Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

mata yang berlabuh

Matahari kelabu. Udara bisu.Tak ada suara lengkingan renyai yang menyeruak seperti biasanya setiap kali ia jejakkan kaki di daratan yang berpasir. Tidak pula suara perempuan yang lantang, yang dengan lari-lari kecilnya, menghalau anak yang berlarian di depannya itu dari air laut yang merambati kaki mereka. semuanya telah menghilang.

Tapi masih ada yang belum ditemukan. Karena itu, Abdullah, laki-laki yang berjalan terseok itu, terus mencari-cari. Tangannya telah lelah, hampir tak sisakan tenaga. Tapi gelombang di dadanya lebih besar daripada kehendak tubuhnya. Ia paksakan kakinya melangkah meski nyeri mulai menusuk pada memar kakinya.
Abdullah hentikan langkah. Layangkan matanya pada langit. Ia tidak tahu lagi apakah ini siang atau malam. Waktu telah berhenti sejak peristiwa itu. Tapi ia butuh waktu untuk mengais sisa tenaganya. Lalu apa yang masih menggerakkannya? Tubuh? Tidak. Tubuh itu sudah tidak berfungsi lagi. Namun, kalau pun kaki itu harus dicabut dari tungkainya, Abdullah akan terus berjalan. Semuanya memang telah sirna. Tapi masih ada yang tertinggal. Karena itu, ia masih mencari. Sepanjang beberapa depa, Abdullah kembali menghentikan langkah. Kakinya dilanda nyeri. Seribu semut merah seperti menggigiti urat kakinya. Abdullah Memijit-mijitnya dengan perlahan. Hanya istirahat sejenak. Sebab sesudahnya, dengan rasa sakit yang masih menyisa, Abdullah berjalan kembali.

Mungkin rasa sakit itu sudah hilang. Bersama tumpahan air mata yang membanjir berhari-hari sebelumnya hingga tak menyisa. Meskipun ia minum seluruh air laut di Pantai Ulee Lheu, itu takkan bisa menggantinya. Abdullah pun telah menghapus air mata itu dalam catatan di darahnya. Seperti beku telah membungkus hatinya. Hanya dengan mata ia berjalan. Mata yang gelap.Berhari-hari yang lalu, Abdullah telah jelajahi seluruh tempat. Puing-puing yang luruh. Mayat-mayat yang serak. Ada tetangganya, teman melaut, teman anaknya yang sering menunggui kapal ikan datang, penjaga surau kampung. Namun ia tak ada di sana. Karena itu, Abdullah terus mencari.”Sudahlah, Abdullah. Istirahatlah sejenak. Badanmu sudah letih.”

Ia tidak begitu awas, apakah itu suara istrinya atau tetangganya.

”Nanti saja.

Aku selesaikan dulu pekerjaan ini. Nanti aku kembali.”
Tidak. Ia telah berbohong pada istrinya. Kembali? Aku belum menemukan yang kucari, maka aku tidak akan kembali. Lagipula kemana aku akan kembali? Abdullah menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak kan ada langkah surut, suara hati Abdullah kuatkan langkahnya.Istrinya memang memahami sikapnya. Batu yang keras itu tak akan mudah dilebur dalam satu pukulan kampak.”Anakmu sudah menanti. Mengapa engkau masih tak tahu juga, Abdullah. Bukankah engkau tahu mereka sudah menantimu untuk makan siang.”Sedetik tubuh Abdullah mengeras. Matanya tajam menentang ke atas. Ada yang dicarinya di sana. Tapi tak ada apa-apa. Langit tak biru.

Merah memantul dari lensa matanya. Hanya angin yang berkesiur. Selebihnya tak ada.

”Nantilah. Nanti saja. Aku belum ingin pulang.”

”Apa yang kau cari, wahai Abdullah? Kau tak turuti anjuran istrimu.

Mengapa engkau masih bengal juga, Abdullah!

”Itu suara ayahnya. Suaranya keras, seperti dirinya. Abdullah tak peduli.
”Kemana engkau akan pergi, anakku?” perempuan yang matanya kelabu memanggilnya serupa angin.”Tak usah hiraukan aku, Bu.”Abdullah terus berjalan. Kakinya yang menyusut dari waktu ke waktu dan makin kehilangan daya tak mampu kalahkan kehendaknya.

Mayat-mayat bergelimpangan seperti rongsokan. Bau sengat yang mengundang kerumunan lalat menggunduk di setiap setiap tempat. Tapi Abdullah tak hiraukan itu.

Matanya yang berpijar merah melata, susuri setiap mayat yang bergelimpangann itu. Tangannya mengorek satu demi satu mayat yang terhampar di kakinya.

”Ia tak ada di sana !”

Ibunya berseru. Rambut peraknya berkeriyap dihembus angin. Abdullah tidak ingin mendengar. Kakinya terus ia seret.
”Pulanglah, Abdullah. Maka kau akan menemukannya,” suara ibunya memanggil lagi. Langkahnya makin melata. Seluruh sendi-sendi kakinya bergetar, merambat ke engsel tubuhnya. Tapi Abdullah tak mau mengalah pada keadaan tubuhnya. Ia seret kakinya dengan sisa tenaga. Jalan ibarat pasir yang menusuk luka di tubuhnya. Serakan mayat itu masih bergelimpangan di kanan-kiri. Halangi langkah tubuhnya yang makin ringkih. Mata-mata mereka membuka. Seperti hendak menyampaikan pesan pada Abdullah.

‘Sudahlah, Abdullah. Pulanglah ke rumah.”

Abdullah singkirkan suara-suara itu dari udara. Langit menjadi-jadi bekunya. Hanya ada suaranya yang mengapai-gapai udara. Ia hampir kehilangan keseimbangan ketika kaki kanannya menabrak tubuh yang membujur. Tubuhnya mencoba menahan lengkung badannya yang hampir jatuh ke tanah. Tapi bumi seperti ingin memeluknya dan merengkuhnya. Berat badannya condong ke tanah.

Bunyi berdebam memecah sunyi ketika tubuhnya yang labil menimpa mayat itu. Mata yang putih. Seperti daun jendela yang membuka lebar. Menyeret Abdullah masuk dan terhisap ke dalamnya. Mata yang berkata. Mengapa kau tak yakin ini semua, Abdullah. Kemana kau campakkan imanmu itu. Pulanglah. Kembalilah ke rumahmu.

Abdullah menggeram.
Diamlah. Semuanya sudah kosong. Hambur oleh angin yang membawa pergi. Hanya satu yang masih tersisa. Aku sedang mencarinya dan ingin membuktikan keberadaan-Nya. Jadi singkirkan kakimu, hai mayat yang tak punya rasa. Tak ada yang dapat menghalangi langkahku.

Dengan menahan sakit pada tangan kirinya yang menimpa aspal kasar, tangan Abdullah menjangkau tongkat kayu dengan tangan kanannya. Ketika tumpuannya telah kukuh, Abdullah menaikkan tubuhnya ke atas. Begitu susah payah ia menegakkan tubuh. Tapi siapakah yang bisa mengalahkan kekerasan hatinya?

Setelah tubuhnya tegak seimbang, Abdullah menendang mayat itu. Ia injak dengan kaki kanannya yang masih menyimpan tenaga. Lalu mendengus. Jalan yang ditempuh Abdullah makin menyempit dalam pandangan matanya yang kelabu. Tapi ia terus berjalan. Beberapa depa di depannya, Abdullah tersentak. Masjid Baiturrahman masih berdiri tegak. Seperti mercusuar tinggi di tengah lautan puing-puing yang menyerak. Warnanya yang putih pantulkan kilau matahari ke seluruh padang yang luas. Padang mahsyar.

Abdullah semakin kebut langkahnya. Seperti roda, kakinya yang pincang bergerak cepat. Ia berlari. Seperti kuda sembrani yang melintas di permukaan laut yang tenang.

”Mau kemana engkau, Abdullah?”

Abdullah tak menjawab. Ia terus seret langkahnya. Menekan gemuruh yang berputar dahsyat di kepalanya. Adakah Engkau di sana? Dadanya bergetar hebat. Sudah habis air matanya sejak berhari-hari lalu. Tapi apa yang ada di dadanya ini? Begitu hebat guncangannya, begitu keras gemuruhnya. Ketika tak ada lagi yang bisa menahannya, Abdullah meraung hebat. Seluruh persendiannya patah dan lunglai. Ia terjerambab dengan tubuh kehilangan daya. Dan terduduk di teras masjid dengan mata yang buta. Dengan tubuh yang tergugu. Adakah badai yang lebih besar dari ini, Ya Allah? Abdullah menangis. Hatinya basah.

”Apakah engkau menemukannya, Abdullah?” Suara yang jauh meruapi telinganya.

Dagu Abdullah mengangguk makin hebat. Air mata menggenang di wajahnya. Membasah di janggutnya yang tipis. Seperti kilau minyak zaitun. Tak sanggup gelombang suara keluar dari kerongkongannya yang tercekat. Hanya lirih yang mengisi udara.

”Bagaimana mungkin, bukankah matamu telah buta, Abdullah?” Suara yang lembut menghunjam dadanya.
Air mata Abdullah makin menderas. Tubuhnya lumpuh. Tak kuat menahan guncangan yang kuat dalam dadanya. Matanya memang telah buta. Sejak gelombang pasang itu meraup seluruh hidupnya. Ia tak melihat apa-apa lagi. Tapi air mata yang membasuh hatinya membukakan semua pintu yang terkatup.

Ia seakan melihat istrinya, ibunya, bapaknya, dan Ibrahim anaknya melambaikan tangan ke arahnya. Lalu di sebelah-sebelahnya, tetangga rumah, teman sesama nelayan. Senyum mereka merekah. Ikhlas. Seperti kuntum-kuntum embun yang membeningkan pagi. Lalu perlahan semuanya mengabur serupa kabut yang membias di fajar subuh.
Suara adzan menyayat telinganya. Abdullah merasa tubuhnya melayang dalam udara. Menyatu dalam ruang hampa. Ketika tersadar, ia melihat tubuhnya bersimpuh di depan mihrab masjid. Begitu kecil. Dan tanpa daya.***

Depok, 3 Januari 2005

Oleh Muhamad Adji

1 Oktober 2011 - Posted by | Cerita, Kehidupan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: