Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

lia natalia (bab 7)

Novel Karya Saut Poltak Tambunan

Sambungan dari Bab 6

Bab 07

SUASANA Natal seharusnya sudah turun menjelang. Namun rumah besar itu semakin sepi saja. Semuanya sudah muram sejak Bu Cicih sakit dan bertambah lagi setelah ia pergi. Perempuan tua itu lelah terbaring tenang dalam gundukan tanah merah di pemakaman. Maka hari-hari berikutnya adalah hari-hari kelabu. Semua orang tidak bergairah. Bahkan Bruno dan Pigo sudah beberapa hari ini tidak mau makan. Kedua binatang itu tampak lesu. Jika malam tiba terdengarlah jeritan pedih mereka lewat lolongan panjang yang membuat bulu roma merinding.

Menurut Mat Sani lolongan panjang seperti itu biasanya adalah pertanda bahwa kedua binatang itu melihat sesuatu yang gaib. “Mungkin mereka melihat bayangan Bu Cicih,” kata Mat Sani sedih.
Ini membuat Neneng takut tidur sendirian dikamarnya. Mat Sani dan Nurlela tinggal sekamar, mereka sudah menjadi suami isteri. Neneng yang bingung, mau tidur di kamar siapa? Lia cepat mengerti. Apalagi ia sendiri juga takut tidur sendirian. Maka untuk sementara ia mengajak Neneng tidur di kamar bekas Lia, di belakang. Tetapi lolongan panjang Pigo dan Bruno juga sering membuatnya ketakutan setengah mati. Beberapa hari kemudian Willy meminta Lia memakai kamar kosong di sebelah kamar Bu Cicih, di rumah induk. Kamar ini berseberangan dengan kamar Willy
Willy tampak lebih sibuk dari biasanya. Ia bilang sengaja menyibukkan diri. Pagi-pagi ia berangkat. Dari pada menganggur dan terus menerus sedih, sambil menunggu kapal mereka selesai docking, Willy diminta membantu pekerjaan administrasi di kantor perusahaan. Sore bahkan terkadang larut malam ia baru pulang sehingga makanan yang disediakan Nurlela bergantian dengan Lia, seringkali tetap utuh sampai esok paginya.
Pendeta Jonathan masih sering datang, tidak henti-hentinya meminta mereka segera menikah saja. Willy tidak bisa menjawab. Sudah sejak semula menyerahkan segalanya pada keiklasan Lia. “Tidak bagus serumah tanpa menikah, kendati tidak sekamar,” kata Pendeta Jonathan.
Lia juga sama saja. Dua masalah mengganjal dalam hatinya. Pertama, ia belum terima surat cerai dari Burhan. Kemudian ia benar-benar masih ragu untuk mempertaruhkan seluruh masa depannya untuk mendampingi Willy yang jelas-jelas sudah cacat itu.
Ketika Abraham dan sara yang sudah tua itu dijanjikan keturunan banyak oleh Tuhan, kedua.Orang tua itu percaya kendati tidak masuk di akal mereka. Dan, Tuhan berkuasa melaksanakan apa yang telah dijanjikan-Nya.
“Sedang aku – aku juga ingin punya anak. Tetapi llapa yang akan menjanjikan anak buat aku jika Willy lendiri sudah bukan lelaki normal?”
Diam-diam Lia berkirim surat kepada Rudy -abangnya di Siantar. Ia tanyakan lagi surat cerai dari Burhan. Kali ini ia cantumkan alamat lengkapnya sebagai pengirim, dengan harapan Rudy akan mengirimkan surat cerai itu ke sini. Suatu sore Willy mengeluarkan pohon Natal plastik dari gudang. Sudah tua dan abunya mengepul ketika Mat Sani membersihkannya.
“Pasang di bawah saja, Sus Lia,” kata Willy. “Supaya rumah ini tidak terlalu membosankan.”
“Yah, supaya kesedihan kita terlupakan sejenak,” sambut Lia pula tersenyum. Lia membawa pohon Natal itu ke ruang tengah di lantai bawah dan memasangnya di sana. Willy membantu memasang lampu-lampunya. Sambil memeriksa lampu satu persatu Willy menceritakan kenangannya tentang tradisi keluarganya untuk menghias pohon Natal bersama orang tua.
“Kita ini aneh. Sebegitu lama kita berkumpul masih terasa kaku,” tukas Lia seraya menyusun daun pohon Natal itu satu persatu ke tangkainya. “Aku ingin lebih bebas terhadapmu tetapi kau, yah, kau selalu menyebut namaku dengan embel-embel Sus. Aku ingin ber ‘kau’ saja untuk lebih akrab. Boleh?”
“Boleh, boleh,” sahut Willy terperangah. “Saya juga lebih senang begitu. Jangan lagi sebut saya Oom Willy.” Lia tersenyum dan lesung pipit di pipinya membuat wajannya tampak lebih berseri. Willy juga tersenyum cerah. Tetapi cuma sesaat, detik berikutnya wajahnya berubah gelisah.
“Kapal kami sudah hampir selesai docking. Mungkin tidak lama lagi depan aku sudah berlayar lagi. Mungkin bulan depan atau berikutnya.”
“Berapa lama?”
“Tiga bulan. Atau mungkin lebih”.
“Aduh, lama sekali” Lia menanggapi. “Pelayaran internasional memang begitu, Lia.”
“Tiga-empat bulan di laut. Tidak bosan ?”
“Pelaut sejati tidak akan bosan dengan laut. Sudah lima belas tahun aku mencintai pekerjaan itu.”
“Cari saja pekerjaan lain di daratan. Untuk apa aku di sini kalau kau terus di laut ?”
“Lho! Pelaut itu kerjanya memang di laut.”
“Bagiku kau bukan pelaut. Kau akan jadi suamiku. Tapi itu terserah kau …!” Lia memang tidak ingin membantahnya. Menjadi pelaut tu wilayah pilihan pribadi Willy yang ia tidak ingin masuki. Dilanjutkannya saja pekerjaannya membenahi kapas hiasan salju di pohon Natal itu.
“Willy, ini suasana Natal. Aku ingin kau menyanyi buat aku. Aku ingin mendengarnya.”
“Kau senang bernyanyi?”
“Ya.”
“Bisa nyanyi?”
“Ah, pertanyaanmu berbelit-belit. Kalau soal bisa atau tidak, burung pun bisa menyanyi,” sahut Lia tergelak-gelak dan mau tak mau Willy tertawa juga. “Aku sudah lama tidak tertawa,” tambah Lia. “Kau?”
“Sudah puluhan tahun aku tidak pernah tertawa seperti ini.”
“Oke, kalau begitu aku minta kau bernyanyi untukku. Khusus untukku.”
“Kau bersungguh-sungguh?”
“Apakah aku kelihatan tidak bersungguh-sungguh?” balas Lia pula membuat Willy sekali lagi tertawa lebar. “Hm, baiklah. Tetapi kalau suara saya jelek jangan tertawa. Sebaliknya kalau bagus tidak usah tepuk tangan. Nah, lagu apa maumu?”
“Lagu Natal, dong, sesuai dengan suasana sekarang,” jawab Lia tersenyum bahagia. “Oke, Silent Night, ya?” Sebelum Lia menjawab, Willy sudah mulai. ‘Silent Night” yang serak parau terdengar sumbang dari kerongkongan lelaki itu. Mirip nyanyian orang mabuk tetapi agaknya Willy tidak asal bernyanyi. Dibalik getaran suaranya yang kasar terselip kesungguhan hati..
Memang sesungguhnya Willy tengah menikmati kenangan masa kecilnya lewat lagu itu. Saat-saat dimana Willy dengan suara yang mungil bersemangat bernyanyi di hadapan kedua orangtuanya. Maka lewat lagu itu kini melejitlah kerinduannya akan mereka yang telah tiada. Kerinduan dan kekhusyukan itu kemudian menjadi adonan pekat yang sekonyong-konyong menyumbat kerongkongannya. Suaranya semakin sumbang, nadanya ngawur dan….!
Suaranya lantas terhenti sebelum lagu itu berakhir dan ia terhenyak duduk menyekap wajahnya. Setitik air mata mengalir turun menyusuri jemarinya. Lia menjadi trenyuh.
“Kau kenapa?” Lanya Lia mendekat lalu mengelus bahu Lia. Lelaki itu terkesiap dan mengangkat wajahnya. Ada titik air di sudut mata Willy, Lia mengapus dengan ujung jemarinya. Willy menatap Lia. Ada kesejukan yang tulus menyentuh jiwanya yang sudah lama gersang. Hanya sejenak, sebab Willy tak mampu lagi menahan perasaannya. Willy menjatuhkan diri ke dalam pelukan Lia.
Lia dapat memastikan bahwa di masa kecilnya lelaki ini adalah anak yang biasa dimanja. Sekarang ia merindukan kemanjaan itu. Maka Lia pun membenamkan kepala Willy lebih dalam di pelukannya sementara tangannya meremas lembut rambut lelaki itu.
“Sudahlah, Willy,” sahut Lia kemudian sambil melepaskan Willy dari pelukannya.
Memang, tidak ada pesta yang tidak akan berakhir. Suatu saat setiap kebahagiaan, kemesraan dan kemanjaan yang pernah dimiliki harus dilepaskan. Setelah itu, ia akan menjadi menjadi kenangan manis yang justru menyakitkan setelah kesempatan untuk itu tak terulang lagi. “Ya. . . ya, maafkan aku,” balas Willy tersedak, “tidak sepantasnya aku begini…! ”
“Tidak apa-apa. Kau suamiku, ‘kan? Itu berarti kau boleh menumpahkan segala dukamu padaku.” Willy terengah. Berdesah dan meremas rambutnya sendiri. Dan Lia sengaja mengulang pertanyaannya kembali. “Bukan begitu?”
“Yah, yah!” desah lelaki itu menjawab. Lia membelai rambut Willy. Digenggamnya pula jemari Willy erat-erat. Lelaki itu pun menundukkan kepalanya dan sebuah kecupan kecil mendarat di kening Lia. Bukan di bibir.
Pohon Natal hampir selesai dirangkai. Tinggal menggantungkan beberapa buah lagi hiasan bola-bolanya. “Mau minum apa, Lia?” kata Willy tibatiba sambil bangkit berdiri. “Tidak usah. Aku tidak ingin minum.
“Di sini ada Gin, Lia. Ringan, kok. Cocok untuk wanita.”
“Terima kasih. Aku tidak biasa,” sahut Lia pula singkat. Lelaki itu tidak berkata apa-apa lagi. Lalu berjalan ke arah bar di pojok ruangan. Ketika kembali tangannya sudah menggenggam sebotol Bourbon Whisky.
“Dari jauh pohon Natal ini kelihatan bagus sekali,” serunya memuji. “Nah, selesai sudah ujar Lia seraya membenahi sisa-sisa hiasan yang berlebihan dan memasukkan kembali ke kotaknya. “Bagus, ‘kan?”
“Pohon Natal ini sudah bertahun-tahun tidak dipakai,” jawab Willy lalu mereguk minuman keras itu langsung dari botolnya. Lia sempat mendelik melihatnya. “Kau minum apa itu?”
“Whisky. Mau?”
“Saya tidak suka kau meminumnya,” Lia memberanikan diri. “Haha!” Willy tertawa lalu cepat-cepat menga-lihkan pembicaraan. “Pohon Natal sudah berdiri. Sekarang gantian. Aku minta kau yang bernyanyi untukku. Bisa, bukan?”
“Bisa. Sejak kecil aku sudah biasa menyanyi di gereja,” sahut Lia. “bahkan pernah belajar piano.”
“Hebat, Lia. Kalau begitu kau bernyanyi sambil main piano untukku. Ayuh, kita ke atas saja sekarang,” katanya melambaikan tangan ke arah Lia. Lalu berjalan mendahului untuk membukakan pintu ruangan tempat tangga menuju ke lantai atas.
Lia menurut saja. Diikutinya lelaki itu sampai ke ruangan atas. Ah, sayang sekali ruangan semewah ini tidak pernah dipergunakan, pikir Lia. Willy terlalu mencintai ibunya sehingga ruangan serta letak barang-barang peninggalan ibunya itu tidak boleh diubah sedikit pun. Barangkali ia memerlukan hal itu untuk menghidupkan kenangannya. “Silakan, Lia,” tukas Willy sambil membuka tutup piano.
“Saya mau. Tetapi sebelumnya saya punya permintaan.”
“Apa itu?”
“Letakkan botol minum itu dan berjanjilah bahwa kau tak akan menyentuh minuman semacam itu lagi.”
“Lho, berani sekali mengatur aku.”
“Kenapa tidak ? Kau masih ingat janjimu di depan Bu Cicih, ‘kan? Kau akan menjadikan aku isterimu; ‘kan?”
“Ya, tapi ini terlalu berat.”
“Apa susahnya?”
“Tidak bisa, Lia. Tidak mungkin. Aku sudah terbiasa begini.”
“Willy!” selak Lia tegas. Ia mulai berani karena mulai yakin bahwa lelaki ini mulai menyenanginya sebagai mana ia menyenangi Bu Cicih. “Aku adalah isterimu meskipun hanya dalam sandiwara khusus untuk Bu Cicih. Atau, barangkali kau menganggap sandiwara telah selesai sejak kematian Bu Cicih. Itu hakmu. Tetapi bila kau tidak menuruti permintaanku, esok pagi-pagi kau tidak menemukan aku lagi di rumah ini.”
“Kau mengancam?” gumam Willy berubah sangat serius. Mulai marah dia. “Terserah, Willy. Kau boleh menganggap begitu” balas Lia. “Kalau kau tidak menuruti apa kataku, aku pergi.”
Willy merasakan darahnya mendidih. Matanya melotot ke arah Lia seakan hendak menelannya bulat-bulat. Selangkah demi selangkah ia mendekat. Wajahnya merah padam sementara matanya membelalak semakin lebar membuat Lia mulai ketakutan.
“Heh, mau apa kau ?” Lia coba mengingatkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merenggutkan rambutnya; Lia terpekik. Tetapi tidak meronta sebab ia tahu itu akan membuat Willy lebih marah. Diam-diam mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. “Kau punya hak apa mau mengatur aku, heh?” bentak Willy.
“Karena… karena kau suamiku!!” balas Lia pula sengit. Willy mengencangkan cengkeramannya pada rambut Lia. Rasa sakit tiba-tiba membuat Lia nekad. Tangannya diayun keras menampar wajah Willy. Lelaki itu benar-benar terkejut. Baru kali ini ia ditampar seperti ini. Ibunya pun tidak pernah melakukan ini padanya. Sekali lagi tangan kiri Lia menghantam tetapi ditepiskannya dengan mudah.
Lelaki itu kini menggeram marah dan balas menampar wajah Lia sekeras-kerasnya. Lalu menghentakkan tubuh wanita itu sampai terbanting ke atas sofa.
Lia kembali bangkit berdiri. Emosinya telah memuncak. Tak perduli resiko seandainya botol di tangan Willy itu akan terayun memecah kepalanya. Telunjuknya gemetar teracung menuding hidung Willy sambil memaki. “Apa yang kau lakukan ini ? Jangan lupa, aku bukan Bu Cicih yang berpuluh tahun mengabdi pada keluargamu ! Aku juga bukan Nurlela yang tidak punya harga diri merayumu supaya kau bisa menjadi laki-laki!”
“Lia!” bentak Willy beringas namun makian Lia masih memberondong terus. “Kau tidak mau menghargai perempuan ! Padahal dirimu sendiri sudah tidak berharga di mata perempuan! Kau hanya kaya! Tetap kau tidak punya kehidupan! Kau sudah mati!”
“Diam ! Diaaaaaammmmm !!!” teriak Willy histeris disusul dengan suara botol pecah terbanting di atas lantai. Tubuhnya bergetar hebat lalu duduk terhenyak di atas sofa.
“Aku boleh bicara karena kau suamiku. Dan kau boleh menjadi suamiku selama aku mau. Itu adalah janjimu sendiri! Kalau tidak, aku pergi.” Tubuh Willy masih bergetar, kata-kata Lia itu agaknya mendera perasaannya dengan tepat. Lia pun termangu. Nafasnya terengah hampir putus. Lia sendiri heran, darimana ia memperoleh keberanian seperti tadi.
Sesaat kemudian Lia berbalik menyesal. Ia seakan telah menuangkan cuka di atas luka bathin Willy. Perlahan-lahan ia berjalan ke arah piano. “Biarlah, aku menyanyi,” pikir Lia.
Tangannya yang masih gemetar mulai menari di atas piano. Disusul dengan suaranya menyanyikan sebuah lagu gereja yang selalu dihafalnya.
Bila ‘ku berjalan di lembah sunyi T’rasa asing perjalananku
Tuhan, kuperlukan pertolongan-Mu S’bab ‘ku tak dapat sendiri
Oh, Tuhan, tolonglah Pegangkan tanganku S’bab ku tak dapat jalan sendiri
T’rangilah, sinarMu Di dalam hidupku
Suara Lia semakin sumbang. Dicobanya bertahan hingga akhir lagu, setelah itu Lia tidak sanggup lagi membendung emosinya. Ia terdiam, bertahan untuk tidak menangis di atas piano itu.
“Tuhan Yesus,” jeritnya dalam hati. “Jangan tinggalkan aku di sini. Aku bisa gila. Pegang tanganku. Aku perlu pertolonganMu.” Lambat laun wanita itu mulai menguasai emosinya. Kepalanya diangkat perlahan-lahan dan tampaklah olehnya Willy tengah menatap kosong ke arahnya. Lewat tatap mata itu tercermin kehampaan yang amat sangat pada diri lelaki itu.
“Willy,” seru Lia menahan getir. “Aku sudah menyanyi untukmu. Kau dengar?” Tak ada jawaban. Lelaki itu masih terdungu menatapnya.
“Kau tidak dengar, sayang?” ulang Lia sendu tetapi lelaki itu belum bereaksi. Lia mulai mendongkol dan rasanya seakan ikut menjadi sinting. “Heh ! Kau bisa bikin gila aku di sini!” teriaknya lagi setengah menangis. “Kau tidak dengar aku!?” Willy masih membeku. Bergerak pun tidak.
“Baiklah,” tukas Lia akhirnya. “Akan saya teruskan bernyanyi untukmu. Biar kau puas.” Wanita itu pun kembali memainkan jemarinya dan mulai bernyanyi. Saat yang terindah dalam hidupku Kurasakan bimbingan Tuhan ‘Ku yakin firmanNya – ‘kupegang teguh kasihNya yang suci kudus.
Suaranya semakin tidak karuan karena sesekali tersedak menahan emosi, namun ia terus paksakan bernyanyi. Willy kini berdiri dan melangkah pelan ke arah Lia yang berusaha keras menyelesaikan lagunya. Sekonyong-konyong ia meraih dagu Lia hingga menengadah. Tampak mata biru lelaki itu memerah bekas menangis. “Lia, maafkan aku,” desahnya berbisik, sangat memelas. Lia mengangguk. “Ajari aku menyanyikan lagu itu. Aku senang sekali mendengarnya.”
“Kau pernah tahu lagu itu?” jawab Lia membalas sambil tersenyum. Senyum yang aneh, karena dilakukan sambil menahan tangis. “Ya, aku sudah lupa syairnya,” tambah Willy. “Ajari aku lagu itu dan aku berjanji tidak akan minum itu lagi.”
“Sungguh?”
“Ya, Lia. Aku berjanji”,
“Ah, terima kasih, Willy,” desah Lia penuh kemenangan. “Ternyata kau adalah suami yang baik”.
Makan jadilah malam itu – sampai larut malam, piano itu masih terdengar mengiringi duet suara mereka berdua. Seperti tak akan ada bosannya. Willy merasakan malam ini adalah malam yang paling indah dalam hidupnya. Kebahagiaannya segunung. Selangit. Selautan bahkan lebih lagi. Tiada bandingannya.
“Sudahlah, Willy,” tukas Lia kemudian. “Sudah jauh malam. Kita tidur saja”.
“Kau sudah capek ?”
“Bukan hanya capek. Tetapi tidak pantas menyanyi sampai larut malam begini. Tidak enak dengan tetangga.”
“Ok,” sahut Willy seraya berdiri “Tapi aku mau mengumpulkan pecahan botol itu.”
“Tidak usah, Lia. Biar saja, aku sendiri yang membersihkannya besok.”
“Sebenarnya masih ada permintaan yang belum sempat aku katakan tadi,” ujar Lia semakin merasa menang. “Apa?”
“Kau harus menghargai aku sebagai wanita. Sebagai isterimu. Kau tidak boleh lagi berbuat kasar padaku.”
“Ya. Tapi kau juga tidak boleh lagi menghina aku.” Lia mengangguk. Lalu mencium lembut tangan lelaki itu. Selesai menutup piano itu Willy lalu berjalan mendahului menuju ke tangga. Langsung turun meninggalkan Lia yang termangu di puncak tangga. Lia sengaja berhenti di sana. Ia iseng ingin meruntuhkan keangkuhan Willy.
“Wil,” panggil Lia kemudian ketika lelaki itu sudah sampai di pertengahan tangga. Willy terhenti melangkah lalu menoleh. “Aku ingin kau jadi lelaki yang benar-benar jentel untuk aku.”
“Maksudmu?”
“Pegang tanganku. Bimbing aku turun.” “O-ya, sorry, lain kali aku akan menuntunmu.” “Tidak lain kali, Wil. Aku mau mulai sekarang.” “Turunlah, aku tunggu di sini.”
“Aku bukan nggak bisa turun sendiri. Bahkan aku bisa turun tanpa menginjak anak tangga ini. Aku bisa melompat dan terbang ke bawah. Tapi aku ingin kau membimbing tanganku.”
“Sudahlah, Lia. Lain kali saja.”
“Tidak,” sahut Lia tegas, awalnya iseng tetapi karena dibantah, lama-lama ia jadi serius. “Kau ini bercanda,” Willy tertawa. “Tidak, Willy. Aku serius. Aku ingin kau naik kembali untuk menuntun aku turun.”
“‘Maksudmu ini perintah?” tanya Willy mulai kesal. “Willy, kau harus menghargai wanita kalau kau ingin dihargai. Aku tidak boleh bermanja kepada suamiku? Atau aku harus menjerit-jerit meminta agar kau naik kembali?”
Sejenak Willy membelalakkan matanya. Jelas terasa Lia sedang mempermainkan perasaannya. Nafasnya memburu. Namun Lia juga bertahan menatapnya.
“Baiklah,” kata Willy mengalah kemudian. Lalu naik kembali dan mengulurkan tangannya. Dengan tersenyum puas Lia meletakkan tangannya di atas telapak tangan lelaki itu. Penuh keyakinan bahwa sejak kini lelaki itu akan menghargainya. Dan, Willy tidak hanya membimbing tangannya. Tetapi sekalian menggendongnya. “Biar kau puas,” katanya.
“Terima kasih. Kau baik sekali,” balas Lia melingkarkan lengannya di leher Willy lalu mengecup sudut bibirnya dengan manja. Willy mengantar Lia sampai ke pintu kamarnya, lalu berbalik meninggalkan Lia di sana setelah mengucapkan selamat malam.
“Willy,” panggil Lia mencegatnya. “Dua kali kita bcrtengkar malam ini. Kau tidak berniat menciumku setelah itu?”
Lagi-lagi Willy mengalah. Menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal sambil lidahnya berdecak. Lalu tanpa bicara apa-apa lagi ia meraih ilagu wanita itu untuk mendaratkan sebuah kecupan ili keningnya. “Willy,” lagi-lagi Lia ingin menggoda Willy. “Hmh?”
“Aku ingin tidur bersamamu. Aku takut tidur sendirian.”
“Lho?”
“Kenapa, sayang”
“Jangan, tidak boleh,” Willy gugup. “Oke, tapi lain kali aku berhak meminta itu, Willy. Kita sama-sama berhak. Karena kita suami isteri.”
“Belum. Untuk itu belum,” sergah Willy. Lia menutup pintu kamarnya. Setelah itu barulah ia menyadari ketololannya tadi. Memang belum benar-benar suami isteri. Andaikata pun tadi Willy mau, Lia pasti akan lekas-lekas masuk dan mengunci pintu kamarnya. Ia sendiri sudah mengatakan ia bukan Nurlela yang siap merayu Willy. Tidak. Ia memang tidak sungguh-sungguh tadi. Ia katakan itu justru karena yakin Willy akan menolaknya.

TAMAT

22 Juli 2011 - Posted by | Cerpen, Saut Poltak Tambunan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: