Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

lia natalia (bab 6)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 5

Bab 06

HUJAN yang turun sejak pertengahan November seolah tidak akan henti-hentinya. Jakarta di beberapa tempat mulai banjir. Udara dingin dan lembab berhari-hari sementara kondisi Bu Cicih semakin memburuk. Tubuhnya kian kurus, pucat dan lemah.Dalam tidurnya pun ia sering mengigau tidak jelas.

Atas permintaan Willy setiap malam Lia tidur di kamar Bu Cicih – di rumah induk. Sepanjang siang Lia juga menemaninya. Ia menggelar tikar di atas Iantai dan di sanalah ia membaringkan tubuhnya sejenak bila Bu Cicih sudah terlelap dalam dalam tidurnya.

Tetapi alangkah sulitnya untuk tidur. Rasa takut kehilangan Bu Cicih rasanya sama besar dengan apa yang dirasakannya ketika kehilangan ayah kandungnya belasan tahun lalu. Sebab saat ini ia tidak punya siapa pun untuk tempat berteduh. Seperti apa pun misteriusnya Willy, beberapa bulan bersama Bu Cicih membuatnya mulai betah di sini. Ibu tua itu sudah mengajarinya bagaimana harus tidak perduli dengan Willy, sama seperti Willy yang tidak pernah perduli orang lain.
Tengah malam perempuan tua itu mendusin dan Lia tersentak bangun. “Huk. . . huk. . . ! Batuk keparat!” Bu Cicih menggerutu sambil mendekap dadanya. “Obatnya sudah diminum, Bu Cicih?”
“Sudah. Ah, saya sudah bosan makan obat. Nggak ada gunanya. Seluruh tubuhku rasanya semakin sakit berdenyut-denyut. Bernafas pun sesak sekali,” tambah Bu Cicih mengeluh panjang.
Lia mengambil minyak gosok dan mengusapkannya di dada dan punggung Bu Cicih. Perempuan tua itu sudah terbaring sakit lebih dari tiga minggu. Menurut dokter penyakitnya sudah macam-macam. Tubuh tuanya itu sudah semakin rapuh. Ditambah lagi dengan pukulan bathin atas kehamilan Nurlela.
Hampir setiap hari ia mengeluh dan menghujat kemenakannya yang teledor itu. Tampaknya kejadian itu ikut menambah parah penyakitnya. Namun demikian, bagaimana pun ia dipaksa tetap saja tidak mau kembali ke rumah sakit.
“Saya ingin mati di sini saja. bukan di rumah sakit” katanya. Sehingga terpaksa dokter yang datang setiap hari ke rumah untuk mengawasi kesehatannya. “Sus Lia, lebih dekat kemari,” kata Bu Cicih kemudian. “Ada yang hams Sus Lia ketahui sebelum nyawaku direnggut dari tubuh bobrok ini.” Lia mendekat. Heran. Tampaknya Bu Cicih serius betul.
“Saya sudah tua, Sus Lia. Ternyata keinginan yang terakhir bagi seseorang di hari tua adalah meninggal di antara anak-anak yang mencintainya,” kata Bu Cicih lemah dan sejenak terputus oleh batuk-batuk. “Tetapi Sus Lia lihat saya tidak punya apa-apa. Anak-anak saya entah di mana. Bekas suami saya juga begitu. Tidak ada yang perduli mati liidupnya saya ini.”
“Tidak pernah komunikasi sama sekali ?” tanyaLia. “Sudah beberapa kali Tuan Willy mengirim surat kepada mereka tetapi tak seorang pun yang datang menjengukku. Membalas surat itu pun tidak.”
Perempuan tua itu terengah. Sejenak berhenti bicara untuk mengumpulkan tenaganya. Lia masih menunggu sambil matanya nanar menatap wajah berkerut-kerut itu.
“Begitulah. Akhirnya saya merasa justru majikan saya Tuan Willy inilah anak saya yang sebenarnya. Dia yang memperhatikan saya di hari tua ini. Ialah permata hatiku. Bagiku, anak-anak kandungku hanya menumpang lewat saja melalui rahimku.”
“Ah, Bu Cicih terlalu banyak memikirkan yang jelek-jelek,” selak Lia luruh mendengarnya. “Sus Lia bilang begitu karena tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan. Sungguh, Sus, andaikan saya tahu akan begini, mereka tidak saya biarkan lahir lewat rahimku.”
“Ah, jangan berkata begitu, Bu Cicih. Saya mengerti. Saya bisa merasakan apa yang Bu Cicih rasakan. Menurut saya, bicara seperti itu sungguh tidak pantas. Semua anak-anak itu milik Tuhan. Tuhan yang memilih Bu Cicih untuk melahirkan mereka. Bukan sebaliknya, bukan mereka yang memilih Bu Cicih jadi ibu mereka,” tukas Lia perlahan. “Maaf, Bu Cicih tentu lebih faham dari saya. Bukan saya mau sok tahu memberi nasehat. Hanya mengingatkan, agar kita berserah diri saja pada Tuhan. Dia yang mengatur apa yang terbaik untuk Bu Cicih.”
“He he, Sus Lia boleh juga,” Bu Cicih coba tertawa. “Terima. kasih, Sus Lia. Saya senang mendengarnya.. Lalu, apakah Sus Lia merasa sakit hati atas perlakuan Tuan Willy selama, ini?”
“Tidak, Bu Cicih. Ternyata Tuan Willy sangat baik.”
“Ah, Sus Lia kurang pintar berbohong.”
“O-ya ? Kalau begitu, kenapa Bu Cicih masih bertanya?” Bu Cicih gelisah. Coba mengangkat kepalanya. Lia segera membantu menambah bantal di bawah kepalanya. Setelah itu beberapa lama Bu Cicih terdiam, seakan mengumpulkan kenangan dari masa lalunya.
“Saya ingin Sus Lia dengar cerita ini, ” tutur Bu Cicih kemudian. “Tuan Willy masih kecil ketika ayahnya meninggal. Tuan Coenraad – ayah Tuan Willy mempunyai beberapa orang saudara yang kemudian mencoba mencampuri soal warisan. Lalu ribut dengan nyonya Coenraad sampai mereka semuanya pulang ke negerinya di Belanda.”
“Jadi Tuan Willy tidak punya saudara?”
“Punya. Tetapi di Belanda semua. Willy itu keras kepala,” tambah Bu Cicih. Sejak kecil Tuan Willy kepingin jadi pelaut. Ibunya melarang tetapi dia berkeras. Maka jadilah ia berlayar. Berikutnya ia dijodohkan dengan Malinda. Seorang gadis Indo -Maluku. Cantik sekali seperti Sus Lia.”
Suara Bu Cicih semakin perlahan tetapi tidak sampai menghentikan niatnya untuk terus bercerita. Willy sering berlayar sampai berbulan-bulan lamanya. Sebegitu Malinda masih setia menunggunya. Namun karena terlalu bebas bergaul dengan perempuan kotor di kota-kota pelabuhan setiap mereka singgah, akhirnya Tuan Willy mendapat penyakit kotor.”
“Wah,” Lia terperangah. “Entah penyakit apa. Pokoknya penyakit kotorlah,” sahut Bu Cicih sambil batuk-batuk kecil. “Apalagi kemudian Malinda meninggalkannya. Gadis itu kawin dengan orang lain. Yah, saya juga tidak bisa menyalahkan Malinda. Ia merasa dikhianati. Ia malu. Ia takut ketularan dan … entah apalagi alasannya.”
“Lalu Willy patah hati dan tidak mau menikah lagi. Begitu?” Lia coba menebak.
“Bukan. Bukan hanya itu,” sambung Bu Cicih “Berminggu-minggu ia sakit di tengah laut tanpa perawatan yang benar, sehingga penyakit kotor Tuan Willy sudah sempat begitu parah. Hingga akhirnya kelelakiannya rusak.”
“Heh ? Rusak? Maksudnya bagaimana, Bu Cicih?”
“Ia tidak bisa kawin lagi,” kata Bu Cicih seakan berbisik, “tidak bisa berfungsi lagi.”
“Impoten, Bu Cicih?” bisik Lia tapi matanya membelalak. “Ya, begitulah. Tuan Willy sudah berobat ke mana-mana. Sudah diusahakan mulai dari yang tradisional dan pengobatan modern. Sampai ke luar negeri. Selalu sia-sia. Ia tidak mungkin lagi menikah.”
“Ooo,” Lia bergumam panjang. “Penyakit kotor yang memalukan. Ditinggal kawin oleh Malinda. Lalu, dua tahun kemudian ibunya juga meninggal. Semua itu membuatnya frustrasi berat.”
“Tetapi saya pernah mendengar ……. !” Lia tersentak. Kata-katanya terputus, tak sampai hati mengutarakan kecurigaannya akan kehamilan Nurlela.
“Beberapa dokter menyarankan agar ia tetap berusaha. Mereka bilang masih ada kemungkinan untuk sembuh,” Bu Cicih menambahkan lagi dengan suaranya yang makin luruh. “Mungkin saya salah, tetapi niat saya baik. Saya ingin bantu menyembuh-kannya. Karena itu bertahun-tahun Nurlela keponakan saya sendiri saya minta untuk membantunya. Siapa tahu bisa sembuh.”
Ya, Tuhan ! Jadi inilah jawabannya. Lia menggelengkan kepalanya. Benar-benar ia tidak menduga seperti itu skenarionya diatur oleh Bu Cicih sendiri. “Hasilnya tetap nihil. Ah, kasihan Nurlela. Sebenarnya ia adalah anak orang cukupan dikampungnya. Saya yang panggil kemari untuk mencoba menyembuhkan Tuan Willy namun selalu gagal. Sialnya, ia mungkin bosan lalu iseng dan malah hamil oleh Mat Sani.Ooh, semua ini kesalahan saya. Mereka terpaksa kawin. Kasihan Neneng. Ia sangat mencintai Mat Sani.”
“Bu Cicih,” sergah Lia penasaran. “Saya memang pernah mendengar suara Nurlela dari kamar Willy. Saya sebenarnya sudah lama ingin ceritakan itu pada Bu Cicih.”
“Ya, Nurlela cerita juga pada saya. Ia tahu Sus Lia ke rumah induk. Tolong dimaklumi, Sus Lia, karena itulah saya tidak mengizinkan orang lain masuk ke rumah induk ini. Memang kedengarannya sangat menjijikkan. Nurlela melakukan itu atas permintaan saya. Saya ingin Tuan Willy sembuh. Sayang semua sia-sia belaka.”
Lia menarik nafas dalam-dalam. Hampir tak dapat dipercayainya bahwa tubuh lelaki yang kekar kokoh itu tidak bisa menikah. Sampai berdenyut sakit kepalanya memikirkan berbagai pertanyaan yang sebenarnya sudah terjawab itu.
Sebaliknya Lia mulai menebak-nebak mengapa Bu Cicih rela mengorbankan kemenakannya sendiri. Bukan tidak mungkin ada rencana besar di belakang itu. Lia membayangkan seandainya lelaki itu berhasil disembuhkan maka ia akan menikah dengan Nurlela. Lalu seluruh warisan itu akan jatuh ke tangan Nurlela. Ah, Bu Cicih tentu bukan malaikat. Ia manusia biasa. Ia ingin harta Willy tidak jatuh ke tangan sanak saudara Willy yang selama ini tidak mau perduli. Sejak mendengar Willy sakit karena penyakit memalukan dan terkutuk itu, mereka lenyap bagai ditelan bumi.
Bu Cicih juga masih membisu. Matanya yang cekung tampak berbinar lega setelah menuturkan perihal majikannya yang agaknya sudah bertahun-tahun membebani jiwanya.
“Saat ini saya tidak berdaya apa-apa lagi,” tambah Bu Cicih lemah. “Nurlela sudah gagal dan malah hamil oleh tukang kebun. Huk… huk …!” Bu Cicih terbatuk-batuk panjang dan Lia segera mengurut dadanya.
“Sudahlah, Bu Cicih sudah terlalu lelah.”
“Tidak apa-apa, Sus Lia. Rasanya saya tidak rela mati sebelum melihat Tuan Willy berbahagia. Saya ingin melihatnya punya isteri dan anak-anak sebelum saya mati,” terdengar Bu Cicih mengeluh panjang lalu terdiam sambil memejamkan matanya.
“Bu Cicih! Bu Cicih !” pekik Lia cemas dan perempuan itu kembali membuka matanya.
“Jangan panik, Sus Lia. Saya belum akan mati sekarang. Masih banyak yang ingin saya ceritakan,” sahut Bu Cicih. “Kalau saya boleh minta nanti sekiranya Tuhan memanggil saya, Sus Lia mau tinggal di rumah ini?”
“Ah, Bu Cicih, itu terlalu jauh. Buang saja pikiran Itu. Bu Cicih harus segera sembuh.”
“Ya, maafkan saya, Sus Lia. Saya asal bicara saja. lapi saya senang. Saya lega bisa menceritakan semua ilu pada Sus Lia.”
“Sudahlah. Lebih baik Bu Cicih beristirahat.”
“Ya, saya mau beristirahat saja.” Beberapa saat Lia masih menunggu sampai oicing tua itu tertidur, sambil benaknya mencoba mengartikan perkataan ‘beristirahat’ yang baru saja diucapkan oleh Bu Cicih. Timbul kengerian dalam ungkapan ini. Terkadang ‘beristirahat’ adalah istilah yang diperhalus untuk kematian. Akhirnya ia gelisah sendiri, takut kalau-kalau Bu Cicih akan ‘beristirahat’ benar-benar malam ini.
Setelah yakin orang tua itu telah terlelap ia cepat-cepat keluar. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, selain nekad menuju kamar Willy. Ia tidak punya sisa keberanian untuk sendirian menunggui perempuan tua yang tampaknya semakin parah itu. Ia takut kalau-kalau Bu Cicih akan meninggal.
Di kamarnya, rupa-rupanya lelaki itu pun tidak dapat tertidur. Dari pintu kamar yang setengah terbuka, ia tampak sedang serius menulis sesuatu. Lia mengetuk pintu. “Masuk saja!” sahut Willy dengan suara yang parau.
Lia mendorong daun pintu sampai terbuka lebar. Tetapi ia tidak mau masuk. Tampak olehnya kamar tidur Willy yang begitu luas. Masih sangat resik dan rapi. Padahal Lia tahu sejak Bu Cicih sakit, tidak ada yang membantunya membersihkan kamar itu. Itu berarti Willy sendiri yang merapikannya. Lia sendiri belum pernah mau masuk. Menyentuh daun pintu itu pun ia baru sekali ini.
“Saya mau bicara, Oom,” kata Lia.
“Ya, masuk saja..”
‘”Ck!” mulut Lia berdecak. Berkeras tidak mau masuk. Dulu ia menilai lelaki ini sebagai orang yang sangat sombong, sinis dan menakutkan. Setelah mendengar penuturan Bu Cicih penilaiannya mulai berubah. Ada rasa jijik bercampur kasihan. Jijik karena penyakit kotor akibat perbuatannya yang terkutuk di sembarang tempat selama berlayar. Sekaligus kasihan karena lelaki ini benar-benar bukan lagi laki-laki.
Ia memutuskan untuk masuk saja sampai sebatas pintu. Sekalipun Bu Cicih sudah ceritakan semua, tetap saja ia risih masuk ke kamar lelaki bule ini. Masih ada perasaan takut kalau-kalau lelaki aneh itu menyergapnya sekonyong-konyong.
“Saya khawatir ada apa-apa dengan Bu Cicih malam ini. Keadaannya sudah sangat parah. Bicaranya suka melantur.” Willy menghela nafasnya sejenak lalu meraih rokoknya dan menyalakannya sekaligus. Asapnya bergulung-gulung tebal menambah angker wajahnya.
“Saya sudah bicara dengan dokter. Bu Cicih memang sudah tua. Sakitnya macam-macam. Tetapi tidak malam ini.” Ada yang aneh dalam suara Willy ketika menyebut kata-katanya yang terakhir itu. Suara lelaki yang letih dan menghiba. Jika cerita Bu Cicih benar, sangat mungkin Willy takut kehilangan Bu Cicih.
“Saya mau tulis surat untuk keluarganya,” kata Willy menunjuk kertas di hadapannya. “Sudah beberapa kali saya kirim surat tidak ada balasannya. Mungkin sudah pindah.”
“Atau, mereka sudah tidak mau perduli,” selak Lia. “Ya. Mungkin, terima kasih kamu masih mau perduli. Tolonglah kamu tunggu di sisi tempat tidurnya. Dokter Frits baru akan datangbesok pagi.”
Kembali Lia terkesiap oleh suara Willy yang demikian memelas. la terlongo sampai Willy menegurnya. “Pergilah, Sus Lia. Tidak usah terlalu cemas.” Sekali lagi Lia terkejut. Ini yang pertama kali ia mendengar Willy menyebut namanya. Sus Lia! Ada yang sekonyong-konyong mendesak di matanya. Ia tidak ingin Willy melihat itu lalu segera membalikkan tubuhnya berlalu. Begitu sampai di luar air matanya merebak tak terbendung lagi.
“Tuhan, orang-orang inimemerlukan aku di sini. Mohon Tuhan berikan petunjuk-Mu harus bagaimana aku sekarang !” jerit Lia dalam hati.
LIA masih duduk termangu di atas kasur yang malam itu digelarkannya di lantai di sisi tempat tidur Bu Cicih. Sementara perempuan tua itu tertidur dalam ketenangan yang mencemaskan. Tadi Bu Cicih bicara banyak sekali dan itu sudah terlalu melelahkan baginya.
Berjam-jam sudah ia duduk di sana sambil merenungi perjalanan hidup yang semakin tidak dimengertinya ini. Sesekali terdengar suara Pigo dan Bruno melolong panjang. Mirip ratapan tangis yang memilukan.
Barangkali, pikirnya. Saat sekarang ini Burhan tengah tidur bergelung dalam pelukan isterinya yang baru. Ia masih jelas mengingat bagaimana kebiasaan Burhan tertidur sambil mendekapnya. Barangkali isterinya itu telah mulai hamil. Barangkali isteri barunya itu telah mampu memberikan apa yang selama ini tak diperolehnya dari Lia. “Semoga saja, aku senang ia bahagia,” bisik Lia lirih.
Beduk subuh sudah terdengar ketika Willy datang ke kamar Bu Cicih. Lelaki itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu sehingga Lia terkejut danburu-buru duduk.
“Tidurlah, Sus Lia,” bisik Willy lirih, lagi-lagi menyebut nama Lia. “Biar saya menggantikan menjaga Bu Cicih.”
“Saya tidak bisa tertidur,” balas Lia berbisik pula, tidak ingin membuat Bu Cicih terbangun. “Sedetik pun saya tak bisa tertidur.”
“Saya juga,” gumam Willy. Hening. Willy mengangkat kursi dengan hatihati ke samping tempat tidur Bu Cicih dan duduk di sana. Wajahnya yang tegang semakin memelas ketika menatap wajah perempuan tua yang kurus pucat itu. Bu Cicih yang mengasuhnya sejak masih kecil kini terkapar lemah di hadapannya.
Lia membiarkan keheningan itu berlangsung dengan sudut matanya ia melirik diam-diam ke arah Willy. Tubuhnya yang demikian yang kekar, ternyata sudah tak berisi apa-apa lagi. Ia sudah bukan laki-laki.
Sekonyong-konyong Willy menoleh dan sorot mata biru yang tajam itu membuatnya bergidik. Ia malu sendiri, mengira Willy tahu apa yang ada dalam piirannya. Dulu wajah yang sinis dan dingin itu tampak oleh Lia sebagai cermin kesombongannya terhadap wanita. Sekarang berubah di mata Lia. Sikapnya yang sinis itu ternyata hanyalah kompensasi dari keletihan yang amat sangat dalam usahanya yang selalu sia-sia untuk sembuh.
Lia kiniberani menatap matanya. Beberapa detik mereka sama terjebak untuk saling bertatapan. Saling bcrdesah mengikuti getaran aneh yang merambati sukma mereka. Lelaki ini semakin aneh, sedang Lia semakin berani. “Sus Lia,” tukas Willy. “Boleh kita bicara di luar sebentar?”
Lia mendelikkan matanya. Apa lagi ini ? Namun sebelum Lia menjawab Willy sudah mendahului keluar. Sekali lagi rasa gamang menyelimuti perasaan Lia. Baginya Willy tetap aneh.
Dua menit. Tiga menit telah berlalu. Lia masih belum juga beranjak dari duduknya di atas kasur yang digelarnya di lantai itu. Sehingga Willy merasa perlu datang kembali untuk mengajaknya berbicara di ruang tengah. Lia tidak bisa menghindar, terpaksa menurut dengan penuh was-was.
“Kerasan tinggal di sini?” tanya Willy setelah Lia duduk di kursi makan, agakjauh dihadapannya.
“Ya,” sahut Lia gugup. Singkat saja.
Terdengar lelaki itu menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu kebisuan menyekap mereka sampai beberapa lama. Sampai Willy kembali bicara dengan suara yang serak.
“Sus Lia bisa bahasa Belanda, ‘kan?” tanya Willy untuk menetralisir kekakuan itu. “Ah, sebenarnya tidak bisa, Oom.”
“Lho,” Willy heran. “Tempo hari bisa ..! “
“Hanya sebegitu, Oom,” potong Lia pula. “Cuma sedikit-sedikit bisa mengartikannya. Ibu saya dulu bisa bahasa Belanda.”
“Baiklah, Sus Lia. Saya ingin bicara mengenai Bu Cicih. Mungkin Bu Cicih tidak lama lagi akan pergi,” suara Willy sejenak tersedak, “Sesudah itu saya tidak lagi memiliki siapa-siapa. Keluarga saya semuanya jauh.” Lia trenyuh.”
Lalu – kenapa Oom tidak menikah saja?” tanya I ia berlagak tidak tahu. “Saya senang. Saya kagum akan ketabahan kamu. Tidak usah pura-pura. Bu Cicih sudah menceritakan kepada saya mengenai kamu. Sebaliknya Bu Cicih pasti sudah bercerita mengenai saya,” tukas Willy datar, rupanya ia dapat menangkap kepura-puraan Lia.
Diberondong sedemikian Lia menjadi salah tingkah. Kikuk. “Eh, ya… iya memang, tetapi tidak semuanya.”
“Ck-ck ! Saya tahu Bu Cicih banyak cerita mengenai saya. Ia jujur. Saat ini saya juga membutuhkan seseorang yang jujur, Sus Lia.” Wanita itu tertunduk. Ucapan Willy ini menghunjam di benaknya. “Bicara tentang kejujuran. Jujurkah aku ? Bukankah aku menghianati suamiku? Bukankah ketidakjujuranku yang membuat aku berada di sini ?”
“Bu Cicih ingin melihat aku punya isteri. Ia sudah ceritakan itu?” tanya Willy pula dan Lia hanya mengangguk. “Ok, lalu bagaimana pendapatmu?”
“Wah, entahlah. Saya tidak tahu. Saya tidak punya pendapat apa-apa,” jawab Lia gelagapan.
“Sus Lia. Saya akui saya sering berlaku kasar. Ya, mungkin karena saya muak dengan keadaan saya ini. Saya benci diri saya. Benci lingkungan saya,” lanjut Willy. “Beberapa hari belakangan ini saya menyadari bahwa cepat atau lambat Bu Cicih akan pergi. Saya akan kesepian. Karena itu saya -saya ingin berteman dengan kamu.” Lia terkejut. “Saya – saya tidak bisa …!”
“Jangan jawab dulu. Kesabaranmu menunggui Bu Cicih di sisi tempat tidur adalah ketulusan yang saya perlukan. Itu sama seperti Bu Cicih. Ketulusan seperti itu yang membuat saya masih bertahan hidup hingga sekarang.”
“Oom keliru. Saya bukan orang seperti itu,” Lia membantah sekenanya. “Sebaiknya Oom mencari orang lain untuk itu. Saya di sini untuk sementara saja. Nanti saya segera pergi.”
Willy tidak segera menanggapi. Matanya nyalang menyelusuri langit-langit ruangan itu. Ia tahu Lia memang berbeda dengan Bu Cicih. Perempuan ini memiliki kecerdasan dan keteguhan hati yang tidak dimiliki Bu Cicih. Tidak ada gunanya memaksa perempuan ini.
“Saya hanya minta Sus Lia mempertimbangkannya. Jangan suruh saya mempertimbangkan orang lain. Yah, rumah ini memang sepi. Gersang. Akan lebih parah setelah Bu Cicih pergi,” tambah Willy kemudian. Lia masih diam.
“Bagaimana, Sus Lia? Bicaralah,” desak Willy. “Seingat saya inilah pertama kali kita berbicara. Tetapi kau lebih banyak diam.” Lia semakin terpojok. Untunglah ia tertolong oleh suara batuk Bu Cicih dari kamar sebelah. Lia tersentak lalu menggunakan hal itu sebagai alas an untuk segera beranjak dari sana. Untuk menghindar dari keharusan menjawab pertanyaan lelaki itu.
Tiba di kamar Bu Cicih ia terkejut. Wajah orang tua itu berubah pucat kebiru-biruan. Willy yang mengikutinya masuk ke kamar itu juga pank. “Tidak apa-apa,” desah Bu Cicih lemah. “Saya hanya ketakutan ditinggal sendirian. Saya masih takut mati.”
“Bu Cicih belum akan mati,” sahut Willy untuk membesarkan hati orang tua itu. Sekaligus untuk menenangkan hati sendiri yang sejak tadi se-sungguhnya sudah cemas.
“Tuan Kecil, saya menyayangimu lebih dari semua. Rasa sayangku memang tidak akan mati, kendati jasadku akan terkubur tidak lama lagi.”
“Jangan bilang begitu, Bu Cicih,” sergah Lia terengah.
“Hhh, tadi dalam tidurku saya mendengar suara Tuhan memanggil nama kecilku. Sri, Sri Sugiarti…! Rasanya tak lama lagi saya akan pergi. . .!”
“Bu Cicih biar ke rumah sakit saja,” bisik Lia cemas sambil menoleh ke arah Willy. Bu Cicih menggelengkan kepalanya dengan senyum yang pahit. Senyum yang senantiasa terukir di bibir keriputnya setiap kali disuruh opname di rumah sakit.
***
SEJAK siang hari suhu badan Bu Cicih tinggi sekali. Bagusnya ia masih tetap sadarkan diri, kendati tak hentinya mengerang dan mengigau. Keadaannya semakin kritis. Dokter Frits yang dipanggil segera datang bersama pendeta Jonathan. Ia minta pendeta itu berdoa untuk kesembuhan Bu Cicih. Selanjutnya dokter itu menyuruh berdoa saja bila ditanyakan tentang berbagai kemungkinan tentang kesehatan perempuan tua itu.
Dokter Frits tampaknya sudah menyerah. Ia juga tidak ngotot lagi menyarankan agar dibawa ke rumah sakit, terlebih ia tahu Bu Cicih menolak. Itu sebabnya ia datang membawa pendeta saja. Willy sendiri malah lebih banyak termangu. Takut benar membayangkan hidup tanpa Bu Cicih.
Sampai sore hari dokter masih menunggui, sementara Pendeta Jonathan sudah pulang. Usai magrib barulah Bu Cicih tenang. Ketika membuka matanya, maka yang pertama kali tampak olehnya adalah wajah Lia yang sembab karena kurang tidur. Lalu dokter Fritz yang juga tampak letih.
“Sus Lia,” bisiknya lemah. “Ya, Bu Cicih,” sahut Lia mendekatkan telinganya.
“Huh, dadaku sesak sekali. Dada bobrok!” makinya lagi lemah. “Tuan Willy ke mana?”
“Ada di kamarnya.” “Ia sudah makan?”
“Wah, tentu,” jawab Lia berbohong sebab sebenarnya sudah seminggu itu Willy tidak karuan makannya. Kadang seharian ia tidak makan sama sekali.
“Terima kasih. Sus Lia baik sekali. Tetapi setelah saya pergi, Sus Lia akan pergi juga?”
Untuk kesekian kalinya Lia terjebak oleh pertanyaan tentang ini. Dadanya bergemuruh keras. Serba salah jadinya. Jika ia mengiyakan maka beban bathin Bu Cicih akan berkurang. Konsekuensinya beban itu akan pindah kepada Lia. Mungkinkah ia seterusnya di rumah ini? Jadi apa? Jadi pelayan untuk menggantikan Bu Cicih dan Nurlela ?
“Sayang sekali kalau Sus Lia berkeras akan pergi juga,” tambah Bu Cicih merintih perlahan setelah menunggu jawaban yang tak kunjung terdengar dari mulut Lia. “Padahal, bagiku kini Sus Lia dan Tuan Willy sama saja. Kalau boleh, saya ingin katakan bahwa kalian itu milikku. Anak-anakku. Aku akan iklas meninggal bila dapat melihat kalian berbahagia.”
Sekali lagi Lia tersentak. Ia mengerti kini. Ia telah dapat menangkap arah keinginan wanita yang tinggal sekarat itu. Ia terperangah. “Mungkinkah itu? Mungkinkah aku bersuamikan seorang lelaki yang nyata-nyata sudah bukan lagi laki-laki? Apalagi ia seorang pelaut yang akan menghabiskan sebahagian terbesar waktunya di atas lautan daripada ber-samaku.”
Harus bagaimana lagi ? Perempuan tua ini sudah tinggal sekarat. Satu anggukan saja dari Lia akan mengurangi bebannya Kembali pula ia terbentur kepada konsekuensinya, beban itu akan berlipat ganda dan beralih kepada Lia. Ia semakin ter-perangkap dalam keharuannya. Wanita tua itu telah menolongnya sejak pertama berjumpa. Kini ia membutuhkan pengorbanan sedikit saja dari Lia sebelum tarikan nafasnya yang terakhir tiba. Mengangguk saja, apa susahnya ? Mengenai konsekuensinya nanti setelah itu, lain lagi soalnya.
“Bu Cicih..! Bu Cicih..!” tangis Lia sesenggukan sambil mendekap tubuh Bu Cicih. Dokter Frits yang berjaga di sisi tempat tidur segera melarangnya. Lia akhirnya. memutuskan untuk mengiyakan saja. Benar, yang penting Bu Cicih senang. Konsekuensi itu urusan nanti.
“Sus Lia, aku senang sekali,” balas Bu Cicih tersenyum mekar. “Kepergianku akan lebih tenteram dengan senyum bahagiamu berdua, anaka-nakku. Panggil Tuan Willy ke mari. Sebenarnya saya sudah pernah bicarakan ini padanya … !”
Dengan perasaan yang melayang-layang Lia beranjak dari duduknya dan keluar untuk mencari Willy dikamarnya. Tetapi Willy tak ada di sana. Kosong, di teras juga tidak ada. Di kamar mandi juga tidak.
Terdengar suara Pigo dan Bruno menyalak di samping garasi. Ah, barangkali ia di sana, pikir Lia lalu keluar melalui pintu belakang. Tetapi di situ hanya ada Neneng sedang berusaha memberi makan kedua binatang itu dari luar kandang. Begitu melihat Lia muncul gadis itu tergopoh-gopoh ke arah Lia serta menanyakan keadaan Bu Cicih.
“Bagaimana, Sus Lia,” desak Neneng tak sabar. Lia mencoba tersenyum secerah mungkin untuk menyembunyikan kegelisahannya sendiri. Namun hambar. ” Kita hanya dapat berdoa memohon kemurahan luhan, begitulah kata dokter”.
“Ohh,jadi Bu Cicih …!?”
“He! Jangan menangis dulu.”
“Ah, Sus Lia. Bagaimana kita kalau sampai ada apa-apa dengan Bu Cicih? Dia itu baik walaupun suka marah-marah.”
“Sudahlah. Nanti Bu Cicih menjadi gelisah. Belum apa-apa sudah kau tangisi.”
“Sus Lia,” kata Neneng pula, sejenak tersedak karena gugup. “Boleh saya melihatnya?”
Pertanyaan ini menusuk di hati Lia. Sejak kesehatan Bu Cicih memburuk, memang Neneng tidak pernah melihatnya lagi. Ia tidak boleh ke rumah induk. Juga tidak pernah ikut ke rumah sakit. Padahal mereka semua mencintai Bu Cicih, bahkan juga Pigo dan Bruno. Kedua binatang itu seakan dapat merasakan ketegangan yang tengah melanda rumah itu. Akhir-akhir ini mereka sering melolong panjang memilukan. Sepertinya tangisan panjang membuat bulu roma berdiri.
“Boleh. Ayuh, ikut,” sahut Lia kemudian. “Se – sekarang ?” Neneng nyaris tidak percaya ia boleh masuk ke rumah induk.. “Ya. Tapi jangan sedih di sana, ya?”
Lia membawa Neneng masuk ke dalam rumah in duk. Gadis yang masih polos itu ternganga heran. Ia belum pernah mendapat kesempatan masuk ke sini. Barangkali seumur hidup baru inilah pertama kali ia melihat ruangan rumah sebagus itu. Mereka langsung masuk ke kamar Bu Cicih. Dokter Frits bergeser memberi tempat. “Maafkan, Bu Cicih, ini Neneng ingin melihat Ibu,” bisik Lia.
“Ini Neneng, Bu Cicih ..!” kata Neneng tersedak hampir menangis melihat Bu Cicih tidak berdaya di tempat tidurnya. Lia cepat-cepat mencubit pinggang-nya, melarangnya menangis di situ.
“Bu Cicih. Saya datang.”
“Siapa ini? Nurlela?” tanya Bu Cicih. Barangkali pikirannya selalu teringat Nurlela yang belum juga pulang dari kampung. “Bukan, Bu Cicih. Saya Neneng.” “Ohoh, kau Neneng. Terima kasih, kau menjengukku. Barangkali saya sudah akan pergi, Neng. Baik-baik dengan Nurlela, ya?”
“Ya, Bu Cicih.”
“Neneng mau memaafkan Nurlela, bukan?”
“Ya, Bu Cicih,” sahut Neneng lagi tersedak mena-han tangisnya. “Saya banyak salah pada Ibu. Maafkan saya, Bu.”
“Anak manis, kamu baik. Ibu yang sering galak sama kamu,” ujar Bu Cicih. Dengan tangannya yang lemah ia menarik Neneng mendekat. Ibu Tua itu memeluknya dan berbisik di telinga Neneng. “Kamu maafkan Nurlela, ya ?”
Neneng mengangguk. Air matanya tidak terbendung. Jatuh setitik di punggung tangan Bu Cicih. Neneng cepat-cepat mengeringkannya. Dokter Frits juga memberi isyarat agar Neneng tidak menangis di situ.
Sementara itu di ruang tengah Lia sudah kebingungan mencari Willy. Satu persatu ruangan di sana sudah dimasukinya namun Willy tetap tak ada. Lapat-lapat telinganya menangkap suara piano dan perhatiannya segera beralih ke sebuah pintu yang selalu terkunci. Selama Lia tinggal di sana belum sekali pun ia melihat pintu itu dibuka.
la mendekat. Suara itu agaknya bersumber dari balik pintu itu. Lalu memutar gerendelnya dan terbuka. Serentak suara piano berdentang lebih jelas masuk di telinganya, membawakan lagu yang sama sekali tidak dimengertinya. Lia kemudian membukakan pintu itu lebih lebar. Ternyata di sini masih terdapat ruangan besar dengan sebuah tangga di pojok menuju ke tingkat atas. Ya, suara piano ini pasti dari atas, pikir Lia.
Dengan matanya ia mengikuti anak-anak tangga yang bersusun satu persatu sampai ke atas. Sejenak ia masih terdiam, ada keraguan apakah Willy tidak akan marah bila ia naik ke atas. Namun kemudian ia nekad.
“Kalau Bu Cicih ingin aku di sini, maka Willy juga harus belajar menghargai aku. Tidak boleh lagi ia kasar padaku.”
Lia mengayunkan langkahnya menaiki satu persatu anak tangga itu sementara suara piano semakin terdengar jelas. Begitu kepalanya tersembul dari permukaan tangga, ia terkejut. Ruangan di bawah tadi sudah mewah, namun di atas ini jauh lebih bagus.
Beberapa pasang kursi tamu antik yang terdapat di sana. Begitu indah berpadu dengan warna lantai yang seluruhnya tertutup oleh permadani hijau muda. Di permukaan tembok menghadap ke arah tangga terpampang foto sepasang suami-isteri. Dengan mudah Lia dapat memastikan bahwa itu foto orang tua Willy. Tuan Coendraad yang bule dengan ibunya keturunan Kawanua.
Disapunya seluruh ruangan dengan pandangan matanya. Di sana masih terdapat kamar-kamar. Sebuah rak yang penuh dengan pernak-pernik ukiran kayu dan keramik, menjadi penyekat suatu ruangan yang menghadap ke jalan besar. Dari sanalah suara piano itu terdengar.
Meski ragu, Lia melangkah terus. Kepalang tanggung, pikirnya. Di balik rak itu tampak punggung Willy. Dia yang memainkan piano dari situ. Hanya mengenakan celana jean, bertelanjang dada. Di sampingnya tampak pula sebotol minuman keras yang baunya menyeruak menusuk hidung.
“Silakan duduk, Sus Lia,” sapa Willy menghen-tikan permainannya, tanpa menoleh. Rupa-rupanya ia sudah tahu kedatangan Lia. “Ruangan ini memang jarang dibuka. Di sinilah kamar orangtuaku ketika masih hidup. Saya tidak berniat mengubah letaknya sedikit pun.”
“Bagus sekali,” sahut Lia. “Sayang tidak pernah digunakan.” Perlahan-lahan Willy membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Lia. Bulu yang tampak lebat di dada Willy membuat perasaan Lia tidak nyaman. Ia berbalik hendak turun kembali.
“Maaf, maaf,” Willy menjangkau kaus singletnya dari atas meja lalu dikenakannya sekalian. “Saya sering begini kalau sendirian.”
“Tidak apa-apa, saya juga sering begitu,” Lia inenanggapi lalu cepat-cepat ia menambahkan. “Oom Willy, Bu Cicih menunggu di bawah. Katanya penting sekali.”
“O-ya ?” seru Willy terhenyak. “Turunlah duluan. Saya menyusul.” Lia turun perlahan-lahan sambil memperhatikan sekitarnya. Ketika Willy muncul di belakangnya, lelaki bule itu sudah mengenakan kemejanya. Di ujung tangga paling bawah, Lia menghentikan langkahnya.
“Oom Willy, saya semakin khawatir dengan Bu Cicih.”
“Saya juga sudah menyerah, Sus Lia. Saya sudah berdoa, biarlah Tuhan menyatakan kuasa-Nya. Saya tidak tahu apa lagi yang harus kita lakukan.”
“Kau tahu, Oom. Hanya satu hal yang membuat Bu Cicih bahagia, yaitu kau menikah.”
“Ha ha ha !” Willy tertawa sumbang. “Dengan siapa? Dengan kuntilanak?” Willy segera teringat pernah menyebut Lia kuntilanak. Ia cepat-cepat minta maaf. “Saya terlalu kasar ya. Saya minta maaf.”
“Hmm,” Lia balas tersenyum. “Kalau kau mau, kawin dengan kuntilanak pun pasti akan membuat Bu Cicih senang.”
“Ya, Bu Cicih memang begitu,” tambah Willy malu sendiri. Pikirnya, tentu saja Bu Cicih akan senang kalau ‘kuntilanak’ seperti Lia mau menikah dengan Willy. “Justru itu, makanya kau kawin saja,” desah Lia gemas. Makin berani dia menyebut Willy dengan ‘kau’ saja.
Sekarang ia sudah memancing pembicaraan sedemikian rupa untuk tahu apa sebenarnya yang diinginkan lelaki ini darinya. “Kemudian carilah pekerjaan di darat supaya bisa lebih dekat dengan isterimu,” tambah Lia.
“Sus Lia, saya kepingin sekali seperti itu, tetapi tidak mungkin. Sus Lia pasti sudah tahu kenapa saya siapa dan bagaimana, jadi tidak perlu saya jelaskan.”
“Ini darurat. Kau tidak mau Bu Cicih penasaran hingga dia meninggal, ‘kan?” Lia gemas bukan main.
Willy kini terperangah. Dadanya turun naik tanpa sepatah kata pun dapat ia ucapkan. Lia semakin tidak sabar. Terbayang di benaknya Hu Cicih sedang sekarat di kamarnya, menunggu Willy datang. Jangan sampai terlambat. Akhirnya Lia nekad untuk mengatakannya sendiri.
“Oom Willy,” kata Lia, “Saya bersedia menjadi isterimu. Tetapi ingat, ini cuma bersandiwara saja Belama di hadapan Bu Cicih.”
“Kau bercanda, Sus Lia?”
“Tidak. Saya bersungguh-sungguh. Saya hanya ingin membahagiakan Bu Cicih di akhir hidupnya.”
“Ah, terima kasih. Terima kasih,” desah Willy. “Seharusnya saya yang memintamu, tetapi saya tak sanggup mengatakannya. Saya cukup tahu diri.”
“Oom Willy,” bisik Lia. “Kau tidak harus mengatakannya. Aku tahu semuanya dari Bu Cicih. Kemudian lewat sinar matamu sesungguhnya aku sudah tahu kau akan meminta aku tetap di sini. Oke, aku mau, hanya sampai Bu Cicih meninggal.”
“Terima kasih, Sus Lia.”
“Ayuhlah, pegang tanganku. Kita ke Bu Cicih. Kita harus kelihatan mesra di hadapan Bu Cicih,” tambah Lia pula sambil menyodorkan tangannya. Willy menyambutnya, mendekapnya ke bidang dadanya serta menciumnya dengan kegembiraan yang meluap.
Neneng yang tengah menangis diam-diam di kaki tempat tidur Bu Cicih segera beringsut ketakutan ke pojok kamar begitu melihat Willy masuk. Tetapi pandangannya segera pula menangkap bayangan Lia di belakangnya. VVah, mereka berpegangan tangan. Neneng heran sebab setahunya Lia sangat membenci majikannya yang sinis itu. Begitu Willy masuk dan membelakanginya, Neneng segera menyusup keluar dari kamar itu.
“Bu Cicih,” kata Lia begitu sampai di samping tempat tidur Bu Cicih. “Bu Cicih,” tambah Willy pula. “Kami datang”. Terdengar nafas bu Cicih semakin berat. Kelopak matanya perlahan-lahan terbuka.
“Ia sudah terlalu lelah,” bisik dokter Frits. “Jangan diajak bicara terlalu banyak.”
Mereka harus menunggu beberapa lama sampai Bu Cicih dapat mengenali bayangan yang berdiri tegak di samping tempat tidurnya. Lalu dari mulutnya terdengar erangan lemah: “Sus Lia… Tuan Willy …! “
“Ya, bu Cicih. Kami di sini. Kami . . . kami. . !” suara Willy tersedak. Lidahnya berat sekali untuk menyatakannya sehingga Lia cepat-cepat menyambung. “Bu Cicih, kami sepakat akan bersama-sama di rumah ini. Bu Cicih senang, ‘kan?”
“Sus Lia dengan Tuan Willy?”
“Ya, Bu Cicih. Saya akan menemani Oom Willy, anakmu.”
“Oh, Tuhan. Benarkah ini? Kalian akan menikah?” gumamnya lirih.
“Benar, Bu Cicih. Secepatnya kami akan menikah,” kata Willy pula segera menambahkan sebelum Lia membantahnya..
Hening. Kecuali tarikan nafasnya yang terdengar leiamat berat, perempuan tua itu tidak berkata apa-apa lagi. Matanya terpejam berair. Lia dan Willy menunggu.
“Biarkan saja dulu,” bisik dokter Fritz seraya memegang pergelangan tangan Bu Cicih untuk memeriksa denyutan nadinya. “Lemah sekali. Bawa saja ke rumah sakit.”
“Dokter,” balas Lia pula berbisik. “Apa yang kami bicarakan tadi itu akan mengurangi beban pikirannya.”
“Saran saya semasih ada kemungkinan, kalian harus berusaha. Kalian akan menyesal seumur hidup kalau tidak berusaha maksimal.”
“Tetapi dia berkeras menolak,” sahut Willy. Dan liba-tiba Bu Cicih berdesah. Menggerakkan tangannya memanggil Willy. Ternyata Bu Cicih berubah pikiran setelah mendengar Lia dan Willy akan menikah.
“Ayuh, saya mau ke rumah sakit sekarang.”
Dokter itu pun segera mempersiapkannya. Sesungguhnya dokter Frits sudah sangat khawatir dengan kondisi Bu Cicih sejak beberapa hari lalu. Hanya saja ia tidak dapat memaksa Willy untuk membawanya ke rumah sakit. Syukur, sekarang Bu Cicih sendiri sudah mau. terdengar Bu Cicih mendusin. Perempuan tua itu melambaikan tangannya menyuruh Lia dan Willy mendekat.
“Saya sudah senang mendengarnya,” bisiknya lemah. “Entah kapan kalian mau menikah, saya tidak mungkin menunggu.”
“Dokter,” Willy menatap dokter Frits. Tetapi dokter ini sedang sibuk membenahi peralatannya, segera berangkat ke rumah sakit. “Berjanjilah sekarang,” bisik Bu Cicih, “sekarang, selagi aku masih bisa mendengarnya.”
“Benar, sekarang kalian berjanji saja di depan Ibu ini. Saya saksinya,” dokter Fritz menengahi. “Ayuh, cepat. Setelah itu kita akan berangkat.”
“Oom Willy!” Lia cemas bukan main. “Apa tidak sebaiknya menelepon Pendeta Jonathan lagi untuk menuntunnyaberdoa. Barangkali terakhir ….!”
“Ke rumah sakit saja dulu,” potong Willy. “Jangan, Tuan Willy,” Bu Cicih mengerang. Sejenak Lia dan Willy saling bertatapan. Ya, sudah, tak ada waktu untuk berdebat lagi. Janji saja, sesuai usul dokter Frits.
Lia tak lagi sanggup membendung keharuannya. Diciuminya tangan wanita tua itu sambil air matanya berderai membasahi. Willy menarik bahu Lia untuk berdiri. la sendiri kemudian berjalan memutar sehingga berdiri di sisi lain berseberangan dengan Lia, lalu mengangsurkan tangannya ke arah Lia.
Tubuh Lia bergetar. Inilah perkawinannya yang kedua, walaupun hanya ‘sandiwara’ perkawinan untuk membahagiakan Bu Cicih. Tidak ada pendeta. Tidak ada berkat. Tidak ada seremoni. Namun konsekwensinya jauh lebih berat dari perkawin biasa. Ia harus menerima lelaki itu sebagai suaminya, setidak-tidaknya untuk saat ini, di hadapan orang tua yang semakin payah itu.
Tubuh Lia bergetar keras menahan isak tangis. Perlahan-lahan ia pun mengulurkan tangannya sehingga bertemulah kedua tangan itu, saling menggenggam di atas tubuh Bu Cicih. Dokter Frits meraih tangan Bu Cicih yang lemah lalu meletakkan-nya pula di atas tangan Lia dan Willy.
Bu Cicih mencoba tersenyum bahagia. Ditatapnya wajah Lia dan Willy silih berganti.
“Bu Cicih,” kata dokter Frits. “Tuan Willy dan Sus Lia ingin mengucapkan janji untuk menikah. Tuhan dan kita akan menjadi saksi. Bu Cicih bisa mengerti?” Terdengar erangan panjang mengiyakan lalu orang tua itu mengangguk lemah. Masih juga ia berusaha untuk tersenyum.
“Nah, silakan tuan Willy mulai,” kata dokter itu pula. “Sus Lia saja lebih dulu,” balas Willy pula dan Lia maklum. Suasana ini terlalu menekan perasaan Willy sehingga tidak berani mengeluarkan janji apa-apa sebelum Lia. Baginya semua ini adalah tergantung pada kesediaan Lia.
“Baiklah,” sahut Lia kemudian sambil berusaha menahan air matanya. Suaranya tersedak terputus-putus. “Saya. . . saya, Lia Nathalia. Saya berjanji bahwa saya. . . bahwa saya ….!”
Lia kesulitan untuk meneruskan kata-katanya. Melihat itu, Willy segera mempererat genggamannya pada tangan Lia. Entah kenapa genggaman itu memberikan tenaga luar biasa pada diri Lia.
“Saya berjanji,” katanya meneruskan, “bahwa saya akan bersedia mendampingi Willy, lelaki yang saat ini berada di hadapan saya. Semoga Tuhan berkenan memberkati.”
Singkat saja. Lalu Lia membisu. Terasa dadanya bergemuruh namun lebih lega setelah mengucapkan janji itu. Sengaja dia katakan ‘akan bersedia’, Bukan ‘bersedia’ Itu dapat berarti, jika memungkinkan. Belum mutlak. “Sudah?” tanya dokter.
“Sudah.”
“Baiklah,” sambut Willy Lalu sejenak gelagapan sebelum meneruskan kata-katanya. “Saya Willy Coenraad. Jikalau Tuhan menghendaki saya bersedia menjadi suami Lia Nathalia untuk selama-lamanya. Sampai mati.. .sampai ajalku tiba…!”
Tubuh Willy juga berguncang oleh badai yang mengamuk dalam dadanya. Suaranya terputus. Lia juga terkejut karena Willy menyebut nama Tuhan dengan lantang seakan sengaja untuk mengingatkan Lia tentang konsekuensi dari janji yang diucapkannya.
“Terima kasih, Sus Lia. Terima kasih,” hanya itu yang sempat terdengar dari mulut Bu Cicih. Berulang-ulang dan semakin lemah. Wajahnya pucat sekali lalu jatuh pingsan. Ia terlalu lemah menerima kegembiraan yang meluap saat itu. “Sudah, kita berangkat!” tukas dokter Frits sigap.
Lia terpaku seperti dungu. Willy sendiri segera bergegas mengeluarkan mobilnya.
Tiga hari lamanya Bu Cicih di rumah sakit. Setiap hari pendeta dan perangkat gereja datang bergantian menuntunnya berdoa. Mohon ampun semua il osanya, sekaligus mohon berkat untuk Lia dan Willy.
Hal lain yang sangat melegakan buat Lia adalah kedatangan Pendeta Jonathan dan perangkat majelis gereja ke rumah sakit, khusus untuk melayani Bu Cicih dengan perjamuan kudus. Bu Cicih tampak berbahagia merasakan perjamuan kudus kali ini adalah karunia paling berharga dalam hidupnya.
“Tuhan Yesus mengampuni dosa-dosaku,” bisiknya begitu yakin. Nurlela dan Mat Sani beberapa kali datang untuk berjaga sejenak menggantikan Lia. Kesem-patan itu digunakan oleh Lia untuk pulang sebentar. Sekedar mandi dan ganti baju.
Siang hari ketika Lia sendirian di rumah induk, ia duduk merenung di ruang tengah. Rasa suntuk, lelah dan ketegangan pikiran selama menunggui Bu Cicih di rumah sakit, membuatnya makin rindu pada ibu di Siantar. Ia hanya wanita biasa yang ingin punya seseorang yang bisa menjadi tempat bercerita dan mencurahkan beban pikirannya. Ia ingat ibunya di Siantar. Sebelum dipermalukan dengan penye-lewengan Lia, orang tua itu sangat dekat dengan Lia.
Akhirnya Lia nekad mengunakan telepon itu ke Siantar. Rudy yang mengangkat dan abangnya kontan marah-marah begitu tahu Lia yang menelepon. “Sudahlah, Bang. Aku sudah berkali-kali mengaku salah. Aku bukan malaikat, Bang. Aku juga bisa keliru seperti orang-orang lainnya,” jawab Lia luruh. “Aku benar-benar mohon maaf.”
Selanjutnya Lia minta bicara dengan ibunya. Ketika suara parau perempuan tua itu terdengar di seberang sana, Lia malah terdiam. Alangkah sulitnya menahan tangis yang meronta-ronta ini.
“Mama, ini Lia,” kata Lia akhirnya. “Ya, mama tahu. Kau baik-baik saja ?”
Lagi-lagi Lia terdiam. Ia tidak ingin ibunya mendengar ia menangis. Sehingga suasana menjadi sangat kaku. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suara ibunya. Kau baik-baik saja ? Itu kata-kata yang biasa saja, sering bertebaran dalam percakapan di sembarang tempat. Namun karena yang mengucapkan itu adalah ibunya, apalagi mendengarnya pada saat tertekan seperti ini, Lia merasakan sukmanya seketika seakan terbang ke Siantar lalu sujud di ujung kaki ibunya itu.
“Mama mau memaafkan Lia?” kata Lia kemudian berani mengutarakan itu. “Aku mohon, Ma, ampuni aku!”
“Ya, tapi maaf itu sudah tidak ada gunanya lagi. Kau sudah kehilangan semuanya. Mama juga.”
“Tidak, Mama, pengampunan akan menjadi bekal Lia untuk mulai lagi menata hidup ini. Biar semuanya Lia mulai dari bawah, Ma. Jangan lihat Lia yang dulu, Mama, kasihani Lia yang sekarang. Lia yang rindu tapi tidak bisa pulang. Lia yang ingin membela diri tetapi tak seorang pun akan mau mendengar…..!”
Jebol juga pertahanan Lia. Ia menangis. Ibunya juga menangis di seberang sana. Setelah agak tenang, Lia beritahu sekarang ada di Jakarta. Ia baik-baik saja menumpang di rumah orang. Hanya dia belum bisa memberi tahu alamat maupun nomor teleponnya.
“Tidak usah khawatir, Mama. Aku akan jaga diri. Tuhan tidak akan meninggalkan aku lagi, Mama. Aku tahu itu. Pasti,” kata Lia mengakhiri percakapan teleponnya. “Berdoalah, Ma, untuk aku.”
Setiap kali Lia ada di rumah, pikirannya selalu ke rumah sakit. Selalu ia khawatir kalau-kalau kondisi Bu Cicih mendadak drop – menurun. Benar, menjelang tengah malam Bu Cicih semakin lemah. la memanggil Willy dan Lia. Kemudian membisikkan sesuatu kepada mereka. “Tuhan Yesus memberkati kalian. Saya lihat Ia melambaikan tangan-Nya padaku. Saya harus pergi,” kata Bu Cicih tersendat-sendat. Lalu kembali tidak sadarkan diri.
Dokter segera berusaha untuk menolongnya. Tetapi Tuhan sudah menjemputnya. Bu Cicih meninggal. Terkulai dalam pelukan Willy dan Lia yang menangis menggerung-gerung. Willy mencoba menenangkan Lia namun wanita ini tidak mendengarnya. Tangis Lia adalah tangis dari seluruh kemelut yang bermuara menjadi satu. Betapa tidak, Bu Cicih adalah batu karang tempatnya berpegang baginya ketika ia kehilangan arah. Ketikabadai memporak-porandakan kehidupan Lia sejadi-jadinya.
Willy memang sungguh-sungguh mencintai Bu Cicih. Kebaktian dan upacara pemakaman disiapkan bukan bagi seorang pembantu rumah tangga. Tetapi bagaikan seorang ibu bagi Willy. Rekan-rekan sekerja dan sahabat-sahabat Willy datang menemani Willy menghadapi kesedihan itu. Sampai ke pemakaman mereka ikut membantu.
Mat Sani dengan Nurlela datang. Ikut bersama mereka, dua orang lelaki yang belakangan mengaku sepupu Bu Cicih dari kampung. Hampir terlambat, berlari-lari mereka menyusul ke pemakaman dan tiba hanya sesaat sebelum liang kubur Bu Cicih akan ditimbun.
Nurlela yang hamil itu menangis histeris dan nyaris terjun ke dalam liang kubur untuk memeluk peti mati Bu Cicih. Untung Mat Sani yang berdiri di sisinya sempat menahannya. Satu-satu air matanya turun dan jatuh di atas peti mati Bu Cicih.
Sementara itu di seberang liang kubur, berdirilah Lia ditemani oleh beberapa isteri dari rekan-rekan sekerja Willy. Untuk mudahnya, tadi malam Willy memperkenalkan Lia sebagai saudara dekat Willy dari fihak ibunya. Terlalu sulit menjelaskannya pada saat seperti sekarang ini.

Bersambung ke Bab 7

22 Juli 2011 - Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: