapi ia menyebutnya dengan panggilan Tuan Willy.
“Sekarang habis dari mana?” tanya Lia. “Dari Danau Toba. Dua hari di Parapat. ia dengan temannya itu. Mister siapa tadi namanya, saya lupa. Kapal mereka masuk dok, jadi kali ini mereka punya waktu libur lebih lama dari biasanya
“Baik sekali ya Tuan Willy itu. Ibu beruntung sekali bertemu orang seperti dia.”
“Ya, memang dia baik sekali. Papanya juga baik, Tuan Coenraad.”
Lia sejenak terdiam. Dari ceritnya tadi Lia menyimpulkan bahwa ibu ini adalah pembantu Setidak-tidaknya mantan pembantu rumah tangga yang sudah belasan bahkan puluhan tahun mengabdi pada keluarga Coendraad. Ia merasa bangga sudah dianggap keluarga sendiri.
“Ibu namanya .. maksud saya, bagaimana saya harus memanggil ibu?”
“He he he, saya lupa kenalan. Saya Bu Cicih. Tuan Willy juga memanggil saya Bu Cicih.”
“Kalau begitu, pantasnya saya memanggil Mbah Cicih saja.”
“O, jangan. Bu Cicih saja, saya lebih suka itu.”
“Tampaknya Tuan Willy itu lebih tua dari saya. Lebih pantas dia jadi ayah saya,” tutur Lia tersenyum-senyum. “Nah, kalau dia menyebut Bu Cicih,saya boleh dong menyebut Mbah.”
“Sebenarbya dia belum tua. Orang bule memang tampak begitu.Selalu lebih tua dari usianya.”
“Umur berapa dia ?”
“Belum empat puluh.”
“Nggak salah, Bu. Sudah …. maaf, maksud saya , kelihatanya sudah tua. Rambut sisa sedikit, itu pun sudah putih. Sudah ubanan,” Lia tertawa kecil.
“Huss ! Itu bukan uban. Memang begitu rambutnya dari kecil. Ibu ‘kan tahu dia sejak lahir. Ibu sudah  gendong dia selagi masih bayi.Ia memang pernah sakit. Panasnya tinggi dan sejak itu rambutnya rontok.”
“Ha ha ha, orang bule bisa juga sakit panas ?”  Lia makin senang menggoda Bu Cicih. Masalah pribadinya sejenak terlupakan.  “He he he, bule ‘kan manusia juga,” Bu Cicih balas tertawa.
“O- ya,” kata Liakemudian. “Bagaimana dengan keluarga bu Cicih sendiri?”
“Hmm, saya ini sudah tiga kali kawin tetapi suami saya lelaki buaya semua. Perkawinan saya berantakan. Usai perceraian dengan suami yang terakhir saya memutuskan untuk tidak kawin lagi. Lalu bekerja pada keluarga Tuan Coenraad. Waktu itu Tuan Coendraad masih jadi pejabat penting diKeressidenan.”
“Anak Bu Cicih di mana? Ada?”
“Semuanya ada empat tetapi masing-masing ikut ayahnya. Mungkin anak-anak itu sudah  berkeluarga sekarang. Saya tidak pernah tahu. Mereka pun tidak pernah menjenguk saya.Entahlah mungkin mereka berpikir saya ini kotor. Mereka piker saya …!” suara orang tua itu tersendat.
Lia trenyuh lalu cepat-cepat menebak arah  bicaranya. Lia menduga di masa mudanya Bu i u ini bukanlah perempuan baik-baik sehingga ditinggalkan oleh suami dan anak-anaknya.
“Bu Cicih tidak pernah kesepian tanpa anak-anak?” Lia mengalihkan pembicaraan.
“Kadang-kadang. Tetapi belakangan ini tidak Saya ‘kan sudah punya anak yang harus saya urus yaitu, Tuan Willy itu. Dia lebih tahu bagaimana menyayangi orang tua daripada anak-anaku sendiri.”
Ketika Bu Cicih mengatakan begitu, suaranya makin serak bergetar. Lia jadi yakin ucapan ini terlontar hanya untuk menghibur dirinya sendiri Sesungguhnya ia ingin sekali bertemu dengan anak-anaknya itu. Ibu mana yang tidak rindu akan anak-anaknya, apalagi di usia senja begini ?
Bu Cicih ini pasti sudah kenyang asam garamnya rumah tangga. Kawin saja sudah tiga kali Semua gagal. Semua duka dan deritanya seakan terbaca dari kerut merut di wajahnya.
“Sedang aku-kawin sekali sudah langsung gagal. Bu Cicih punya anak, sedang aku tidak,” pikir Lia. “Sebagai wanita, ia sempurna. Sedang aku rumput kering…!”
Ada masanya berbagi rasa suka  akan membuat kegembiraan bertambah berlipat ganda. Berbeda dengan beban dukamyang jika dibagi-bagikan justrui akan membuatnya berkurang. Sesak di dada akan bisa berkurang dengan menceritakannya pada orang lain.Entah karena merasa hampir senasib. Atau karena memang butuh tempat bercerita, akhirnya Lia menceritakan keadaannya saat ini dan mengapa ia ada dalam pesawat terbang ini.
Tidak semuanya ia ceritakan dengan sejujurnya,sebab Lia malu juga. Ia bilang suaminya kawin lagi karena belum mendapat anak darinya Lia tidak kuasa untuk menolak atau menerima. Lebih baik menghindar. Minggat bahkan tanpa surat cerai.
“Suani saya tak berdaya menolak kemauan orang tuanya yang ingin secepatnya punya cucu. Saya tak mau  dimadu, Bu Cicih. Itulah sebabnya saya memilih pergi. Urusan cerai nanti menyusul saja”.tutur Lia berbohong. Ia tidak ceritakan mengapa suaminya akhirnya menyerah pada pilihan orang tuanya.
“Sekarang  ke Jakarta untuk apa?” tanyaBu Cicih menimpali.
“Entahlah, saya belum tahu. Saya pernah kuliah di jakarta beberapa tahun lalu,” jawab Lia. “Saya berharap ada bekas teman kuliah yang masih mengenali aku.”
“Jakarta bertahun-tahun yang lalu jauh berbeda dengan sekarang, Sus Lia, kalau pun kenal belum mau  tahu dengan kesulitan kita.”
Lia membisu. Bu Cicih benar. “Sampai di Jakarta nanti, terus ke mana ? ”
“Ada.Ke.. ya ke teman-teman itu,” Lia tergagap. Baru sekarang ia menyadari itu :Ke mana ya? “Alamatnya di mana?”
“Hmm, bb-belum tahu. Maksudku masih mencari-cari nanti.”
“Astaga ! Jakarta sekarang bukan lagi Jakarta  yang Sus Lia sepuluh tahun lalu. Tidak mudah mencari orang di Jakarta.”
“Biar saja, Bu Cicih,” tambah Lia dengan suara ditegar-tegarkan. “Aku tidak perduli apa yang akan t terjadi nanti. Aku hanya tidak ingin melihat suamiku bersanding dengan wanita lain.”
“Ya, Tuhan, benar seperti itu ?”
“Benar, Bu Cicih. Sebegitu pun, aku hanya membawa beberapa potong pakaian sedikit uang. Perhiasan pun kutinggalkan semua di rumah suamiku.”
“Itu bodoh sekali.”
“Ya. Saya memang bodoh. Suamiku juga tidak tahu kau berangkat ke Jakarta. Tidak. Ia tidak boleh tahu.”
Bu Cicih ganti terdiam. Ia sadar di masa mudanya bukan perempuan baik-baik. Dua dari tiga mantan suaminya adalah lelaki yang direbut Bu Cicih dari isteri tua masing-masing. Sehingga ia bisa mengerti kalau kemudian semua laki-laki itu kemudian pergi meninggalkannya. Semua menyakiti hatinya.Barangkali itu hukum karma. Tetapi Lia perempuan malang, yang duduk di sebelahnya ini baik-baik. Ia diperlakukan tidak adiI lanya karena belum punya anak.Menurut Bu Cicih ini keterlaluan. Harus ditolong.”Sus Lia” Ujar Bu Cicih kemudian, “nanti menginap dimana?”
Lia menggelengkan kepalanya.Membuang tatap matanya lewat kaca jendela. Ia memang belum tahu akan kemana nanti setibanya di Jakarta. Bu Cicih mendesahkan nafasnya.
“Kalau mau,Sus Lia boleh mampir dulu dirumah kami setidak-tidaknyauntukmalam ini.Atau sampai sus Lia  bertemu teman-teman,” Bu Cicih menawarkan bantuan.
“Terima kasih, Bu Cicih. Saya tidak mau merepotkan orang lain.”
“Tidak repot. Sama sekali tidak. Nanti saya minta izin Tuan Willy.”
“Tidak usah, Bu, saya …!”
“Tidak usah sungkan-sungkan. Kita ini sama-.sama berangkat dari susah. Siapa yang mau menolong, kalau bukan sesama kita ?”tegas BuCicih. “Sudah pokoknya nanti jangan kemana-mana.Saya yang ngomong sama Tuan Willy.”  Lia merasakan ada kesejukan mengalir dipadang, gurun. Inilah pertama kali ia menemukan orang baik yang tepat,pada saat yang tepat pula. Bu Cicih menawarkan sesuatu bukan karena ia berkelebihan. Sebaliknya ia menawarkan sesuatu yang baik dari kekurangannya. Ia tidak punya apa- apa. Ia hanya seorang pembantu yang kebetulan disayang majikannya.
“Ttt – tetapi kalau nanti Tuan Willy agak kasar atau tidak memberi izin, jangan berkecil hati, ya sus Lia Biasanya sih ia tidak pernah membantah saya”.
Pesawat mendarat di Lapangan Terbang Halim Perdana Kusuma. Lia pangling disini.Belasan tahun lalu lapangan terbang masih di Kemayoran. Lapangan ini milik Angkatan udara. Milik tentara Jadi kabarnya hanya sementara di sini, sebab nanti akan dipindahkan ke lapangan terbang baru yang sedang dibangun di Cengkareng.
Saat menginjakkan kaki di bumi Jakarta, rasa takut segera menyergap diri Lia. Inilah nafas Jakarta. Inilah denyut nadi kota besar yang menggilas orang lemah tanpa belas kasihan. Lia akan memulai hidupnya dari bawah.Dahulu ia bertemu dan menikah dengan Burhan di Jakarta ini. Sepuluh tahun yang lalu. Seperti kata Bu Cicih, Jakarta yang sekarang bukanlah Jakata  yang dulu. Kota ini tidak lagi seramah dulu. Jakarta sekarang jauh lebih kejam.
la masih terjongong di sisi tangga pesawat sementara Bu Cicih bergegas menyusul Willy yang sudah berjalan mendahului bersama temannya. Sejenak lelaki bule itu menghentikan langkahnya. Lia terperangah mendengar mereka berbicara dalam bahasa Belanda. Ibu Lia di Siantar bisa bahasa Belanda dan dulu berusaha mengajari anak-anaknya di rumah. Ternyata mereka tidak suka belajar bahasa “Orang penjajah” itu . Termasuk Lia. Tetapi samar-samar ia mengerti juga artinya.
Sesaat kemudian lelaki bule itu menoleh kearahnya. Brrr! Lia  terkesiap. Sorot mata itu dingin dan sinis.Seolah  dari dalamnya terbuar sejuta kebencian.Lia masih coba tersenyum namun gemurh ketakutan dalam dadanya membuat senymnya hambar. Bahkan tampak menyeringai.Ia semakin gugup, sementara tatapan dingin itu seakan mau menelanjangi dirinya dari kepala sampai kaki.
Tampak Bu Cicih berusaha meyakinkan si bule itu.Sampai agak ngotot. Akhirnya lelaki itu menggaet lengan temanya untuk berlalu sambil menggelengkan kepalanya. Tamat harapanku, pikir Lia. Namun ketika Bu Cicih berbalik ia melihat senyum lebar diwajah orang tua itu. Senyum paling manis yang pernah dilihat Lia, walaupun dihiasi gigi tua yang hanya sisa beberapa buah itu.
“Bb- bagaimana ?” tanya Lia penuh harap. “Kita langsung saja ke rumah”, ujar Bu Cicih.
“Maksudnya, dia .. boleh ?”
“Ayuhlah. Mat Sani pasti sudah menunggu diruang tunggu,” jawab Bu Cicih setengah menyeret lengan Lia. “Mat Sani itu siapa?”
“Supir kita. Supir Tuan Willy. Kita disuruh pulang duluan. Mereka masih mau pergi. Katanya  dirumah temannya itu.”
“Kenapa tidak pulang dulu ke rumah?” tanya Lia lagi heran. “Tuan Willy ini hidup sesukanya saja. Masih seperti masa remajanya dulu. Dan, maaf, Sus Lia lebih baik kau tahu dari awal. Ia memilih naik taksi dengan temannya. Ia tidak mau naik mobil bersamamu. Karena kau perempuan, apalagi ia tidak mengenalmu.”
“Lho, karena aku perempuan?”
“Ya, karena kau perempuan. Tapi tidak usah khawatir. Itu malah lebih aman buat Sus Lia, kan?  He he he,” Bu Cicih tertawa terkekeh-kekeh. “Atau Sus Lia lebih senang laki-laki yang doyan perempuan?”
“Ah, Bu Cicih, aku bingung,” kata Lia datar “Kalau aku laki-laki, aku tidak butuh bantuan Bu Cicih. Aku perlu justru karena aku perempuan.”
Alis mata Lia terangkat tinggi-tinggi. Penjelasan Bu Cicih itu hampir tak masuk di akalnya. Tetapi masa bodohlah, pikir Lia, setidak-tidaknya malam ini aku tertolong. Itu yang penting saat ini.
TEMARAM senja mulai turun ketika mobil sedan berukuran besar itu memasuki kawasan perumahan di Menteng. Lia menahan nafas. Dulu ketika masih kuliah di Jakarta, ia sudah tahu daerah ini adalah kawasan elitnya Jakarta. Jangan-jangan rumahnya di sini…!
Apa yang dipikirkan Lia ternyata benar, bahwa mobil ini kemudian berhenti di depan salah satu dari rumah-rumah  besar itu. Lia memperkirakan rumah ini besar dari gereja induk di Medan.Tembok pagar nya saja tampak begitu tinggi dan kekar.Dari ukuran bangunan dan arsitekturnya yang klasik Lia bisa memastikan kalau bangunan ini sudah berdiri lama sebelum dia lahir. Bahkan jauh sebelum negeri ini merdeka. Rumah tua yang masih terpelihara dengan baik.Sekali bunyi klakson membuat seorang perempuan muda tergopoh-gopoh membuka pintu dari dalam. Mesin mobil menderum halus,sambil masuk kepekarangan. Lia makin tercengang-cengang sambil nyalinya menciut. Betapa tidak, ia belum pernah masuk ke pekarangan rumah sebesar ini. Baru saja akan membuka pintu, terdengar suara anjing menyalak keras. Dari jendela mobil ia melihat dua ekor anjing herder berlari menyongsong dari halaman samping garasi menyambut kedatangan ini .Aduh! Lia terkejut dan cepat-cepat mengancingkan pintu mobil yang sudah sempat dibukanya.Kedua anjing itu melompat-lompat manja disekeliling Bu Cicih. Seakan memprotes ditinggal begitu lama oleh orang tua itu.
Tiba-tiba kedua anjing itu beralih menghampiri mobil .Keringat membasahi sekujur tubuh Lia. Anjing adalah  binatang yang paling dibencinya seumur hidup. Apalagi anjing ini kemudian menyalak sambil berdiri menyandarkan kaki depannya ke jendela mobil.Tingginya persis dengan kepala Lia.Suaranya keras mulutnya yang besar itu terbuka.
“Mati aku !” Lia terpekik. Ia yakin kepalanyapun bisa masuk mulut anjing ini saking besarnya.
“Pigo! Bruno!” seru Bu Cicih sambil mendekati kedua binatang itu. “Jangan nakal, ya ! SusLia ini  tamu kita. Sudah, pergi sana !”
Bagusnya, mendengar suara Bu Cicih kedua anjing itu berhenti menyalak. Ekornya menari-nari lalu bersungut-sungut masih ingin bermanja. Bu Cicih tertawa lalu memeluk dan mengusap kepala binatang  itu. Bu Cicih kemudian menggiring kedua binatang itu masuk halaman di samping garasi dan pintunya dikunci sekalian.
Setelah yakin kedua anjing itu terkurung disana barulah Lia berani menjulurkan kakinya untuk turun dari mobil. Rumah bertingkat itu sudah tua tetapi masih megah terpelihara. Lagi-lagi Lia teringat cerita Bu Cicih tentang ayah Willy yang pernah menjadi pejabat penting di Keresidenan. Pantas saja rumahnya lebih besar dari gereja, pikir Lia.
Bu Cicih membawa Lia berjalan terus ke bagian belakang, lewat jalan di samping rumah induk,disana masih terdapat bangunan yang terpisah kira-kira sepuluh meter di belakang rumah induk. Lia merasakan jantungnya berhenti berdetak.Serasa bermimpi dia melewati taman bunga yang demikian Indah terpelihara di pekarangan belakang.
Bangunan rumah yang terpisah itu adalah sederetan kamar yang tampaknya dibangun khusu untuk para pembantu atau pekerja di rumah itu. Satu kamar diantaranya memang masih kosong.
“Nah,kamar ini boleh Sus pakai. Dulu suka ada tamu yang datang dan menginap. Kamar ini biasanya untuk supir tamu,” kata Bu Cicih menjelaskan .”Biar dibersihkan sebentar. Sudah itu mandi dan istirahat dulu. Kamar mandi ada di luar jangan sungkan-sungkan, Sus Lia. Anggap ini rumah sendiri, ya.”
Rumah sendiri ? Lia nyaris menyeletuk. Mana ada rumahku sendiri sebesar ini ? Dalam  kamar itu terdapat sebuah tempat tidur besar,lemari serta  meja tulis kecil. Atas perintah Bu Cicih dua orang perempuan muda datang membersihkan kamar itu. Belakangan ia ketahui keduanya bernama Neneng dan Nurlela.Kedua gadis itu tampaknya pendiam.
“Thanks God. Engkau kirimkan padaku orang sebaik Bu Cicih ini” bisik Lia berdoa sesaat setelah Bu Cicih dan kedua  gadis itu telah keluar dan meninggalkanya sendirian. Lia kini tegak terpaku di sisi tempat tidur. Dihirupnya udara dalam kamar itu dalam-dalam.Matanya basaah berair. Tuhan, doanya lagi. Terima kasih untuk semua ini. Jangan lagi meninggalkan sedetik pun. Aku lemah, sangat lemah. Perlahan  penuh ragu ia merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Ah, bau bantal, ini berbeda in bantal di rumahku. Di rumah suamiku –Bang Burhan. Ini bukan bau keringat Bang Burhan bukan juga bau keringatku. Lia baru menyadari bahwa bau badan dan keringat lelaki itu telah menemaninya terbuai dalam tidur selama bertahun- tahun. Pedihnya, ini baru ia sadari justru setelah segalanya berakhir. Setelah tidak lagi menemukan bau itu pada bantal yang kini ia pakai untuk,meletakkan kepalanya. Untuk membenamkan wajahnya yang berjuang menahan tangis.
Benar seperti apa yang dikatakan Bu Cicih ketika di pesawat terbang, setelah berjalan demikian jauh, barulah terasa kerinduan menyengat. Dalam letih ia tertidur pulas dengan kaki masih menjumbai ke lantai. Hari sudah gelap ketika Lia terbangun. Matanya nanar menatap langit-langit kamar yang pucat. Beberapa detik ia masih terjongong. Tidak sadar di mana ia kini – sebelum bau bantal yang asing itu menyadarkannya. Sekarang ia berada ditempat yang sama sekali asing baginya. Perjalanan hidup yang ia pilih sendiri sudah dimulai dengan rasa takut dan bingung. Kini ia berada dalam kamar di rumah orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
“Oh, apa yang kau lakukan ini, Lia ?” katanya pada diri sendiri. “Kau tinggalkan Medan, tinggalkan suamimu. Sekarang kau menumpang di tempat orang yang tidak kau tahu …!”
Jam tangannya menunjukkan jam sembilan. Rupanya ini sudah malam. Lia bangkit berdiri. Tampak segelas besar susu berada di atas meja. Ia tertegun.Tidak tahu bagaimana gelas susu itu bisa ada di sana tanpa setahunya. Tentu ketika ia tertidur, ada orang masuk kemari. Ya, kalau perempuan. Kalau laki-laki? Lia ketakutan oleh pikirannya sendiri.Kendati masih ragu, disentuhnya juga gelas susu sudah dingin. Rasa haus menggigit kerongkonganya. Ah, tidak ada orang lain di sini. Tentu susu ini untukku, pikir Lia pakai logika saja.Diminumnya dengan tegukan kecil. Rasa segar segera membasuh kerongkongannya. Inilah tegukan yang pertama  sejak menginjakkan kakinya kembali dijakrta. Suatu tegukan yang manis dan segar. Awal yang manis, entah esok seperti apa.
Ketika ia membuka pintu kamar, hawa segar dan wangi bunga bersama angin malam segera menyambutnya. Lia menarik nafas dalam-dalam. Semakin terasalega. Rumah induk dengan bangunan yang terpisah itu dihubungkan dengan koridor beratap sampai ke pintu belakang rumah induk. Lia tidak melihat satu orang pun di belakang sinio.Lia penasaran, ia menyusuri koridor itu dengan pandang matanya yang nyalangmencari tahu.Tiba-tiba pintu di ujung sana terbuka. Bu Cicih tampak keluar  bersama Nurlela.
“Selamat malam, Sus Lia. Enak tidurnya ?” sapa Bu Cicih.”Selamat malam, Bu. Maaf, saya benar-benar ketiduran”  balas Lia pula tergagap.”Kalau mau mandi – silakan, Sus.”
“Mari, saya antarkan, Sus. Biar saya tunjukkan kamar mandinya,” tambah Nurlela pula ikut-ikutan menyebut ‘Sus’. Tentu Bu Cicih sudah mengajarinya begitu.
“Terima kasih, terima kasih,” sahut Lia. Kikuk benar rasanya dipanggil ‘Sus’. Ini kebelanda-belandaan sekali. Lia kembali ke kamar mengambil handuk dan peralatan mandinya. Selanjutnya Nurlela membawanya ke kamar mandi di samping garasi. Dua kamar mandi berderet, bersebelahan pula dengan kandang anjing yang langsung menyalak keras ketika melihat Lia berjalan di belakang Nurlela.
“Terima kasih, Dik,” kata Lia di depan kamar mandi. Kamar mandi biasa saja, tetapi dilengkapi dengan kloset duduk dan keramik putih di sekeliling dinding dan bak mandinya. Lantainya juga bersih. Sementara mandi otak Lia berpikir tentang semua ini. Seperti kamar mandi yang terlalu bersih dan mewah untuk para pembantu, Nurlela juga sebenamya terlalu manis untuk menjadi pembantu rumah tangga. Terlalu anggun dan cantik tampaknya.
Di Jakarta yang bising ini, gadis secantik Nurlela bisa saja dapat uang dengan mudah. Banyak laki-laki butuh perempuan cantik, sebaliknya banyak perempuan butuh uang. Tetapi Nurlela rupanya lebih suka jadi pembantu di rumah Tuan Willy yang tidak beristeri itu. Kenapa ?
“Astaga, tidak beristeri! Tapi – ah, aku tidak boleh berpikir jelek !” Lia cepat-cepat menghentikan pikirannya yang kotor. Ketika kembali ke kamar Lia mendapatkan makan malamnya sudah tersedia di atas meja. Ia makin rikuh. Rupa-rupanya Bu Cicih benar-benar ingin membuatnya nyaman tinggal di sini, setidak-tidaknya malam ini.Sudah berbelas hari lamanya Lia tidak makan dengan benar.Masalah yang dihadapinya membuat semua  serasa pahit dan getir. Ia tahu berat badannya sudah menyusut cepat, karena baju-bajunya longgar semua.Sekarang di kamar ini ada makanan. Rasa lapar membuat ia serasa ingin segera meludaskan semua makanan yang ada di atas meja itu. Tetapi justru ragu, perlengkapan makan ini saja sudah membuatnya kecut. Sendoknya saja ada tiga macam. Seperti makan di hotel atau restoran besar saja.lia benar-benar rikuh. Dipilihnya sendok garpu yang paling kecil. Lalu mulai mencicipi makanan perlahan-lahan sambil pikirannya melayang kemana-mana. “Apa yang kulakukan di sini ? Aku tinggalkan  Medan karena aku sudah terpuruk malu sedemikian rendah. Sekarang makananku pun di antar ke kamar. Demikian terhormat aku dibuat sampai-sampai memakai sendok garpu pun aku bingung.”
“Hai, bagaimana makannya, Sus Lia?” tanya Bu Cicih muncul di pintu.”Terima kasih, Bu, enak sekali. Tapi mestinya tak usah diantar kemari. Saya bisa ..!”
“Nggak apa-apa, Sus, saya yang suruh begitu. Sus Lia perlu kesendirian. Biar tenang dulu.”
“Ya sih, terima kasih,” desah Lia lagi salah tingkah “Bu Cicih sendiri sudah makan?”.
“Sudah. Eh, sopnya dihabiskan saja, Sus,” kata Bu Cicih rupanya melihat sop di mangkok masih bersisa setengah. “Zus Lia perlu sehat. Dengan tubuh sehat, pikiran akan sehat juga. ‘kan ? He he he !”
“Oh -ya, sebentar … nanti.. saya sudah kenyang … tapi nanti saya ..!” Lia makin serba salah. Ia coba tertawa mengikuti Bu Cicih. Tetapi merasa diperhatikan seperti itu, tangan Lia malah gemetar memegang sendok garpu.
“Rumahnya besar, ya ?” kata Lia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya, malam ini Sus Lia menginap di sini. Nggak usah pikirkan apa-apa. Soal besok  itu urusan besok.”
“Pak Willy..?”
“Tuan Willy,” Bu Cicih cepat membetulkan. ” ia  baru saja pulang. Saya belum sempat bicarakan dengan dia.”
“Terima kasih, Bu. Terima kasih,” balas Lia terperangah. “Tetapi apakah tidak sebaiknya saya bertemu langsung dengan Tuan Willy?”
“O, itu bisa diatur nanti.”
“Mm – maksudsaya, saya ingin berterima kas Bu Cicih.”
“Ya, nanti saya sampaikan,” sahut Bu Ci< santai saja. “Istirahat saja dulu, ya. Nah, selanul malam, Sus. Lia.”
DI RUANG TENGAH rumah induk, Bu Cicih melihat Willy juga sudah menyelesaikan makan malamnya. Ia kini duduk menghadapi sebotol Bourbon Whisky.
“Warom eet Uzo vlug, meneer? (Mengapa makan malamnya begitu cepat, tuan Willy?)” tanya bu Cicih menyapa.
“Omdat het eten niet lekker is ” sahut Willy datar dalam bahasa Belanda pula. (“Makanannya tidak enakk, Bu Cicih!”)
“Lho, wat onbeschoft Nurlela,” gumam Bu Cicih gusar (“Kurang ajar si Nurlela !”)
“Oh, dat is niet zo. Ze heeft al goed gejookt. Het is allen maar omdat ik geen trek heb,” tambah Willy tersenyum.( “Bukan begitu. Ia sudah memasak dengan baik. Hanya – saya tidak punya nafsu makan”)
“Waarom, Meneer? Is er probleem met je? (Kenapa, ada masalah ?)”
“O,nee er is goen probleem..(Tidak ada masalah),” potong Willy ” Bu O-ya, waar plaatst Bicih die spook-kuntilanak ?(Itu kuntilanak Bu Cicih taruh di mana?”)
“Kuntilanak ?”
“Itu  perempuan tadi…!”
“Oooo,he he he,” Bu Cicih tertawa. “Roep zij niet  (jangan bilang kuntilanak,) Tuan Willy. Ze is een lief meisje, en ze is eigenlijk liever dan mij, (la perempuan haik-baik, bahkan lebih baik dari saya.) Dia sedang susah. Kalau Tuan boleh – saya ingin sekali menolongnya.”
“Bikin repot saja,” gumam Willy sinis. “O, tidak, Tuan. Saya jamin tidak merepotkan Tuan.”
“Saya tidak suka …!”
“Saya tahu, Tuan,” Bu Cicih menyelak dengan halus. “Tentu saya tahu apa yang Tuan tidak suka. Dia hanya butuh tumpangan sehari dua hari ini sambil mencari familinya di Jakarta ini.”
“Saya terganggu.”
“He he he,” Bu Cicih tertawa lagi, jelas dia merasa gusar. Ia tahu majikannya keinginan majikannya ini sulit ditawar. Tapi ia masih ingin mencobanya. “Dia akan terus di belakang. Makan juga di kamar belakang. Pokoknya saya jamin ia tidak akan kelihatan oleh Tuan. Hanya sehari dua hari saja Tuan.”
“Bu Cicih mau jadi orang baik ?” Will tersenyum. “Mau masuk surga?”
“Ya, ya, Tuan, orang setua saya harus lebi banyak menolong orang.”
“Boleh juga. Orang sudah hampir mati baru mau tolong orang, ya ?”
“Ya, Tuan Willy. Orang bilang saya sudah bau tanah. Saya ingin membuat lebih banyak kebaikan sebelum mati.”
“Menolong perempuan kuntilanak bisa masuk sorga?” Willy kembali siis.
“Tuan Willy,” sergah Bu Cicih lebih tegas “Jangan sebut dia kuntilanak. Aku mohon, Tuan ia  perempuan baik-baik..”
“Jangan cepat marah, Nyonya Besar. Word niet boos grote mevrouw!” balas Willy tertawa mengejek. Bu   Cicih ikut tertawa juga. Kalau sudah begini biasanya majikannya ini akan mengalah. Ia memang tidak ingin melihat Bu Cicih marah. Perempuan tua satu-satunya orang yang kini paling dekat dalam  hidupnya, terutama setelah ibunya meninggal.
Willy tahu bahwa Bu Cicih yang mengasuhnya sejak bayi, karena itu ia sangat menyayangi Bu Cicih lebih dari sekedar pembantu. Bu Cicih tetap tahu diri kendati  ia punya arti lain bagi Willy, ia tidak mau imenanggalkan panggilan “tuan” terhadap lelaki itu. “Ia Ingin bertemu dengan tuan Willy”, kata bu lli kemudian. “Tidak usah. Kalau Bu Cicih suka, atur sajalah sendiri ”
“Boleh ya, dia menumpang sementara di sini ?”
“Aku bilang – atur saja.”
“Terima kasih. Tetapi Tuan Willy tidak ingin mendengar latar belakang kehidupannya?”
“Ow, tidak usah. Itu tidak perlu.”
“Jangan begitu, Tuan. MungkinTuan perlu tahu siapa dia  dan bagaimana ia sampai ke mari.”
“Hmm, untuk apa?” Willy menyeringai makin sinis. “Supaya – supaya Tuan tahu ia bukan perempuan kuntilanak. Bukan perempuan tidak baik…!”
“Huffff!” Willy meniupkan nafasnya keras-keras lalu meraih sebatang rokok dari meja. “Tidak usah cerita, Bu Cicih. Tidak akan sampai kesasar dia kemari kalau dia perempuan baik-baik …!”
Bu Cicih terdiam kendati sebenarnya masih ingin membantah. Itu lebih baik daripada membuat Willy berubah pikiran. “Meneer Kecil, Tuan Kecil !” gumam Bu Cicih menyebut nama panggilan ‘kesayangan’ Willy di masa kanak-kanak. “Tuan masih saja seperti dulu. Masa’ Tuan tidak ingin tahu ada orang menumpang di rumah Tuan?”
Disebut Tuan Kecil, Willy seperti berubah jinak. Ia juga tidak bereaksi sedikit pun ketika Bu Cicih mulai bercerita tentang Lia. Diam saja. Ia syik merokok saja sambil sesekali ia meraih botol wisky di hadapannya dan menenggaknya langsung dari botol itu.
“Tuan tidak ingin mendengarnya sama sekali?” tanya Bu Cicih mulai kesal melihat sikap yang begitu dingin.
“Oh, teruskan saja, saya dengar sampai habis.” “Tapi Tuan diam saja …! ”
“Teruskan saja, saya senang mendengarnya. Mirip  film drama. Sampai di mana tadi?”
Kembali Bu Cicih menggelengkan kepalanya. Ia tarik nafas sejenak, menghimpun kesabaran menghadapi tingkah majikannya yang suka aneh itu. Semua perempuan ia sebut kutilanak. Itu istilahnya dia sendiri, maksud sebenarnya adalah pelacur.
Masih subuh ketika Lia terbangun esok paginya, Rasa segar mengalir lewat seluruh pembuluh  darahnya. Tadi malam ia tertidur nyenyak sekali dan merupakan tidur nyenyak yang pertama sejak berpisah dengan Burhan.
“Selamat pagi, Tuhan,” Lia berdoa. “Ini aku sedang menunggu petunjuk-Mu, ke mana aku akan pergi…!”
Kemudian ia memprotes sendiri doanya, sebab Lia ingat protes Vera – kawannya satu gereja masih remaja di Siantar. Vera pernah memprotes seorang pendeta muda yang dengan santai dan sok akrab menyapa Tuhan dalam doanya : Selamat malam,Tuhan.
“Jangan menyapa Tuhan dengan ucapan selamat pagi, selamat malam dan lain ucapan selamat seperti itu,” kata Vera itu waktu itu. Menurut Vera, menyampaikan ucapan selamat ulang tahun adalah sama dengan doa semoga seseorang itu selamat dalam merayakan ulang tahunnya. Selamat pagi adalah doa agar seseorang yang menerima Ucapan itu selamat sepanjang pagi. Selamat tahun baru juga begitu, dan seterusnya.
“Tuhan tidak memerlukan ucapan selamat seperti itu,” demikian Vera menegaskan, “sebab, bukankah Tuhan Yesus sendiri Juru Selamat ?”
Lia tersenyum-senyum sendiri. Dengan dandanan seadanya saja ia keluar menuju kamar mandi. Di dapur bersebelahan dengan kamar mandi I nampak Nurlela tengah sibuk mempersiapkan sarapan pagi. Gadis itu terburu-buru mengucapkan selamat pagi begitu melihat Lia muncul di ambang pintu.
“Selamat pagi,” balas Lia pula, “apa yang bisa saya bantu?”
“Wah, terima kasih, Sus, tidak usah,” sahut gadis itu cepat. Tampak jelas kesungguhannya dalam mengatakan ‘tidak usah’ itu, sehingga Lia tidak mengulangi pertanyaannya meski sebenarnya ia benar-benar ingin membantu mengerjakan sesuatu di sana. Ia seorang perempuan keturunan Cina dan sejak kecil ia sudah dibiasakan bekerja. Ibunya senantiasa mendidiknya untuk  tidak berpangku tangan sementara orang-orang di sekitarnya sibuk bekerja.
Keluar dari kamar mandi ia berjalan melintasi tanaman bunga yang bermekaran menuju ke pekarangan depan. Di sana ada Mat Sani sedang sibuk menyapu pekarangan dari dedaunan yang gugur diterpa angin semalam. Dua ekor anjing herder besar terbelenggu pada tiang di belakang Mat Sani. Melihat Lia muncul, kedua binatang itu segera menyalak keras. Lia gemetar terlebih melihat gigi-gigi tajam yang mencuat keluar dari mulut binatang itu.
Mat Sani segera mendekap kedua binatang itu, menyuruhnya diam, lalu terbungkuk-bungkuk minta maaf dan mengucapkan selamat pagi. Lia membalas dengan membungkuk pula. Tegur sapa selamat pagi yang berlebihan menurut pendapatnya, tetapi dibalasnya juga dengan sikap yang nyaris sama. Mat Sani juga tampak masih muda. Agak pendiam. Lia jadi bertanya-tanya dalam hati, semua orang di rumah ini pendiam dan cenderung menutup diri . Tidak mau bicara banyak dengan Lia. Sebaliknya Bu  Cicih kelewat ramah.
Pagi belum terang benar, masih remang. Dijalan raya  depan rumah tampak tampak beberapa orang Iari pagi, atau sekedar jalan pagi saja. Ada juga pasangan suami isteri manula berhenti di pinggir  jalan dan mengerak-gerakkan badannya untuk senam  pagi sedapatnya. Pintu pagar depan terbuka sedikit. Lia iseng  melewatinya dan turun ke jalan. Lia ingin tahu di daerah mana persisnya ia sekarang berada. Sambil menikmati udara pagi Lia melongok ke kiri kanan, mcncoba mengenali daerah ini. Benar, ini di daerah elit Menteng.
Di ujung jalan itu tampak seseorang bersenam sendirian. Kadang ia berlari, melompat dan melakukan beberapa gerakan senam. Terkadang duduk berjongkok dan melompat-lompat seperti kodok besar. Lia tersenyum. Burhan juga melakukan gerakan seperti itu jika sudah tidak bisa mengelak dari desakan Lia untuk olah raga pagi. Malas sekali dia olah raga sehingga Lia sering harus membangunkannya subuh-subuh dan menyediakan  perlengkapan jogging di samping tempat tidur. Kalau sedang bersemangat, kadang Burhan menyuruh Lia memberi aba-aba dan hitungan untuk setiap gerakan yang dilakukannya. Satu – dua, atau hup-hap-hup !
“Ah, sepagi ini aku sudah diganggu kenangan seperti itu,” desah Lia perlahan.
Sejenak sosok tubuh lelaki besar itu membungkuk memperbaiki tali sepatunya lalu berlari-lari kecil berlawanan arah dengan Lia. Semakin dekat dan berpapasan: Hah, Lia terkejut. Lelaki itu sepertinya Willy. Dan  terlambat, Lia tidak sempat menyapanya. Mereka telah berpapasan tanpa sapa. Tanpa selamat pagi. Lia menjadi gusar. “Mestinya aku mengucapkan selamat pagi. Mestinya aku tidak seperti orang sombong yang tidak tahu diri. Aku menumpang di rumah Willy dan tidak menyapanya ketika berpapasan. Ah ! Aku yang lagi terpuruk, tak punya apa-apa. Tak punya siapa-siapa! Kok  terkesan sombong.”
“Ia pasti mengenali aku,” pikir Lia lagi. Cemas kalau-kalau itu akan jadi masalah, diputuskannya untuk menyusul Willy. Ia harus menyapanya pagi ini, sebelum lelaki itu menganggapnya sebagai tamu yang tidak sopan. Tidak tahu di untung. Willy sedang melakukan push up di depnn rumah ketika Lia tiba di belakangnya. Diam-diam saja Lia menunggu. Diam-diam ia perhatikan juga bentuk tubuh Willy yang atletis. Entah berapa puluh kali ia melakukan push up. Pada gerakan push up yang  terakhir tampak kedua lengan Willy bergetar keras.
“Selamat pagi, Oom,” sapa Lia setelah membiarkan Willy duduk mengatur pernafasannya.Tak ada reaksi. Padahal Lia sudah berdiri Sana dekat di hadapannya. Matanya menerawang  jauh tidak perduli dengan kehadiran Lia di sana. “Selamat pagi, Oom,” ulang Lia lebih keras.
“Hm, selamat pagi,” sahut Willy tanpa ekspresi.Dingin sekonyong-konyong ia beranjak dan masuk kedalam rumah induk. Ditinggalkannya Lia termanngu dipekarangan depan. Lia merasakan kulit wajahnya mendadak tebal. Sinis sekali lelaki itu. Teguran Lia pun dibalasnya dengan reaksi berlebihan, yaitu pergi tanpa bicara apa-apa lagi. Willy pergi begitu saja  sebelum Lia dapat berkata minta maaf. Willy kelewat  sinis seolah perempuan ini adalah sangat menjijikan.
Hampir saja Lia menangis karenanya. Sementara kicau ria burung-burung kecil yang berlompatan didahan malah terdengar bagaikan mengejek. Ah,lebih baik kembali ke kamar, pikir Lia.
JAM DELAPAN, Lia tengah merapikan dandananya ketika Nurlela datang mengantarkan  sarapan pagi.
“Maaf, Sus. Agak terlambat,” kata Nurlela.
“Nggak apa-apa, Dik. Nggak terlambat, kok,” sahut Lia “Tetapi, Dik Lela – lain kali biarlah saya sendiri. Tak usah diantarkan ke mari.”
“Jangan, Sus. Itu sudah menjadi tugas saya,” balas Nurlela polos. “Sus Lia ‘kan tamu Bu Cicih. Saya diperintahkan melayani Sus Lia.” Lia mengangguk perlahan. Makin rikuh dia. Percuma rasanya mendebat gadis itu sebab ia hanya seorang pelayan di bawah perintah Bu Cicih. Perempuan tua itu yang mengatur semua ini. “Tetapi – mengapa aku harus dilayani seperti ini ? Apa pentingnya aku ini ?” “Bu Cicih ke mana?” tanya Lia. “Di depan. Di kamarnya” sahut Nurlela.
“Oooo,” Lia mengangguk dan bergumam seperti ayam mendengkur. “Kamar Bu Cicih di rumah induk itu?”
“Ya, Sus.”
“Siapa saja yang tinggal di sana?”
“Cuma berdua. Tuan Willy dengan Bu Cicih,” tambah gadis itu lalu pamit hendak berlalu. Lia menahannya sebentar. “Maaf, Dik. Saya mau bertanya lagi,” tukas Lia tersenyum. “Tadi pagi saya bertemu dengan Tuan Willy di depan. Ia bersenam pagi. Setiap pagi ia begitu?”
“Tidak juga, Sus. Saya juga kaget waktu melihat Tuan sudah berada di pekarangan sesubuh itu.”
“Hmm, begitu, ya.”
“Pagi ini Tuan Willy marah-marah terus.”
“Kenapa? ”
“Entahlah, tadi katanya nasi goreng terlalu berminyak. Padahal biasanya juga seperti itu.”
“Lalu, bagaimana kalian?”
“Ah, itu biasa. Tuan Willy memang pemarah tetapi hatinya baik,” tutur Nurlela ternyata suka juga bicara. pemarah tetapi hatinya baik, pikir Lia mengulangi ketika Nurlela sudah berlalu. Kalau begitu bukan  hanya pemarah, tetapi juga sinis, sombong, menyebalkan … ! Huh, rasanya ingin tinggalkan saja rumah ini. Lia teringat omongan Bu Cicih kemarin bahwa kelakuan Tuan Wily suka aneh. Jangan terlalu dibawa ke hati. Beberapa lama setelah Lia menghabiskan nasi goreng sarapan paginya yang memang terlalu ber-minyak itu, Bu Cicih datang.
“Selamat pagi, Bu Cicih,” tegur Lia tersenyum. Semalaman saja tidak melihat Bu Cicih, rasanya Lia sudah kelimpungan. Betapa tidak, perempuan tua Itulah satu-satunya alasan mengapa ia masih berada di sini.
“Selamat pagi,” balas Bu Cicih pula, “Bagaimana, sudah lebih tenang?”
“Ya, Bu. Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih untuk semua kebaikan ini.”
“Tidak perlu repot, Sus Lia. Saya sudah membicarakan keadaanmu kepada Tuan Willy, la tidak berkeberatan. Tinggal saja di sini sampai Sus I ia lebih tenang. Pikirkan rencanamu selanjutnya  saja.”
“Terima kasih banyak, Bu Cicih. Terima kasih,” desah Lia, “apakah tidak perlu saya bertemu langsung dengan Tuan Willy?”
“Tuan Willy masih tidur, Sus Lia.”
“Lho, kalau tidak salah tadi pagi saya melihatnya olah raga.”
“Ya, mungkin ia terlalu letih dan sekarang tidur kembali.”
“Kata Nurlela ia marahmarah, betul?”
“Wah, kurang ajar si Nurlela,” maki Bu Cicih terkejut. “Itu anak memang lancang mulutnya.” Lia tertegun. Ekspresi wajah Bu Cicih tampak serius betul. Jelas benar ia tak suka Nurlela menceritakan itu.
“Biasa saja, Sus Lia. Saya ‘kan sudah beri tahu kalau Tuan Willy memang aneh,” sambung Bu Cicih.
KAMPUS itu masih tetap seperti dulu. Hanya di beberapa bagian tampak bangunan baru. Pohon-pohon palm itu pun masih tegakberbaris sepanjang jalan lingkungan kampus. Kantin semakin banyak. Di beberapa kantin itulah dulu Lia sering nongkrong duduk bersama Burhan. Belasan tahun yang lalu. Ruang Tata Usaha ramai oleh mahasiswa. Lia berusaha minta bantuan salah seorang pegawai. Orang itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. dengan senyum-senyum kecut.
“Tolonglah, Pak. Saya ingin melihat daftar nama dan alamat alumni yang lulus lima atau tujuh tahun yang lalu,” ujar Lia setengah memohon. “Saya bukannya tidak mau membantu, Bu. Tetapi itu berarti saya harus membongkar-bongkar arsip. Saya sedang sibuk benar, Bu.” kata orang itu. “Coba bicarakan dengan bapak yang duduk di pojok sana.”
Dengan sabar Lia menurut saja. Daftar itu perlu baginya. Ia ingin menemui beberapa alumni yang mungkin masih dikenalnya. Siapa tahu bisa membantu. Lia butuh pekerjaan. Lia butuh tempat tlnggal. Dari ‘bapak yang di pojok’ ini pun ternyata Lia disuruh lagi menemui pegawai lain. Kesal memang, terasa dipermainkan. Ah, beginilah Jakarta, pikir Lia. A ku harus belajar sabar di sini. Namanya juga minta tolong, tentu saja tangan kita harus selalu di bawah.
Akhirnya Lia mendapatkan beberapa lembar foto ropy daftar alamat alumni. Sayang, hanya daftar alumni dari mahasiswa angkatan yangberbeda jauh dengan Lia. Tidak satu pun di antara nama-nama itu yang masih dapat ia kenali. Lewat tengah hari ia melangkah keluar dari kampus. Orang di Tata Usaha itu tadi masih menyuruh Lia datang lagi esok pagi. “Untuk apa? untuk dipermainkan lagi? Pikir Lia gemas.
Rasa pening melilit-lilit di seputar kepala. Sementara uap panas meliuk berjoget di atas jalan raya, menyergap tubuh wanita itu ketika lepas dari pelukan bayang-bayang pohon palm yang tumbuh berjajar di sisi jalan. Dulu di seberang jalan ini ada kantin sederhana. Sekarang berkembang menjadi restoran kelas menengah. Lia mampir. Pemiliknya masih Pak Misran. Namun sampai kering kerongkongannya memperkenalkan diri kepada Pak Misran, lelaki tua itu tetap tidak dapat mengenalinya. Lia maklum, sudah belasan ribu orang mampir dan berlalu di sini sejak sepuluh tahun yang lalu. Tidak mungkin Pak Misran mengingat semuanya.
“Maafkan saya, Bu. Semua orang yang pernah kuliah di sini pasti mengenal saya, tetapi tidak mungkin saya mengingat mereka satu persatu?” kata Pak Misran sekaligus bangga.
“Ya, tentu tidak ingat semua Apalagi orang susah macam saya, ya Pak ?” kata Lia setengah mendongkol. “Kalau mahasiswa yang sukses pasti ingat, dong. Yang jadi menteri, jadi konglomerat.”
“O, tentu. Mereka masih sering makan kemari. Sambil bernostalgia  he he he !” tambah Pak Misran, cuping hidungnya kian melebar karena bangga. “Beberapa Menteri masih sering mampir kemari.”
Lucu juga, pikir Lia pula tertawa sendiri. Barangkali Pak Misran ini sering membanggakan bahwasanya bapak konglomerat anu dan menteri anu sudah pernah makan dan minum di sini. Bahkan duta besar polan masih punya hutang di sini. Pak Misran yang pikun. Anak-anak muda yang dulu sering nongkrong atau berpacaran di warungnya sudah banyak yang berhasil dalam hidupnya. Sedang ia sendiri masih sibuk menekuni pekerjaannya membenahi piring-piring bekas makan anak-anak muda generasi berikutnya. Bahkan jenis dan rasa makanannya pun tidak berubah. Begitu-begitu saja. Lewat gedung perpustakaan, perasaan Lia merinding. Di situ ia punya kenangan indah  sekaligus konyol. Dulu ia selalu menghindar dari perpustakaan ini. Sekarang ia yakin tidak ada yang mengenali di sana, karena itu ia ingin sekali masuk membelokkan langkahnya dan masuk.
Semua sudah berubah. Tampaknya ruangan perpustakaan ini sudah pernah direnovasi habis-habisan. Sekarang jauh lebih bagus. Sudah pakai AC. Kursi dan meja baca sudah berganti baru. Lay out Iemari buku dan ruang baca sudah banyak berbeda. Tapi- hah ? Lemari buku paling besar di sudut diruangan itu masih ada. Mungkin karena terlalu besar lemari itu hanya cocok di pojok situ.
Sejenak Lia menahan nafasnya, ingat belasan tahun lalu. Di belakang lemari buku itulah pertama kali Burhan mencuri ciuman darinya. Ya, mencuri sebab sebelumnya tidak ada niat untuk itu. Lia pun tidak menduga Burhan akan melakukan itu. Terjadinya siang hari, sementara mahasiswa -pengunjung yang lain sibuk cari buku. Celakanya, seorang petugas Satpam memergoki. Aduh, nyaris ramai ketika itu.
Sampai kini Lia tidak tahu, entah kata-kata sakti macam apa yang dibisikkan Burhan ke telinga Satpam itu. Atau, jangan-jangan menyogoknya. Sebab setelah itu, Satpam itu tidak ribut lagi. Bahkan mengurungkan niatnya untuk melaporkan kepada pembantu Rektor. Ia hanya meminta mereka segera pergi dari sana. Lia malu. Benar-benar malu. Sejak itu Lia tidak berani lagi datang ke perpustakaan ini. Baru sekarang ia berani, karena yakin tidak ada lagi yang mengenalinya di sini.
Matahari telah bergulir ke peraduannya ketika Lia tiba di rumah. Bu Cicih sudah menunggu dengan keramahan yang membuatnya semakin merasa rikuh. Selesai mandi, di kamarnya telah tersedia pula makan malam. Rasa letih dan lapar tidak membuatnya berselera untuk menghabiskan makanan itu. Ia masih khawatir memikirkan nasibnya esok hari. Belum lagi sederet panjang tanda tanya tentang kebaikan Bu Cicih yang rasanya terlalu berlebihan. Sementara Willy sendiri amat sinis. Mat Sani dan pelayan lain pun tampak menghindari berbicara dengan Lia.
***
MEMANG terlalu sepi. Kelengangan menyekap rumah itu sepanjang hari. Tak ada tawa ria. Tidak ada orang bercanda sampai tertawa terbahak-bahak. Tidak ada yang cekikikan. Tidak ada anak-anak berceloteh gembira. Kata Nurlela, di rumah induk itu ada piano, radio, perangkat audio hingga televisi. Tapi tidak pernah terdengar suaranya.
Semua serba teratur. Jenuh dan membosankan. Kalau pun sesekali ada suara berisik meningkahi kelengangan, itu adalah tawa renyah Bu Cicih yang makin sarat dengan basa-basi. Atau suara kedua anjing yang menyalak dari samping garasi serta teriakan Mat Sani untuk menenangkan.
Lia jenuh mendengar orang selalu bicara dalam bingkai basa-basi. Belakangan ia baru memperhatikan bahwa Neneng dan Nurlela pun tidak pernah berteguran. Semuanya sibuk dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Nurlela sibuk di dapur dan di rumah induk. Neneng sibuk dengan pakaian kotor, sapu plus kain pel. Sedang Mat Sani yang sopir merangkap tukang kebun masih disibukkan oleh  perawatan Pigo dan Bruno, kedua injing herder besar itu. Bu Cicih sendiri hanya keliling-keliling mengawasi. Seperti mandor saja dia. Manakala semua pekerjaan telah selesai, mereka langsung mengurung diri dalam kamar masing-masing. Menutup diri. Seolah-olah ada aturan yang melarang mereka berbicara satu sama lain, terkecuali dalam hal pekerjaan.
Keramahan Bu Cicih pun semakin gersang. Rasanya berlebihan dan terlalu dibuat-buat. Jadinya Lia makin sering salah tingkah. Ia semakin tidak nyaman di sini. Sayang ia belum punya pilihan lain, la belum menemukan tempat lain untuk menumpang untuk sementara waktu ini. Ia tidak ingin menyerah laIu pulang ke Medan untuk menerima hukuman apa pun yang akan ditimpakan orang padanya. Termasuk caci maki dari keluarganya sendiri di Siantar. la benar-benar tidak punya nyali untuk pulang ke sana.
Tidak terasa sudah lebih seminggu sudah Lia tinggal di situ. Setiap pagi ia pergi naik buskota mengitari Jakarta untuk mencari informasi tentang teman-temannya semasa kuliah. Pulang pada sore hari dengan sia-sia. Lia sudah menemui beberapa orang teman lama yang sudah menjadi dosen di kampus itu. Benar, mereka sudah berubah. Mereka tidak mau repot dengan kesulitan Lia. Atau, mungkin saja Burhan sudah menelepon mereka dan menceritakan kebobrokan Lia dengan Hans di Medan.
Lia mengirim surat kepada Rudy – abangnya di Siantar. Lewat surat itu Lia coba minta maaf kepada ibu, abang dan seluruh keluarganya di Siantar. Sekaligus meminta agar keluarganya tidak usah mencemaskanya. Lia mengaku sudah berada di tempat yang aman dan tidak perlu dicari dulu. Dimintanya pula agar kalau ada gugatan cerai dari Bang Burhan, diterima saja. Pendeknya, ia minta tolong segalanya sesuatu mengenai perceraiannya dengan Burhan, biarlah Rudy yang selesaikan. Mengenai harta gono-gini, Lia tidak ingin membicarakannya. Lia juga tidak mencantumkan alamat tinggalnya sekarang.
Lia sudah pula mengirimkan lamaran kerja ke beberapa perusahaan. Ia ingin kerja. Pekerjaan apa pun ia mau asal halal. Tetapi ini juga belum menunjukkan titik terang. Untuk menjadi tenaga sales promotion pun banyak sarjana yang antri. Masih muda, ganteng, cantik, giras dan seksi. Sedangkan Lia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya. Juga sudah tidak muda belia.
Kamar yang Lia tempati berjejer dengan kamar Nurlela. Menutur pengakuan Neneng, Nurlela itu adalah keponakan Bu Cicih sendiri. Di samping  kamar Nurlela berderet kamar Neneng, kamar Mat Sani. Bangunan membentuk siku di sebelahnya adalah dapur, kamar mandi, kandang anjing serta garasi mobil.
Dari sekian kali berbicara dengan Bu Cicih, Lia kemudian mengetahui Willy tidak punya isteri. Padahal umurnya sudah lebih dari cukup untuk  menikah. Lia merasa heran lalu suatu sore memberanikan bertanya kenapa. “Yah, saya juga tidak tahu persis,” sahut Bu Cicih perlahan mengangkat bahunya. Lia menduga Bu Cicih sengaja mengelak. “Tuan Wily juga tidak pernah mau cerita.”
Hal lain yang membuat Lia heran, adalah sikap Bu Cicih yang memanjakan Nurlela. Benar, itu memang keponakannya. Cantik lagi. Kecuali bu Cicih dan Nurlela, tidak seorang pun di antara mereka yang diperbolehkan masuk ke rumah induk. Lia pun t idak pernah diajak masuk ke sana.
Di dalam rumah induk ini pasti semuanya lengkap. Lia menebak-nebak sendiri karena lelaki bule itu tak pernah muncul sampai ke belakang. Itu sebabnya Lia belum dapat kesempatan lagi untuk bicara dengan lelaki itu. Setiap pagi ia sengaja bangun subuh dan berjalan-jalan ke pekarangan depan dengan harapan akan dapat bertemu dengan Willy. Rupa-rupanya Willy melakukan oleh raga pagi hanya sekali- sekali saja.
Walaupun Bu Cicih memintanya santai dan tidak usah sungkan untuk menumpang di situ, Lia tetap merasa tak tenang sebelum berbicara dengan tuan rumah. Berkali-kali hal ini ia utarakan kepada Bu Cicih, tetapi orang tua ini selalu banyak alasan. Tuan Willy sedang sibuk, sedang tidur, pusing atau macam-macam lagi. Lia semakin rikuh. Akan masuk langsung menemui Willy tanpa melalui Bu Cicih, tentu saja tidak berani. Bagaimana pun, Bu Cicih itulah yang membawanya ke rumah itu. Apa pun alasan orang tua itu harus diterimanya mentah-mentah.
Sejak ia menginjakkan kaki di Airport Kemayoran tempo hari, dalam hati sudah bulat tekad untuk bersedia melakukan apa pun. Ia harus berjuang mulai dari nol di Jakarta ini. Maka setiap ada kesempatan ia mulai mengerjakan apa saja yang diperbolehkan oleh Bu Cicih. Mulanya Bu Cicih melarang, namun Lia berkeras.
“Saya tidak biasa berdiam diri, Bu Cicih. Bisa sakit sendiri saya,” kata Lia meyakinkan. Bu Cicih mengalah. Maka mulailah Lia mendapat kesempatan menyapu pekarangan. Membantu Mat Sani merawat tanaman sampai dengan mencuci piring. Pakaian kotornya pun dicucinya sendiri. Lia suka memasak. Sayang sekali, keahliannya dalam hal masak-memasak tidak terpakai di sini. Oleh Bu Cicih tak seorang pun diperbolehkan mencampuri urusan Nurlela di dapur.
“Masak itu tanggung jawab Nurlela,” jawab Bu Cicih sekali waktu ketika Lia menanyakannya. “Di rumah ini Tuan Willy hanya mau makanan yang dimasak oleh Nurlela.”
Mendengar itu Lia tersenyum sendiri. Nyata benar kekuasaan bu Cicih di rumah itu. Dia yang mengatur semuanya. Jika ia sudah marah, semuanya meringkuk ketakutan. Bahkan kedua anjing herder ilu juga terdiam ketakutan bila dibentaknya.
Lia penasaran. Karena menurut pengakuan Bu Cicih, ia hanyalah seorang bekas pembantu rumah tangga. Setelah puluhan tahun dan mendapat kepercayaan penuh, kini Bu Cicih menjadi maharatu di antara para pelayan, dengan Nurlela – gadis cantik kemenakannya menjadi dayang pembantu. Hanya Nurlela dan Bu Cicih yang tahu apa isi rumah induk itu, karena hanya mereka berdua yang boleh keluar masuk ke sana.
Lia yakin, Bu Cicih terlalu melebih-lebihkan kebisaan Nurlela. Entah apa maksudnya. Hampir lak masuk di akalnya bahwa Willy hanya mau memakan masakan Nurlela. Yah, begitulah Jakarta, lagi-lagi Lia mengingatkan dirinya sendiri. Dalam rumah tangga sekecil ini pun diperlukan koneksi. Di sisi lain ia mengagumi keberuntungan Bu Cicih yang ilimulainya dari tingkatan palingbawah, yaitu dari bekas pembantu rumah tangga.
“Tuan Willy tidak pernah datang sampai ke belakang. Entah melihat taman di belakang, ke dapur atau …. ya sekedar melihat-lihat. Lalu bagaimana ia bisa tahu siapa yang memasak makanan yang dihidangkan kepadanya?” tanya Lia berlagak bercanda, walau sebenarnya ia tidak bermaksud usil mengungkit-ungkit itu. “Ya. Selalu dia tahu.”
“Ooo,” Lia bergumam. “Itulah susahnya melayani Tuan Willy Dengan mencium baunya saja ia akan dapat membedakan masakan Nurlela atau bukan. Sedikit saja mencurigakan maka makanan itu bukan saja tidak dimakan, tetapi akan melayang lewat jendela.”
“Wah, wah. Lalu bagaimana kalau Nurlela berhalangan, misalnya sakit?”
“Apa boleh buat. Saya harus masuk dapur menggantikannya.”
“Tuan Willy mau makan ?”
“Oh, justru itu sebenarnya yang dia suka. Untuk hari-hari khusus, misalnya ulang tahun atau Natal, dia mau saya yang memasak.”
“O, begitu,” Lia mengangguk-angguk. Terasa olehnya Bu Cicih kurang senang dikejar-kejar dengan pertanyaan yang demikian. Tetapi sengaja ia terus ber tanya. “Bagaimana kalau Tuan Willy pergi berlayar, siapa yang memasak untuk dia?”
“Itu lain soal. Begitu pun Nurlela selalu menyediakan dendeng banyak-banyak untuk bekal di kapal,” tambah Bu Cicih. Seringkali terlintas dalam pikiran Lia bahwasanya Willy itu memang benar-benar sinting. Ia Cuma seorang pelaut biasa  tetapi rumahnya begitu besar dan megah. Barangkali biaya pemeliharaanya  saja sudah lebih dari penghasilannya sebagai pelaut, kecuali jika ia punya penghasilan lain.
“Mungkin ia punya deposito atau semacamnya,” piker  Lia. ‘Lalu kenapa iamau menyiksadiri dengan  bekerja di lautan lepas padahal kekayaannya cukup untuk dinikmati tanpa susah payah bekerja? Apalagi tidak punya anak isteri, dan kenapa pula ia tidak in,mau menikah? Kenapa hanya suka dilayani Nurlela Atau Bu Cicih sendiri?”
Ah, masa bodoh ! Lia kemudian membuang lemua pertanyaan itu jauh-jauh dari benaknya. “Itu bukan urusanku. Aku sudah cukup bersyukur jika masih diperbolehkan menompang di rumah itu. Sampai ada kepastian mengenai apa yang harus aku lakukan di Jakarta ini.”
Ada suatu pekerjaan yang Lia belum pernah lakukan seumur hidup, yakni mengurus anjing. Binatang ini paling dibencinya karena menurut pendapatnya sering diperlakukan berlebihan. Ia pernah melihat tetangganya di Siantar memelihara anjing. Makanannya mahal, impor dari luar negeri dan belinya pun hanya bisa di toko-toko yang khusus menjual makanan anjing. Ada orang yang digaji khusus untuk mengurus anjing. Itu berarti bukan orang itu yang memberi anjing makan, tetapi justru sebaliknya. Ironisnya, semakin jinak pada tuannya, anjing justru semakin galak pada orang lain. Huh !
“Pigo dan Bruno sebenarnya baik. Mereka hanya belum mengenalmu,” kata Mat Sani. “Anjing itu punya perasaan yang tajam. Ia bisa tahu orang berniat jahat atau tidak. Juga tahu orang menyukainya atau tidak.”
“Mungkin saja,” sahut Lia. Barangkali kedua anjing itu tahu Lia tidak menyukai mereka. Sebab sejak pertama Lia tiba di sana kedua binatang itu selalu menggeram dan menyalak garang setiap kali melihat Lia. Sikapnya tidak pernah bersahabat.
“Mengurus anjing tidak boleh ragu-ragu. Harus yakin benar bahwa ia akan tunduk pada kita. Saya juga begitu waktu pertama mengurus Pigo dan Bruno,” lalu menunjukkan bekas luka di tangannyn, “Ini bekas gigitan Pigo. Tapi setelah itu mereka jinak betul pada saya.”
“Ya. Kapan-kapan kalau saya sudah berani, saya  mau mendekati mereka.”
“Kalau mau, coba saja beri mereka makan. Pasti mereka akan menurut nanti.” Itu percakapan dengan Mat Sani beberapa hari lalu. Sore ini entah kepingin menguji keberaniannya atau memang mau bunuh diri saja, ia minta izin Bu Cicih untuk memberi makan binatang itu.
“Coba saja. Tapi dari luar kandang saja,” sahut Bu Cicih acuh tak acuh, tidak yakin kalau Lia akin benar-benar melakukannya. “Nanti minta bantu Mat Sani.”  Tetapi Lia bersungguh-sungguh. Ia ingin tantangan. Ia bukan lagi tamu di sini, melainkan seseorang yang sesungguhnya sedang menikmati  belas kasihan saja. Ia harus tahu diri. Selain itu  jengkel anjing itu selalu menyalak setiap kali melihatnya. Suara mereka menggelegar memecahkan  kelengganganhingga ketetangga dikawasan elite itu. Lia malu sendiri. Sekarang ia putuskan untuk mengikuti saran Mat Sani. Tundukkan saja mereka tidak lagi berani kurang ajar.
Lia benar-benar nekad. Sore ini Mat Sani menemaninya ke dekat kandang anjing. Melihat Lia, jauh kedua anjing itu telah menyalak memekakan telinga. Terutama si Pigo yang betina, galaknya tidak tanggung-tanggung. Giginya yang tajam selalu dipamer seiring geramannya yang menakutkan. “Mungkin dia cemburu,” kata Mat Sani bercanda.
Lia nekad minta dibukakan saja pintu kandangnya, asalkan kedua anjing itu dirantai. Kemudian minta Mat Sani bersembunyi, jangan terlihat oleh anjing itu. Menurut pendapatnya, anjing itu tidak akan mau patuh pada siapa pun kalau ada tuannya. Mat  Sani tidak setuju. Namun Lia berkeras ingin mencobanya sendirian hingga Mat sani mengalah. Lelaki ini bersembunyi di balik pintu kamar mandi dan mengawasi dari sana.
Lia mendekat. Mulai berkeringat dingin sekujur tubuhnya. Langkah kaki gemetar namun tetap nekad mendekat. Sambil tangannya menenteng ember  plastik tempat makanan binatang itu. Ia coba percaya pada rantai yang membelenggu leher kedua anjing  yang beringas itu.
“Pigo,” panggilnya mesra. “Diam, sayang. Kita berteman saja. Ehm kau juga diam, Bruno. Aku mau berteman dengan kalian.”
Pigo yang betina kontan memberontak dengan beringas. Bruno juga. Taring-taring putih tajam mencuat keluar dari mulut mereka yang begitu besar. “Tenang, Pigo, aku tidak kepingin merebut pacarmu yang gagah ini. Jangan cemburu. Aku – aku hanya ingin berteman saja dengan kalian,” tambah Lia. “Aku juga tidak ingin merebut Mat Sani dari kalian. Dia itu milik kalian.”
Mat Sani tertawa sendiri mendengar itu dari balik pintu kamar mandi. Suara Pigo dan Bruno menggonggong sangat keras membuyarkan kelengangan kawasan Menteng ini. Keduanya meronta sekuat tenaga dan menghentak-hentakkan rantai yang membelenggu leher mereka. Langkah kaki Lia mulai ragu, kalau saja rantai itu terenggut putus, ia tak akan sempat lagi menghindar dan akan tamatlah riwayatnya di mulut besar binatang itu.
“Tidak, aku tak akan menyerah,” kata hati Lia geram. Sekarang kalian boleh menggonggong sekerasnya. Sesudah itu kalian harus menurut. Kalian harus berhenti mempermalukan aku. Harus diam menunduk setiap kali aku lewat!”
Sering kali di sepanjang hidup, dari hari kehari orang hanya berkutat dalam arak-arakan kemelut. Kepahitan demi kepahitan sambung menyambung. Lia tidak takut. Ia sudah bertekad akan menghadapi apa pun untuk dapat menggapai tempat berpijak di Jakarta ini.
“Tuhan Yesus, aku pasrah jika Engkau ingin semuanya harus aku mulai dari sini. Aku tidak akan mundur. Ini cuma anjing. Belum seberapa dibandingkan dengan kebuasan orang di kota besar ini,” pinta  Lia dalam hati.
Piring tempat makan kedua anjing itu terseret lebih dekat dengan kaki Pigo. Lia harus mengambilnya. “Sudahlah, Pigo, sakit sekali mendengar suaramu. Kamu itu betina tapi suaramu malah lebih keras dari jantanmu Bruno. Aku cuma mau mengantarkan makananmu. Diamlah sebentar. Sini, aku ambil piringmu dulu.”
Namun Pigo menjawabnya dengan geraman buas sambil meronta sekuatnya. Bruno menggonggong keras, juga meronta. Lagi-lagi Lia masih percaya pada kekuatan rantai itu. Tetapi Lia mulai hilang kesabarannya, sebab sedikit pun ia tidak diberi kesempatan untuk mendekat mengambil piring khusus tempat makan dekat kaki binatang itu.  “Diam!” bentak Lia kemudian. Nafasnya tersengal. “Mundur sedikit!”
Ia nekad memberanikan diri mendekat. Semakin dekat. Tiba-tiba si Pigo berhasil menyambar ujung roknya. Lia terkejut panik lalu mundur menarik roknya. Tetapi tenaga Pigo tidak kalah, mereka bertarik-tarikan sementara Bruno yang rantainya lebih pendek seakan tak sabar menunggu sampai Pigo berhasil menarik perempuan itu lebih dekat.
“Pigo !!” bentak Lia setengah menjerit. “Lepaskan! Oh, jangan!”
“Pigo ! Jangan !” Mat Sani berteriak dan segera berlari menolong Lia yang nyaris kalah dalam tarik-menarik itu. Ia menarik lengan Lia sambil membentak kedua anjing itu. Dan, bresett!! Rok panjang Lia tersobek besar. Sobek hingga jauh di atas lututnya.
Lia gemetar ketakutan. Tenaganya sudah mulai lemah ketika Mat Sani persis datang. “Terima kasih, terima kasih”, desisnya tersendat, sambil berusaha menutupi pahanya. Mat Sani sendiri salah tingkah melihat apa yang tersibak di balik sobekan rok itu. Merah mukanya.
Sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa cekakakan dari jendela samping yang berhadapan dengan kandang binatang itu. Lia menoleh dan tampaklah di ambang jendela sesosok tubuh besar sedang tergelak-gelak ke arahnya. Itu Tuan Willy. Rupanya ia sudah sedari tadi berdiri di sana dan diam-diam saja. Memperhatikan si Pigo menerkam Lia.  Lia terkesiap. Sisa-sisa ketakutan masih mencekam sementara lelaki itu semakin tertawa keras-keras.
“Bu Cicih! Bu Cicih!” panggil Willy kemudian. “Ya, tuan. Saya sedang mandi!” terdengar Bu Cicih menyahut dari dalam rumah induk.
“Kom hier, vlug! Kijk is een, Pigo heeft die kuntilanak!  (Cepat ke sini. Lihat itu si Pigo dapat kuntilanak !”)
“Wat?” tanya Bu Cicih pula. “Apa?”
“Er is een kuntilanak dear Pigo gebeten. (Ada kuntilanak diterkam si Pigo!)”
Mendengar itu darah Lia mendidih. Walaupun samar-samar, ia masih bisa mengartikan bahwasanya ia disebut sebagai kuntilanak. Tubuhnya bergetar hebat terbakar emosi lalu berdiri sambil memegangi ujung  gaunnya yang sobek.
“Vervbekte hond ! Je bent net a;s jouw meester ! Onbeschoft !” balas Lia pula memaki dalam bahasa Belanda sambil menendang ember plastik tempat makanan anjing itu. (“Anjing terkutuk! Kamu sama saja dengan tuanmu! Biadab!”)
Willy terkejut. Sedikit pun ia. tak menyangka kalau Lia yang keturunan Tionghoa itu bisa mengerti bahasa Belanda. Bahkan sudah balas memaki serta menyamakannya dengan kedua anjing itu. Ia terbungkam. Matanya menyipit, menatap tubuh Lia yang berlari masuk ke kamarnya. Senekad apa pun, Lia tetap seorang perempuan. Ada hal-hal membuatnya tidak mampu membendung air matanya. Ia masuk ke kamar dan membenamkan tangisnya di atas bantal. Lama ia begitu. Setelah itu ia perlahan-lahan bangkit dan berkemas. Ia ambil putusan untuk pergi saja dari sini.
“Keterlaluan lelaki sin ting itu. Aku sudah nyaris mati dicabik-cabik kedua anjing itu, ia masih bisa tertawa terbahak-bahak dan menyebut aku kuntilanak ! Menjadi gelandangan di kolong jembatan ternyata masih lebih punya harga dibanding orang-orang di rumah ini!”
Bu Cicih menyusul ke kamar Lia. Rambutnya masih basah. Ia minta maaf. “Saya dengar Pigo dan Bruno ribut. Tapi saya sedang keramas. Tidak bisa buru-buru membantu. Tapi tidak sampai luka, ‘kan ?”
“Tidak, kulitku memang tidak terluka.”
“Syukurlah.”
“Ya, kulitku tidak terluka, tetapi di sini … !” desah Lia jengkel sambil menunjuk dadanya sendiri. “Tuanmu itu keterlaluan! Manusia macam apa dia ? Diam-diam saja ia membiarkan anjingnya menerkam aku. Malah tertawa cekakakan. Satu lagi, Bu Cicih, kalau dia sebut aku kuntil anak  dia itu apa?  Perlu aku sebut ?”
“Ah, maafkan, Sus Lia. Dari semula saya sudah beri tahu Sus Lia kalau dia begitu. Jangan di bawa ke hati.”
“Ya, tapi saya baru tahu kalau dia segila itu.”
“Yah, Sus Lia, jangan katakan itu. Dia tidak gila,” Bu cicih tampaknya tidak suka. “Lalu, Sus Lia mau ke mana sekarang? ”
“Saya mau pergi saja, Bu Cicih”, sahut Lia sambil melipat bajunya yang terakhir masuk di kopor.
“Ke mana Sus Lia akan pergi? ” Lia terperangah. Ya, ke mana? Ke mana akan pergi?
“Ke mana saja,” desis Lia lirih seakan berkata kepada dirinya sendiri. “Aku tidak tahu. Tetapi aku harus pergi dari sini.” Bu Cicih terdiam sejenak. Menarik nafas panjang-panjang. Ia coba meredam resah dan getir  didalam diri Lia. Ia mengerti betapa tuannya itu telah melukai hati perempuan ini.
“Sus Lia,” ujarnya lemah sambil mendekap bahu Lia. “Kau harus sanggup mengatasi hal seperti ini hi la kau ingin tetap hidup. Kita ini perempuan. Kita lemah. Cobalah berpikir dengan tenang. Jangan terjebak emosi. Mau kemana Sus Lia pergi sesore ini? Mau cari celaka di jalanan sana?”
“Aku tidak perduli.”
“Jangan begitu. Lihat saya, Sus Lia. Saya sungguh-sungguh ingin menolongmu. Tinggallah di sini.  percayalah, Tuan Willy sangat baik, walau di luarnya terasa kasar. Kalau dia tidak baik, sejak awal ia tidak akan biarkan Sus Lia menginap di sini,” tambah Bu Cicih serius.Lia menatap mata orang tua itu, lalu menggelengkan kepalanya pelan pelan.  “Kenapa Bu Cicih mencegah saya pergi?”
“Saya tidak punya keuntungan apa-apa. Saya cegah hanya karena Sus Lia sendiri tidak tahu kemana akan pergi! Karena saya tahu tidak seorang pun akan dapat menolongmu saat ini,” sahut Bu Cicih tegas. Tanpa basa-basi, berbeda dengan gaya bicaranya kemarin.
Kini Lia berganti membisu. Orang tua ini cerewet amat sangat terhadap pelayan di rumah itu. Sementara kepada Lia penuh keramahan yang terkesan basa-basi. Tetapi sekarang Lia sungguh merasakan kelembutan dan keteduhan hati dari seorang tua yang benar-benar orang tua. Lalu ia menyusut air di sudut matanya. “Bu, sampai kapan aku boleh tinggal di sini?” tanya Lia kemudian.
Bu Cicih tersenyum. Ditepuknya bahu Lia dengan bijak. “Sampai Sus Lia bisa hidup di luar rumah ini, ” kata Bu Cicih datar. “Entahlah, Bu Cicih. Terima kasih. Tetapi Tuan Willy itu keterlaluan.”
“Jangan terlalu memanjakan hatimu, Sus Lia. Tidak banyak manfaatnya. Pokoknya ia tidak akan mengusirmu selama saya masih ada di sini,” kata Bu Cicih kemudian sambil membuka pintu hendak berlalu. “Nah, ganti bajumu. Nanti biar dijahitkan sama Neneng.”
“Tunggu dulu, Bu Cicih,” sergah Lia. “Anjing itu belum jadi saya beri makan.”
“Biarlah, itu pekerjaan Mat Sani. Seharusnya kau tidak mendekatinya tadi. Mereka belum mengenalmu dengan baik.”
“Memang,” tambah Lia tiba-tiba timbul niat untuk meneruskan usahanya memberi makan anjing itu, selagi Bu Cicih ada bersamanya. “Saya ingin meneruskan memberi mereka makan, Bu Cicih. Kepalang tanggung, Pigo sudah merobek baju saya.”
“Ha ha ha,” Bu Cicih tertawa. “Kau ini perempuan keras kepala. Saya suka perempuan yang tidak lekas menyerah. Ayolah, kalau masih berani.” Setelah mengganti roknya yang sobek, Lia keluar lagi bersama Bu Cicih. Mengambil makanan dan berjalan ke kandang anjing itu.
“Sus Lia,” bisik Bu Cicih. “Kau cantik. Tubuhmu bagus. Saya memperhatikan semua itu ketika Sus Lia mengganti baju. Sayang sekali kalau Sus Lia tidak menikah lagi.”  Lia tersipu-sipu namun sesaat kemudian cepat-cepat mengalihkan pembicaraan: “Lho, kenapa mereka tidak menyalak lagi?”
“Hmm, soalnya ada saya,” sahut Bu Cicih mengerti bahwa Lia kurang senang membicarakan perkawinannya. “Mereka ini sebenarnya baik dan mudah dijinakkan. Jangan ragu-ragu, Sus Lia.” Bu Cicih menghampiri dan mengusap kepala Pigo dan Bruno. Kedua anjing itu senang dan mengibas-ngibaskan ekornya menyambut.
“Hebat,” pikir Lia. “Tatap mata Bu Cicih saja sudah cukup untuk menjinakkan mereka. Oke, kalau Bu Cicih bisa, kenapa aku tidak ?”
“Ayuh, Sus Lia. Jangan ragu-ragu. Sini, mendekat ke sini. Elus kepalanya dan mereka akan selamanya baik terhadapmu.”
“Ya, nanti dulu. Saya masih takut.”
“Pigo, Bruno,” Bu Cicih menegur kedua anjing itu. “Sus ini sahabat kita yang baru. Sus Lia namanya. Jangan diganggu, ya? Pigo mengerti?”  Lia semula ingin tertawa mendengar Bu Cicih memperkenalkannya kepada anjing itu. Tetapi kemudian ia kagum. Binatang itu mengeluarkan suara merengek manja seakan menjawab sambil tetap mengibas-ngibaskan ekornya.
“Pigo, Bruno,” kata Lia pula menirukan suara Bu Cicih. “Saya mau jadi teman kalian. Saya mau kita berdamai.”  Pigo menoleh dan darah Lia tersirap. Ia siap untuk lari menjauh. Bu Cicih berjongkok sambil memeluk leher kedua anjing itu. Setelah menuangkan makanan di piring besar masing-masing anjing itu, Lia memberanikan diri mendekat.
“Jangan ragu, Sus Lia,” Bu Cicih memberi semangat. “Tundukkan Pigo lebih dulu.”
Kedua anjing itu makan dengan lahap. Tampaknya Pigo si betina memang lebih galak. Sementara Bu Cicih masih memeluk Pigo, Lia mendekat. Ia mengelus kepala si Pigo dan anjing betina itu diam saja, tetap melahap makanannya.  “Ah, Pigo sayang. Kau membuatku ketakutan tadi. Tetapi kau tidak akan melakukannya lagi, bukan?” bisik Lia masih takut-takut.
“Teruskan, biar saya menjauh sedikit Saya awasi dari luar kandang saja,” kata Bu Cicih kemudian. “Sebenarnya binatang ini lebih gampang diatur daripada manusia”.
“Betul, Bu,” sahut Lia tertawa kecil. “Terutama manusia macam Tuan Willy.” Perempuan tua itu tertawa kecut. Terdengar mi.iia Willy memanggil dari rumah induk. Bu Cicih miiita diri akan masuk ke rumah induk.  “Ayuh, tinggalkan saja., Sus Lia. Saya mau ke dalam.”
“Ya. Saya mau coba di sini sebentar lagi tampaknya Pigo dan Bruno mulai menurut,” tukas Lia dan kemudian cepat-cepat menahan langkah Bu Cicih. “Saya sudah mengirimkan lamaran kerja kepada beberapa kantor dengan alamat rumah ini. Siapa tahu ada jawabannya dan kesasar ke tangan Tuan Willy, tolong ya, Bu Cicih.” “O-ya, tentu saja.”
“Terima kasih, Bu Cicih.”
Bu Cicih beranjak ke rumah induk. Kendati anjing itu sudah tidak menggonggong ke arahnya, Lia belum berani sendirian di dekat mereka. Maka Lia pun segera kembali ke kamarnya.

Bersambung ke Bab 5

22 Juli 2011 - Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: