Kisah Kasih Duniamu

"…apalah arti sebuah kisah bila tidak ada kasih di dalamnya…"

selancar es

Pada suatu hari di awal bulan Desember, begitu terbangun kami menemukan betapa sempurna dan segarnya salju yang bertaburan. “Ayolah, Bu, kita berselancar sehabis sarapan!” kata Erica, putriku yang berusia sebelas tahun, dengan nada memohon. Siapa yang tahan dengan ajakan itu dalam situasi yang begitu menggoda? Maka tak lama kemudian kami berkemas dan langsung berangkat ke padang golf Lincoln Park, satu-satunya bukit di kota padang rumput kami yang bertanah datar.

Ketika kami tiba, bukit itu telah penuh dengan orang. Kendati pun demikian kami menemukan sebuah tempat terbuka bersebelahan dengan seorang lelaki tinggi kurus yang datang kesitu bersama putranya, kira-kira tiga tahun. Anak itu telah berbaring menelungkup di atas papan selancarnya, siap untuk diluncurkan. “Cepat, Yah! Ayo!” serunya.

Lelaki itu memandang ke arahku. “Tidak keberatan kalau kami lebih dahulu?” tanyanya.

“Silakan saja,” kataku. “Kelihatannya putra Anda sudah tidak sabar.”

Dengan itu, ia mendorong anaknya kuat-kuat, maka meluncurlah anak itu! Tetapi, tidak hanya anak itu yang berangkat – sang ayah berlari mengejarnya dengan kecepatan penuh.

“Ia pasti takut anaknya bertubrukan dengan orang lain,” kataku pada Erica. “Sebaiknya kita juga berhati-hati.”

Dengan itu, kami meluncurkan selancar kami dan menukik menuruni bukit dengan kecepatan yang bisa mematahkan leher. Butir-butir salju beterbangan ke wajah kami. Sesampai di bawah, kami harus berguling melepaskan diri dari selancar aagr tidak menubruk pohon elm besar dekat sungai, dan kami tertawa terbahak-bahak ketika harus meluncur pada punggung kami.

“Luar biasa,” kataku.

“Tapi, ya ampun, jauh sekali jalan ke atas!” seru Erica.

Sesungguhnya memang demikian. Waktu kami terngah-engah untuk kembali ke puncak, aku melihat lelaki tinggi kurus itu sedang menghela putranya, yang masih menelungkup di atas selancarnya, kembali ke puncak bukit.

“Enak sekali!” kata erica. “Maukah ibu berbuat yang sama untukku?”

Aku sudah kehabisan napas. “Enak saja! Terus jalan!” jawabku sambil tertawa.

Begitu tiba di atas, anak itu telah siap untuk bermain lagi.

“Ayo, ayo, Ayah!” serunya. Sekali lagi, sang ayah menghimpun tenaga untuk mendorong putranya sekuat-kuatnya, kemudian mengejarnya menuruni bukit, dan setiba di bawah menghela lagi putra bersama selancarnya ke atas.

Pola ini berulang terus sampai lebih dari satu jam. Padahal, tanpa harus menghela Erica, pendakian bukit kesil itu sudah lebih dari cukup untuk menguras tenagaku. Sementara itu, kerumunan orang di bukit telah menipis karena sebagian pulang ke rumah untuk santap siang. Akhirnya, di sana hanya tingagl aku dan Erica, lelaki itu dan putranya, serta beberapa orang lain.

Dalam pikirannya pasti bukan hanya supaya putranya tidak tabrakan dengan orang lain, pikirku. Dan pasti, walaupun masih kecil, semestinya anak itu sesekali dapat menarik papan selancarnya sendiri ke puncak bukit. Tetapi, lelaki itu tidak pernah merasa lelah, dan sikapnya selama itu senantiasa cerah dan ceria.

Akhirnya, aku tidak tahan lagi untuk bertanya. Aku berpaling ke arah mereka dan berseru, “Hei, Anda kuat sekali!”

Lelaki itu menoleh dan tersenyum. “Ia menderita cerebral palsy,” ujarnya ragu-ragu. “Ia tidak bisa berjalan.”

Aku terkejut setengah mati. Kemudian aku sadar bahwa sejak kami mulai berselancar tidak sekali pun aku melihatnya bangkit dari papan selancar. Ia tampak begitu bahagia, begitu normal, sehingga tak terbayang olehku bahwa anak itu sebetulnya cacat.

Walaupun tidak mengetahui nama lelaki itu, aku menceritakan kisah itu dalam kolom surat kabarku pada pekan berikutnya. Entah ia sendiri atau kenalannya yang membaca artikel itu, yang jelas, tidak lama kemudian aku menerima surat berikut:

Dear Mrs. Silverman,

Tenaga yang saya kerahkan di bukit pada hari itu bukan apa-apa bila dibandingkan dengan yang harus dikerahkan oleh anak saya setiap hari. Bagi saya, dialah pahlawan sejati, dan suatu hari saya berharap dapat memiliki separo saja dari ketangguhan yang telah lama dimilikinya.

(Robin L Silverman)

Share

24 Februari 2011 - Posted by | Buku Populer, Cerita, Chicken Soup, Kehidupan, Keluarga |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: